Bab.2 Telur Naga di Dunia Tanpa Raja
Suara ombak memecah keheningan pagi.
Di tepi sebuah danau luas, cahaya matahari memantul di permukaan air seperti ribuan pecahan kaca. Udara di sana terasa aneh, lembap dan hangat sekaligus, seolah dunia itu baru saja tercipta. Burung-burung berwarna biru keperakan melintas di langit, meninggalkan jejak cahaya di udara.
Dan di bawah sebuah pohon besar berdaun ungu, di antara akar-akar yang membelit seperti ular batu, terbaring sebuah telur raksasa. Permukaannya berkilau keemasan, berdenyut lembut seperti jantung yang hidup. Dari dalamnya terdengar suara detak samar... duk... duk... duk...
Telur itu bergoyang pelan. Retakan kecil mulai muncul di permukaannya, dan dari celahnya keluar cahaya biru yang menyilaukan.
Lalu, pecah.
Cangkang mengelupas, dan dari dalamnya keluar sosok kecil berkulit hitam keabu-abuan. Matanya terbuka perlahan, memantulkan cahaya emas seperti dua matahari kembar. Ia bukan manusia. Tubuhnya bersisik halus, sepasang sayap mungil tumbuh di punggungnya, dan di dahinya menyala simbol melingkar seperti jam pasir.
Sosok itu menatap sekeliling, lalu menatap tangannya sendiri.
"Aku... masih hidup?"
Suara itu terdengar langsung di kepalanya, bukan melalui bibir. Ia mengenali suara itu sendiri. Dalam sekejap, ingatan masa lalu mengalir deras di benaknya: istana terbakar, singgasana runtuh, wajah para pengkhianat, dan mata perak milik Chronos.
Ia adalah Kaizen Vardion, Kaisar Besi. Tapi kini, tubuhnya bukan lagi manusia.
Ia mencoba berdiri, tapi kaki mungil itu belum mampu menopang berat tubuhnya. Ia jatuh, menabrak serpihan cangkang. Suara retakan keras menggema, dan seekor burung kristal yang bertengger di dahan pohon langsung terbang menjauh, meninggalkan jejak kilau di udara.
Kaizen menarik napas panjang. Atau mencoba melakukannya. Udara masuk ke paru-paru barunya dengan sensasi asing, seperti api dan es bersatu.
"Jadi ini dunia baru yang kau janjikan, Chronos..." gumamnya lirih. "Dunia tanpa raja."
Ia menatap pantulan dirinya di permukaan danau. Seekor naga kecil dengan mata manusia. Seekor makhluk yang tampak lemah, namun di dalamnya tersimpan sesuatu yang bergetar, energi yang tidak asing baginya. Energi kekuasaan.
Saat itu, tanah di bawahnya bergetar. Dari arah timur muncul bayangan besar bergerak perlahan, suara langkahnya berat seperti guntur. Seekor Wyvern, makhluk bersisik perunggu dengan sayap tajam, berjalan mendekat.
Kaizen mendengus kecil. "Tentu saja, bahkan di dunia baru pun, aku disambut dengan peperangan."
Wyvern itu mengendus-endus udara, lalu menatap Kaizen dengan mata merah. Seekor naga muda adalah santapan lezat bagi predator langit seperti dirinya.
Kaizen menatap makhluk itu tajam. Dalam tubuh kecilnya, sesuatu mulai berdenyut. Simbol jam pasir di dahinya berputar pelan, dan di sekitarnya udara mendadak bergetar.
Ketika Wyvern itu membuka mulut, siap menyemburkan api, Kaizen mengangkat satu cakarnya. Gerakan kecil, tapi dunia di sekelilingnya langsung membeku. Angin berhenti, ombak berhenti, bahkan debu di udara menggantung tanpa bergerak.
"Waktu..." Kaizen menatap simbol itu di dahinya. "Kekuatanku tidak hilang."
Dengan langkah pelan, ia mendekati Wyvern yang kini membeku di tengah serangan. Ia menatap wajah makhluk itu, lalu menyentuhnya. Sentuhan kecil itu membuat seluruh tubuh Wyvern berubah menjadi abu.
Ketika waktu kembali berjalan, abu itu tertiup angin dan hilang di udara.
Kaizen terdiam lama. Ia menatap cakarnya yang bergetar, antara takjub dan ngeri.
"Kekuatan seperti ini... terlalu besar untuk tubuh sekecil ini."
Suara gemerisik dari balik semak membuatnya menoleh cepat. Seorang gadis muda muncul, membawa keranjang berisi bunga ungu. Rambutnya panjang berwarna perak, matanya biru jernih, dan wajahnya...
Kaizen terpaku.
Wajah itu. Wajah yang sama dengan Lyra, selir muda yang dulu menatapnya dengan cinta sekaligus kebencian di kehidupan lamanya.
Gadis itu berhenti beberapa langkah darinya, menatap telur yang sudah pecah, lalu sosok kecil bersisik hitam di tengahnya.
"Telur naga itu... menetas?" katanya pelan. Suaranya lembut, seperti bisikan angin.
Kaizen membeku. Ia tahu wajah itu. Ia tahu suara itu. Tapi gadis ini bukan Lyra yang dulu. Ia bisa merasakannya.
Gadis itu mendekat hati-hati, lalu berlutut. Ia menatap Kaizen dengan rasa ingin tahu yang tulus, bukan ketakutan.
"Makhluk kecil, apakah kau sendirian di sini?" tanyanya.
Kaizen ingin menjawab, tapi suara manusia tidak keluar dari tenggorokannya. Yang keluar hanyalah raungan kecil, mirip kucing yang baru belajar berburu.
Gadis itu tersenyum. "Kau lucu juga." Ia mengulurkan tangan, dan Kaizen spontan mundur.
"Aku tidak akan menyakitimu," katanya lembut.
Kaizen memandangi tangan itu lama. Dalam benaknya, kilasan masa lalu muncul: tangan yang sama pernah memberinya bunga sebelum pengkhianatan besar di istananya dulu.
Akhirnya, ia mendekat.
Begitu gadis itu menyentuh sisiknya, sesuatu yang aneh terjadi. Simbol jam pasir di dahinya menyala lembut, dan sekelebat cahaya biru berpindah dari dirinya ke tubuh gadis itu. Mata sang gadis melebar, lalu membulat karena kaget.
"Apa... apa yang terjadi?" Ia menatap tangannya sendiri. "Aku merasakan sesuatu... seperti... waktu berhenti di sekitarku."
Kaizen menatapnya tajam. Dalam hati ia tahu: ikatan telah terbentuk. Dunia ini telah memilih wadah untuknya.
Gadis itu berdiri, menatap langit. "Nama dunia ini Asterion. Aku Lyra, putri dari keluarga penjaga hutan Danau Biru."
Kaizen mendengar nama itu, dan dadanya terasa sesak. Lyra. Sekalipun dunia berganti, takdir tetap mempertemukannya.
Hari itu, di bawah pohon berdaun ungu, lahirlah ikatan antara seekor naga kecil dan seorang gadis manusia.
Beberapa jam kemudian, Lyra membawa Kaizen pulang ke desa tepi danau. Desa itu dipenuhi rumah dari batu putih, dihiasi lentera mengambang yang menyala di malam hari. Orang-orang memandang Lyra dengan heran saat melihat naga kecil di pelukannya.
"Lyra, dari mana kau dapat makhluk itu?" tanya seorang wanita tua.
"Aku menemukannya di dekat pohon Arven, telur naga yang menetas sendiri."
"Naga?" Wajah-wajah di sekitarnya berubah takut.
Lyra buru-buru menenangkan mereka. "Tenang saja. Dia tidak berbahaya. Lihat, dia bahkan belum bisa terbang."
Kaizen menatap semua itu dengan mata tajam, mempelajari wajah manusia-manusia di dunia baru ini. Tidak ada teknologi, tidak ada kerajaan besar, hanya kehidupan sederhana yang berputar di bawah cahaya matahari biru.
Malamnya, Lyra menaruhnya di dekat tungku hangat di rumah kayu kecilnya. Ia memberi nama.
"Karena sisikmu berkilau seperti obsidian, aku akan memanggilmu... Obsi."
Kaizen hanya menatap diam. Dalam hati ia berkata,
"Aku bukan hewan peliharaan, gadis kecil. Aku adalah Raja."
Namun ketika Lyra tertidur di kursi kayu di sampingnya, rambutnya terurai menutupi wajah, Kaizen memandangi wajah itu lama. Ada sesuatu yang lembut di dalam dirinya, sesuatu yang sudah lama ia lupakan.
Mungkin... kedamaian.
Hari berganti minggu. Kaizen tumbuh cepat, tubuhnya membesar dua kali lipat setiap beberapa hari. Sisiknya semakin tebal, dan simbol jam pasir di dahinya makin jelas. Namun ia menyadari sesuatu: kekuatan waktu yang dimilikinya semakin tidak stabil. Setiap kali ia marah atau cemas, ruang di sekitarnya bergetar dan waktu melambat tanpa kendali.
Suatu malam, Lyra kembali dari hutan membawa bunga bercahaya. Ia tersenyum sambil berkata, "Obsi, lihat, bunga ini hanya mekar di bawah bulan biru. Indah, bukan?"
Kaizen menatap bunga itu. "Keindahan..." katanya dalam hati. "Kata yang dulu tidak berarti apa-apa bagiku."
Tiba-tiba, dari luar terdengar teriakan. Api menyala di kejauhan. Penduduk desa berlarian panik.
Lyra menoleh cepat. "Orc! Mereka datang dari timur!"
Kaizen berdiri di atas perapian, mata emasnya menyala. Ia bisa melihat asap hitam menjulang, mendengar suara logam, dan bau darah.
Insting lamanya sebagai raja bangkit.
"Aku tidak akan membiarkan dunia ini hancur seperti sebelumnya," katanya dalam hati.
Ia melompat keluar dari jendela, sayapnya terbuka untuk pertama kalinya. Dalam satu kepakan, ia melesat ke langit. Api membakar rumah-rumah, para orc berteriak membawa senjata kasar.
Ketika mereka melihat sosok naga hitam kecil melayang di udara, mereka tertawa. "Anak naga? Ini makan malam!"
Kaizen menatap mereka tanpa ekspresi. Di dahinya, simbol jam pasir berputar cepat.
Udara mendadak membeku. Suara teriakan berhenti. Api berhenti menjilat.
Kaizen menatap satu per satu wajah mereka, lalu mengangkat cakarnya. "Kau pikir dunia ini tanpa raja?"
Sekejap kemudian, waktu pecah. Semua orc berubah menjadi abu.
Ketika waktu kembali berjalan, hanya Kaizen yang tersisa, berdiri di atas puing-puing desa.
Lyra datang berlari, matanya membulat. "Obsi... apa yang kau lakukan?"
Kaizen menatapnya lama. Ia tahu, kata-kata apapun tidak akan bisa menjelaskan kekuatan yang barusan ia gunakan. Ia hanya menatap mata Lyra dan berkata dalam pikirannya,
"Aku melindungimu. Karena kali ini... aku tidak ingin kehilangan segalanya lagi."
Langit perlahan cerah kembali, tapi di udara masih tersisa aroma waktu yang retak.
Dan di kejauhan, sosok berjubah perak menatap dari balik kabut. Chronos tersenyum samar.
"Waktu sudah mulai berputar lagi, Kaisar. Mari kita lihat... ke mana dunia baru ini akan membawamu."
Malam itu, Kaizen menatap pantulan dirinya di danau. Tubuh naga kecil itu kini tampak lebih besar, lebih dewasa, dan di matanya mulai terlihat sinar yang dulu dimiliki oleh seorang raja.
Dunia Asterion baru saja memulai babak baru, dan Kaizen tahu...
Raja telah lahir kembali.
