Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.4 Mau gak?

Jika aku memiliki suami dengan ketampanan di atas rata-rata. Bahkan, menyamai pahatan patung dewa dengan fisik dan senjata mematikan yang luar biasa besar begitu, mati sekarang pun, tak akan menyisakan penyesalan apa pun bagiku.

Saat kecil, aku memang pernah belajar mengenai reproduksi lelaki dan perempuan. Bagaimanapun, edukasi tentang seks adalah sebuah keharusan karena merupakan materi di mata pelajaran sekolah. Namun, menyaksikan Basoka sebesar dan sekokoh itu secara live sungguh menakjubkan.

Jika dibandingkan dengan punya Senior... Ah, cacing kremi itu tak bisa dibandingkan. Ini namanya penistaan bagi basoka menakjubkan di depanku. Bila diibaratkan seperti membandingkan Gajah dengan kecoak. Terlalu lancang!

Tanpa sadar, rasanya, aku sekarang sedang tersenyum dengan lebar. Bahkan, mengeluarkan suara-suara yang membuat siapa pun mungkin akan berpikir aku sudah gila.

"Tutup mulutmu!"

Eh? Aku tersadar dari lamunanku lalu menatap Ferdiansyah, lelaki yang bisa saja menjadi vampir karena bisa mengisap kesadaran manusia hanya dengan ketampanannya, berdiri di depanku dengan tongkat Monas masih berdiri kokoh tak tergoyahkan.

"Maafkan aku," ucapku pelan masih dengan memerhatikan Basoka yang sejak tadi seolah tak membiarkanku untuk mengalihkan pandanganku darinya. Seperti efek sihir, aku tak kuasa menolak psona benda langka yang di kehidupan sebelumnya tak bisa ditemui.

"Sampai kapan kamu akan melihatnya?"

"Aku tak melihatnya."

"Benar, kamu memelototinya, kan?"

"Ti-tidak." Aku mendingakkan kepalaku sebentar, meski sepertinya gaya gravitasi sulit dikibuli.

Pemandangan di depanku bahkan mampu membuat air liurku menetes dengan cepat. Aku menelan ludah tanpa sadar.

"Apa kamu mau menghisapnya?"

"Hi-hisap? Perkataan kotor dan vulgar macam apa itu! Aku bukan wanita rendahan tak bermoral!!"

Tanpa sadar, aku malah mengoceh sesuatu yang mungkin akan membuat kepalaku berlubang nantinya.

"Ho? Kamu berkata begitu, tapi terus memerhatikan adik kecilku. Apa kamu begitu sangat tidak tahu malu atau kamu hanya berkata buruk untuk menutupi hasrat tersembunyimu?"

Lelaki itu mengulas senyuman tipis menggodaku, membuatku langsung mengarahkan pandanganku ke arah lain meskipun sebenarnya sayang pemandangan langka nan luar biasa itu harus diakhiri demi harga diri.

Wajahku pasti sudah sangat merah sekarang mengingat betapa panas pipiku sekarang. Bahkan, kepalaku seperti sedang berasap saking malunya.

"Kamu harusnya menahan diri. Besok kita akan menikah dan kamu bisa menikmati adik kecilku sepuasnya, benar begitu, kan?"

Dia berjalan mendekatiku. Aku hanya bisa menahan napas sembari memalingkan wajahku.

"Kenapa kamu tak melihat ke arahku? Bukankah tidak sopan kalau kamu masuk ke sini, bicara denganku, tapi tak mau berkontak mata?"

"Tu-tupi dulu basokamu. Eh, maksudku, tutup resleting celanamu!"

Aku benar-benar gugup. Bahkan, aku sampai bisa mendengar detak jantungku sendiri.

"Ah, kamu ingin aku menutupinya? Kamu tidak merasa sayang?"

Tentu saja sangat disayangkan, tapi kamu, kan penjahat yang akan membunuhku. Batinku menggerutu kesal.

"Ce-cepat tutup!"

"Sudah, tuh," sahutnya santai.

Aku melirik ke celananya, sudah tertutup. Entah kenapa aku sedikit kecewa. Pemandangan indah itu sudah sepenuhnya tertutup rapat dan tak terlihat lagi.

"Kamu terlihat sedih, apa kamu mau melakukannya?"

Ferdiansyah melangkah lebih dekat padaku.

"Me-melakukan apa?"

Ferdiansyah tersenyum licik, "Kamu sedang berpura-pura bodoh?"

Aku berkeringat dingin saat manik hitamnya mengarah padaku. Kegelapan itu seolah akan menelanku hidup-hidup.

"Aku-aku mau ke kamar mandi! Aku kebelet pipis!" Aku setengah berteriak sembari melangkah mundur.

Dia tergelak pelan, "Kamu bercanda? Jika kamu kebelet, kenapa tidak ke kamar mandi punyamu saja? Kenapa harus masuk ke ruang kerjaku?"

Apa? Benar juga. Asri, kan sudah bilang kalau ada kamar mandi dalam di kamarku. Dasar bodoh! Aku langsung mengutuk diriku sendiri.

"Kamu terlihat seperti kucing yang baru saja mencelupkan diri ke dalam air. Kamu ketakutan sekarang?" Ferdiansyah menatapku tajam membuatku langsung berkeringat dingin. Apalagi wajah tampannya sangat dekat padaku.

Dibandingkan tadi, di mana aku nyaris dicium moncong pistol, sangat dekat dengan bibir yang menggoda dan seolah merengek untuk disedot itu sungguh penuh perjuangan. Tangan dan kakiku sampai gemetar karena berusaha menahan diri agar tak meloncat dan menerkam penjahat utama dalam novel di depanku saat ini.

"Mau gituan nggak?"

Mataku terbelalak saat dia meraih pinggangku dengan cepat, membuat tubuh kami menempel tanpa sekat. Pupil mataku melebar saat aku bisa merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba membesar dan tersentuh di antara kedua kakiku.

"Ti-tidak!!!!!"

Aku berteriak keras sembari meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri sekalipun sebenarnya aku tak bisa bergeser satu cm pun darinya.

Ferdiansyah melepaskanku sembari tertawa terbahak-bahak.

"Kamu lucu, Kucing kecil," katanya sembari mencoba mengendalikan diri agar tak terus tertawa. "Yah, kurasa menikah denganmu akan menyenangkan. Untuk malam ini, aku akan melepaskanmu."

Dia duduk kembali ke kursi yang tadi menjadi saksi bisu perjuangannya untuk mengeluarkan hasrat. Ah, wajahku langsung memerah. Benda pusaka itu memang tidak mudah untuk dilupakan.

"Hm, wajahmu memerah. Apa kamu membayangkan sesuatu seperti yang aku pikirkan?"

"Ti-tidak," bantahku cepat.

"Hm, kamu tidak pandai berbohong. Wajahmu sudah sangat merah sekarang, kamu tahu itu?"

Tentu saja aku tahu, tapi apa yang bisa kulakukan? Aku malu dan ingin pergi dari sini sesegera mungkin.

Kabur. Benar, aku harus kabur.

Aku segera berbalik, ingin melarikan diri, tapi tertahan saat tiba-tiba lenganku ditarik sehingga tubuhku tersungkur jatuh. Sebuah kaki menekan punggungku dengan cepat sampai menyentuh lantai saat aku mencoba untuk berdiri.

Kekuatan yang luar biasa, hanya dengan satu kaki, aku sudah tak berdaya untuk melawan.

"Jangan mencoba untuk kabur, Kucing kecil. Kamu sudah masuk ke sini dan menggangguku. Jadi, kamu harus bertanggungjawab."

"A-apa yang kamu katakan? Lepaskan aku! Sakit!"

Aku berusaha untuk melawan, setidaknya, aku perlu duduk agar tak dipandang sebagai keset saat kami bernegosiasi. Lagipula, aku, kan calon istrinya. Bagaimana bisa dia memerlakukanku seperti ini?

"Lepaskan? Tentu saja tidak. Orang tuamu sudah menjualmu padaku. Kamu milikku sekarang. Kamu merasa sakit atau tidak, apa peduliku? Kamu hanya orang-orangan sawah yang akan menjadi istriku besok."

Orang-orangan sawah? Apa maksudnya? Dia pikir aku sejelek apa sampai mengataiku begitu?

"Kamu buta? Aku cantik, tauk! Kamu lihat aku. Kulitku putih bersinar, mataku belo seperti bulan purnama, tubuhku langsing dan..."

"Apa gunanya? Kamu tidak bisa dipakai."

"Hah?"

"Kamu menolak indehoi denganku tadi. Aku tak bisa menggunakanmu untuk kepuasanku. Jadi, kamu seperti orang-orangan sawah, kan?"

Aku lupa untuk sesaat. Ini adalah novel bergenre smut, dua puluh satu plus pula, tidak mungkin, kan, dia hanya berakhir dengan melepaskanku segera setelah kepergok onani. Dia bukan orang yang semurah hati itu.

"Jadi, haruskah aku membunuhmu sekarang? Kamu terlihat tidak berguna, Kucing kecil."

"Ti-tidak. Jangan bunuh aku. Aku akan melakukannya."

"Hm, benarkah?"

"Benar. Jadi, tolong pindahkan kakimu dariku. Aku harus duduk setidaknya, kan?"

Ferdiansyah menyingkirkan kakinya lalu membiarkanku duduk di lantai yang dingin.

"Hm, kamu mau melakukannya di mana?"

"Apa anda punya penutup mata?"

"Ho? Kamu sudah bersikap sopan, sejak tadi, kamu memakai bahasa informal padaku. Apa ini semacam trik kecilmu untuk menarik perhatianku?"

Tentu saja tidak. Apa dia sudah gila?

"Apa kamu berpengalaman?"

"Ten-tentu saja." Aku sedikit gugup menjawab pertanyaan itu.

Dalam prakteknya, aku hanya pernah tiga kali melakukannya dengan Senior meskipun durasinya hanya berlangsung kurang dari semenit. Selain itu, aku juga tak berniat menyerahkan diriku malam ini. Aku hanya ingin hidup saja.

Walau pengalamanku minim, tapi aku adalah pendengar yang baik. Juga pecinta novel romantis bergenre dua puluh satu plus, baik yang straigh atau pun BL. Ya, aku pernah mencoba untuk tetap lurus, tapi novel romansa belok membuatku berpaling dari jalan kebenaran untuk sesaat dan tersesat atas kemauan sendiri.

Haha, masa-masa yang menyenangkan.

"Kenapa kamu menyeringai seperti nenek sihir begitu? Apa yang kamu pikirkan di kepala kecilmu itu?

"Bu-bukan urusanmu."

"Ho, kamu sudah bertindak tidak sopan lagi."

Aku menelan ludah setelah tersentak sejenak.

"Aku-kamu, bisakah aku memakai bahasa itu?"

"Baiklah, selama kamu bisa memuaskanku."

"Aku akan melakukannya di sini."

"Di sini? Ho? Kamu sudah tidak butuh penutup mata?"

"Aku akan menutup mata saja."

"Baiklah."

Aku pun mengambil posisi, duduk di depan kedua kakinya yang terbuka, mencoba untuk tetap sadar dan tidak terbawa suasana.

"Sebelum mulai, aku mau bertanya."

"Apa?"

"Jadi, bagaimana kamu akan melakukannya?" Dia terlihat penasaran.

"Dengan ini."

Aku mengangkat kedua tanganku.

"Hah?"

"Aku akan memuaskanmu dengan kedua tanganku!" jawabku berkobar.

Dia tertegun lalu tertawa terbahak-bahak.

"Ah, sudahlah. Aku sudah tidak pengen lagi. Pergilah, aku akan bersabar sampai besok."

Dia mengedikkan dagu untuk mengisyaratkan agar aku bisa pergi. Dengan cepat aku berdiri lalu pergi dari sana.

Aku kembali ke kamarku dan mengunci diri di kamar mandi.

Sialan, itu nyaris saja. Untungnya, aku bisa lolos malam ini. Besok, aku harus melakukan sesuatu agar dia tak melakukan hal buruk padaku.

Ugh, punggungku sakit. Dasar si brengsek ganteng!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel