Bab.5 Raja Tanpa Masa Lalu
Hujan turun perlahan membasahi halaman istana Valthera. Rintiknya menetes dari atap batu menuju taman yang kini sepi, seolah langit pun berduka atas kehilangan yang tidak dapat dijelaskan.
Kaizen berdiri di tengah ruangan besar, memandangi jendela tinggi yang menampilkan langit kelabu. Pakaian kerajaannya masih sama, tetapi matanya berbeda. Tatapan tajam yang dulu membawa wibawa kini tampak kosong, seperti seseorang yang baru saja lahir tanpa memori tentang siapa dirinya.
Pintu ruangannya terbuka perlahan. Lyra melangkah masuk dengan hati-hati, membawa nampan berisi teh panas.
"Yang Mulia," katanya lembut, "Anda belum makan sejak pagi. Setidaknya minumlah sesuatu."
Kaizen menoleh perlahan, menatapnya seolah sedang memandang seseorang yang asing. "Kau lagi. Kenapa semua orang memanggilku seperti itu? 'Yang Mulia'. Apakah aku benar-benar raja?"
Lyra menelan ludah, mencoba menahan gejolak di dadanya. "Ya, Anda Raja Valthera. Penjaga waktu dan pelindung negeri ini."
Kaizen memandang ke arah pedang yang tergantung di dinding. "Penjaga waktu... kata yang aneh. Aku tidak ingat apa pun. Tidak tentang kerajaan ini, tidak tentang diriku. Tapi ada sesuatu yang terus bergetar di kepalaku setiap kali aku mendengar kata 'waktu'."
Lyra menatapnya, air matanya hampir jatuh. "Itu karena masa lalu Anda belum benar-benar hilang. Ia hanya terkunci."
Kaizen menatapnya tajam. "Kau bicara seperti kau tahu segalanya tentangku."
Lyra menunduk, menggenggam tangannya erat. "Saya tahu cukup banyak untuk tahu bahwa kehilangan ingatan bukan hal baru bagi Anda."
Kaizen diam. Hujan di luar semakin deras, memantul di kaca jendela seperti suara masa lalu yang memanggil dari balik kabut.
Beberapa hari berlalu.
Kerajaan mulai goyah tanpa keputusan tegas dari sang raja. Para bangsawan mulai berbisik, beberapa jenderal meragukan kemampuan Kaizen yang tampak berbeda.
Jenderal Arven datang menemui Lyra di ruang doa. "Putri Lyra, ini tidak bisa terus seperti ini. Sang Raja sudah tiga hari tidak menghadiri sidang. Rakyat mulai takut."
Lyra menatapnya tegas. "Jangan panggil aku Putri. Aku hanyalah pelayan istana sekarang."
Arven mendengus pelan. "Kau bisa menyangkal darah bangsawanmu, tapi kau tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa hanya kau yang bisa membuat Raja Kaizen mendengarkan seseorang."
Lyra menghela napas. "Aku sudah mencoba. Tapi ia bukan Kaizen yang sama. Ia kehilangan semua yang membuatnya percaya pada takdirnya."
Arven menatapnya dalam. "Kalau begitu, bangkitkan lagi keyakinannya. Karena jika ia tidak segera pulih, kita akan kehilangan lebih dari sekadar raja. Kita akan kehilangan dunia ini."
Malam itu, Lyra duduk di depan api unggun kecil di dalam ruang pribadinya. Di tangannya tergenggam kalung kristal biru yang dulunya milik Kaizen. Cahaya di dalamnya berdenyut lembut seperti jantung yang masih berdetak.
Ia berbisik pelan, "Kaizen, kau pernah bilang jika dunia ini runtuh, aku harus mengingatmu untuk dua orang. Aku sudah menepati janji itu. Tapi sampai kapan aku harus melihatmu tanpa mengenaliku?"
Suara langkah kaki membuatnya menoleh. Kaizen berdiri di ambang pintu, tanpa penjaga, tanpa jubah kebesaran. Hanya baju sederhana, tapi aura kekuasaan tetap mengalir darinya meski samar.
"Apa yang kau bicarakan sendirian di sini?" tanyanya datar.
Lyra menyembunyikan kalung itu cepat-cepat. "Tidak ada. Hanya doa untuk keselamatan kerajaan."
Kaizen berjalan mendekat, duduk di seberangnya. Api unggun memantulkan cahaya di wajahnya yang tampak muda namun letih. "Aku mendengar nama itu... Kaizen. Orang-orang memujinya, tapi juga takut padanya. Siapa sebenarnya Kaizen itu?"
Lyra menatapnya lama. "Seseorang yang berjuang melawan takdir dan waktu. Seseorang yang pernah mencintai dunia ini lebih dari dirinya sendiri."
Kaizen tersenyum samar. "Tapi sepertinya dia gagal, ya?"
Lyra menggeleng. "Tidak. Dia hanya membayar terlalu mahal untuk sesuatu yang dia lindungi."
Keheningan turun di antara mereka. Hanya suara api yang berderak dan hujan yang masih menetes di luar jendela.
Tiba-tiba, Kaizen berkata pelan, "Setiap kali aku menatap matamu, aku merasa seperti... deja vu. Seolah aku pernah melihatnya, tapi di tempat yang bukan dunia ini."
Lyra menatapnya dalam diam, jantungnya berdegup cepat. "Mungkin karena jiwa Anda mengingat apa yang pikiran Anda lupakan."
Kaizen menatap api. "Atau mungkin karena aku memang tidak pernah benar-benar melupakanmu."
Keesokan harinya, sebuah laporan mengejutkan datang dari penjaga timur.
"Yang Mulia," ujar Arven, "kami menemukan tanda waktu terbelah di lembah Hadelmar lagi. Cahaya hitam muncul setiap malam, dan beberapa prajurit kami menghilang tanpa jejak."
Kaizen menatap peta di depannya. Sekilas, tempat itu terasa akrab meski pikirannya kosong. "Hadelmar... tempat apa itu?"
Arven menjelaskan, "Situs kuno, tempat pertama kali Anda bangkit setelah peristiwa Langit Terbalik. Dulu, hanya Anda yang bisa menembus batasnya."
Kaizen menatapnya tajam. "Dan sekarang?"
Arven menunduk. "Sekarang, sesuatu dari dalamnya mencoba keluar."
Ruangan menjadi dingin seketika. Lyra yang berdiri di samping Kaizen merasakan hawa gelap menyusup melalui jendela.
Kaizen berdiri, suaranya berat. "Siapkan pasukan. Aku akan ke sana sendiri."
Arven menatapnya terkejut. "Tapi, Yang Mulia, Anda belum sepenuhnya pulih. Bahayanya terlalu besar."
Kaizen menatapnya lurus. "Kalau aku tidak menghadapi ini, maka dunia akan hancur sebelum aku sempat mengingat siapa diriku."
Perjalanan menuju Hadelmar penuh kabut dan petir. Pasukan berjalan di belakang Kaizen dengan gugup, sementara Lyra menunggang kuda putih di sampingnya.
Kabut di depan mereka tampak hidup, bergerak melingkar seperti pusaran air di langit.
"Tempat ini seperti hidup," ujar Lyra pelan.
Kaizen mengangguk. "Bukan hidup... tapi sadar."
Mereka tiba di pusat lembah, di mana batu hitam raksasa berdiri menjulang seperti menara waktu. Di puncaknya, cahaya hitam berkedip-kedip seperti napas makhluk yang tertidur.
Tiba-tiba, tanah bergetar. Dari balik kabut muncul sosok yang sangat mirip Kaizen, tapi auranya jauh lebih dingin.
Lyra tertegun. "Itu..."
Kaizen menatapnya tanpa ragu. "Itu aku."
Bayangan itu tertawa pelan, suaranya bergema di seluruh lembah. "Kau datang juga, tanpa ingatan, tanpa masa lalu. Dunia ini akan lebih mudah kucuri darimu sekarang."
Kaizen menarik pedangnya. "Kalau aku kehilangan masa laluku, maka aku akan melawannya dengan masa depanku."
Bayangan itu mengangkat tangan, dan tanah di sekeliling mereka retak, mengeluarkan asap hitam yang membentuk wujud manusia tanpa wajah.
Pasukan kerajaan segera maju, namun setiap prajurit yang menyentuh kabut itu lenyap begitu saja.
Lyra berteriak, "Kaizen! Jangan mendekat, itu jebakan waktu!"
Namun Kaizen sudah melangkah ke depan, menebas kabut hitam dengan cahaya biru yang muncul tiba-tiba dari pedangnya.
Seketika, bayangan itu mundur selangkah. "Bagaimana mungkin kau masih memiliki cahaya waktu itu? Kau sudah kehilangan segalanya!"
Kaizen tersenyum tipis. "Mungkin jiwaku lupa. Tapi hatiku tidak."
Ia berlari, menebas sosok itu. Benturan dua kekuatan waktu membuat langit bergetar, kabut pecah menjadi ribuan pecahan cahaya.
Lyra menutupi wajahnya dari angin yang meledak. Saat debu mereda, ia melihat dua Kaizen berdiri berhadapan, saling menatap dengan tatapan penuh dendam dan kesedihan.
Bayangan Kaizen tertawa kecil. "Setiap kali kau menolak takdir, aku tumbuh lebih kuat. Sekarang kau tak punya masa lalu, kau tak punya kekuatan untuk menahanku."
Kaizen menghela napas. "Kalau begitu, aku akan menciptakan masa laluku sendiri. Di sini, sekarang."
Ia mengangkat pedangnya tinggi, dan cahaya biru meluap dari tubuhnya. Simbol waktu muncul di udara, berputar cepat, menyelimuti seluruh lembah.
Bayangan itu menjerit, tubuhnya mulai retak. "Kau bodoh, Kaizen! Kau akan menghancurkan dirimu sendiri!"
Kaizen menatapnya dengan tenang. "Kalau itu harga untuk masa depan, aku akan menerimanya."
Ledakan besar mengguncang Hadelmar. Langit pecah, waktu berputar mundur beberapa detik lalu berhenti total.
Ketika cahaya memudar, hanya Kaizen yang masih berdiri, lututnya goyah, napasnya berat.
Lyra berlari menghampirinya, memeluk tubuhnya yang hampir jatuh. "Kau berhasil... kau benar-benar berhasil."
Kaizen membuka matanya perlahan. "Apa yang terjadi pada bayangan itu?"
Lyra menatap ke arah lembah yang kini kosong. "Hilang... untuk sementara."
Kaizen menatap langit yang perlahan berubah cerah. "Untuk sementara bukan berarti selamanya."
Lyra menatapnya dengan senyum lembut. "Tapi cukup lama untuk membiarkanmu mengingat siapa dirimu."
Kaizen memandangnya lama. Di matanya, kilatan kecil muncul, sepotong kenangan yang kembali.
Ia tersenyum samar. "Aku pernah mengenalmu, bukan?"
Lyra menahan air mata. "Ya. Dan aku akan menunggu sampai kau mengenaliku lagi sepenuhnya."
Langit Valthera kembali bersinar setelah berbulan-bulan tertutup kabut. Tapi jauh di bawah tanah Hadelmar, di dalam jurang waktu yang gelap, seberkas cahaya hitam kembali berdenyut perlahan.
Sebuah suara bergema dari kegelapan.
"Aku bukan bayanganmu lagi, Kaizen. Aku adalah takdir yang kau tolak."
