Bab.3 Jejak Waktu yang Terbelah
Kabut tebal menggantung di atas danau. Angin yang bertiup membawa aroma tanah basah dan abu sisa kebakaran semalam. Desa tepi danau kini sunyi. Hanya puing-puing dan arang hitam yang tersisa dari rumah-rumah penduduk.
Di antara reruntuhan itu, Lyra berdiri dengan wajah pucat, memandangi abu yang dulu adalah rumah keluarganya. Tangannya bergetar ketika memungut kalung perak kecil dari tumpukan kayu hangus. Di dalamnya terukir nama ibunya.
Kaizen berdiri di belakangnya dalam wujud naga kecil berkulit hitam mengilap. Matanya memantulkan api yang padam di tanah. Ia bisa merasakan kesedihan Lyra seperti aliran air yang menembus pikirannya.
"Aku tidak sempat menyelamatkan mereka..." bisik Lyra, suaranya hampir tak terdengar.
Kaizen menatap gadis itu lama, lalu berkata dalam pikirannya,
"Kesedihan tidak bisa dihapus. Tapi kau masih hidup, dan itu berarti waktu belum berhenti untukmu."
Lyra menoleh, seolah bisa mendengar sesuatu, meski tidak yakin dari mana asalnya.
"Kau... bicara padaku?"
Kaizen menatap matanya dalam-dalam. "Ya. Kau bisa mendengarku sekarang."
Lyra mundur setengah langkah, wajahnya terkejut sekaligus kagum.
"Makhluk sepertimu... bicara dengan pikiranku?"
"Namaku Kaizen," jawabnya tegas. "Aku bukan naga biasa. Aku... pernah menjadi manusia."
Lyra menatapnya lama. "Kau... manusia? Itu mustahil."
"Tidak ada yang mustahil bagi waktu," balas Kaizen dingin. "Dan waktu-lah yang membawaku ke dunia ini."
Keheningan menelan mereka beberapa saat. Angin berhembus, membawa debu abu melewati kaki Lyra. Gadis itu menatap danau, lalu berkata pelan,
"Kalau begitu... waktu juga kejam, karena tidak memberiku kesempatan menyelamatkan siapa pun."
Kaizen tidak menjawab. Ia tahu rasa kehilangan itu. Ia pernah melihat seluruh kerajaannya hancur di hadapannya, dan tak bisa menyelamatkan satu pun jiwa.
Beberapa saat kemudian, Lyra berbalik. Tatapannya sudah tidak lagi hanya berisi kesedihan, tapi juga tekad.
"Kalau waktu masih memberiku hidup, maka aku akan menggunakannya. Aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya, Kaizen, tapi kalau kau mau, ikutlah denganku. Aku ingin mencari tempat baru. Dunia ini masih luas, kan?"
Kaizen menatap gadis itu, lalu mengangguk pelan.
"Baiklah. Dunia ini lebih besar dari yang kau bayangkan, Lyra. Tapi setiap tempat baru... punya bayangan masa lalu di dalamnya."
Perjalanan mereka dimulai menyusuri jalur hutan Asterion Utara. Pohon-pohon di sana tumbuh setinggi menara, daunnya bercahaya lembut saat malam. Di tanah berlumut, tumbuh bunga yang menutup saat disentuh dan terbuka lagi setelah beberapa menit. Dunia ini terasa hidup, namun juga berbahaya.
Lyra membawa ransel kecil berisi sisa makanan dan beberapa batu sihir yang ia temukan di desa. Kaizen berjalan di sampingnya, sayapnya sudah cukup besar untuk melayang sebentar di udara.
Selama perjalanan, Lyra sering bercerita untuk mengusir sunyi.
"Katanya, jauh di barat ada kota terapung bernama Solmera. Di sana para penyihir bisa membaca masa depan. Mungkin mereka tahu kenapa naga seperti kau bisa menetas di dunia ini."
Kaizen menatap langit, memperhatikan dua matahari kecil yang menyala berdampingan di cakrawala.
"Mungkin," jawabnya datar. "Atau mungkin mereka hanya pion waktu yang sama seperti kita."
Lyra terkekeh kecil. "Kau selalu bicara dengan cara aneh. Tapi aku tidak keberatan, Kaizen. Setidaknya kau tidak diam terus seperti batu."
Kaizen menatapnya sekilas. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Dulu, sebagai Kaisar, ia terbiasa memerintah dan memberi perintah tanpa peduli pada siapa pun. Kini, di hadapan gadis muda ini, ia merasa... lebih manusia.
Tiba-tiba, langkah Lyra terhenti. Suara gemerisik dari semak membuat mereka menoleh bersamaan.
Dari balik pepohonan, muncul sekelompok makhluk kecil bertelinga panjang dan bermata hijau menyala. Mereka membawa tombak dan mengenakan kulit binatang.
"Elf hutan," bisik Lyra. "Mereka biasanya tidak menyerang manusia, tapi..."
Kaizen menatap mereka tajam. Para elf berbisik satu sama lain dalam bahasa yang asing. Lalu salah satu dari mereka maju, pria bertubuh tinggi dengan tato melingkar di wajah.
"Kau, manusia. Kenapa membawa makhluk itu?"
Lyra menunduk sopan. "Aku menemukannya di danau. Dia tidak berbahaya."
Elf itu mengangkat tombaknya. "Itu naga hitam. Tanda kehancuran. Kami tidak membiarkan makhluk seperti itu hidup di wilayah kami."
Kaizen maju selangkah, matanya berkilat. "Coba saja."
Lyra panik. "Kaizen, jangan!"
Tapi semuanya sudah terlambat.
Salah satu elf menembakkan panah cahaya, menembus udara menuju Kaizen. Panah itu berhenti satu inci sebelum mengenai sisiknya. Udara di sekitarnya langsung bergetar.
Waktu berhenti.
Daun yang jatuh di udara membeku, suara burung lenyap, dan hanya Lyra serta Kaizen yang bisa bergerak. Gadis itu menatap sekeliling dengan ngeri.
"Apa yang terjadi...?"
Kaizen menatapnya. "Aku hanya menghentikan waktu."
Lyra tertegun. "Kau... bisa melakukan ini?"
"Ya. Tapi semakin sering aku menggunakannya, semakin cepat tubuh ini melemah."
Ia menatap para elf yang membeku, lalu menurunkan kepalanya sedikit.
"Namun aku tidak akan membunuh mereka. Dunia ini tidak akan berubah kalau setiap masalah diselesaikan dengan darah."
Dengan gerakan kecil, Kaizen mengembalikan waktu. Para elf jatuh tersungkur, bingung dan ketakutan. Tombak mereka patah tanpa sebab.
Pemimpin mereka berlutut, memandang Kaizen dengan wajah pucat. "Makhluk apa kau...?"
Kaizen menatapnya datar. "Seseorang yang belajar dari kesalahan masa lalu."
Elf itu menunduk. "Kami mohon maaf, naga hitam. Dunia kami jarang melihat makhluk seperti dirimu. Jika kau ingin lewat, jalan menuju lembah selatan terbuka."
Lyra menatap Kaizen, kagum sekaligus bingung. "Kau benar-benar... bukan naga biasa."
Kaizen menatap hutan yang kembali sunyi. "Aku tidak ingin menjadi apa pun. Aku hanya ingin memahami kenapa waktu memberiku kesempatan kedua."
Beberapa hari kemudian, mereka tiba di sebuah lembah luas. Di tengahnya berdiri reruntuhan batu besar berbentuk menara spiral. Dindingnya ditutupi lumut biru dan simbol-simbol tua yang memancarkan cahaya samar.
Lyra memandang bangunan itu kagum. "Tempat apa ini?"
Kaizen menatapnya dalam. Ia bisa merasakan sesuatu dari dalam reruntuhan itu. Getaran waktu yang sangat kuat, seperti detak jantung dunia itu sendiri.
"Ini bukan reruntuhan biasa. Ini... bekas Kuil Kronika. Tempat waktu pertama kali dibentuk."
Lyra menatapnya bingung. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku bisa merasakannya. Aku bagian dari waktu itu sendiri."
Mereka melangkah masuk ke dalam menara. Di dalam, udara begitu dingin. Simbol jam dan garis waktu terukir di dinding, dan di tengah ruangan berdiri sebuah batu bundar besar.
Ketika Kaizen mendekat, simbol di dahinya bersinar, dan batu itu bergetar. Suara bergema dari langit-langit, suara dalam yang familiar.
"Kaizen Vardion. Akhirnya kau tiba di tempat yang mengingatmu."
Kaizen menegang. "Chronos..."
Suara itu bergema seperti ribuan gema di kepala mereka.
"Kau telah menggunakan kekuatan waktu tanpa izin. Dunia Asterion mulai retak karena ulahmu. Apa kau akan mengulang kesalahanmu lagi?"
Kaizen menggertakkan gigi. "Aku tidak ingin menghancurkan dunia ini. Aku hanya ingin melindunginya."
"Melindungi? Atau menguasai lagi?" Suara itu terdengar mengejek.
Kaizen menatap batu itu dengan amarah yang tertahan. "Aku bukan raja yang sama. Aku tidak akan menjadi tiran lagi."
Chronos terdiam sesaat. Lalu cahaya biru membentuk bayangan tubuh perak di hadapan mereka. Sosok tinggi itu menatap Kaizen, matanya berputar seperti jarum jam.
"Kalau begitu, buktikan. Tiga pintu waktu akan terbuka di dunia ini. Setiap pintu menyimpan ujian yang akan menentukan apakah kau layak mengubah masa depan atau akan dikembalikan ke kehampaan."
Lyra menatap Kaizen dengan khawatir. "Ujian?"
Chronos menatap gadis itu. "Dan kau, anak manusia, adalah jangkar waktu miliknya. Jika kau mati, keseimbangan Kaizen akan runtuh, dan dunia ini ikut musnah."
Lyra tertegun. "Apa maksudmu? Aku hanya manusia biasa!"
"Takdir tidak pernah memilih yang kuat, Lyra. Ia memilih yang berani," ujar Chronos sebelum sosoknya lenyap menjadi debu cahaya.
Ruangan itu menjadi tenang kembali. Hanya suara napas mereka berdua yang terdengar.
Kaizen menatap langit-langit menara, lalu berkata pelan,
"Tiga pintu waktu... Tiga ujian... Dunia ini benar-benar permainan dewa."
Lyra menatapnya. "Kau yakin akan melakukannya?"
Kaizen menatapnya dengan mata keemasan yang berkilat lembut.
"Aku tidak punya pilihan lain. Kalau aku berhenti, waktu akan menelan kita berdua."
Ia menatap simbol jam pasir di dahinya yang kini berputar lebih cepat. "Dan aku harus tahu... kenapa aku dilahirkan kembali."
Mereka melangkah keluar dari kuil, meninggalkan cahaya biru yang perlahan padam. Angin lembah bertiup lembut, membawa daun-daun jatuh mengelilingi mereka.
Di kejauhan, di langit barat, terlihat cahaya merah samar seperti gerbang besar yang terbuka.
Lyra menatap ke sana. "Itu... pintu pertama?"
Kaizen menatapnya dengan tatapan mantap.
"Ya. Gerbang Waktu Pertama. Di sanalah perjalanan seorang raja dimulai kembali."
Mereka berjalan menuju cahaya merah itu, siluet mereka perlahan menghilang di antara kabut pagi. Di belakang, menara waktu bergema sekali lagi, seperti bisikan masa lalu yang belum selesai.
"Setiap raja akan dilahirkan kembali. Tapi tidak setiap raja bisa menebus waktunya."
