Skripsi
Jakarta, Mei 2010
Kepalaku rasanya hampir meledak menatap barisan kalimat panjang yang terpampang di layar laptop di hadapan. Beberapa kali aku tulis, aku baca, aku hapus. Lalu aku revisi, aku baca lagi, kemudian hapus kembali.
Begitu saja yang aku lakukan untuk menyempurnakan bab tiga tugas akhirku sepanjang siang ini. Hingga tiga atau empat kali, mungkin. Entahlah. Aku pun malas menghitungnya. Rasanya masih saja belum sempurna.
Ditambah lagi sakit di pergelangan tangan kiri akibat terjatuh kemarin sore di kamar mandi, sehingga aku harus mengedit hasil ketikanku berulang kali. Untukku, mengetik hanya dengan menggunakan lima jari tangan kanan benar-benar menyusahkan.
Aku memang terlahir dengan kecenderungan beraktivitas menggunakan tangan kiri. Alias kidal. Jadi jika tangan kiriku bermasalah, jangan harap aku bisa mengerjakan sesuatu dengan cepat.
Itu hanya salah satu perjuanganku menyelesaikan skripsi ini.
Saat pengajuan judul dan tema sebulan lalu, aku pun dihadapkan pada tantangan serupa. Beberapa kali aku harus bolak-balik menemui Dosen Pembimbingku yang terkenal killer dan angkuh bernama Pak Elang Kafka Maghenda.
Sesuai namanya, dosen berusia pertengahan tiga puluhan itu mempunyai mata dan otak yang begitu tajam seperti seekor burung elang yang sedang memburu mangsa. Tapi mangsanya kali ini adalah aku.
Sekecil apa pun kesalahan pada materi skripsi yang aku ajukan bisa terdeteksi olehnya. Bahkan pemilihan diksi yang dirasa kurang tepat pun bisa menjadi masalah. Padahal menurutku pilihan kata-kata itu sudah sesuai dengan KBBI dan PUEBI, kamus bahasa Inggris, serta kamus bahasa ilmiah yang telah aku unduh di ponselku sebagai pelengkap teknik kepenulisanku.
Setelah lima kali mengalami penolakan, akhirnya Pak Elang, Dosen Pembimbingku itu menyetujui tema skripsi yang aku ajukan untuk melengkapi kelulusanku yang cukup menguras daya pikir. Mengenai design struktur baja pada sebuah proyek kontruksi sebuah gedung pencakar langit. Tentu saja setelah melalui satu bulan Praktek Kerja Lapangan dan berbagai riset detil dan mendalam.
Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa tema skripsi yang aku kerjakan ini mengenai seluk beluk design, struktur baja dan kontruksi gedung. Sementara istilah-istilah tersebut terdengar kontradiktif bagi seorang perempuan.
Let me tell you about me. Aku adalah seorang mahasiswi Fakultas Teknik di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta. Program studi yang aku tekuni adalah Teknik Arsitektur. Jurusan kuliah yang kata orang hanya sesuai untuk laki-laki.
Hey! Ingat Ibu Kartini yang jatuh bangun memperjuangkan emansipasi?
Sejak kecil aku gemar mengamati bangunan-bangunan unik yang ada di kampung halaman kami di Sumatera. Apa pun bangunan itu. Kantor Bupati yang bertingkat tiga yang dihiasi berbagai ornamen estetik. Rumah-rumah mewah para pengusaha sawit yang berada di sebuah komplek tidak jauh dari sekolahku. Juga bangunan-bangunan bersejarah yang dijadikan tempat wisata di daerah itu.
Semuanya begitu menarik perhatianku, hingga aku selalu menuangkan bentuk bangunan-bangunan indah itu ke dalam buku gambar. Bahkan selalu berkhayal suatu saat nanti aku bisa membuatkan rumah seindah dan semenakjubkan itu untuk Mama, Ayah dan Sandi, adikku.
Mengetahui minatku pada gambar dan keunggulanku di mata pelajaran matematika, wali kelasku di kelas X dengan antusias menyarankan aku mengambil jurusan IPA agar aku bisa menggapai cita-citaku sebagai seorang arsitek.
Karena itulah ketika SMA, aku belajar keras agar bisa lulus dengan nilai terbaik untuk mencapai universitas negeri yang memiliki jurusan sesuai dengan cita-citaku itu. Teknik Arsitektur.
Sebenarnya cita-citaku itu tidak sesuai dengan harapan Mama dan mendiang Ayah. Lima tahun lalu, sebelum meninggal dunia karena sakit diabetes yang diderita, Ayah memintaku melanjutkan kuliah di fakultas pertanian di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Hujan Jawa Barat. Mereka berharap setelah lulus kuliah nanti aku bisa mengaplikasikan ilmu di kampung kami dan meneruskan usaha perkebunan kelapa sawit yang mereka miliki.
Tetapi, karena aku tidak berminat dalam bidang perkebunan dan meminta mereka untuk melimpahkan harapan itu pada Sandi, adikku yang jelas memiliki minat di bidang usaha itu, akhirnya mama dan ayah pun setuju pada pilihan cita-citaku.
Kini, setelah jatuh bangun menempuh masa pembelajaran dengan segunung mata kuliah yang memusingkan kepala selama tiga setengah tahun, akhirnya aku sampai juga di tahap akhir perkuliahan ini. Tapi, tentu saja aku belum bisa bernapas lega sebelum skripsiku rampung dan dipertanggungjawabkan di sidang skripsi nanti dengan nilai memuaskan.
Tanpa terasa, isi bab tiga sudah selesai aku kerjakan. Aku mengembuskan napas panjang setelah membacanya keseluruhan. Namun, kepuasan belum bisa aku rasakan, karena aku yakin ketika besok aku mengajukan bab ini pada Pak Elang untuk diperiksa, pasti dosen arogan itu akan melibas habis-habisan dengan segala pertanyaan yang membuatku bungkam. Setelahnya, tulisan yang sudah tersusun rapi itu akan dihiasi dengan coretan-coretan dan tanda silang.
Aku menoleh ke arah pintu ketika terdengar tiga kali suara ketukan dari sana. Tanpa menunggu ijinku, pintu coklat itu terkuak lebar dan Nadine menampakkan diri dengan mata membola dan gelengan kepala.
Nadine, gadis cantik sebayaku, 23 tahun, dengan rambut hitam sebatas leher, berkulit putih dan berkacamata. Aku kenal dia sejak awal aku menginjakkan kaki di kampus itu. Dia satu jurusan denganku, namun berbeda kelas.
Nadine juga senasib denganku. Mahasiswa perantauan dari pulau seberang. Nadine berasal dari Sulawesi, sedang aku dari Sumatera. Karena merasa senasib sepenanggungan itulah akhirnya kami bersahabat dan memilih tinggal di rumah kost yang sama sejak tiga setengah tahun lalu. Nadine menempati kamar sebelah kamarku.
“Aku mencium aroma asem kecut di kamar ini. Sepertinya Nyai Ratu Sahara si penghuni gua belum mandi dari pagi.” Sambil menutup hidung, Nadine menghampiri dan duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah meja belajarku ini.
Aku berdecak malas, lalu mengumpulkan rambut sepinggangku menjadi satu, kemudian aku gulung asal di puncak kepala.
“Boro-boro mandi, mau pipis aja sengaja aku tahan demi selesaikan ini.” Aku menunjuk kesal lembaran kertas hasil print yang tergeletak di samping printer.
“Hati-hati, bisa kencing batu kamu nanti,” seru Nadine seraya meraih lembaran kertas berisi draft tulisan bab tiga skripsiku itu. Kemudian rautnya berubah serius ketika membacanya singkat.
“Nggak apalah kalau yang keluar batu berlian, aku auto kaya raya. Tapi kalau yang keluar batu akik, rasanya pengin kujitak kepala si Elang Kafka itu supaya otaknya waras sedikit dan berbaik hati melancarkan skripsiku ini,” tukasku tanpa bisa menyembunyikan kekesalan.
Membayangkan wajah Pak Elang yang pelit senyuman itu membuat perutku seketika terasa bergelombang, mual. Apalagi mengingat bagaimana dia membantai habis segala argumenku setiap kali aku mengajukan materi skripsi ke hadapannya sehingga aku harus merevisi berkali-kali. Rasanya ingin kuhantam saja meja kerjanya hingga pecah.
Begitu juga saat di kelas, sewaktu ia memberikan mata kuliah struktur dan konstruksi yang menjadi spesialisnya, terang-terangan pria itu menyecarku dengan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan yang membuatku seperti kehilangan otak di hadapan teman-teman.
Jelas saja aku malu, seolah aku ini mahasiswa bodoh. Padahal siapa pun pasti tahu, bukan mahasiswa berotak kaleng-kaleng yang mampu menembus masuk ke universitas negeri ini. Jurusan Teknik Arsitektur, lagi.
“Kayaknya dendam banget kamu sama Pak Elang,” kekeh Nadine seraya meletakkan lembaran kertas itu di tempat semula.
“Padahal dia itu baik, lho. Ra. Everybody’s sweetheart di kampus kita,” lanjutnya santai. Lalu meraih toples berisi cookies coklat di samping dispenser, kemudian menikmati satu keping cemilan itu.
“Not everybody. Not for me. Justru dia kayaknya yang punya dendam kesumat sama aku, Nad. Seolah-olah aku ini jelmaan nenek sihir yang pernah mengutuk dia jadi pangeran buaya putih di masa lalu.”
Nadine tertawa kencang, tidak peduli aku mengerang kesal saat melontarkan ujaran itu barusan.
“Aku juga heran semua mahasiswa bilang Pak Elang baik, Pak Elang nggak pelit nilai, Pak Elang kooperatif sebagai dospem. Tapi kenapa sama aku justru sebaliknya. Nyebelin banget, kan?” cerocosku melanjutkan kekesalan yang nyaris menyembur di ubun-ubun.
“Pak Elang itu emang baik, kok. Aku dapat nilai A di mata kuliahnya. Padahal aku cukup kewalahan untuk pelajaran satu itu. Kamu kenal Rocky, kan? Yang satu lokal denganku? Si Bangor yang terkenal paling ‘low bat’ otaknya itu?”
Aku menggangguk. Jelas aku kenal Rocky, cowok sinting yang selalu mengganggu aku dengan rayuan-rayuan garingnya. Yang selalu datang ke kelasku cuma untuk menawarkan diri mengantarku pulang dengan mobil sportnya. Atau tanpa lelah berusaha mengajakku kencan dengan alasan makan malam. Tapi tentu saja selalu aku abaikan. Selain tidak berminat, aku sudah punya Desta, pria yang sudah dua tahun ini menjadi pacarku.
Jika Desta tahu aku jalan dengan pria lain, bisa satu minggu dia puasa bicara padaku karena cemburu.
“Dia pun diberi nilai A di mata kuliah Pak Elang. Tuh, gimana bisa dibilang nggak baik itu dosen?”
“What? Rocky dapat nilai A?” Aku terbelalak dan menganga, tidak percaya.
Bagaimana bisa cowok berotak ‘low bat’ yang kerjanya hanya berfoya-foya dengan uang orangtuanya dan pasrah jika terpaksa drop out dengan nilai kacau balau itu mendapat nilai A di mata kuliah struktur dan konstruksi, di mata kuliah Pak Elang. Sedangkan aku yang memang belajar sungguh-sungguh, justru mendapat nilai C. Hingga aku terpaksa meminta remidial agar nilaiku lebih baik. Yang pada akhirnya cukup puas diberi nilai B.
Pak Elang benar-benar tidak adil!
“Aku malah ketemu satu semester lagi sama si Elang itu untuk remidial.” Bahuku menurun dengan bibir mencebik kesal.
“Kamu sih kurang pendekatan sama Pak Elang. Dari ratusan mahasiswi Arsitektur, kayaknya cuma kamu yang kelihatan jutek sama dia. Padahal yah, sayang banget, lho dosen satu itu diabaikan. Tampan, cerdas, baik hati, tutur bicaranya tegas, dan bodynya juga oke punya. Good looking abislah, pokoknya. Ngeliat dia ngajar di depan kelas itu bikin mata segar dan ngilangin stress. Kayaknya kampus harus lebih banyak merekrut dosen ganteng macam Pak Elang, deh. Khususnya di fakultas teknik.” Nadine memuji dosen arogan itu setinggi langit. Membuat isi perutku kembali meliuk-liuk menciptakan gelombang, mual. Spontan aku mengekspresikan rautku seperti mau muntah.
“Eh, jangan sok jijik gitu, deh! Ntar kecantol sama Pak Elang baru tahu rasa kamu, Sahara.” Aku rasakan panas di pahaku yang terbuka saat telapak tangan Nadine mendarat kencang di sana. Aku meringis sembari mengusap-usap pahaku dan melototi Nadine yang tersirap oleh pesona Pak Elang.
“Kamu sih berlebihan begitu muji dia. Menurutku dia standar aja,” protesku tak suka.
“Aku nggak berlebihan, Sahara. Semua cewek yang punya mata pasti mengakui dia tampan dan keren di atas rata-rata. Cuma kamu, tuh yang bilang dia standar aja. Karena di matamu itu cuma Desta yang paling manis, paling keren, paling tampan. Cowok lain silakan minggir ke pojokan.”
Aku memutar bola mata mendengar Nadine seakan tak puas-puasnya memuji diri Pak Elang. Padahal menurutku laki-laki itu biasa saja. Memang, aku harus akui Pak Elang memiliki kharisma tersendiri sebagai laki-laki matang. Tapi, tampilan fisiknya yang kata Nadine ‘di atas rata-rata’ itu tidak mampu mengubah penilaianku. Bagiku dia tetap laki-laki arogan dan selalu membuatku sakit kepala ketika berhadapan dengannya.
Untuk apa pria tampan jika tidak mampu membuatku merasa nyaman.
Aku mengendikkan bahu sesaat, lalu meraih tumpukan kertas yang berisi ulasan bab tiga skripsiku dan menatap lembar per lembarnya dengan sorot mata mengenaskan.
“Kalau terus-terusan dibantai begini sama Pak Elang, bisa-bisa aku lulus lebih lama,” gumamku pada diri sendiri, sebenarnya. Tapi aku yakin Nadine juga mendengar.
“Ehem... “ Aku menoleh saat mendengar dehaman Nadine. Lalu mendapati Nadine bergeser mendekat, kemudian melingkarkan lengan di bahuku.
Senyuman penuh arti pun terpampang jelas di bibir tipisnya. Jika sudah begitu, aku tahu si cerdas ini pasti akan menasehatiku panjang kali lebar kali tinggi. Seperti kebiasaannya jika sedang mendampingiku di kala galau dengan hubungan asmaraku dengan Desta.
“Menurutku, kamu itu harus lebih jinak dengan Pak Elang, Ra.” Nadine bersuara pelan, setengah berbisik sambil menatap lurus mataku.
Dahiku melipat beberapa lapis, tidak mengerti maksud Nadine. “Kamu pikir aku ini hewan piaraan harus jinak sama sang tuan?” protesku.
“Bukan begitu, Sahara yang cantik tapi gersang kayak gurun. Maksudku, coba kamu bersikap lebih ramah dengan Pak Elang. Kasih senyuman semanis madu saat bimbingan. Kalau perlu, skinship tipis-tipis biar dia juga jinak sama kamu. Flirting sedikit, lah. Banyak kok mahasiswi yang melakukan itu karena terpaksa. Malah ... ada yang rela memberi lebih dari hanya sekedar skinship. Mungkin mereka pikir, daripada skripsi mereka dipersulit terus-menerus dan tidak jelas kapan lulus.”
“Ah, sinting! Aku nggak mau pakai cara pendekatan seperti itu,” tampikku, lalu melerai lengan Nadine dari bahuku.
Aku paham maksud Nadine. Intinya, Nadine menyarankan aku menggunakan cara liar untuk menaklukan dosen gila itu. Jelas aku tidak akan mau.
Percuma aku berjuang keras dari awal untuk memasuki fakultas teknik di universitas terkenal se-Nusantara ini dan memeras otak mendalami mata kuliah yang memusingkan selama ini jika di tahap akhir aku harus menghalalkan cara kotor demi meraih gelar Sarjana Teknik yang tinggal selangkah lagi.
Apalagi dengan Pak Elang Kafka Maghenda. Yang terang benderang selalu menunjukkan sikap perang terhadapku.
Tidak akan! Itu ide gila Nadine yang mustahil aku lakukan.
“Yaaa, aku sih cuma kasih masukan saja. Karena aku kasihan sama kamu, Ra. Kalau lihat kondisi skripsimu yang hanya jalan di tempat, aku yakin kamu bakalan lama lulusnya. Skripsiku saja sudah sampai di bab penutup, padahal dospemku, Pak Teguh itu termasuk killer dan perfeksionis. Sementara kamu, bab tiga saja belum tentu di ACC sama dospem-mu itu.” Santai, Nadine menjelaskan. Dan aku, mengernyitkan dahi mendengarkan. Lalu mengangguk-anggukan kepala.
“Ide kamu bagus juga, Nad. Kalau begitu, setiap bimbingan sama Pak Elang aku akan pakai baju seksi, dandan lebay. Touching tipis-tipis kayak jallang sok naif. Kalau perlu buka paha sedikit. Lalu bikin kesepakatan. Aku akan berikan apa yang dia inginkan, asalkan skripsiku dilancarkan dengan nilai memuaskan. Briliant, Nad. Very Briliant!” Aku berseru hingga bertepuk tangan di hadapan Nadine yang tersenyum lebar.
“Nah, kamu pintar, Sahara. Terkadang kita terpaksa mengorbankan sesuatu yang berharga demi sebuah cita-cita mulia, bukan?” timpal Nadine dengan kalimatnya yang sok bijaksana.
Aku mengangguk sambil melipat kedua tangan di depan dadaa dan menatap tajam wajah Nadine.
“Thanks anyway atas saranmu, Nad. Tapi, sorry ... AKU NGGAK AKAN PERNAH LAKUKAN ITU!” tegasku menekankan kalimat akhir agar Nadine mengerti bahwa aku bukan mahasiswa sembarangan yang menghalalkan segala cara demi kelulusan. Aku ingin lulus kuliah dan menjadi Sarjana Teknik dengan cara murni, walaupun harus berdarah-darah untuk memperjuangkannya.
Nadine mencebik, terlihat tidak suka karena dalam sekejap mata aku langsung membantah sarannya. Dia mengendikkan bahu singkat sebelum akhirnya beranjak. “Ya, terserah kamu aja sih, Ra. Selamat berjuang kalau begitu. Jangan lupa minum vitamin. Dibantai Pak Elang butuh tenaga ekstra supaya nggak pingsan.” Nadine terkekeh meledek seraya menepuk-nepuk bahuku pelan.
Nadine melirik arlojinya sesaat. “Sudah jam empat, aku pergi dulu, ya. Aku sudah janjian dengan calon adik iparmu untuk bantu kerjakan PR Matematika. Kalau aku terlambat dia bisa ngambek sepanjang jam pelajaran. Kelakuannya nggak jauh beda sama abangnya, pacarmu itu. Ngambeknya super ngeselin, nggak mau ngomong kayak patung,” ujarnya sambil terkekeh kecil.
Oiya, selain cantik, Nadine ini juga memiliki otak yang cerdas. Tapi keadaan ekonomi yang membuatnya kurang beruntung. Aku tidak tahu latar belakang keluarganya. Yang aku ingat Nadine pernah cerita bahwa dia bisa kuliah di universitas negeri ini lewat jalur beasiswa BIDIKMISI yang ditawarkan Dinas Pendidikan di Sulawesi.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup selama kuliah di kota ini, Nadine bekerja part time sepulang kuliah. Apa saja. Mulai dari pelayan resto cepat saji, bekerja di toko komputer, dan tiga bulan terakhir ini Nadine mengajar privat Matematika khusus siswa SMA. Murid pertamanya adalah Dessy, adik pacarku, Desta. Itu pun karena aku yang merekomendasikan Nadine pada Desta dan Dessy. Juga memohon pada Desta untuk memberi Nadine fee yang cukup tinggi.
Sedangkan aku sudah sepatutnya merasa sangat beruntung, karena selama dua tahun ini aku tidak lagi memikirkan biaya hidup sehari-sehari. Ada Desta yang selalu memenuhi. Mulai dari biaya makan, sewa kost-an, kebutuhan skincare dan pakaian, hingga kebutuhan lain penunjang kuliah, seperti laptop, printer dan smartphone. Jadi, uang bulanan yang dikirim mama dari kampung utuh di dalam rekeningku. Bahkan Desta berjanji akan membelikanku mobil baru jika aku lulus nanti. Karena itu, dia membiayaiku kursus mengemudi terlebih dulu.
Laki-laki idaman semua perempuan, bukan?
Desta-ku itu bekerja sebagai staf analis kredit di sebuah bank BUMN. Aku bertemu Desta pertama kali saat membuka rekening pada bank itu dua tahun lalu. Saat itu Desta masih bertugas sebagai Customer Service dan kebetulan melayaniku sebagai nasabah baru.
Jika ada yang bilang love at the first sight is a bullshit, jangan percaya. Karena aku mengalaminya saat pertama kali bertemu Desta. Pesona Desta yang memukau begitu membiusku. Begitu pun dirinya yang bergerak cepat mendekatiku tanpa menyerah. Sejak itu, tidak ada ruang di hatiku untuk laki-laki, selain Desta Argadinata.
Kegundahan hati mengingat nasib skripsiku memudar perlahan kala wajah tampan dengan senyuman sejuta pesona milik Desta menari-nari di ingatan. Hingga aku tidak menyadari lagi ternyata Nadine sudah menghilang dari kamarku ini.
