Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

No Mercy

Walau nyeri di bagian inti sudah tidak terasa lagi. Namun letih di raga ini seakan tak ingin pergi. Begitu juga luka di hati yang masih begitu perih. Empat belas hari waktuku tersita oleh urusan hukum, alih-alih konsentrasi pada skripsi. Sehingga beberapa kali aku harus bolak-balik ke kantor polisi untuk diinterogasi. Bahkan kini aku ditetapkan sebagai tersangka pencemaran nama baik Elang Kafka Maghenda. Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Indonesia. Berusia 35 tahun. Bachelor of Civil Engineering di National University of Singapore dan Master of Civil Engineering University of Cambridge.

Wow! Gelar pendidikan luar biasa. Namun, nafsu berahi tidak mampu dijaga.

Sangat berbeda dengan Desta. Walaupun yang kutahu dia hanya sarjana ekonomi lulusan sebuah universitas swasta di Jakarta, namun pria itu mampu menjaga kehormatan wanita. Terbukti sudah dua tahun aku menjadi kekasihnya, tidak sekali pun Desta menyentuhku lebih dari sekadar di bagian tangan dan kepala. Menciumku pun hanya di kening. Di bibir, tidak pernah sama sekali. Alasan Desta, jika bibirnya sempat menyentuh bibirku, dia tidak menjamin akan mampu mengendalikan nafsu yang akhirnya akan membawa perbuatannya lebih jauh. Jadi, dia akan menunggu untuk itu setelah aku lulus kuliah dan aku bersedia menikah dengannya.

Desta, pria yang sangat menghormati wanita. Prinsipnya, dia percaya karma itu ada. Jika dia menyakiti dan mempermainkan wanita, karma akan datang padanya. Bisa jadi pada Dessy, adik perempuannya atau juga pada ibunya.

Luar biasa. Desta memang semengagumkan itu. Tampan, mapan, baik hati, bertanggung jawab, dan mencintaiku dengan tulus. Itulah salah satunya yang membuatku demikian terpukul karena aku tidak mampu menjaga kesucianku yang akan aku persembahkan untuknya kelak jika kami memang ditakdirkan menikah.

Aku sangat takut kehilangan Desta. Terlebih saat ini, aku merasa sikap Desta sedikit berubah padaku. Lebih dari seminggu ini Desta jarang mengunjungiku lagi. Hanya dua kali. Itu pun tidak lama. Setengah jam atau beberapa menit saja. Katanya, pekerjaannya kini semakin menumpuk dan aku dengar dia sedang dipromosikan untuk naik jabatan sebagai kepala divisi analis.

Bangga, sudah pasti itu yang kurasakan. Di usianya yang mendekati kepala tiga dia sudah menapaki jenjang kesuksesan. Jika dibandingkan aku? Terus terang aku jadi malu.

Aku hanya seorang anak petani kelapa sawit yang luasnya tidak lebih dari lima hektar. Mahasiswa yang masih berjuang untuk lulus sebagai sarjana teknik. Bahkan kini masa depan cerah itu belum terlihat hilalnya. Apakah masih tersedia untukku atau tidak sama sekali. Karena ... ya, diriku tak suci lagi karena pelecehan seksual yang kualami.

Ponselku berdering, membuyarkan lamunanku tentang hidup yang tidak adil ini. Aku raih dari atas tempat tidur dan aku lihat layarnya sekilas. Nama Attala Tirtayasa memanggil di sana.

“Hallo, Mas Attala,” sapaku tanpa semangat setelah aku geser tombol untuk menerima panggilan.

“Ra, ada kabar bagus,” kata Attala dengan nada suara yang terdengar antusias.

“Apa, Mas?” Aku tetap tidak bernafsu menanggapi. Kabar bagus apa pun saat ini, tetap saja tidak akan merubah statusku sebagai wanita yang pernah dirudapaksa oleh seorang pria. Mentalku telah terhempas dan terjun bebas hingga ke lubang neraka.

“Elang mencabut laporannya atas kamu hari ini. Aku diberitahu pihak kepolisian dan juga pengacaranya, Bapak Saut Simarmata,” sahut Attala di ujung sambungan.

“Oya?” Hanya itu sambutanku dengan nada suara malas.

“Iya, Ra. Dua hari lalu aku bicara dengan pengacaranya. Ternyata Pak Saut satu wadah organisasi advokat denganku. Jadi aku ceritakan peristiwa yang kamu alami. Lalu, aku meminta beliau untuk memberi masukan pada Elang agar mencabut laporannya segera. Mengingat kamu masih kuliah, masa depanmu masih panjang. Dan terbukti hari ini. Status tersangkamu sudah dicabut, Ra.”

Benar, kan? Hanya berita yang tidak penting. Berita bagus menurutku adalah Attala menemukan seseorang yang mampu memutar kembali waktu. Seandainya ada, aku pasti akan membayar berapa pun untuk itu dan memintanya mengembalikan aku pada hari-hari sebelum peristiwa menyakitkan itu terjadi dan meminta dosen lain untuk menjadi dosen pembimbing skripsiku.

Aku mengerjap perlahan. Kemudian mengembuskan napas panjang. Hatiku terasa dingin tanpa rasa. Jiwaku kosong tanpa asa. “Mas Attala, kenapa hukum seperti ini? Sepertinya sangat tidak adil padaku, Mas,” tanyaku lemah.

Runguku menangkap embusan napas Attala di ujung sana. Lalu menunggu sekian detik sebelum akhirnya dia kembali bicara. “Sahara, jika kita bicara hukum menurut undang-undang yang diciptakan manusia, memang segala prosedur ini terikat oleh peraturan. Yang terkadang terasa tidak adil, bahkan menyakitkan untuk si pencari keadilan itu sendiri. Dalam hal ini kita dituntut harus mempunyai bukti-bukti dan saksi-saksi agar pihak penegak hukum pun tidak melanggar undang-undang yang juga mengikat mereka dalam mengambil keputusan.”

Attala menjeda sekian detik. “Tapi, kamu jangan berkecil hati, Sahara. Keadilan sejati hanya milik Tuhan. Dan Tuhan tidak pernah menutup mata sedetik pun. DIA melihat sekecil apa pun kebenaran dan kesalahan manusia. Sekarang, Tuhan sedang menguji ketabahanmu. Tapi, yakinlah, Sahara. Suatu saat nanti Tuhan pasti akan menunjukkan keadilan-NYA padamu.”

Aku mengangguk menyepakati segala ucapan Attala meskipun hati masih tidak menerima keadaanku yang mengenaskan ini. Hingga airmata ini bergulir kembali. Kucoba menghadirkan pasrah dan berdamai dengan emosi.

“Terima kasih banyak, Mas Attala. Mas orang baik. Tolong doakan aku semoga tetap kuat menghadapi ujian Tuhan ini.”

“Pasti, Ra. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk klien-klienku. Kamu calon istri Desta, artinya kita akan menjadi keluarga, kan? Jadi, jangan sungkan untuk menghubungiku kapan saja.”

“Baik, Mas.” Kucoba mengukir senyum, walau getir. Setelah mengucapkan salam, Attala menyudahi komunikasi kami.

Meskipun kecewa dengan keadilan yang belum berpihak padaku, tapi aku sangat berterima kasih pada Attala yang mau membantuku melewati masa-masa penuh duri ini. Di saat Desta tidak ada di sisiku untuk memberi kekuatan hidup, justru Attala yang hadir sepenuh hati. Tanpa bayaran. Tanpa imbalan.

Saat aku menanyakan pada Desta mengenai biaya pengacara, Desta pun mengatakan Attala tidak mau menerima bayaran sepeser pun darinya. Attala ikhlas membantuku hanya karena simpati terhadap peristiwa yang kualami. Setidaknya, masih ada orang baik di sekitarku di saat lebih banyak orang yang memandangku dengan stigma negatif.

Hari ini aku ke kampus lagi. Menenteng tas berisi buku-buku dan mendekap berkas-berkas materi skripsi. Tujuanku ruang Pak Maulana, Ketua Program Studi.

Tidak mudah melangkah dihujani tatapan sinis dari sejumlah mahasiswa yang berpapasan denganku. Bahkan disertai cibiran dan bisik-bisik yang menusuk rungu. Dari pandangan mereka aku merasa bagaikan bakteri menjijikkan yang harus dibumihanguskan.

Tanpa sengaja netraku menangkap sosok Nadine bersama tiga mahasiswa lain yang berkerumun di bangku taman beberapa meter dari ruang Kaprodi. Salah satunya ada Rocky, yang juga menengok ke arahku.

“Hei, Kidal! Wah, sombongnya!” Terlambat untuk menghindar, Rocky memanggilku dengan sebutan ‘kidal’.

Dulu panggilan yang dia khususkan untukku itu terdengar biasa saja di telinga. Tetapi kini, aku merasa sedang dihina. Mungkin karena cara memanggilnya yang kali ini berbeda dari biasanya. Nadanya seperti melecehkan.

Serentak, yang ada disitu dan beberapa kerumunan lain menoleh ke arahku. Kini, aku terpaku bagai pusat perhatian dunia. Aku memacu langkah lebih cepat, namun Rocky menghadangku dengan tubuhnya yang tegap. Sehingga terpaksa aku menghentikan langkah dan mengangkat wajah menatapnya.

“Sahara, sekarang mau dong jalan sama aku. Nonton, yuk,” ajak Rocky dengan santai, sesantai sikap tubuhnya yang menumpukan satu tangan di pilar untuk menghadangku.

“Sorry, aku sibuk!” jawabku ketus.

Rocky berdecak kesal, lalu tersenyum nakal padaku. “Sibuk terima job dari luar, ya? Emang beda, ya cewek yang udah go publik,” sindirnya.

“Woy, Rocky. Jangan ganggu! Dia nggak selera sama mahasiswa! Sukanya sama cowok yang udah teruji akselerasinya!”

Aku menoleh ke asal suara. Si aktris terbaik tanah air sedang tertawa setelah melontarkan sindiran tajamnya. Ucapan Nadine itu mendapat sambutan gelak tawa dari beberapa mahasiswa yang ikut mendengar.

Aku memejamkan mata sesaat seraya mengatur debar jantungku yang tiba-tiba menggila. Inginnya aku menghampiri Nadine, lalu menghajarnya hingga tak mampu lagi berdiri. Tetapi aku ingat kembali tujuan awalku ke kampus ini.

Aku tersenyum pada Rocky. Senyuman yang kupaksakan. “Permisi, ya. Aku harus ke ruang Prodi sekarang.”

“Sombong amat, sih, Ra. Lo kira gue nggak mampu bayar lo, hah?! Lo minta berapa untuk short time dan long time? Gue bayar!” Kasar, Rocky melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan.

Otaknya memang tidak jauh dari urusan bawah perut. Namun, sekali lagi aku mati-matian menstabilkan jantungku yang semakin kencang berdenyut. Sementara telapak tangan kiriku sudah mengepal kencang di sisi tubuh.

“Rocky, kalau transaksi jangan di sini! Di luar, sana. Tapi ingat, jangan ditawar, ya! Dan Jangan ngutang!” Kembali Nadine, si cebol pengkhianat itu bersuara. Kali ini terdengar semakin nyaring.

“Cabe kali, ditawar!”

“Kan, emang cabe-cabean!”

“Yang ini bukan cabe, Cuy! Tapi paprika! Kelasnya di hypermarket, dong!” Pancingan Nadine kembali berhasil mengundang tawa dan sahutan kata-kata yang sama menyakitkan dari yang lainnya.

Tak bisa kutahan lagi emosi ini. Aku dorong kasar bahu Rocky hingga punggungnya terbentur pada dinding. Lalu, aku melangkah cepat menghampiri Nadine.

Geram, aku tarik kerah kemejanya, hingga dia tercekat sesak napas dengan raut terkesiap.

“Gue nyesel berbagi makanan sama lo sewaktu lo kelaparan karena uang kiriman dari nyokap bokap lo telat. Gue nyesel ngerayu pacar gue supaya bayarin kostan lo juga untuk satu tahun. Nyesel banget gue ngasih lo kerjaan sebagai guru privat adiknya pacar gue. Ternyata gue selama ini ngasih makan anak monyet berbulu domba. Kutu busuk dalam selimut!” hardikku pada Nadine yang memucat. Entah karena takut tinjuku akan mendarat di wajah sok imutnya. Atau malu karena segala kebaikanku padanya aku umumkan di depan semua orang.

“Sudah! Sudah, Ra. Malu jadi bahan tontonan begini.” Entah siapa yang mengusap bahuku dari belakang. Yang aku dengar itu suara perempuan yang menyuruhku melepaskan cekalanku di kerah baju Nadine.

Tatapanku masih tajam menghujam, lalu sedetik kemudian aku lepaskan cekalanku dengan hentakan. Membuat tubuh mungil Nadine terhuyung ke belakang.

Jika saja tidak ada mahasiswa lain yang menahan, bisa kupastikan cewek pengkhianat itu terjengkang dengan posisi memalukan.

Enggan menanggapi ocehan nyinyir mereka yang menyakitkan hati, aku melangkah panjang menuju ruang Kaprodi yang hanya melewati satu lorong lagi.

Tiba di dalam ruangan Pak Maulana, Ketua Program Studi Teknik Arsitektur, aku dipersilakan duduk di seberangnya. Alih-alih membicarakan soal skripsiku yang tertunda, Pak Maulana justru mengeluarkan tumpukan berkas dari laci meja dan menyodorkannya ke hadapanku.

“Jadi, begini, Sahara. Kami dan civitas kampus ini sudah mendengar desas-desus kurang baik mengenai dirimu. Dan pemberitaan yang sudah menyebar ke berbagai media itu sangat meresahkan karena membawa-bawa nama universitas ini,” ujarnya membuka pembicaraan.

Aku mengernyit, bingung dengan apa yang ia katakan.

“Baca itu semua,” Pak Maulana menunjuk lembaran berkas itu dengan dagu dan tatapannya tetap tertuju padaku.

Derap jantungku berpacu kencang saat membaca berkas itu satu per satu. Semuanya berisi print-an artikel berita dari berbagai media online dan koran kampus tentang prostitusi terselubung dengan pelaku seorang mahasiswi dari sebuah kampus negeri ternama di tanah air. Namaku, juga nama universitas ini bertebaran di dalamnya.

Ini mengerikan.

Tidak perlu lagi kubaca tumpukan berkas itu. Hanya dari tiga lembar artikel yang kubaca, aku sudah tahu semua berkas di hadapanku ini berisi fitnah yang meruntuhkan nama baikku, juga kampus ini.

Tubuhku gemetar hebat dan aku yakin wajahku sudah memucat, aku mengangkat wajah dan menatap Pak Maulana yang juga tengah memaku sorot matanya padaku.

“Berita-berita ini tidak benar, Pak. Ini semua fitnah. Saya bukan seperti yang mereka tuduhkan ini,” bantahku dengan suara tercekat emosi yang mulai meluap.

“Tidak ada asap jika tidak ada api, Sahara. Mereka tidak sembarangan mengeluarkan berita, sebelum mengumpulkan bukti dan saksi. Ini semua dari media online ternama, lho. Apalagi koran kampus pun memberitakan kasus yang sama. Yang artinya, mahasiswa di sini pun tahu bahwa ada salah satu rekan mereka yang berprofesi melenceng di luar sana. Kami semua resah dengan berita-berita ini, Sahara. Dan kamu tentu paham, bahwa universitas tidak bertoleransi pada hal-hal yang berbau asusila, baik di lingkungan kampus, maupun di luar lingkungan kampus namun melibatkan nama kampus.” Nada suara Pak Maulana mulai meninggi meskipun sikapnya masih terlihat tenang.

Aku menggeleng kencang, tidak sepakat dengan pernyataan Pak Maulana barusan. Mataku pun mulai menghangat. Namun, sebisa mungkin aku bertahan, agar airmata ini tidak berguguran.

“Ini fitnah! Saya mahasiswa lurus yang tidak pernah sedikit pun berulah macam-macam. Apalagi menjual diri di luar sana. Tapi, saya tahu. Tujuan berita-berita ini hanya untuk mengaburkan kasus saya yang sebenarnya. Yaitu pelecehan yang Pak Elang lakukan terhadap saya!” tampikku tegas.

Pak Maulana mengendikkan bahunya singkat, lalu gantian dia menggelengkan kepala seraya mengembuskan napas dengan kasar.

“Sekali lagi saya bilang, Sahara. Mereka mengangkat berita yang melibatkan nama kamu dan kampus ini tidak serampangan saja. Bukti dan saksi secara gamblang mengatakan itu, bahkan mereka tidak keberatan memberi keterangan tanpa sensor sama sekali. Dan, kami pun mengikuti perkembangan kasusmu di kepolisian yang melibatkan Pak Elang Kafka Maghenda. Kami juga menerima kabar valid, bahwa laporanmu ke polisi dihentikan karena mereka tidak menemukan bukti apa pun tentang dugaan pelecehan itu. Justru Pak Elang melaporkanmu atas tuduhan pencemaran nama baiknya. Apa kamu juga berpendapat bahwa polisi sengaja mengaburkan kasusmu? Wartawan dan polisi sama-sama bekerja dan bertindak sesuai bukti dan saksi, Sahara.”

Bukti. Lagi-lagi bukti. Satu kata itu bagai sebuah kutukan yang ketika diucapkan, otomatis membuang diriku jauh-jauh dari semesta alam ini.

“Tapi … “ Karena emosi yang kian meronta, membuatku tidak sanggup menahan bendungan airmata. Aku menunduk dan membiarkan airmataku tumpah. “… ini fitnah. Saya bukan mahasiswa asusila. Justru … saya ini korban kebiadaban Pak Elang, Pak.” Aku tetap mempertahankan pendirian, sebab itulah fakta yang terjadi.

Di sela isak yang menderu, aku mendengar embusan napas Pak Maulana yang panjang.

“Mengenai masalahmu dengan Pak Elang, kami pihak universitas berpegang pada hasil penyelidikan kepolisian. Sedangkan, kegiatanmu di luar sana yang terindikasi berbau asusila itu adalah wewenang kami, karena secara terang-terangan nama universitas ini menjadi bulan-bulanan di berbagai media. Ini sangat meresahkan. Jangan sampai dinas pendidikan turun tangan, dan memberi peringatan keras untuk universitas karena dinilai tidak ada tindakan tegas untuk kasus asusila yang melibatkan mahasiswanya, Sahara.” Penjelasan Pak Maulana yang panjang dan tajam itu serasa menusuk-nusuk dadaku. Sakit dan berdarah hebat di dalam sini.

“Kasus asusila yang sebenarnya terjadi di kampus ini adalah pelecehan Pak Elang terhadap saya, Pak. Tolong, jangan mengalihkan masalah yang sebenarnya. Jangan melindungi oknum dosen yang bersalah hanya karena dia dosen yang dianggap terbaik di sini! Saya ini korban! Saya mahasiswa di sini. Dan saya berhak mendapat keadilan dari kampus ini!” Aku sudah tidak tahan lagi membendung emosi, sehingga kegeraman tercetus begitu saja melalui ucapanku. Tidak lagi kupedulikan rasa hormat pada Ketua Prodi ini.

Biasanya, Pak Maulana ini sangat baik dan bijaksana jika menyangkut urusan para mahasiswa, tetapi kali ini sikapnya minus di mataku. Dari semua isi kalimatnya, sudah jelas para petinggi kampus tengah berusaha menutupi perbuatan asusila yang terjadi agar nama baik kampus ini tetap cemerlang di mata dunia. Dengan cara melindungi Elang, si dosen sialan itu dan mengungkit fitnah keji tentang aku yang diembuskan entah oleh siapa hingga sampai ke berbagai media.

Inilah yang disebut Victim Blaming. Alih-alih melindungi, mereka justru cenderung menyalahkan korban, bahkan menebarkan fitnah keji yang menjatuhkan harga diri si korban pelecehan.

Bagiku, ini Bangsat!

Pak Maulana jelas melihat angkara murka di wajah dan kilatan mataku. Dia pikir aku menantangnya. Memang, benar! Aku sudah muak dengan drama sialan ini.

“Untuk kamu ketahui, Sahara. Saya di sini memang melindungi marwah universitas, karena itu kewajiban saya sebagai sivitas akademis. Dan jika ada mahasiswa saya yang melakukan pelanggaran berat yang berpotensi mencemarkan harga diri universitas ini, saya wajib mengambil tindakan tegas.” Pak Maulana masih bersikukuh menjurus pada fitnah sialan itu.

“Saya pun termasuk warga kampus ini, Pak! Dan saya pun wajib membela diri karena apa yang dituduhkan terhadap saya itu tidak benar!” Begitu pun aku yang masih berkeras dengan pendapatku.

Pak Maulana mengangguk-angguk seraya menatapku tajam. Kekesalan terpampang jelas di sorot matanya. Mungkin dia tidak menyangka aku sefrontal ini terhadapnya.

“Baiklah, itu memang kewajibanmu membela diri, Sahara. Berdasarkan para saksi dan bukti-bukti yang masuk ke meja dewan etik universitas, kami akan segera menggelar sidang etik dan norma akademik. Kamu tunggu saja panggilannya.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel