Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kandas

Dulu, aku tidak tahu apa artinya tekanan batin. Tapi kata ahli kejiwaan, itu sama artinya dengan depresi. Merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan suasana hati yang terus menerus sedih serta kehilangan minat dalam beraktivitas sehingga menyebabkan penurunan kualitas hidup.

Kini aku mengalaminya. Batinku tertekan oleh keadaan yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Keadaan yang membuatku bagai mayat hidup yang berjalan tanpa arah. Keadaan yang menjadikan raga ini kosong tanpa jiwa. Dan keadaan yang menyebabkan aku kehilangan logika.

Menurutku, aku bukan lagi depresi. Tapi sudah gila.

Laki-laki bajingan itulah penyebabnya. Elang Kafka Maghenda. Pria paling menjijikkan yang berhasil memporakporandakan hidupku. Menumbangkan cita-citaku. Memusnahkan masa depanku.

Ingin sekali aku mengenyahkan wajah sok tenangnya itu dari kepala. Namun anehnya, semakin aku ingin menyingkirkan, semakin jelas wajah pria itu terpampang di ingatan.

Benar kata orang, ada dua alasan yang menjadikan seseorang memiliki tempat istimewa di hati. Karena dicintai dan dibenci. Bagiku, sudah barang tentu alasan kedualah yang membuat Elang tidak juga menyingkir dari hati ini.

Aku melangkah gontai setelah turun dari ojek daring menuju kamar kostku. Bersama buku-buku dan berkas skripsi di tangan, aku berjalan tertunduk lesu. Meski airmata ini sudah surut sejak tadi, tapi genangannya masih tersisa di sudut mata.

Dari jarak beberapa meter dari pintu kamar, aku mengangkat wajah. Kudapati Attala berdiri tegak di sana. Aku berusaha menampilkan senyum, tapi tidak bisa karena pusing yang tiba-tiba melanda.

Yang kurasakan kini langkahku semakin lemah menuju ke arahnya. Tubuhku seakan tanpa tulang dengan pandangan mengelam dan dengungan tak nyaman di pendengaran.

Belum sempat aku meraih tangannya yang terjulur di hadapan, tiba-tiba tubuhku luruh. Yang sempat tertangkap di rungu, Attala memanggil namaku. Setelahnya, duniaku gelap tanpa setitik pun cahaya.

***

Perlahan aku membuka mata, lalu memicing karena cahaya. Suasana yang semula kulihat serba hitam, lambat laun menjadi terang. Aku memicing ke samping kanan setelah mengerjap perlahan. Kudapati seorang laki-laki di kursi belajarku. Attala di sana memekuri ponsel di tangan.

“Mas Attala?” desisku seraya mengernyit karena nyeri yang masih menusuk kepala ini.

“Sahara. Kamu sudah siuman?” Attala menegakkan kepala, mengalihkan tatapannya padaku. Nada suaranya terdengar cemas. Lalu dia pindah ke tepi ranjang, tepat di sebelahku.

Aku menarik napas panjang dan kuembuskan perlahan. Meski lemah masih kurasakan, tetapi aku berusaha menegakkan badan. Dibantu Attala, aku bersandar di headboad ranjang.

“Maaf, tadi aku buka tasmu untuk cari kunci kamar ini,” ucap Attala sopan.

Aku mengangguk pelan. “Nggak apa, Mas.”

Tenggorokanku serasa kering kerontang sehingga aku menyapu bibir dengan lidahku. Attala menyadari itu. Lekas, dia beranjak untuk mengambil segelas air mineral dari dispenser, lalu dia sodorkan ke hadapanku. Aku menerimanya dan kuhabiskan isinya hingga tersisa setengah.

“Ada apa Mas Attala ke sini? Apa ada masalah lagi di kepolisian?” tanyaku seraya meletakkan gelas ke atas meja samping ranjang.

“Nggak, cuma mampir. Kebetulan aku lewat sini sehabis sidang di Pengadilan Negeri wilayah ini. Tadinya mau ajak kamu makan siang sekalian.”

Aku hanya mengangguk samar menanggapinya.

“Kamu dari kampus?” Attala melirik tumpukan berkas dan beberapa buku di atas meja saat kembali menduduki tempat semula, disisiku.

Mendengar kata kampus seketika perutku terasa bergelombang menciptakan rasa mual. Namun, aku coba menahannya dengan meneguk salivaku yang getir.

“Iya, untuk terakhir kalinya aku injakkan kaki di kampus, Mas,” jawabku malas.

Mendengar jawabanku yang terkesan janggal, Attala menautkan kedua alisnya yang hitam dan rapi. “Maksudmu?”

Aku mendengkus mengingat perkataan Ibu Sintiawati dan kalimat di dalam surat keputusan pemecatanku tadi.

“Aku resmi dipecat dari kampus hari ini. Surat keputusannya sudah aku terima. Itu, ada di dalam tas,” tunjukku ke arah tas di atas meja dengan lirikan mata.

Attala menggelengkan kepala lemah seraya menatapku iba. Lalu kembali bersuara. “Apa tidak ada musyawarah denganmu dulu sebelumnya?”

Aku meneguk salivaku yang terasa kian getir, hingga pahitnya terasa di hati. Sejenak mengatupkan kelopak mata yang mengering, lalu mengangguk samar sebagai jawaban untuk pertanyaan Attala tadi.

“Sudah, dalam sidang tertutup dewan etik kampus,” jawabku malas, tanpa gairah.

“Lalu, karena peristiwa itu kamu dikeluarkan dari kampus? Karena ... pelecehan yang dilakukan dosenmu itu?” tanya Attala lagi. Bicaranya pelan, namun aku mendengar ada geram yang tertahan.

Aku menggeleng, “Bukan karena itu, tapi karena fitnah di sejumlah media yang menyebut aku sebagai ayam kampus. Mereka hanya menyebutkan alasan aku dikeluarkan untuk menjaga kondisifitas kampus karena aku terindikasi tidak mampu menjaga citra civitas akademik,” beritahuku lirih sekaligus pasrah.

“Kamu harus melawan, Ra. Ini keputusan sepihak yang merugikan kamu. Kamu itu korban, tidak semestinya diperlakukan seperti ini. Aku akan mendampingmu menghadapi arogansi ini, Sahara.”

Memang, seharusnya langkah itu yang aku ambil untuk membela hakku. Langkah yang cukup bernyali, tapi aku rasa itu akan sia-sia. Kampus sudah memutuskan aku dikeluarkan. Untuk melawan keputusan resmi itu butuh perjuangan panjang. Apalagi hampir seluruh rekan mahasiswa tidak ada yang memberiku dukungan. Bagi mereka, aku adalah aib yang harus disingkirkan.

Akhirnya aku hanya bisa mencegah Attala dengan menggelengkan kepala dan menatapnya. “Percuma, Mas. Aku pun sudah lelah,” kataku pasrah.

“Setidaknya mereka harus mendengarkan penjelasanmu dulu sebelum memutuskan.”

“Mereka seakan tutup telinga dan mata pada keadaanku. Mereka lebih percaya pada saksi palsu dan bukti lemah. Ini sangat nggak adil, tapi aku nggak sanggup melawan, Mas.“ Aku tidak mampu lagi berkata-kata karena isak yang kembali tumpah.

Aku tidak kuat membayangkan masa depanku kandas sudah. Kampus yang begitu kubanggakan telah mencampakkan aku tanpa memberi hakku untuk menjelaskan. Bisa saja aku pindah kampus untuk melanjutkan kuliah, tapi aku tidak tahu jawaban yang tepat untuk mama jika mama bertanya nantinya.

Terdengar desahan panjang dari bibir Attala. Sedetik kemudian, pria itu bergeser mendekat, lalu mengusap-usap bahuku dan menatapku sejenak dengan sorot mata penuh iba.

Perlahan, ia bawa tubuhku ke dalam dekapan, lalu membiarkan aku menumpahkan airmata di dadanya yang nyaman.

“Sudahlah. Anggap saja ini ujian. Aku yakin kamu mampu melewatinya. Walaupun kita baru saja kenal, tapi aku bisa menilai bahwa kamu perempuan yang kuat, punya semangat tinggi, juga berani,” ucapnya pelan seraya mengusap kepalaku dengan lembut. Ucapan yang cukup menenangkan bagiku. Tapi justru menambah derasnya airmata ini.

“Tapi, aku nggak punya masa depan lagi.” Aku berdesis di antara tangis.

“Kamu masih punya masa depan. Jangan putus asa. Jalanmu masih terbentang panjang, Sahara.”

“Ohh, sedang sibuk rupanya!”

Aku dan Attala tersentak begitu mendengar seseorang berseru di depan pintu. Kami sontak melerai pelukan dan menoleh ke asal suara. Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutan manakala mendapati Desta berdiri tegak di sana bersama Nadine di belakang punggungnya.

Attala bangkit dari ranjangku, berdiri tegak ke arah Desta yang sudah masuk ke kamarku dengan tatapan curiga.

“Desta, gue tadi telepon lo kasih kabar bahwa Sahara pingsan, tapi telepon lo nggak aktif.” Attala buka suara dengan tenang berusaha memecah atmosfere ketegangan di ruangan ini.

“Nggak aktif? Buktinya gue bisa terima telepon Nadine,” sinis Desta melirik Attala sekilas, lalu beralih padaku.

“Tapi beneran tadi nggak aktif, Des.” Attala masih bersikeras.

Aku melirik Nadine yang tersenyum kecil namun penuh arti padaku. Pasti dia menelepon Desta untuk datang ke sini dan memergoki aku bersama Attala. Memang si cebol satu ini pengkhianat sejati! Semoga pemerintah mempertimbangkan lagi dirinya menjadi warga negara ini.

“Mas, untung ada Mas Attala di sini. Kalau tidak, mungkin seharian aku pingsan di luar.” Aku mendukung ucapan Attala. Tapi aku melihat wajah Desta menegang disertai guratan amarah.

“Alasan!”

Lemah masih kurasakan, tapi aku berusaha beranjak dari ranjang. Menyejajarkan diri dengan Desta yang kini menatapku tajam. Aku tahu Desta pasti salah paham melihatku dalam pelukan Attala. Apalagi level kecemburuan Desta itu di atas rata-rata. Aku yakin perang dunia yang sesungguhnya akan terjadi sebentar lagi.

Jika di mode cemburu seperti itu, biasanya aku yang selalu mengalah dan meminta maaf walaupun aku tidak salah. Karena itulah yang akan aku lakukan sekarang. Aku meraih tangannya. Tapi, Desta menepis kasar tanganku.

“Mas?”

“Sorry, ya, Ra. Melihat kalian berpelukan mesra seperti tadi, aku jadi punya pikiran kamu sedang berniat kasih imbalan untuk Attala karena mendampingi kasusmu.” Desta berkata sinis dan itu sangat menyembilu hatiku.

“Imbalan apa?”

“Jangan salah sangka, Bro.”

Aku dan Attala bersuara nyaris bersamaaan saking terkejutnya karena ucapan Desta yang mengada-ada itu.

“Ya, mungkin sekarang sedang bernegosiasi. Tapi, setelah deal, pindah ke kamar hotel untuk merealisasi.” Desta menuduh seenak jidatnya. Jelas aku tidak terima.

“Mas! Jangan punya pikiran aneh-aneh, deh!” Emosiku mulai meninggi.

“Aneh gimana? Aku lebih percaya dengan mataku sendiri.” Desta tidak kalah meninggi.

“Mas Attala cuma menenangkan aku. Aku ini dipecat dari kampus, Mas!” Akhirnya aku ungkapkan juga karena Desta pun harus tahu masalah besarku itu.

Tapi, bukan simpati yang kudengar. Desta justru mendengkus kasar seraya tersenyum sinis. “Pantaslah kamu dipecat dari kampus. Mana sudi kampus terhormat begitu dihuni mahasiswa yang ... jual diri!”

Plak!!!

Tidak tahan lagi ...

Untuk pertama kali selama dua tahun aku berhubungan dengan pria ini, tangan kiriku menampar keras pipinya. Sangat keras hingga wajahnya menoleh ke samping.

Desta bergeming. Suasana pun hening. Yang kudengar hanya deru napasku yang memburu dan dentuman hebat jantungku karena rasa perih di hati serta merta menusuk lagi.

Desta, lelakiku itu, pria yang mengucapkan kata-kata penuh duri padaku, menegakkan kepala menatapku seraya mengusap pipinya yang memerah. “Aku jadi nggak yakin bahwa perkosaan itu ada, Ra. Jangan-jangan Itu hanya rekayasamu. Merayu dosen agar mempermudah urusan skripsimu. Pintar, Ra! Kamu pintar memanfaatkan potensi tubuhmu.”

Entah setan mana yang merasuki Desta hingga tega berpikiran buruk seperti itu padaku. Di saat aku butuh dukungan, orang yang aku harapkan justru melempar tuduhan sangat menyakitkan.

Rasanya aku ingin mati saja.

Sakit di hati memaksa airmata ini keluar lagi. Bahkan lebih lancang derasnya. Hingga aku terduduk lemas di tepi ranjang dengan kepala tertunduk dan bahu berguncang hebat karena terisak-isak.

“Desta, lo jangan sembarang ngomong. Apa yang lo tuduhkan itu berbahaya untuk mental Sahara, Des. Kasihan Sahara. Dia sudah terpukul, jangan lo tambahin lagi.” Rungku mendengar Attala membelaku dengan nada suara meninggi. Tapi aku tidak tahu bagaimana ekspresi Desta. Aku tidak sanggup menegakkan kepala.

“Lo kenal Sahara baru tiga minggu, jadi jangan sok tahu. Lo sendiri nggak yakin, kan dia diperkosa dosennya?”

“Gue yakin Sahara jujur, Des.”

“Tapi dia nggak bisa membuktikannya.”

“Dia korbannya, Des. Itu salah satu bukti.”

“Itu, kan kata dia. Ngeliat dia segampang itu di pelukan lo, gue yakin ke cowok-cowok lain juga begitu!”

“Desta, lo gila, ya? Tega lo ngomong begini?”

“Kenapa nggak tega? Dia aja tega selingkuh sama dosennya. Sekarang mau coba-coba sama lo, Ta!”

“Wah, udah rusak parah otak lo, Des!”

“Kenapa sih lo bela Sahara banget? Apa jangan-jangan lo naksir dia?”

Adu kata-kata antara kedua sepupu ini membuat kepalaku mengembang dan mungkin sebentar lagi meledak. Ditambah kata-kata Desta yang justru menyudutkanku dengan tuduhan yang menonjok ulu hati.

Jantungku yang sejak tadi meraung menggila di dalam dada sulit aku redam lantaran emosi yang mencengkram. Hingga aku tidak berdaya untuk berkata-kata.

Yang kulakukan hanya beranjak dari tepi ranjang. Mengulurkan tangan, menyentuh bahu Desta dan Attala bersamaan. Lalu aku tatap kedua pria muda di hadapan. Begitu juga mereka yang serentak menoleh padaku dengan tatapan berbeda. Desta dengan penuh amarah. Attala dengan rasa iba.

“Kalian semua pulanglah. Keluar dari sini. Aku ingin istirahat.”

Hanya itu yang aku minta dengan lirih. Karena bagiku percuma membela diri sementara seluruh dunia mengarahkan telunjuknya ke arahku sebagai perempuan menjijikan pelaku kejahatan, bukan sebagai korban.

Desta yang pertama membalikkan badan, enggan menoleh lagi padaku, melangkah panjang menuju pintu. Lalu Attala menyentuh bahuku sesaat dan memberi tepukan pelan di sana. Terakhir Nadine menyusul mereka setelah melemparkan senyum kemenangannya padaku.

Setelah menutup pintu, aku kembali membaringkan tubuh. Meringkuk memeluk bantal dengan bahu bergetar hebat. Membiarkan diri menikmati duka ini dengan airmata yang setia menemani.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel