Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.1 Akhir Sang Kaisar

Langit malam itu bukan lagi hitam. Ia merah.

Merah oleh kobaran api, merah oleh darah ribuan manusia yang mati di bawah bendera yang dulu mereka agungkan sendiri.

Kekaisaran Vardion, negeri terkuat di benua Eltheria, telah runtuh.

Dan di tengah reruntuhannya berdirilah satu sosok pria yang dulu dielu-elukan sebagai dewa perang, kini hanya bayangan masa lalunya sendiri.

Dialah Kaizen Vardion, sang Kaisar Besi.

Tubuhnya tinggi dan berotot, meski kini terbungkus debu dan darah. Jubah perangnya robek di banyak tempat. Bahunya terluka parah, darah mengalir dari pelipisnya, tapi matanya masih menyala. Mata perak yang memantulkan sisa-sisa kehancuran yang ia ciptakan sendiri.

Suara derap langkah terdengar dari balik pilar yang setengah runtuh. Seorang perwira muda dengan zirah retak berlari tergesa, lalu berlutut di hadapan Kaizen.

"Yang Mulia! Pasukan pemberontak sudah menembus gerbang barat! Mereka membakar seluruh kota. Tak ada yang tersisa, bahkan Katedral Valis sudah roboh!"

Kaizen tidak menoleh.

Ia berdiri di balkon tertinggi istana, memandangi lautan api yang menelan ibu kota kekaisarannya. Dari tempat itu, ia bisa melihat semuanya. Rumah-rumah rakyat yang ia janjikan akan dilindungi kini tinggal abu.

"Berapa banyak yang mati?" suaranya rendah tapi tajam.

Perwira itu menggigit bibir. "Lebih dari tiga ratus ribu, Yang Mulia."

Kaizen memejamkan mata.

Tiga ratus ribu.

Angka itu terasa seperti pisau yang menembus dadanya.

"Dan di mana Jenderal Revar?" tanyanya datar.

"Dia mengkhianati kita," jawab perwira itu dengan suara gemetar. "Ia menyerahkan gerbang barat demi keselamatan keluarganya."

Kaizen tertawa pendek, bukan karena lucu, tapi karena getir.

"Keselamatan keluarga," gumamnya. "Sama seperti yang kulakukan dulu."

Tatapan peraknya menajam, menatap jauh ke arah kota. Dalam pandangan matanya yang jernih itu, seolah ada dua dunia, masa lalu yang indah dan masa kini yang membusuk.

Ia pernah punya segalanya.

Kekuasaan. Rakyat yang bersujud. Cinta seorang wanita bernama Lyra, penyihir muda yang percaya bahwa di dalam hatinya masih ada kebaikan.

Dan ia menghancurkan semuanya.

Kaizen menghela napas panjang. "Katakan pada mereka yang tersisa untuk pergi. Jangan tunggu perintahku lagi."

"Yang Mulia!" seru sang perwira. "Tapi bagaimana dengan Anda?"

Kaizen menatapnya. Pandangan mata yang tenang itu membuat perwira itu berhenti bernapas.

"Aku akan tetap di sini," katanya pelan. "Setiap raja harus mengubur dirinya bersama takhtanya."

Perwira itu terdiam lama, lalu menunduk dalam-dalam.

Ia tahu, tak ada gunanya membujuk.

Sebelum pergi, ia menatap Kaisarnya sekali lagi, dan dalam pandangan terakhir itu, ia melihat sosok lelaki yang bukan lagi penguasa, melainkan manusia yang menyesali seluruh hidupnya.

Ketika langkah kaki sang perwira menghilang di lorong, keheningan menyelimuti istana.

Hanya suara api yang berdesis di luar jendela, seperti desahan neraka yang lapar.

Kaizen melangkah menuju singgasananya. Setiap langkahnya menimbulkan gema berat di aula marmer. Dinding istana dihiasi lukisan perang, patung-patung leluhur, dan permata di pilar-pilar megah. Semuanya kini tertutup debu dan abu.

Ia duduk di singgasana batu hitam, lalu menatap mahkota di tangannya. Mahkota itu terbuat dari logam Eldrion, berlapis batu bulan. Ia menatapnya lama, seperti menatap bayangan dosa.

"Mahkota ini," gumamnya pelan. "Kuperebutkan dengan darah ayahku sendiri."

Ia tersenyum miring, lalu tertawa pelan, getir, sampai suaranya pecah menjadi erangan.

"Dan semua ini untuk apa?" katanya lagi, suaranya serak. "Untuk membuktikan bahwa aku lebih besar dari takdir? Takdir malah menertawakanku sekarang."

Dari jendela besar di belakang singgasana, angin malam berhembus membawa abu.

Abu itu jatuh di pundaknya, seolah memberinya jubah kematian.

Tiba-tiba, dari luar terdengar dentuman besar. Lantai istana bergetar, langit-langit retak. Sebuah bagian dinding runtuh, mengungkapkan pemandangan mengerikan: ribuan pasukan pemberontak sedang mendekat, membawa obor dan panji-panji hitam.

Kaizen tidak bergerak.

Ia hanya menatap mereka dari jauh, seperti menatap gelombang takdir yang datang menjemputnya.

"Jadi ini akhirnya," bisiknya. "Mungkin memang sudah seharusnya begini."

Namun saat ia menutup mata, bayangan itu datang lagi, wajah Lyra.

Mata lembut yang dulu memandangnya penuh cinta. Tangan kecil yang dulu menggenggam tangannya sambil berkata, "Kaizen, jangan biarkan ambisimu memakan hatimu sendiri."

Terlambat.

Ia membunuh cinta itu dengan tangannya sendiri, menuduh Lyra sebagai pengkhianat karena menentang perangnya. Ia menghukumnya mati di depan rakyat.

Dan malam itu, malam ketika Lyra jatuh dari menara suci, mata Kaizen pertama kali kehilangan cahaya.

Air mata mengalir perlahan di pipinya.

Bukan air mata seorang raja, tapi air mata seorang manusia yang akhirnya sadar betapa hancurnya dirinya sendiri.

"Lyra," suaranya serak. "Jika aku bisa memutar waktu, aku akan memilih mencintaimu, bukan menaklukkan dunia."

Saat itu juga, udara di sekelilingnya berubah.

Semua suara menghilang. Api berhenti menari. Waktu seolah berhenti bernafas.

Dari tengah aula, muncul pusaran cahaya berwarna perak kebiruan. Udara bergetar. Dari dalam pusaran itu, muncul sosok tinggi berjubah panjang. Wajahnya tersembunyi oleh cahaya, tapi matanya berputar seperti jarum jam yang tak berhenti.

"Kaizen Vardion," suara itu bergema dalam ruangan. Dalam, berat, dan mengguncang jiwanya. "Engkau memanggilku dengan keputusasaanmu."

Kaizen berdiri perlahan, menatap sosok itu. "Siapa kau?"

"Aku adalah Chronos, penjaga waktu."

Suara itu seperti bergema dari masa lalu dan masa depan sekaligus.

"Selama ribuan tahun aku menontonmu menulis sejarah dengan darah, menantang takdir dengan kesombongan. Kini, waktu menagih harganya."

Kaizen tertawa pendek. "Harga apa lagi yang bisa kau ambil? Aku sudah kehilangan segalanya."

Chronos menatapnya lama. "Belum. Masih ada satu hal yang belum kau lepaskan, jiwamu."

Kaizen terdiam.

"Kalau begitu, ambil saja," katanya lelah. "Biar semuanya berakhir malam ini."

"Tapi waktu tidak datang untuk mengambil, Kaizen," ucap Chronos. "Waktu datang untuk memberi. Sekali dalam sejuta tahun, aku menawarkan kesempatan pada jiwa yang menyesal sepenuhnya. Hidup kembali. Di dunia lain. Tanpa mahkota, tanpa dosa, tanpa nama."

Kaizen menatapnya dengan mata yang perlahan bersinar lagi.

"Hidup kembali?"

"Ya," jawab Chronos. "Namun kau akan kehilangan segalanya. Tidak ada ingatan, tidak ada kekuasaan. Hanya dosa yang tertinggal di jiwamu agar kau bisa menebusnya."

Hening.

Suara bara dan api kembali terdengar, seperti bisikan dari neraka yang menunggu jawaban.

Kaizen menatap singgasananya sekali lagi, tempat di mana ia membunuh, memerintah, dan memerintahkan kematian.

Ia menatap mahkota yang kini berlumur darah, lalu mengangkat wajahnya menatap Chronos.

"Kalau begitu," katanya pelan, "hapus semuanya. Tapi biarkan aku mengingat satu hal."

Chronos memiringkan kepala. "Satu hal?"

"Namanya."

Suara Kaizen nyaris tak terdengar.

"Lyra."

Chronos terdiam sejenak. Lalu mengangkat tangan kanannya, dan lingkaran cahaya besar muncul di belakangnya, berputar cepat seperti jam raksasa.

"Baiklah, Kaizen Vardion," ucapnya. "Waktu mengabulkan permintaanmu. Kau akan lahir kembali. Tanpa nama, tanpa takhta, tapi namanya akan tetap ada di kedalaman jiwamu."

Cahaya perak menyelimuti ruangan.

Segalanya mulai bergetar, tanah, dinding, udara. Suara dentang jam terdengar begitu keras hingga memekakkan telinga.

Kaizen merasakan tubuhnya terangkat, hancur menjadi serpihan cahaya.

Saat kesadarannya mulai memudar, ia berbisik terakhir kali, "Jika aku terlahir kembali, biarkan aku bertemu dengannya sekali lagi."

Chronos mengangguk perlahan.

"Kalau takdir berkenan, kau akan."

Lalu, dunia runtuh.

Semua warna hilang, semua suara lenyap.

Gelap.

Sunyi.

Hanya denyut pelan yang tersisa.

Dug... dug... dug...

Suara jantung.

Tapi bukan jantung manusia.

Dalam kehampaan, cahaya biru mulai membentuk sesuatu. Bulat. Hangat. Retak.

Sebuah telur naga.

Dunia baru terbentuk di sekelilingnya, gunung bersalju, langit asing, dan matahari yang belum pernah bersinar sebelumnya. Angin lembut meniup salju ke atas cangkang itu, sementara dari dalam, suara detak kehidupan semakin keras.

Crack... crack...

Retakan muncul.

Cahaya biru menembus celah kecil.

Lalu dari dalam, muncul kepala seekor bayi naga berwarna perak.

Matanya terbuka perlahan, abu-biru, memantulkan langit baru yang belum pernah ia lihat.

Ia tidak tahu siapa dirinya.

Ia tidak tahu di mana ia berada.

Tapi jauh di dalam jiwanya, satu nama berbisik lembut seperti gema dari masa lampau.

Lyra.

Dan pada hari itulah, dunia menyambut kelahiran kembali dari makhluk yang suatu hari akan dikenal sebagai Raja yang Dilahirkan Kembali.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel