Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

No Justice

Bagaimana bisa keadilan ditegakkan, jika orang tak bersalah, bahkan yang menjadi korban justru dipersalahkan. Seperti aku contohnya.

Aku ini adalah korban. Aku kehilangan keperawanan karena perkosaan. Aku kehilangan harga diri dengan cara keji. Dan nama baikku hancur karena perundungan yang tak henti-hentinya menggempur. Akan tetapi, justru kini aku dilaporkan atas dugaan fitnah dan pencemaran nama baik laki-laki bajingan yang merampas kesucianku.

Disaat aku meminta perlindungan dari pihak pemegang wewenang hukum, tetapi permintaanku dimentahkan begitu saja hanya karena mereka tidak menemukan cukup bukti dan saksi atas tuduhanku.

Sedangkan, di saat si pemerkosa itu merengek-rengek pada mereka lantaran nama baiknya tercemar karena pengaduanku, mereka bertindak secepat cahaya.

Ini sangat menggelikan sekaligus memuakkan.

Setelah dua jam lebih diinterogasi polisi atas laporan Elang, aku diperbolehkan pulang. Namun, diminta untuk tidak meninggalkan ibukota karena akan ada pemeriksaan lanjutan beberapa waktu ke depan.

Luar biasa lucu!

Kini aku merasa berada di posisi terbalik. Aku si pelaku. Dan Elang sebagai korbanku.

Sambil mengusap dua pipiku yang basah karena keringat bercampur airmata, aku melangkah keluar kantor kepolisian bersama Attala.

Attala ini begitu baik padaku, sejak awal dia selalu mendampingi dan memberi support untukku. Tetapi Desta, pria yang kuharap menemaniku di saat-saat melelahkan ini justru tidak bisa menyediakan waktu. Beralasan ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, Desta menitipkan aku pada sepupunya itu.

Baiklah. Aku mengerti alasannya.

Langkahku terhenti tepat di gerbang parkiran. Mataku terpaku pada sosok laki-laki di hadapan yang juga menghentikan langkah perlahan.

Darahku seketika mendidih. Berdesir cepat menuju puncak kepala. Jantungku yang semula berdetak wajar, tiba-tiba bergemuruh kencang, seakan hendak merontokkan seluruh tulang.

Si Bangsat ini ... Elang juga terkesiap di hadapanku.

“Bajingan!!!” Aku mengerang lantang. Tak ada lagi rasa hormat yang sejatinya telah hilang.

Entah setan mana yang menguasai diriku. Aku tak kuasa lagi untuk menahan emosi yang tida-tiba meledak. Secepat kilat, aku terjang tubuh dosen sialan di hadapanku itu. Dan ....

“Sialan, kamu!”

“Bangsat!”

“Kamu hancurkan hidupku, Brengsek!”

Bersama makian yang enggan berhenti, aku layangkan kepalan tanganku pada tubuh dosen sialan itu bertubi-tubi. Wajahnya, dadanya, perutnya, dan sekujur tubuhnya tidak terlewatkan dari tinju dan tendanganku. Hingga dia kepayahan menangkap kedua tanganku.

Sialnya, tubuhnya seperti dipaku ke bumi. Pria itu seakan tidak tergoyahkan oleh seranganku. Hanya bergerak satu langkah ke belakang. Hanya sejauh itu. Padahal aku sudah mengerahan seluruh tenaga yang berkolaborasi dengan amarahku.

Inginku, dia terjengkang ke tanah. Seandainya itu terjadi, aku akan menghajarnya sampai mati! Tetapi, dia tidak melawan sama sekali. Tidak membalas pukulan dan tendanganku satu kali pun. Seolah memberiku kesempatan seluas-luasnya untuk melampiaskan amarahku.

“Sahara!”

“Sahara, please!”

Aku haramkan namaku disebut olehnya. Tak peduli dia panggil namaku berkali-kali, aku tidak ingin berhenti.

“Sahara, jangan!”

“Tolong, pisahkan!”

“Sahara!”

Entah suara siapa itu yang berteriak-teriak di belakangku. Aku enggan menoleh. Fokusku hanya pada si bajingan itu.

Belum puas rasanya aku meluapkan kekesalan, tetapi kedua tangan dan kakiku tiba-tiba hanya memukul dan menendang udara. Ternyata Attala menarik pinggangku dan mengangkat tubuhku hingga menjauhkan aku dari dosen bajingan itu. Aku yang kini berada di kungkungan Attala, hanya bisa meluapkan kemarahanku dengan memaki dan menghardik kencang bersamaan dengan napasku yang memburu.

“Heh, Pelacur Murahan! Kamu akan segera mendekam di penjara. Lihat saja nanti!” Seorang wanita menarik lengan dosen sialan itu seraya menghardikku. Pekikannya membuat darahku yang mendidih semakin menggelegak.

“Dia yang akan mendekam di penjara! Bukan aku, Perempuan Laknat!” Entah siapa wanita yang aku sebut laknat itu. Peduli setan! Dia pun memanggilku dengan sebutan terhina yang membuatku semakin naik darah.

“Sahara, sudah cukup!” Attala yang masih memenjaraku dengan kedua lengannya, menyuruhku untuk berhenti.

Jelas, aku tidak ingin menuruti. Aku berusaha membebaskan diri dari Attala, hendak menyerang wanita yang tengah posesif memeluk Elang.

Dari lirikan mata, aku melihat orang-orang sudah berkerumun sambil berbisik-bisik menonton pertunjukan penuh amarah ini. Sekali lagi, aku tak peduli! Biar saja orang-orang tahu betapa pengecutnya laki-laki biadab yang aku hajar tadi.

“Suruh dia berhenti. Atau kami akan tambah lagi tuntutan kami atas kasus penyerangan ini!” Seorang laki-laki setengah baya dengan setelan jas hitam dan tas di sandang, berdiri di depan Elang. Dia bicara pada Attala. Dari caranya pasang badan untuk Elang dan gestur tubuhnya, aku menduga laki-laki itu penasihat hukum Elang.

“Sahara, sudah, sudah! Tenangkan dirimu!” Attala menyentak tubuhku agar berhenti memberontak. “Jangan sampai laporannya bertambah lagi, Sahara. Kamu bisa susah nanti.” Kali ini Attala berbisik di telingaku.

Mendengar keseriusan di nada suara Attala yang memberi peringatan padaku, akhirnya aku mencoba meredakan amarah, walau susah payah.

“Okay, sorry, sorry. Dia terpukul atas kasus rudapaksa yang dia alami,” ujar Attala meminta maaf, membuatku mengernyit heran menatap Attala.

“Kenapa sorry? Dia yang perkosa aku! Seharusnya dia yang meminta maaf dan bertanggung jawab!” tunjukku kasar pada Elang yang merapikan kemejanya yang berantakan karena seranganku tadi. Tatapan Elang padaku hanya datar dan dingin diantara sudut mata yang memerah. Mungkin karena tinju kiriku yang sempat bersarang telak di wajahnya.

“Heh? Siapa yang perkosa kamu?! Kamu itu pelacur murahan. Mungkin suami saya kurang kasih bayaran ke kamu, jadi kamu fitnah suami saya.” Si Wanita laknat yang menyebut Elang suaminya itu terus saja bersuara memakiku. Ingin rasanya aku merobek mulutnya hingga tidak mampu lagi bersuara.

“Oh, dia suami kamu. Sepertinya dia tidak puas dengan pelayananmu di rumah. Karena itu dia mencari pelampiasan sex-nya pada perempuan lain. Dan aku korbannya!” Aku menunjuk kasar pada wanita itu.

Meski aku muak dengan wanita di samping Elang itu, tetapi harus aku akui bahwa wanita ini sangat cantik. Rambut ikalnya begitu indah tergerai di salah satu sisi bahu. Riasannya sempurna memulas wajah ovalnya, meski terkesan berlebihan. Dress hijau sebatas lutut dipadukan dengan blazer warna senada begitu apik membungkus tubuh semampainya. Dan, tas tangan merk dunia seharga ratusan juta menjuntai manja di tangannya dengan kuku berkutek merah menyala.

Aku perkirakan usianya beberapa tahun di bawah Elang. Penampilannya sangat jelas menandakan dia berada di kelas sosial teratas.

Jika memang dia istri Elang, betapa bodohnya Elang menyia-nyiakan wanita secantik bidadari itu dan mencari wanita lain untuk memuaskan hasrat kelaki-lakiannya. Apalagi kepadaku. Dibandingkan wanita itu, mungkin aku ibarat butiran debu di ujung sepatunya.

Aku menduga ada sesuatu yang tidak beres dengan pernikahan mereka. Atau mungkin memang Elang yang salah. Kata orang, jika laki-laki berselingkuh dari istrinya yang terlihat sempurna, dia memiliki dua kemungkinan. Ingin mencari tantangan atau memang sudah hilang kesetiaan.

“Brengsek, kamu! Dasar Pelacur!” Wanita itu kembali memakiku. Bola matanya yang berlensa kontak biru menatapku garang. Seakan aku ini mangsa yang siap ditelan.

“Sudah, Sahara!” Baru saja aku hendak membalas makiannya, Attala menarik lenganku.

“Kasian sekali nasibmu punya suami brengsek. Saya yakin bukan saya saja yang dia tiduri di belakang kamu!” kekehku meledek, sebelum akhirnya Attala membawaku menjauh dari tempat itu.

Runguku masih menangkap wanita itu melontarkan makiannya padaku. Aku berbalik badan, lalu aku acungkan jari tengah padanya. Juga pada Elang yang hanya bergeming menatapku dari jauh.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel