Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Serangan Balik

Berkas-berkas berisi materi skripsiku sudah aku siapkan di atas meja. Begitu pun diriku yang sudah rapi paripurna. Dengan kemeja hitam dan celana skinny jeans serta flat shoes hitam, ditambah riasan seadanya dilengkapi rambut panjangku yang aku ikat tinggi, aku coba membangkitkan kembali rasa percaya diri untuk berangkat ke kampus pagi ini.

Satu minggu sudah berlalu sejak peristiwa na’as itu. Aku pikir berita tentangku dan dosen sialan itu sudah berlalu dan hanya menjadi cerita basi yang tak akan dibahas lagi. Tetapi aku salah, warga kampus dan media online masih saja memperbincangkannya. Terbukti ketika aku mengecek ponselku setiap malam, masih banyak teman-teman yang menerorku dengan berbagai pertanyaan seputar kasusku yang pastinya enggan aku jawab. Sehingga dengan terpaksa aku blokir nomor kontak mereka.

Bahkan bully-an itu masih terus berlanjut di media sosialku. Mereka menggunakan akun fiktif menuliskan berbagai sindiran tentang mahasiswa yang mempunyai side job sebagai wanita panggilan.

Luar biasa menyakitkan. Karena itu aku tutup semua akun media sosialku.

Hidup ini ternyata sangat lucu sekaligus mengenaskan. Aku yang menjadi korban, tapi justru aku yang disalahkan. Bahkan dirundung habis-habisan. Aku yang dirugikan secara moril, tetapi justru diperlakukan tidak adil.

Setelah mengembuskan napas panjang, aku melangkah keluar kamar bersama berkas-berkas skripsi di tangan.

Baru saja aku mengunci pintu dari luar dan hendak berlalu, tiba-tiba pandanganku bertabrakan dengan tatapan Nadine yang juga baru saja keluar kamar.

Kini dia berbeda. Sangat jauh berbeda dari Nadine yang aku kenal selama ini. Tidak ada lagi senyum untukku, apalagi tawa dan sapaan hangat. Yang tampak di depan mataku sekarang mantan sahabat yang sedang menatapku dengan tatapan jijik dan melecehkan.

Jelas aku bingung. Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi monster mengerikan seperti itu. Padahal seingatku, aku tidak pernah berbuat salah padanya. Bahkan aku sudah menganggapnya seperti saudara.

Tak tahan dengan tatapan sinisnya itu, aku pun mendekatinya. Dia berdiri tegak seolah sedang menantangku. Aneh!

“Nadine. Aku tahu kamu orang pertama yang menyebarkan berita tentang kasus pelecehan yang menimpaku di kampus. Dan sekarang menjadi pergunjingan publik di seluruh media. Aku heran sama kamu. Kenapa kamu tega menyebarkan aibku pada semua orang, Nad? Kamu sahabatku. Orang yang aku percaya selama ini. Tapi justru kamu sama sekali tidak menunjukkan rasa empatimu pada penderitaanku, Nad. Apa aku pernah berbuat salah padamu? Atau aku pernah merugikanmu, hah?” Susah payah aku berusaha setenang mungkin, walau dalam hati rasa geram menggelitik. Apalagi melihat decihan yang keluar dari bibir tipis Nadine. Rasanya, ingin aku hantam mulut pengkhianat satu ini.

Dia yang bertubuh mungil mendongak menatapku seraya berkacak pinggang menantangku.

“Aku berempati jika yang terjadi padamu itu benar-benar perkosaan, Ra. Tapi kamu tidak pernah bisa membuktikan bahwa Pak Elang memperkosamu. Bahkan di depan mataku sendiri jutaan uang bertaburan dari dalam tasmu setelah kamu mengaku diperkosa. Kamu itu licik. Memanfaatkan kecantikan dan body goal-mu itu untuk mendapatkan laki-laki yang kamu inginkan. Lalu memanfaatkan mereka untuk kepentinganmu. Caramu itu sangat bodoh, Ra.”

“Apa maksudmu? Kamu pikir aku mengada-ada? Mengaku-ngaku diperkosa? Itu sama saja mempermalukan diriku sendiri. Bagaimana otakmu yang ber-IQ tinggi itu bisa berpikiran sepicik itu, Nad?” bantahku dengan nada suara meninggi.

“Justru karena aku pintar, aku bisa menilai siapa drama queen sebenarnya. Kamu selalu mengeluh karena sulitnya mendapat bimbingan skripsi dari Pak Elang. Karena itu kamu putus asa, lalu menggunakan cara hina untuk menaklukan Pak Elang. Mungkin Pak Elang tahu dia akan dimanfaatkan olehmu, jadi dia berbalik mengerjaimu. Menikmati tubuhmu, setelah itu ditinggalkan begitu saja tanpa kesepakatan yang kamu inginkan. Sementara kamu gigit jari karena ternyata Pak Elang cuma ingin bersenang-senang. Lalu, kamu mengaku-ngaku diperkosa lantaran kecewa karena tujuanmu gagal total.”

Tajam dan menikam. Khayalan tingkat tinggi Nadine begitu menyakitkan. Hingga aku tidak kuasa lagi untuk menahan tangan ini agar tidak melayang dan ....

Akhirnya pipi si pengkhianat itu terlempar keras ke samping setelah menerima tamparanku.

“Kamu marah. Berarti aku benar!” Wajahnya kembali mendongak tegas menantangku. Aku melihat bekas tapak tanganku memerah di pipi kanannya.

“Kamu fitnah!” Telunjukku mengarah kasar ke dadanya yang rata.

“Gara-gara kamu, nama baik kampus kita tercemar. Terutama Fakultas Teknik. Bahkan berdampak dengan mahasiswi lain yang sempat dibully di media sosial. Mereka disamaratakan dengan kamu. Sebagai ayam kampus!”

“Itu tidak benar! Aku bukan ayam kampus!” Rasanya tak tahan lagi ingin kucekik batang leher si cebol ini.

“Itu benar! Apa namanya kalau bukan ayam kampus, mahasiswa yang menggantungkan hidup dari laki-laki mapan. Memberi kesenangan pada laki-laki itu agar terus dibiayai. Berpura-pura menjadi kekasih terbaik ternyata hanya untuk mengeruk materi?!”

Aku menautkan kedua alisku, bingung dan tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Tetapi aku menangkap ada aroma cemburu di balik kalimat sarkasnya itu. Pembicaraan mengenai kasus perkosaanku tiba-tiba berbelok ke arah lain yang tidak ada hubungannya sama sekali.

Tak salah lagi, dia sedang membicarakan seseorang.

“Kamu cemburu padaku? Kamu cemburu karena aku pacar Desta?” tudingku seraya mendekat padanya. Bahkan merapat, hingga dia terpaksa menjauh satu langkah dariku tanpa melepas tatapan tajam disertai napas yang menderu.

“Bilang, Nad! Kamu ternyata menginginkan Desta, kan?!” desakku lagi.

Dia bungkam, tapi bola matanya bergerak-gerak gelisah. Dia tidak mampu menyembunyikan lagi perasaan yang sebenarnya tentangku dan tentang Desta. Aku tahu itu. Hingga aku menyimpulkan bahwa dia memanfaatkan penderitaan yang aku alami untuk memutarbalikkan fakta, lalu memfitnahku sedemikian rupa agar nama baikku semakin terpuruk karena semua orang menganggapku mahasiswa asusila. Tidak hanya orang lain yang ingin ia yakinkan bahwa aku bukan perempuan baik-baik, tapi juga Desta.

Benar-benar culas si cebol satu ini!

Aku mengangguk membenarkan dugaanku sendiri. “Ya, aku yakin kamu suka sama Desta. Kamu naksir dia, Nad. Tapi ... jangan pernah mimpi bisa merebut Desta dari aku!” Sekali lagi aku tunjuk-tunjuk dadanya yang tidak bergelombang itu, bahkan aku hentak hingga dia terdorong selangkah ke belakang.

Dia menepis kasar tanganku. “Kamu pikir mentang-mentang aku tidak secantik kamu, tidak setinggi kamu aku tidak bisa membuat Desta jatuh cinta? Lihat saja nanti bagaimana Desta akan tergila-gila padaku dan secepatnya membuangmu seperti sampah!”

“Apa?!”

Dia mengangguk tegas dengan seringai licik di bibirnya. “Aku mengandalkan ini untuk menaklukan laki-laki” tunjuknya pada kepala sendiri. “Bukan seperti kamu yang cuma mengandalkan payudara besarmu yang menjijikan itu! Bahkan seluruh tubuhmu saja sudah dirupiahkan!” Dengan lancangnya dia mendorong dadaku.

Aku balas mendorong dadanya dengan satu tangan saja. Hingga ia memekik kesakitan ketika punggungnya bertabrakan dengan dinding belakang. “Kamu jahat, Nad! Ternyata apa yang selama ini kamu tampilkan dihadapanku cuma topeng! Inilah wajah aslimu sebenarnya. Pengkhianat! Tukang fitnah! Penyebar aib orang! Ingat, ya, Cebol! Aku tidak akan lupa perlakuanmu padaku ini. Kamu ... game over!” Aku tunjuk kasar wajahnya yang terbelalak dengan mulut menganga hendak mengeluarkan kembali kata-kata.

“Rara!” Aku menoleh ke belakang ketika tiba-tiba sebuah suara bariton memanggil namaku dengan lantang.

“Mas?”

Aku tinggalkan Nadine yang terdengar mengembuskan napas lega. Lalu aku hampiri Desta dan Attala yang kini berdiri di depan pagar halaman kostan.

“Ada apa dengan Nadine?” Desta bertanya padaku sambil melirik Nadine. Aku ikut menoleh ke arah lirikannya. Dan kulihat si pengkhianat itu berjalan menghampiri tempatku.

“Pengkhianat harus diberi pelajaran,” jawabku geram.

“Mas Desta, nanti sampaikan terima kasihku untuk Mama, ya. Rendangnya enak banget, lho. Maaf, kemarin aku nggak sempat bilang terima kasih sama Mama karena Mama keburu pergi sebelum aku selesai ngajar Dessy.” Nadine langsung berdiri di sampingku dan memasang wajah semanis madu memandangi Desta yang justru terpaku rikuh menoleh padaku dan Nadine bergantian.

Cerocosan Nadine membuatku bingung menatap Desta. “Mama kasih rendang untuk dia, Mas?” telunjukku mengarah tepat di tepi kening Nadine. Dan sejak kapan Nadine memanggil Mamanya Desta dengan sebutan sok akrab itu. ‘Mama’. Setahu aku dia biasa memanggil ‘Ibu Devi’ pada mamanya Desta, pengusaha catering ternama itu.

“Emm ... I ... iya. Tapi, sebenarnya itu untuk kalian berdua,” jawab Desta terbata-bata.

“Ooo, untuk Sahara juga? Waduh! Aku nggak tahu, lho, Mas. Soalnya Mama bilang kemarin cuma untuk aku. Padahal sebenarnya aku juga niat kasih kamu sedikit, lho, Ra. Tapi aku lihat tadi malam kamarmu gelap, sepertinya kamu belum pulang. Kata Ibu Retno kemarin dia lihat kamu dijemput Pajero hitam.”

Sontak, aku terbelalak lebar menatap Nadine. “Hah?! Maksudmu apa, Cebol? Jangan fitnah terus, dong!” Lalu, aku dorong bahunya kasar.

“Ra? Kamu pergi sama siapa lagi?” Kini, justru Desta yang menarik lenganku untuk berhadapan dengannya. Sorot matanya berkilat amarah tertuju tepat ke bola mataku.

Aku menggeleng cepat. “Rara nggak pergi kemana-mana semalam, Mas. Rara sibuk dengan materi skripsi untuk Rara ajukan hari ini.”

Ini jelas, Nadine berusaha menggerus kepercayaan Desta terhadapku.

Aku menoleh lagi pada Nadine yang pandai sekali merubah tampilan wajahnya seolah tanpa dosa. “Nadine, please. Sudah cukup kamu menyebarkan aibku di kampus. Jangan fitnah aku lagi, Nad! Aku nggak kemana-mana tadi malam. Aku ada di kamar.” Suaraku melirih. Memohon pada Nadine untuk menghentikan niat busuknya terhadapku.

“Aku nggak fitnah, Ra. Aku cuma menyampaikan apa yang Ibu Retno bilang. Maaf, kalau aku nggak mengetuk pintu kamarmu dulu untuk memastikan kamu ada atau nggak.”

“Entah Ibu Retno yang salah atau kamu lagi-lagi memfitnah. Mbak Dina, penghuni kamar paling ujung itu sering dijemput pacarnya pakai Pajero hitam. Kamu juga tahu itu, kan?” bantahku.

“Tapi kata Bu Retno dia lihat kamu masuk ke Pajero hitam itu. Jadi aku pikir ... “

“Halah! Sudahlah. Silakan kamu fitnah aku sesukamu! Peduli setan!” Aku sudah tidak tahan lagi dengan sandiwara Nadine yang membuatku ingin memuntahkan isi perutku.

“Sekarang, bisa kamu pergi dari sini? Aku mau bicara sama P-A-C-A-R-ku!” usirku tegas pada Nadine dengan menekankan kata terakhirku.

Memuakkan rasanya ketika melihat Nadine yang langsung menyentuh lengan Desta sebelum akhirnya berlalu dari hadapanku.

Nadine sudah mengibarkan bendera perang padaku!

“Ada apa, Mas? Pagi-pagi sudah ke sini? Mas nggak kerja?” alihku pada Desta setelah berhasil menenangkan suasana hatiku yang porak poranda karena sikap khianat Nadine.

“Attala ingin beritahu Rara sesuatu,” tunjuknya pada Attala, kuasa hukumku itu yang sejak tadi berdiri di belakang Desta.

“Sahara ... “ Attala menyejajarkan diri tepat di samping Desta, berhadapan denganku. “Aku dapat kabar Elang Kafka Maghenda melaporkanmu balik atas kasus pencemaran nama baik.”

“Apa?!” Aku terbelalak lebar di antara panik dan bingung yang hadir serentak.

Attala mengangguk lemah, lalu saling bertukar tatap dengan Desta sesaat.

“Kurang ajar! Dosen laknat!”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel