Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.6 Ingatan yang Terkubur

Langit pagi di Valthera tampak tenang, namun keheningan itu hanya menipu. Di bawah permukaannya, waktu bergolak, berdenyut seperti luka yang belum sembuh.

Kaizen berdiri di tepi balkon istana, menatap kota yang mulai pulih dari kegelapan. Rakyat kembali ke pasar, anak-anak berlari di jalanan, dan lonceng kuil berdentang lembut. Tapi di dalam dirinya, sesuatu terasa kosong.

Ia tahu bayangan itu belum lenyap. Ia bisa merasakannya, seperti napas dingin yang mengikuti setiap langkahnya.

Suara lembut terdengar dari belakang. "Yang Mulia, Anda sudah berdiri di sana sejak fajar. Apa yang Anda pikirkan?"

Lyra datang membawa mantel tebal, menutupi bahu Kaizen dari udara pagi yang dingin. Ia menatap pria itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan antara kekaguman dan kepedihan.

Kaizen menatap jauh ke langit. "Aku memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kupikirkan."

Lyra tersenyum samar. "Kalimat yang terlalu rumit untuk pagi seindah ini."

Kaizen berbalik perlahan, menatap mata Lyra. "Setiap kali aku melihatmu, ada perasaan aneh. Seolah aku pernah kehilanganmu, tapi tidak tahu kapan dan di mana."

Lyra menahan napas, mencoba menjaga ekspresi tenang. "Mungkin karena Anda pernah mencintaiku di kehidupan sebelumnya."

Kaizen terdiam. Kata itu menggema di kepalanya seperti gema di ruang kosong. "Cinta..."

Lyra menunduk. "Ya. Sebelum semuanya hancur. Sebelum waktu menelan Anda, dan aku tersisa untuk menunggu tanpa janji."

Keheningan mengisi ruang di antara mereka. Kaizen ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelum sempat membuka mulut, suara langkah cepat terdengar dari arah aula utama.

Jenderal Arven muncul dengan wajah tegang. "Yang Mulia! Kami menemukan simbol hitam di dinding kuil timur. Sama seperti yang muncul di lembah Hadelmar sebelum retakan waktu terbuka!"

Kaizen menatap tajam. "Kirim penjaga. Tidak boleh ada satu pun orang mendekat tanpa izin."

Arven menunduk. "Baik, Yang Mulia." Lalu pergi secepat ia datang.

Kaizen memandang Lyra. "Bayangan itu mencoba kembali. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkannya."

Lyra menggenggam tangannya. "Jangan bertarung sendirian lagi. Kau tidak harus selalu menanggung dunia seorang diri."

Kaizen menatap jemari Lyra yang hangat di tangannya. Hatinya bergetar aneh. Untuk sesaat, sesuatu seperti kenangan terlintas: wajah Lyra di tengah hujan, senyum di bawah cahaya pertempuran, suara lembut yang memanggilnya dalam gelap.

Tapi semuanya hilang sebelum bisa ia tangkap.

Malam itu, Kaizen tidak bisa tidur. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong istana yang sepi, hanya diterangi nyala obor. Setiap langkahnya menggema, seolah waktu ikut berjalan di belakangnya.

Ia tiba di ruang bawah tanah yang sudah lama ditutup. Tempat itu dingin dan berdebu, tapi anehnya, Kaizen tahu arah tanpa berpikir.

Di ujung ruangan terdapat pintu batu besar dengan ukiran simbol waktu. Ia menyentuhnya, dan dinding bergetar halus. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan ruangan kecil berisi cermin tua yang retak di tengahnya.

Cermin itu berdebu, tapi di permukaannya tampak samar bayangan seseorang.

Kaizen mendekat. "Siapa kau?"

Bayangan di cermin tersenyum. "Pertanyaan yang menarik. Tapi bukankah seharusnya aku yang bertanya itu padamu, Kaizen?"

Kaizen tertegun. Suara itu... sangat familiar.

"Aku... mengenal suara ini."

Bayangan itu melangkah mendekat dari sisi lain cermin. Ia tampak sama seperti Kaizen, hanya saja matanya memancarkan warna perak yang dingin. "Tentu saja kau mengenalku. Aku adalah dirimu yang dulu. Raja yang pertama, sebelum waktu menghapus segalanya."

Kaizen menyentuh permukaan cermin. "Apa maksudmu?"

Bayangan itu tersenyum samar. "Kau pikir hanya satu kali kau dilahirkan kembali? Tidak, Kaizen. Kau telah hidup puluhan kali. Setiap kehidupan, kau mencoba memperbaiki dunia yang sama. Tapi setiap kali kau gagal, kau kehilangan satu bagian dari dirimu."

Kaizen menarik napas berat. "Lalu kenapa sekarang aku masih hidup?"

"Karena kali ini berbeda," jawab bayangan itu tenang. "Dewa waktu memberimu kesempatan terakhir. Tapi setiap kesempatan memiliki harga."

"Apa harganya?"

Bayangan itu menatap tajam. "Lyra."

Kaizen membeku. "Apa maksudmu?"

"Dia bukan manusia biasa. Ia adalah jangkar waktumu. Tanpa dia, kau tidak bisa bertahan di dunia ini. Tapi jika kau terus memanggil kekuatan waktu, kau akan menghapus eksistensinya sedikit demi sedikit. Pada akhirnya, kau akan menyelamatkan dunia, tapi kehilangan satu-satunya orang yang membuatmu ingin hidup."

Kaizen memukul cermin itu keras, hingga permukaannya retak. "Cukup!"

Bayangan itu tertawa pelan. "Kau bisa menghancurkan cermin, tapi tidak takdirmu. Kau akan mengingat semuanya, Kaizen, dan ketika itu terjadi... kau harus memilih."

Cermin itu bergetar, lalu hancur menjadi debu.

Kaizen jatuh berlutut, napasnya berat. Dalam pikirannya, bayangan kenangan bermunculan, suara tawa Lyra, wajahnya yang basah oleh air mata, dan teriakan dalam perang besar di masa lalu.

Ia menutup mata, dan air mata jatuh untuk pertama kalinya.

Keesokan harinya, Kaizen memanggil Lyra ke taman istana. Hujan tipis turun, membasahi daun dan batu jalan.

"Lyra," katanya perlahan, "aku ingin tahu... siapa aku bagimu, sebelum semua ini terjadi?"

Lyra menatapnya, terkejut dengan nada lembut itu. "Kau ingin tahu sekarang?"

Kaizen mengangguk. "Aku mulai mengingat hal-hal kecil. Tapi semuanya kabur. Aku butuh kebenaran, bukan dongeng yang disusun untuk membuatku tenang."

Lyra menghela napas panjang. "Baik. Dulu, kau bukan hanya raja. Kau adalah penantang waktu. Kau membuat perjanjian dengan dewa agar bisa membalikkan masa lalu dan menyelamatkan orang-orang yang mati dalam perang. Tapi dewa waktu menagih harga yang tak terbayar: setiap kali kau melanggar garis waktu, sebagian memorimu terhapus. Sampai akhirnya, yang tersisa hanya tubuhmu... tanpa jiwa masa lalu."

Kaizen menatap tanah basah. "Dan kau?"

Lyra tersenyum pahit. "Aku adalah orang yang kau selamatkan dari masa depan yang hancur. Dewa waktu menaruh jiwaku di masa lalu agar aku bisa menjadi jangkar untuk menahanmu tetap hidup di dunia ini."

Kaizen mengangkat wajahnya. "Jadi... aku hidup karena kau?"

Lyra menatapnya dengan mata berair. "Kau hidup karena mencintaiku. Tapi sekarang cinta itu terhapus bersama ingatanmu."

Kaizen terdiam lama. Hujan turun lebih deras, tapi tak ada yang beranjak.

Akhirnya, ia berkata pelan, "Kalau cinta bisa membuatku melawan waktu, mungkin itu juga bisa membuatku mengingat semuanya."

Lyra tersenyum samar, lalu menatapnya dalam. "Maka buktikan."

Malam tiba. Kaizen berdiri di aula utama, di depan simbol waktu yang terpahat di lantai. Ia menutup matanya, mengangkat tangan, dan cahaya biru kembali muncul dari tubuhnya.

Lyra berdiri di tepi ruangan, tubuhnya bergetar. "Jangan lakukan ini lagi! Kau tahu setiap kali kau membuka waktu, tubuhmu semakin lemah!"

Kaizen menatapnya lembut. "Aku tidak akan membuka waktu. Aku akan membuka diriku sendiri."

Seketika, cahaya menyelimuti seluruh ruangan. Potongan kenangan melintas di udara, berputar seperti kilatan bintang. Suara tawa, teriakan, janji, dan tangis berpadu menjadi satu.

Lyra menutup mulutnya, menangis saat melihat bayangan masa lalu mereka berdua.

Kaizen berlutut, menahan rasa sakit di kepalanya yang seolah terbelah dua. "Sekarang aku ingat... perang besar itu... bagaimana aku kehilanganmu di tengah kobaran api... bagaimana aku berjanji akan menemukanku lagi, di setiap kehidupan."

Lyra berlari menghampirinya, menahannya agar tidak jatuh. "Kau mengingatnya... akhirnya kau mengingatnya!"

Kaizen tersenyum lemah. "Tapi bayangan itu juga mengingatku. Dia akan datang lagi, Lyra. Dia tidak akan berhenti sampai dia mengambil tempatku."

Lyra menggenggam tangannya erat. "Maka kali ini, kita lawan bersama."

Kaizen memejamkan mata, merasakan hangat di tangan Lyra. Untuk pertama kalinya sejak kebangkitannya, jiwanya terasa utuh.

Namun di luar istana, di puncak menara kuil waktu, seseorang berdiri memandangi mereka dari jauh.

Jubah hitamnya berkibar, dan simbol jam pasir di dahinya berputar pelan.

Suaranya tenang tapi berbahaya. "Sang Raja sudah mulai mengingat. Maka saatnya Bayangan Waktu bangkit."

Petir menyambar langit Valthera, dan seluruh kerajaan kembali bergetar.

Kaizen membuka matanya tiba-tiba. Ia bisa merasakan sesuatu mendekat, sesuatu yang bukan manusia.

Ia menatap ke arah jendela, dan di balik kegelapan, dua mata perak memandangnya kembali.

Bayangan itu tersenyum dingin. "Selamat datang kembali, Kaizen. Tapi ingat, setiap ingatan yang kau kembalikan, satu dunia akan hilang."

Kaizen berdiri tegak, cahaya biru mulai memancar di tangannya lagi. "Kalau begitu, biarlah dunia memilih siapa yang pantas tinggal."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel