Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bullying

“Saya Attala Tirtayasa. Yang akan mendampingi Mbak Sahara sebagai kuasa hukum.”

Aku menyambut uluran tangan pria muda di hadapanku. Dia pasti pengacara yang disewa Desta untukku. Pria ini berpenampilan rapi dan necis. Memakai jas hitam dan rambut tertata klimis. Aku perkirakan usianya sebaya dengan Desta. Mungkin sedikit lebih tua. Namun memiliki ketampanan yang sama. Jelas saja, Desta bilang pria ini sepupunya. Berarti masih memiliki darah satu silsilah.

Pagi ini, sesuai janjinya di telepon kemarin sore, Attala datang ke kantor polisi ini untuk mendampingiku memenuhi panggilan pihak kepolisian. Sengaja dia memintaku datang beberapa jam sebelum jadwal interogasi untuk mendengar lebih dulu ceritaku mengenai kasus rudapaksa seksual yang kualami.

Dengan alasan kenyamanan, Attala mengajakku duduk di sebuah kafe yang tidak jauh dari Mapolres ini. Aku pun menurut dan duduk di hadapannya. Bersama secangkir coffee Latte di hadapan masing-masing, aku pun menceritakan tragedi menyakitkan itu. Semua dan sejujur-jujurnya.

Dari guratan menurun di wajahnya, aku melihat ada kepesimisan di sana. Terlebih saat dia memeriksa dan membaca seluruh isi percakapanku dengan Pak Elang selama berhubungan denganku.

“Semua percakapan ini hanya berhubungan dengan skripsi. Tidak ada yang mencurigakan. Kecuali satu pesan terakhir dari Mbak Sahara. Janji temu di kamar 105. Tetapi, ini justru menguatkan dugaan bahwa hubungan kalian berdasarkan suka sama suka. Tidak terkesan ada unsur pemaksaan. Apalagi Mbak Sahara sendiri mengaku tidak mengalami pemukulan atau kekerasan fisik apa pun yang tampak di sekujur tubuh.”

Attala mengembuskan napas panjang setelah mengatakan itu dan menyerahkan ponselku kembali. Kemudian menangkup kedua tangan di atas meja seraya menatapku dalam. Kerutan di dahi menunjukkan dia sedang berpikir keras. Aku tidak mengerti harus bagaimana lagi. Karena semua sudah aku ceritakan apa adanya, tidak ada satu pun yang aku tutupi.

“Tapi dia memang memperkosaku, Mas. Aku yakin dia telah menaburkan sesuatu di dalam minuman itu yang menyebabkan aku tertidur, terbius, atau entah apa namanya. Yang pasti bikin aku nggak sadarkan diri sekian lama,” tukasku dengan nada meninggi.

Aku sangat yakin saat itu Pak Elang menaburkan sesuatu ke dalam minuman cola untukku. Karena setelah aku meminumnya hingga tandas, kepalaku pusing hingga tidak sadarkan diri seketika. Bodohnya aku, kenapa aku meminumnya tanpa sedikit pun curiga. Entahlah, mungkin karena gugup yang begitu hebat melanda. Atau memang terlalu percaya pada sikap tenang dosen sialan berhati setan itu.

Pria di hadapanku mengangguk-angguk. Tapi, aku tidak tahu apa arti anggukannya itu.

“Begini saja, kita hadapi mereka. Jangan sampai polisi menghentikan penyelidikan karena minimnya bukti yang kita punya. Seiring jalannya penyelidikan kita juga cari bukti-bukti dan saksi yang mendukung kasus ini, okay?” putus Attala dengan keoptimisan yang mulai merekah di wajahnya.

Aku yang baru kali ini menghadapi kasus hukum, hanya mengangguk pasrah. Meletakkan harapanku di bahu Attala. Sekaligus tiada henti aku berdoa pada Sang Maha Kuasa agar kebenaran terbuka dan nama baikku akan pulih seperti sediakala.

Namun, ternyata hukum tidak berpihak padaku. Yang sangat mengecewakan, polisi akhirnya memutuskan menghentikan kasus ini. Seperti yang dikhawatirkan Attala tadi, tidak ada satu pun bukti dan saksi yang menerangkan bahwa rudapaksa itu terjadi.

Menurut keterangan polisi, dua hari lalu Elang Kafka Maghenda telah memenuhi panggilan polisi untuk diperiksa atas dasar laporanku. Pria sialan itu jelas tidak mengakui telah melakukan pelecehan terhadapku. Justru dia memberi keterangan bahwa hubungan aku dan dirinya berdasarkan saling suka, tidak ada yang memaksa atau pun dipaksa. Karena dari bukti percakapanku yang juga dia miliki, di sana membuktikan bahwa aku yang justru bersedia datang menemuinya, bahkan dia berani menantang bukti apa pun yang aku punya.

Aku pulang ke kosan dengan kekecewaan yang menyesakkan. Bagai prajurit yang babak belur bahkan sebelum bertempur. Desta di ujung sambungan telepon terus memberiku kekuatan, namun sia-sia. Aku tetap saja merasa kalah.

Bantal ini menjadi pelampiasan airmataku. Tubuhku kotor, jiwaku hancur, dan masa depanku rusak. Apalagi kepercayaan diri yang menukik tajam hingga terjun ke dasar jurang terdalam.

Aku tidak tahu lagi bagaimana caraku melangkahkah kaki ke kampus dan melanjutkan tugas akhirku demi kelulusan dan gelar sarjana yang sudah di depan mata. Aku seakan tidak punya muka untuk datang ke sana setelah berita pelecehan seksual yang terjadi padaku berkembang liar tanpa bisa dicegah dengan narasi yang justru terbalik dari fakta sebenarnya. Yang pasti aku tidak siap menerima segala perundungan dan cibiran yang menjatuhkan harga diriku sebagai wanita.

Berita tentang pelecehan seksual yang terjadi padaku ternyata bukan hanya santer beredar di kampus. Tetapi juga menjadi salah satu trending topic di beberapa media online. Namun, berita yang menjadi headline itu justru menggiring opini warganet untuk menyudutkan diriku. Mengenai sepak terjang haram seorang mahasiswi fakultas teknik Arsitektur sebuah universitas negeri demi kelulusan skripsi dan mendapat nilai tinggi.

Di media lain justru menyebutkan telah terjadi skandal cinta di sebuah kampus negeri ternama antara dosen idola dan mahasiswa cantik semester akhir. Ada namaku di dalam artikel itu, juga nama Pak Elang yang diinisialkan. Beberapa mahasiswa yang mengenalku pun turut memberi kesaksian. Seperti yang kuduga, mereka membenarkan skandal haram tersebut memang terjadi di kampus kami.

Yang lebih mengerikan lagi, sebuah media sosial berlogo burung kecil mengangkat topik mengenai ‘ayam kampus’ berkedok mahasiswi teknik Arsitektur sebuah kampus ternama, dimana foto wajahku berseliweran dengan bagian mata yang disamarkan disertai inisial namaku. SMZ. Sahara Medina Zein. Dari berbagai komentar warganet yang kebanyakan melecehkanku membuatku semakin berharap bumi menelanku hidup-hidup saat ini juga.

Aku matikan ponsel di tangan dengan perasaan remuk redam. Lalu aku masukan ke dalam tas. Tidak ingin lagi aku tengok benda pipih itu dari pada membuatku semakin kehilangan kepercayaan diri dan tidak ingin lagi menjadi salah satu warga di bumi ini.

Pukul tujuh pagi keesokan hari, aku terbangun. Saking lelahnya otakku berpikir, aku sampai tidak menyadari terlelap selama itu. Lapar dan tenggorokan kering sudah tidak lagi aku rasakan. Yang aku butuhkan hanya tidur panjang untuk melupakan sejenak kegelisahan yang semakin hari semakin menyerang.

Aku raih ponselku dari dalam tas. Lalu aku nyalakan. Seketika bunyi dentingan pun terdengar. Ribuan notifikasi pesan kembali datang bertubi-tubi. Ketika aku lihat satu pesan dari nama kontak Sandi, lekas aku buka dan membacanya.

‘Kak, Mama dan Sandi membaca berita di salah satu media online. Ada foto buram dan inisial nama Kakak disebut-sebut terlibat skandal dengan seorang dosen. Tolong kabari Mama dan Sandi segera, Kak. Mama saat ini sedang sakit karena membaca berita itu.’

Mama?

Tanpa pikir panjang aku segera menekan tombol menghubungi nomor kontak adikku, Sandi. Hanya terdengar dua kali nada sambung, suara Sandi pun terdengar menyapaku.

“Sandi, gimana Mama? Sakit apa? Sudah dibawa berobat?” serbuku dengan perasaan panik dan khawatir.

“Sudah, Kak. Tapi Mama tetap nggak mau makan. Mama mikirin Kakak terus. Dari tadi panggil-panggil nama Kak Sahara. Bagaimana keadaan Kakak sendiri?” Suara Sandi terdengar sama denganku, penuh kehawatiran dan penasaran.

“Alhamdulillah, Kakak baik-baik saja, San. Bisa Kakak bicara sama Mama?”

“Sebentar.”

Tak lama, namaku dipanggil oleh wanita yang sangat kusayang di ujung sana.

“Sahara, Cantik. Apa benar yang diberitakan di internet itu, Nak? Bahwa kamu terlibat sesuatu yang haram dengan dosenmu.” Suara Mama terdengar lemah diselingi batuk beberapa kali.

Airmataku kembali merebak. Namun, sebisa mungkin aku atur suara agar isakku tidak sampai ke telinga Mama.

Mama termasuk wanita dengan fisik dan stamina yang prima. Di usia lebih setengah abad pun Mama masih sanggup berkeliling kebun kelapa sawit milik kami setiap hari hanya untuk mengawasi para pekerja yang memanen di sana. Jika sakit dan tidak berdaya seperti saat ini, berarti bukan hanya fisiknya yang lelah, namun psikisnya yang kini terpukul hebat, pastinya karena pemberitaan media sialan itu.

“Apa yang Mama baca itu tidak benar, Ma. Itu semua hoax. Mama tahu sendiri, kan banyak media memberitakan sesuatu serampangan saja yang penting beritanya laris dan iklannya banyak. Mama jangan percaya, ya.” Aku coba memberi penjelasan dibumbui dusta.

Kupikir kali ini berbohong demi kebaikan tak apalah. Yang penting Mamaku baik-baik saja di sana.

“Tapi, Nak. Ada foto buram dan nama kampusmu juga. Apa iya ada dua orang yang berwajah mirip punya inisial nama yang sama? Juga kuliah di kampus serta fakultas yang sama?” selidik Mama lagi.

Aku bingung harus menjawab apa lagi. Aku menarik napas panjang, berusaha bersikap setenang mungkin. “Yang pasti itu semua hoax, Ma. Sahara baik-baik saja di Jakarta. Tidak pernah berbuat aneh-aneh. Tujuan Sahara hanya kuliah dan lulus secepatnya. Mama jaga kesehatan. Jangan lihat-lihat media sosial. Kebanyakan isinya tidak benar, Ma.”

“Tapi, kamu jamin ya, Nak. Kamu bukan mahasiswa yang diberitakan di media-media itu.”

Aku mengangguk sambil terpejam. Sekali lagi aku harus berdusta, bahkan terpaksa menjamin kebohonganku sendiri. “Ya, Ma. Itu bukan aku.”

“Baiklah. Mama percaya sama kamu, Sahara. Tolong kamu harus selalu ingat amanat Mama dan alamarhum ayah. Karena kamulah satu-satunya harapan Mama dan Sandi sekarang. Kamu harus kuliah sampai tamat, gapai cita-citamu setinggi-tingginya. Jangan pernah merusak nama baik dan harga diri. Jangan menghalalkan segala cara demi tujuan duniawi, ya, Nak. Apalagi sampai merugikan dan melukai orang lain. Ingat, setiap perbuatan pasti ada balasannya. Jangan tinggalkan ibadahmu. Karena itu satu-satunya tameng terkuat yang akan selalu melindungi dirimu dari semua perbuatan buruk.”

Semua nasihat Mama itu membuatku tidak mampu lagi menahan isak. Aku yakin Mama di sana mendengarkan tangisku. Aku berharap semoga Mama mengartikan tangisku sebagai tangis kerinduan, bukan tangis penyesalan.

Tak sanggup lagi berkata-kata, aku hanya bisa menganggukkan kepala. Lalu mengucapkan salam pada Mama dengan cepat. Kemudian lekas aku geser tombol merah untuk mengakhiri komunikasi.

Benar kata Mama, semenjak kepergian ayah lima tahun lalu, akulah satu-satunya tumpuan harapan Mama dan adikku. Karena itu aku tidak akan mengecewakan mereka. Aku akan bangkit dari keterpurukan ini meskipun dengan harga diri yang telah hancur berkeping-keping.

Aku yakin aku bisa menegakkan kepala dan melangkahkan kaki menyusuri pelataran kampus untuk menyelesaikan skripsiku dengan bimbingan dosen lain. Aku akan menutup telinga rapat-rapat dari segala caci maki, hinaan dan pemberitaan miring yang meruntuhkan nama baikku.

Suara notifikasi pesan di ponselku masih saja berdentingan. Seperti yang sudah aku duga, percakapan di dua group kampus masih mendominasi. Topik yang mereka bincangkan tidak lain masih tentang aku dan Pak Elang.

Aku bosan, muak, dan geram. Mereka merundungku seenaknya seakan aku inilah pelaku kejahatan, bukan korban.

Aku menuju group percakapan jurusan teknik Arsitektur. Dengan amarah tertahan dan tangan gemetaran aku mengetikkan sesuatu di sana.

‘Semoga kalian, anak dan cucu kalian kelak tidak mengalami apa yang saya alami. Biar saya beritahu rasanya menjadi korban yang disudutkan. SANGAT MENYAKITKAN! Saya yakin jika di posisi saya, kalian tidak akan mampu menghadapi masalah ini. Kalian pasti tidak bisa membayangkan bagaimana hati dan jiwa saya hancur setiap kali memandangi tubuh saya yang kotor akibat perbuatan laki-laki bejad bertampang malaikat. Tapi yang lebih menyakitkan lagi ketika menyadari masa depan indah yang segera saya raih terpaksa runtuh di ujung titian. Elang Kafka Maghenda, dosen tercinta kalian, dan juga kalian, para mahasiswa suci telah berhasil membuat saya remuk redam tanpa harga diri. Tapi, sedahsyat apa pun kalian menyerang saya, tidak akan mampu membuat saya tenggelam. Saya akan buktikan bahwa saya korban, bukan pelaku kejahatan seperti yang kalian fitnahkan.’

Setelah aku kirim tulisan kemarahanku, langsung aku menyingkir dari group sialan itu, keluar dari sana. Begitu juga yang aku lakukan pada group percakapan khusus satu lokalku.

Aku tidak peduli lagi pada pembenci berhati kerdil macam mereka. Juga pengkhianat yang mengaku sahabat seperti Nadine. Yang aku pikirkan sekarang bagaimana aku harus menata hati dan diriku untuk melangkah selanjutnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel