Bab.4 Bayangan di Balik Mahkota
Fajar menyapu langit Valthera dengan cahaya keemasan. Dari balkon tinggi istana, Kaizen menatap cakrawala tanpa ekspresi. Matanya tajam namun lelah, seolah menembus lapisan waktu yang hanya bisa dipahami olehnya. Di tangannya masih terlihat samar kilau biru yang tidak kunjung pudar sejak malam di Hadelmar.
Ia tahu sesuatu telah berubah. Dunia ini tidak lagi berjalan sesuai arus waktu biasa. Udara di sekitarnya lebih padat, angin berhembus dengan ritme yang ganjil, dan bayangan di dinding seolah bergerak sendiri.
Ketika ia menurunkan pandangan, halaman istana tampak sibuk. Pasukan berlatih di bawah komando Jenderal Arven, seorang pria besar dengan wajah penuh bekas luka. Mereka melatih teknik pertahanan terhadap "retakan waktu" yang mulai muncul di berbagai wilayah kerajaan.
Namun bagi Kaizen, latihan itu tidak cukup. Ia tahu musuh yang datang bukanlah manusia.
Langkah kaki pelan terdengar di belakangnya. Lyra mendekat dengan jubah panjang berwarna perak, rambutnya tergerai ditiup angin pagi.
"Anda belum tidur lagi, Yang Mulia," katanya lembut.
Kaizen menatapnya sekilas. "Tidur adalah kemewahan yang hanya dimiliki mereka yang tidak diikuti masa lalu."
Lyra berdiri di sampingnya, memandangi kota yang terhampar jauh di bawah. "Rakyat mulai resah. Mereka mengatakan waktu di beberapa desa berhenti beberapa jam setiap malam. Bahkan tanaman membeku dan air tidak mengalir."
Kaizen menarik napas panjang. "Itu tanda. Keseimbangan dunia mulai runtuh."
Lyra menoleh. "Dan Anda berpikir hanya Anda yang bisa memperbaikinya?"
Kaizen menatapnya dengan mata tajam, namun di dalam sorot itu tersimpan keraguan. "Aku tidak yakin bisa memperbaiki apa pun. Aku hanya mencoba menahan kehancuran yang sama terjadi lagi."
"Yang Mulia," ucap Lyra pelan, "kadang waktu tidak ingin diperbaiki. Ia hanya ingin diterima."
Ucapan itu menggantung di udara. Angin membawa aroma bunga dari taman bawah istana, namun rasanya getir.
Sore hari, Kaizen memanggil seluruh dewan ke aula besar. Suara langkah para bangsawan dan panglima bergema di lantai marmer. Di tengah ruangan, simbol naga perak terpahat indah di bawah cahaya kristal biru yang memantul di langit-langit.
Kaizen berdiri di depan takhta. "Retakan waktu meluas hingga perbatasan timur dan selatan. Siapa pun yang melewati daerah itu hilang. Bukan mati... hilang tanpa jejak. Seolah waktu menelannya."
Seorang dewan tua berdiri. "Yang Mulia, rakyat mulai berbisik bahwa dewa waktu marah pada kerajaan kita. Beberapa biarawan meminta agar Anda melakukan upacara penebusan."
Kaizen menatapnya dingin. "Dewa waktu tidak marah. Ia hanya menagih janji yang pernah kubuat."
Ruangan hening. Semua tatapan tertuju padanya.
Seorang penasihat muda memberanikan diri bertanya, "Janji seperti apa, Yang Mulia?"
Kaizen berjalan perlahan mendekati peta besar di dinding. Jarinya menunjuk titik di tengah peta, tepat di bawah lambang kerajaan. "Di kehidupan sebelumnya, aku membuat perjanjian dengan dewa itu. Aku meminta kekuatan untuk membalikkan waktu dan menghapus kesalahan yang kulakukan. Tapi setiap kali aku dilahirkan kembali, perjanjian itu menagih bagian dari jiwaku."
Beberapa anggota dewan saling pandang, ketakutan mulai merayap di wajah mereka.
"Jika begitu, Yang Mulia," kata Jenderal Arven dengan suara berat, "apakah artinya kerajaan ini dibangun di atas perjanjian terlarang?"
Kaizen menatapnya dalam. "Tidak. Kerajaan ini adalah akibatnya."
Malamnya, Kaizen duduk di ruang pribadinya, ditemani hanya oleh nyala lilin yang bergoyang lembut. Di meja depannya terbentang manuskrip kuno yang ia temukan di Hadelmar. Tulisan di dalamnya berubah setiap kali ia menyentuhnya, seolah hidup dan menulis sendiri.
Ia membaca dengan seksama.
"Ketika sang raja menantang waktu, bayangannya akan terlahir sebagai penguasa kegelapan. Ia akan berjalan di dunia yang sama, namun dengan hati yang terbalik."
Kaizen memejamkan mata. Suara di dalam pikirannya kembali terdengar—suara yang sama yang memanggilnya sejak malam pertama ia terlahir kembali.
"Aku sudah bangkit, Kaizen. Dunia ini tidak butuh dua raja."
Kaizen membuka mata tajam. "Tunjukkan dirimu!"
Udara di ruangan bergetar, dan dari balik bayangan di sudut ruangan muncul sosok yang menyerupainya. Wajahnya identik, tapi mata sosok itu hitam legam, dan auranya begitu menekan.
Sosok itu tersenyum miring. "Kau lupa, aku tidak bisa ditunjukkan. Aku adalah bagian darimu. Bayangan dari masa lalu yang kau tinggalkan di setiap dunia yang kau tinggalkan rusak."
Kaizen berdiri, menatap pantulan dirinya yang gelap. "Jika kau bayanganku, maka kau tunduk padaku."
"Tidak kali ini," jawab sosok itu tenang. "Kau sudah melampaui batas. Setiap kali kau menentang waktu, aku tumbuh lebih kuat. Dan sekarang, aku adalah separuh dari dirimu yang tidak bisa kau kendalikan."
Kaizen maju selangkah, aura biru mulai bergetar di sekeliling tubuhnya. "Aku akan menghancurkanmu."
Bayangan itu tertawa kecil. "Kau tidak bisa menghancurkan apa yang sudah menjadi bagian dari jiwamu. Tapi aku bisa mengambil alih tubuhmu, dan kau akan menjadi bayangan yang terkurung di masa lalu."
Sebelum Kaizen sempat bereaksi, sosok itu lenyap, menyisakan jejak cahaya hitam di lantai.
Lyra tiba-tiba muncul di ambang pintu. "Yang Mulia? Saya mendengar suara aneh dari dalam."
Kaizen menoleh, tapi wajahnya tampak pucat. "Tidak ada apa-apa. Hanya gema masa lalu."
Namun Lyra tidak percaya. Ia menatap ruangan itu, melihat sisa cahaya hitam di lantai yang perlahan menguap. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Keesokan harinya, langit Valthera berubah. Cahaya matahari redup, tertutup kabut tipis yang berputar seperti pusaran waktu. Burung-burung beterbangan tidak beraturan, dan air di sungai istana mengalir mundur.
Para penjaga panik, rakyat berdoa di kuil, dan lonceng besar berdentang terus-menerus.
Kaizen berdiri di balkon utama, mengenakan baju perang hitam berlapis perak. Dari jarak jauh, ia bisa melihat cahaya hitam naik dari lembah Hadelmar.
Lyra datang membawa pesan dari para biarawan. "Mereka bilang itu tanda kebangkitan Bayangan Waktu."
Kaizen menatapnya. "Itu bukan tanda. Itu panggilan perang."
Lyra menatapnya cemas. "Jika itu benar, berarti bayangan Anda mencoba keluar dari dimensi waktu yang tertutup."
Kaizen mengangguk. "Dan jika dia berhasil, dua dunia akan bertabrakan. Semua yang kita kenal akan berhenti eksis."
Lyra menggenggam tangannya. "Lalu apa yang akan Anda lakukan?"
Kaizen menatap tangannya yang bercahaya biru. "Apa pun yang harus dilakukan, bahkan jika aku harus melawan diriku sendiri."
Malam itu, Kaizen berdiri di altar tertinggi di puncak istana. Angin berputar kencang, petir menyambar dari langit ke tanah. Di sekelilingnya, simbol waktu terbentuk di udara, bercahaya seperti bintang yang tersusun rapi.
Lyra berdiri di belakangnya, jubahnya berkibar, matanya memantulkan cahaya biru dari tubuh Kaizen.
"Apa yang Anda lakukan?" teriaknya melawan angin.
"Aku akan memanggil kembali dewa waktu," jawab Kaizen tanpa menoleh. "Hanya dia yang bisa menutup retakan ini sebelum semuanya hancur."
"Tapi setiap kali Anda memanggilnya, Anda kehilangan bagian dari jiwa Anda!"
Kaizen memejamkan mata. "Jiwa bisa hilang, tapi waktu tidak boleh berhenti."
Cahaya biru meledak dari tubuhnya, membentuk lingkaran besar di langit. Suara gemuruh mengguncang seluruh Valthera.
Dari dalam cahaya itu, suara bergema, dalam dan berat.
"Kaizen, putra waktu. Kau memanggilku lagi."
Kaizen menatap ke atas. "Aku butuh kekuatanmu."
"Dan apa yang akan kau berikan kali ini?"
Kaizen menarik napas dalam. "Ambil ingatanku. Ambil masa laluku jika perlu. Tapi biarkan dunia ini hidup."
Cahaya makin terang, dan kilatan putih menyelimuti langit. Lyra menutup matanya, menahan air mata yang hampir jatuh.
Ketika cahaya itu memudar, Kaizen masih berdiri, tapi tubuhnya goyah. Simbol biru di tangannya kini berubah menjadi abu-abu.
Lyra berlari menghampirinya. "Yang Mulia! Apa yang terjadi?"
Kaizen tersenyum lemah. "Aku... lupa siapa kau."
Lyra terdiam, matanya membesar. "Apa?"
Kaizen menatapnya kosong. "Aku tahu aku pernah mengenalmu... tapi aku tidak tahu dari mana."
Lyra menggigit bibir, menahan tangis. Ia menatap langit yang kini kembali tenang, lalu berbisik pada dirinya sendiri, "Setiap kali kau menyelamatkan dunia, kau kehilangan dirimu sedikit demi sedikit, Kaizen."
Ia menatap pria di hadapannya, raja yang kini tidak lagi mengenalnya, dan berjanji dalam hati, ia akan menjadi penjaga memorinya.
Di kejauhan, di lembah Hadelmar, sosok bayangan Kaizen berdiri di antara kabut hitam.
Ia menatap langit yang baru saja bersinar, lalu tersenyum dingin.
"Kau bisa kehilangan ingatanmu, Kaizen, tapi aku tidak akan pernah lupa. Aku adalah waktu yang kau buang."
Dan dunia sekali lagi mulai bergetar di bawah dua raja yang saling berhadapan, satu dari cahaya, dan satu dari bayangan.
