Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Prolog

Prolog.

Lembaga Pemasyarakatan Padang, Januari 2018

Pengap. Gelap. Lembab.

Keadaan ruangan berukuran sempit ini tidak mampu mengalahkan kepuasan hatiku. Justru Aku bahagia walau dengan sekujur tubuh penuh luka.

Bukan hanya luka yang tampak di permukaan kulitku yang kusam. Tetapi luka menganga di hatiku yang kelam.

Tapi aku senang, merasa tentram dan nyaman, walapun dengan darah dan keringat yang bercampur di kedua tangan.

Bukan hanya satu yang aku hantam kemarin siang, tapi tiga orang. Dan semuanya menggelepar di tanah tanpa daya. Semua wanita bedebah itu mengerang kencang karena kesakitan.

Jika saja dua sipir bengis itu tidak datang menarik tubuhku, aku yakin malaikat maut segera datang menjemput ketiga wanita sialan itu.

Hey, ingat bedebah! Aku bisa saja membunuh kalian saat itu juga. Karena aku tidak peduli apa hukuman yang akan aku hadapi.

Apa kalian kira dengan memasukkan aku ke sel isolasi ini aku akan jera?

Tidak akan!

Justru aku semakin kuat. Aku semakin hebat. Karena aku dan para setann penghuni tempat ini sudah bersahabat.

Hahaha!!!

Kalian bodoh jika mengira aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi dengan mengurungku di tempat najis ini.

Hati-hati, justru kegilaanku semakin menjadi.

Darah di kedua tanganku sudah mengering. Tapi aku tidak tahu darah siapa ini yang mendominasi.

Apakah darahku yang mengucur dari lengan yang dipecut oleh Ruminah dengan batang kayu?

Atau darah si Juju berambut keriting dan berwajah jelek yang aku hantam kepalanya dengan batu?

Apa mungkin darah si hitam pendek -entah siapa namanya, yang tadi aku cekik hingga lidahnya terjulur dan wajahnya mulai membiru.

Tapi ... hmmm.... Harumnya aroma cairan merah ini membuatku menagih.

Menagih untuk membunuh lagi.

Aku tidak mendongak apalagi menoleh ketika mendengar pintu besi itu berbunyi. Masih dengan dagu di atas kedua lutut, aku hanya duduk bergeming menghadap dinding ketika bunyi pintu itu berderit nyaring. Aku tahu seorang sipir sebentar lagi akan memanggilku atau memberiku ransum menjijikan itu.

“Sahara!”

Benar, kan?

“Apa hidangan breakfast kali ini? Steak Wagyu, kah? Atau Spagheti Carbonara?” tanyaku meledek dengan nada suara begitu dalam dan tenang.

“Kamu kira ini hotel bintang lima? Ini hotel prodeo, Bodohh!”

Tanpa menoleh pun aku tahu itu pasti Wartini, salah satu sipir yang aku benci. Kalau ada kesempatan, aku pasti akan menusuk-nusuk perutnya yang penuh lemak itu.

“Pengacaramu datang. Cepat keluar!”

“Mau apalagi, sih, itu orang?”

“Mana aku tahu? Mungkin mau ajak kamu bercinta sebelum kamu dihukum mati. Lumayan, kan merasakan batang yang nikmat sebelum kamu menghadap Tuhan.” Suara kekehan si karung beras Wartini ini memang menjijikan di telinga. Dia selalu menganggapku seperti jalang hanya karena aku paling cantik dan seksi di penjara terkutuk ini.

Perlahan aku bangkit dari lantai lembab dan dingin ini. Kemudian menuju pintu besi yang sudah terbuka lebar. Setelah satu langkah melintasi pintu, aku menantang tatapan sinis si karung beras itu.

Lalu ...

“Aaaak! Bang ... sat! Heeeekkk!”

Secepat kilat aku cengkram ketat batang leher gempalnya hingga ia nyaris kehilangan napas.

Tangannya bergerak-gerak panik hendak menggapai wajahku atau rambutku, entahlah.

“Tooo ... long!” Ia berusaha memekik tapi tidak bisa. Tentu saja, karena aku semakin kuat mencekik dan mendorongnya ke dinding samping pintu.

“Sahara! Lepas!”

“Lepaskan, Sahara. Jangan ada lagi kekerasan di tempat ini!”

Jika saja Ibu Siana tidak melerai cengkaramanku di leher tambun itu, aku pastikan Wartini ini lebih dulu menghadap Tuhan sebelum aku.

Tangan Ibu Siana menarik paksa kedua tanganku agar terlepas. Dan aku pun menurut, lalu membiarkan si Wartini itu terbatuk-batuk sambil tertunduk lemas karena kepayahan bernapas.

“Kamu tidak ingin lebih lama di ruang isolasi ini, kan?” Ibu Siana mendorong bahuku pelan. Memisahkan tubuhku agar menjauh dari sipir gila yang masih terbatuk-batuk itu.

“Lama pun tidak masalah, Bu. Malah aku senang. Aku bisa bebas tidur sendirian, tidak ada yang mengganggu,” ucapku menantang. Tapi aku tidak ingin melawan Ibu Siana. Karena dia baik. Jauh lebih beradab dibanding sipir-sipir yang lain.

Aku mencebik ketika melihat Ibu Siana geleng-geleng kepala seraya mendesah kesal. Lalu menatapku dengan sorot mata keibuannya. Jika Ibu Siana sudah menatapku seperti itu, aku jadi luluh.

“Sudahlah. Ayo, temui Pak Attala. Gunakan waktu berkunjung seefektif mungkin dengan pengacaramu itu.”

Menarik lenganku, Ibu Siana membawaku menuju ruang kunjungan di bagian depan lapas.

Dari kejauhan, aku melihat Attala Tirtayasa tengah duduk menghadapi tumpukan berkas di meja. Setelah membersihkan kedua lengan dan membasuh wajah agar lebih segar di keran taman, aku menghampiri pengacara tampanku disana.

Ya, dia tampan. Sangat tampan. Bagaimana, ya mendeskripsikannya?

Wajahnya berbentuk oval. Di lengkapi dengan sepasang mata tipis dengan lensa kecoklatan, dibingkai sepasang alis legam. Hidung tegak sempurna. Bibir yang ... ehhmm ... jika kulumat pasti tidak ingin kulepaskan. Menggiurkan. Sedikit tebal namun seksi versi laki-laki. Kulitnya tergolong putih dan bersih. Rambutnya dipotong rapi dan selalu klimis. Tubuhnya cukup tinggi, walau tidak menjulang. Mungkin sekitar 175 senti.

Setahuku, usianya masih pertengahan tiga puluhan. Seorang pengacara muda yang cukup cerdas dan namanya pun patut diperhitungkan. Kliennya rata-rata orang kaya dan berpangkat. Bahkan dia pun sering bolak-balik ke luar negeri untuk menangani beberapa kasus besar di sana.

Kalian tahu sendiri, kan, berapa besar tarif pengacara yang sudah punya nama di tanah air ini? Ratusan juta. Bahkan milyaran, mungkin?

Tapi, dia bersedia menangangi kasusku ini tanpa dibayar sepeser pun. Aneh bin ajaib. Di era materialistis ini, ada pengacara hebat yang mau menggratiskan jasanya hanya untuk membela seorang pembunuh kejam seperti aku.

Dari yang aku tahu dari sesama penghuni lapas, ada beberapa pengacara yang memang tidak melulu berorientasi pada uang. Mereka hanya ingin kepuasan karena berhasil memenangkan sebuah kasus besar. Tentu saja setelah itu nama mereka semakin berkibar. Mungkin, Attala salah satunya.

Namun, terlepas dari semua alasan itu, aku tahu Attala adalah laki-laki baik. Dulu, di saat semua orang menghujatku, menuding diriku sebagai wanita jalang, menghancurkan harga diriku hingga aku tak sanggup lagi menatap dunia, Attala tampil membelaku dan percaya bahwa aku tidak bersalah.

Dan kini, dia melakukannya lagi untukku. Menjadi pengacaraku untuk membebaskanku dari vonis maksimal yang sudah ditetapkan hakim Pengadilan Tinggi. Hukuman mati.

Attala mendongak sesaat, lalu dahinya berlipat-lipat ketika menatap wajahku lekat. Tatapannya terus mengiringi aku yang perlahan menempatkan diri di seberangnya.

“Kenapa wajahmu, Sahara?”

“Lehermu juga. Seperti bekas cakaran?”

Ia memindai wajah dan leherku. Aku hanya menarik satu sudut bibir. Malas menanggapi kekagetannya karena melihat wajahku yang lebam dan leher dengan tiga goresan yang masih terasa perih.

Lebam di bawah mata dan sudut bibir pasti karena tonjokan si Ruminah kemarin. Dan cakaran di leherku ini, aku ingat itu ulah si pendek -entah siapa namanya.

“Kamu ribut lagi dengan sesama penghuni?” tanya Attala. Masih penasaran, rupanya.

Aku enggan menjawab. Untuk apa? Dia sudah pasti tahu kebiasaanku yang satu itu. Ribut, bertengkar, menghajar, dan nyaris membuat orang mati adalah hal yang paling aku sukai di sini.

Sekecil apapun mereka menyinggungku, pasti aku layani dengan pukulan dan tinju.

Apalagi kemarin, tiga wanita bedebah beda usia itu mengangguku di kamar mandi. Mereka penasaran ingin menjamah tubuhku. Karena mereka pikir aku ini lesbian, seperti mereka.

Enak saja!

Aku wanita normal. Dan masih bernafsu besar pada laki-laki. Itulah kenapa aku hajar mereka hingga terkaing-kaing seperti anjing nyaris mati.

Sekali lagi, karena aku tidak peduli. Toh, hukuman mati telah menanti. Jadi, semakin bertambah kesalahanku justru semakin singkat waktuku untuk menghadap Sang Illahi.

“Tolonglah, Sahara. Kendalikan emosimu. Jika kamu terus-terusan berbuat kesalahan, aku takut kamu akan dipindahkan ke Nusa Kambangan.” Raut Attala tampak meredup dengan nada lirih memohon.

Aku tetap bergeming seraya memainkan kuku-kuku tangan yang hitam di bagian ujung. Disini, jelas tidak ada pelayanan menicure pedicure, bukan?

“Aku di luar sedang berusaha keras dengan segala upaya agar permohonan kasasi-mu dikabulkan. Di dalam sini, kamu pun harus menjaga sikap sebaik mungkin. Jadi, aku harap kita bisa bekerjasama, Sahara.”

Aku mendongak menatap Attala. Lalu tersenyum kecil. Kemudian, tertawa lirih. Entah apa yang aku tertawakan. Tapi, rasanya lucu saja. Aku yang punya nyawa tapi orang lain yang berusaha mati-matian untuk menyelamatkan nyawaku agar terbebas dari timah panas saat eksekusi.

Ternyata nyawa pembunuh seperti aku ini berharga juga. Hahaha ...

“Sahara ... “

Attala menggeser kursinya lebih mendekat padaku. Lalu mencondongkan tubuh hingga wajahnya nyaris merapat pada wajahku. Aroma aqua marine dari tubuhnya pun membelai indera penciumanku. Membuat aku jadi nafsu....

“Aku punya strategi lain sebenarnya. Keagresifanmu yang tidak terkendali itu aku pikir ada bagusnya juga. Aku akan mengajukan seorang dokter jiwa atau psikiater untuk memeriksamu. Dan jangan tersinggung ... jika aku yakin tempatmu bukan di sini dan semoga bisa terhindar dari hukuman mati. Tapi di ... “

“Rumah sakit jiwa.” Aku langsung memotong kalimatnya, karena aku tahu kemana penjelasannya itu bermuara.

Aku cukup mengerti strateginya itu. Aku pintar, kan? Tidak sia-sia aku kuliah walaupun bukan jurusan hukum yang aku ambil waktu itu. Tapi, jurusan Teknik Arsitektur.

Attala tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Tapi tatapan tajamnya itu mengartikan bahwa tebakanku benar.

Setelah merenggut tiga nyawa aku hanya dihukum di rumah sakit jiwa?

Jika berhasil, aku akan membayar Attala dengan tubuhku. Bahkan sukarela menjadi budak nafsunya.

Kita lihat saja nanti.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel