Betrayal
Menyakitkan, ketika seseorang yang selama ini kamu anggap sahabat, bahkan kamu rela berbagi kebahagiaan untuknya, ternyata menjadi orang yang membunuh harga dirimu begitu tega, lalu mempermalukan dirimu dengan fitnah luar biasa. Itulah yang terjadi padaku.
Pada sidang penegakkan norma dan etika universitas yang berlangsung dua hari lalu di gedung rektorat, Nadine mengatakan semua fitnah kejinya mengenai diriku di hadapan para dewan penyidang tanpa perasaan bersalah sedikit pun.
“Saya sudah mengenal Sahara Medina Zein sejak semester pertama, Pak. Hubungan kami pun cukup dekat karena kami menempati rumah kos yang sama, tapi beda kamar saja. Saya menempati kamar di sebelah Sahara,” sebut Nadine saat itu, ketika salah seorang dewan penyidang mulai menginterogasinya.
“Selama Anda mengenal Saudari Sahara, bagaimana sikap dan perilakunya sehari-hari, baik di kampus maupun di luar kampus?”
“Menurut saya, secara personal, Sahara cukup baik, Pak. Tapi, memang dia terlalu pemilih dalam bergaul.”
Saat itu aku mengernyit bingung menatap Nadine di tengah ruangan sana yang berhadapan dengan para dewan penyidang yang terdiri dari Pak Maulana sebagai Ketua Program Studi, Ibu Sintiawati staf Biro Kemahasiswaan, Pak Sanjaya sebagai Dekan Fakultas Teknik Arsitektur dan Pak Andika selaku perwakilan rektor.
“Pemilih, maksud Saudari?” Pak Sanjaya bertanya lagi pada Nadine.
“Ya, memilih-milih teman, Pak. Hanya orang-orang bermateri yang dia dekati. Untuk urusan teman dekat atau pacar pun dia lebih pilih lelaki mapan. Kalau kami yang cuma perantau mengandalkan beasiswa ini pastinya tidak masuk kualifikasinya sebagai teman.”
“Bohong!” Aku spontan menukas pernyataan Nadine.
Itu sama sekali tidak benar. Aku bergaul dengan siapapun asalkan mereka bersikap baik padaku. Buktinya, pada dirinya sendiri. Tiga tahun lebih aku menganggapnya bukan hanya sebagai sahabat, tetapi saudara karena aku merasa kami ini senasib sebagai mahasiswa perantauan.
Pak Sanjaya dan dua lainnya mengarahkan telapak tangan mereka padaku, menyuruhku untuk tidak bicara selama Nadine memberi keterangan palsunya.
“Lalu, bagaimana sikap dan perilaku Saudari Sahara selama di kampus, menurut yang Anda ketahui?” Lelaki setengah baya itu kembali bertanya pada Nadine.
Merasa di atas angin, Nadine melirik sekilas ke arahku yang menempati kursi bagian kanan ruangan. Di tempat duduk itu, aku merasa diperlakukan bagai seorang pesakitan.
“Sama saja, Pak. Menurut saya, karena memiliki fisik sempurna, dia merasa percaya diri untuk menarik perhatian para mahasiswa lelaki bermateri. Juga dengan dosen yang berpotensi untuk didekati demi keuntungan pribadi. Seperti …” Nadine menggantung kalimatnya, membuat semua yang berada di ruangan itu penasaran.
“Jangan ada yang disembunyikan, Saudari Nadine. Anda hadir di sini untuk memberi keterangan sebagai bahan pertimbangan kami.” Lagi-lagi Pak Sanjaya mendesak Nadine.
Nadine mengangguk mantap, lalu melanjutkan bualannya. “Seperti dosen mata kuliah Struktur dan Konstruksi itu, Pak. Pak Elang Kafka Maghenda. Beberapa kali Sahara bilang sama saya akan mendekati Pak Elang supaya skripsinya yang berantakan itu diluluskan.”
“Ya, Tuhan. Nadine? Itu nggak benar!” Aku tidak tahan lagi mendengar penuturan Nadine yang melenceng jauh dari kenyataan.
“Saudari Sahara, tolong jangan membantah dulu. Anda tadi lihat sendiri, kan, sebelum memberi keterangan di sini, Saudari Nadine sudah bersumpah di atas kitab suci. Artinya, dia sanggup mempertanggungjawabkan keterangannya." Kali ini, Pak Maulana membela Nadine. Posisiku semakin tersudutkan.
Baiklah, lebih baik aku bungkam, meski geram dan menyimak semua bualan dan pembodohan publik di depan dewan sidang yang katanya ber-intelektualitas tinggi ini.
“Anda pastinya sudah mendengar berita tentang Saudari Sahara dan Pak Elang Kafka Maghenda. Sejauh mana Anda mengetahui berita itu?” Pak Sanjaya kembali mencecar Nadine. Tatapannya serius pada si pembohong itu.
“Iya, justru saya yang lebih dulu tahu berita itu, Pak. Pagi itu, saya menemani pacarnya Sahara yang sudah menunggunya sejak pagi buta. Ternyata Sahara baru pulang ke kosan pukul delapan. Setelah ditanya, Sahara mengaku bermalam di sebuah hotel bersama Pak Elang. Alasannya sejak hari sebelumnya dia ada bimbingan skripsi dengan Pak Elang. Ya, wajarlah pacarnya Sahara marah, mengetahui Sahara menghabiskan malam bersama laki-laki lain di hotel.”
“Bagaimana keadaan Saudari Sahara waktu itu? Apakah marah, kesal, atau sedih?”
“Sahara pingsan, saat itu. Tapi, karena bertengkar sama pacarnya.”
Spontan aku beranjak dari kursi dan dengan kasar aku mengacungkan telunjuk kiriku pada Nadine. “Bangsat, Lo, Nadine! Lo tau sendiri gue pingsan saat itu karena badan gue lemas, bukan karena ribut sama Mas Desta!” hardikku geram.
“Saudari Sahara! Tolong hormati dewan sidang ini! Jangan sampai sikap kasarmu itu mempengaruhi keputusan kami!” Pak Maulana membentakku.
“Tapi dia bohong, Pak! Keterangannya palsu!” protesku.
“Saya nggak bohong, kok, Pak. Sahara memang pingsan setelah pacarnya ngamuk-ngamuk karena mendapati tumpukan uang pecahan seratus ribu di dalam tas Sahara. Saya lihat sendiri jumlahnya sangat banyak. Pacarnya curiga dia habis kencan dengan Pak Elang, lalu dapat bayaran. Itu yang saya tahu.” Nadine dengan teganya menukas dan berbalik menunjukku kasar. Keterangannya itu membuat dewan penyidang di meja depan sana saling bertatapan dengan sorot mata sulit kujelaskan.
Nadine ini memang perlu dibantai. Jahatnya luar biasa!
“Apa Sahara bilang uang itu dari Pak Elang?” Giliran Bu Sintiawati menginterogasi Nadine.
Nadine menggeleng. “Enggak bilang, Bu.”
“Uang itu memang milik Sahara, barangkali?”
“Tapi saya yakin uang itu bukan milik dia, Bu. Dia sendiri kaget ada uang segitu banyak di tasnya. Atau pura-pura kaget dapat uang jutaan dari Pak Elang?” Lirikan sinis Nadine ke arahku membuatku ingin segera beranjak dari kursi dan mencekiknya sekarang juga. Tetapi, melihat tatapan tajam para tim penyidang kepadaku, membuatku terpaksa hanya sanggup mengepalkan tangan di atas meja.
“Saudari Nadine, Anda tidak bisa berasumsi bahwa uang itu dari Pak Elang. Bisa saja, kan uang itu kiriman dari keluarga Sahara?” Bu Sintiawati mencecar Nadine. Dari cara bicaranya yang cukup ketus pada Nadine, Bu Sintiawati menunjukkan bahwa dia memiliki sedikit empati untukku.
Nadine lagi-lagi menggeleng. Kali ini sangat tegas. “Kalau memang uang jutaan itu kiriman dari keluarganya, Sahara pasti sudah bilang sejak awal, Bu. Lagi pula saya nggak yakin keluarganya mampu kirim uang sebanyak itu, karena mereka sama seperti saya, Bu. Bukan dari keluarga berada. Selama ini, kebutuhan hidup Sahara saja ditanggung oleh pacarnya. Saya tahu itu, kok, Bu. Ibu bisa tanyakan langsung pada pacarnya. Ya, kalau kurang uang, Sahara bisa cari objekan lain di luar sana,” sindirnya telak.
“Nadine! Lo keterlaluan! Bangsat!” Aku beranjak dari kursi karena tidak tahan lagi dengan Nadine yang begitu gencarnya menyudutkanku, mempermalukanku di hadapan para petinggi kampus. Sudah jelas, si cebol pengkhianat ini ingin menggiring opini mereka untuk mendiskreditkan aku.
“Saudari Sahara! Anda bisa sedikit menghormati dewan penyidang di sini? Kalau tidak bisa, silakan keluar!” Pak Maulana kembali memperingatkanku dengan tegas seraya menunjuk ke arah pintu.
“Semua keterangannya menyudutkan saya, Pak!” salakku tanpa gentar.
“Tapi apa yang Saudari Nadine katakan benar, kan? Ingat, dia sudah bersumpah atas nama Tuhan.”
“Semua yang dia katakan hanya berdasarkan asumsi untuk menyudutkan saya. Lalu, Bapak-Bapak sekalian memegang keterangan yang hanya berupa asumsi untuk mengambil keputusan. Ini benar-benar nggak adil!” tantangku pada Pak Maulana.
“Kami tidak senaif itu, Saudari Sahara. Bukti dan kesaksian mahasiswa lain pun sudah kami kumpulkan. Kesaksian Saudari Nadine di sini hanya sebagai pelengkap informasi agar kami tidak salah mengambil keputusan.” Pak Sanjaya angkat bicara. Meskipun nada suaranya tidak meninggi, namun tetap saja membuat hatiku semakin meradang.
“Seharusnya Bapak dan Ibu semua juga menyelidiki dari mana sumber fitnah yang menuduh saya punya profesi haram di luar kampus. Lalu disidangkan seperti ini. Itu baru adil!” tukasku dengan emosi menggebu.
“Sebelum kami mengadakan sidang ini, tim penegakkan etik dan norma sudah menyelidiki sumber berita itu, Sahara. Bukti serta kesaksian yang mereka temukan sudah kami kumpulkan dan dinyatakan valid. Kamu pun sudah melihat semua berkas itu, kan? Jadi, kami memastikan tidak ada fitnah dalam kasusmu ini.”
Pak Maulana, Kaprodi yang dulu kuhormati kini menjelma menjadi salah satu orang yang paling kubenci karena sikap antipatinya itu. Padahal, dia tahu pasti aku tidak punya catatan hitam selama tiga setengah tahun kuliah di kampus ini. Lantaran kasus pelecehan seksual terhadapku yang dilakukan oleh salah satu dosen andalan mereka, diriku malah dianggap virus mematikan yang harus dienyahkan.
Entahlah, semoga pradugaku tidak keliru. Tetapi, mengapa aku merasa mereka sedang berusaha menumbalkan aku untuk menutupi skandal busuk yang terjadi di univesitas negeri yang tersohor ini.
“Saya merasa sidang etik ini hanya omong kosong, Bapak, Ibu. Saya ini korban Pak Elang! Mohon, perlakukan saya dengan adil. Pada siapa lagi saya minta perlindungan kalau bukan pada kampus tempat saya bernaung saat ini. Sementara pihak kepolisian sudah menghentikan penyelidikan atas laporan saya karena kurangnya bukti. Untuk masalah fitnah yang menghancurkan nama baik saya, saya berani bersumpah atas nama Tuhan, bahwa saya tidak pernah melakukan transaksi haram seperti yang dituduhkan. Saya memang bukan anak dari keluarga berada. Tapi sedikit pun saya tidak pernah berniat melakukan hal-hal kotor hanya untuk menyambung hidup. Saya punya harga diri. Saya merantau dari kampung dan kuliah di sini untuk tujuan terbaik dalam hidup saya. Saya ingin mewujudkan harapan orangtua menjadi seorang arsitek dan membanggakan keluarga. Hanya itu, Pak, Bu. Saya ini mahasiswa lurus dan sangat bangga bisa kuliah di universitas ini. Jadi, sangat bodoh jika saya menghancurkan sesuatu yang menjadi kebanggaan diri saya selama ini, bahkan sampai akhir hayat nanti.” Karena dadaku sudah sesak oleh amarah tertahan, nada suaraku pun melirih dan pelan.
Biarlah mereka mendengarnya sebagai sebuah permohonan. Karena memang itu sesungguhnya yang kuinginkan agar mereka mau membuka hati nurani meskipun sedikit saja dan menyadari bahwa seharusnya aku yang mendapatkan keadilan di sini.
Saat aku mengutarakan isi hatiku itu, mereka semua hanya bungkam. Beberapa tertunduk, yang lainnya hanya menatapku datar.
Aku pikir, kebungkaman mereka itu karena curahan hatiku menggetarkan dinding nurani mereka. Ternyata aku salah.
Saat ini, aku dipanggil ke ruangan Bu Sintiawati dan sudah duduk berhadapan dengannya. Wanita itu menyodorkan secarik amplop untuk kuterima.
Sebelum membukanya, aku menatap wajah Bu Sintiawati sejenak. Di sana dia menunjukkan raut penyesalan. Hanya karena guratan tak nyaman itu, sekujur tubuhku bergetar.
Perlahan aku mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop putih itu. Surat resmi dengan tulisan Keputusan Rektor Universitas Negeri Indonesia tertera di bagian atas. Aku baca kata-per kata, aku cerna, hingga aku pahami, bahwa ... duniaku KIAMAT saat ini!
Aku DIPECAT sebagai mahasiswa di kampus ini.
Kembali aku menatap Bu Sintiawati yang seketika tertunduk, tidak sanggup mengangkat wajahnya. “Ini nggak adil, Bu!” tegasku dengan suara bergetar karena menahan sesuatu yang hendak merebak dari kedua sudut mata.
“Bu? Tolonglah saya, Bu. Saya nggak terima keputusan sepihak ini.” Aku beranikan diri meraih tangannya yang saling menangkup di atas meja. Bu Sintiawati pun kembali menegakkan wajah, menatapku dengan sorot mata pilu.
“Bu? Saya … mohon,” lirihku. Kali ini airmataku tidak terbendung lagi, mengalir begitu saja di kedua pipi.
“Saya pun menyesali kasusmu ini, Sahara. Tetapi, keputusan yang diambil sudah melalui pertimbangan matang dan sesuai prosedur yang dijalankan oleh dewan penegakkan norma dan etika kemahasiswaan. Kasusmu tidak bisa ditoleran lagi karena berpotensi merusak nama baik universitas ini. Jadi, demi kondusifitas kampus, kami terpaksa mengeluarkanmu. Mohon maaf. Saya harap kamu bisa mengais ilmu di universitas lain,” jelas Bu Sintiawati pelan dan hati-hati.
“Saya sama sekali tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan itu, Bu. Saya bukan mahasiswa asusila. Ibu percaya, kan? Saya ini korban pelecehan Pak Elang! Bukan hubungan suka sama suka. Apalagi dibayar. Itu sama sekali tidak benar. Percayalah, Bu!” Pekikanku tertahan. Tetapi kegeraman tidak mampu kuredam.
Bu Sintiawati menggeleng lemah, lalu gantian meremas tanganku “Masalahnya, kepolisian sudah menghentikan penyelidikan atas laporanmu terhadap Pak Elang lantaran tidak ada bukti yang mendukung tuduhanmu itu. Dan pihak kampus berpegang pada informasi valid di kepolisian,” tukas Bu Sintiawati berusaha menenangkanku.
Shit! Lagi-lagi bukti-bukti-bukti!
Jelas saja tidak ada bukti. Elang begitu pandai merancang kejahatannya tanpa satu pun saksi dan meninggalkan bukti sama sekali.
“Ya, Tuhan!” Aku menarik kasar tanganku dari genggaman Bu Sintiawati. Lalu aku remas dengan gemas surat resmi bertanda tangan rektor itu. Aku tertunduk sambil terpejam dan membiarkan airmataku berguguran.
Di benakku kini terbayang wajah Mama dan Sandi. Yang pasti mereka akan sangat kecewa dengan apa yang kualami saat ini. Apa yang harus aku katakan pada mereka nanti?
Aku mengangkat wajah menatap pelas wanita di hadapanku. “Apa saya tidak punya kesempatan lagi, Bu? Saya janji akan melakukan apa pun yang kampus minta asalkan saya masih bisa melanjutkan kuliah.”
Namun, sekeras apa pun aku memohon dan mengiba, Bu Sintiawati menggeleng lemah. Gelengan kepala itu cukup menjelaskan bahwa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku melanjutkan kuliah di kampus ini.
Perjalanan menuju cita-citaku ... selesai sampai di sini.
