Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.3 Kepergok!

Novel Villain goes to Harem adalah sebuah novel yang menceritakan mengenai seorang pemeran utama wanita bernama Vanessa Gile. Dia adalah anak dari konglomerat yang jatuh dalam kemiskinan setelah perusahaaan ayahnya bangkrut. Dengan kecantikan yang digambarkan seperti bunga melati, polos dan suci, pesonanya bisa membuatnya meluluhkan hati lelaki mana pun. Meski sebenarnya, dia tak sepolos itu.

Sesuai dengan novelnya, Villain goes to Harem, pemeran utama wanita di dalamnya bukanlah wanita baik-baik yang disiksa sejak kecil oleh ibu tiri atau diperlakukan tidak adil oleh dunia. Sebaliknya, dia adalah seorang yang licik. Selayaknya bunga mawar berduri, dia menjerat semua tokoh lelaki di dalam novel ini demi keuntungannya.

Ada empat lelaki sebagai pemeran utama dan pemeran pendukung di novel ini. Mereka semua pada akhirnya berbagi cinta si pemeran utama wanita tanpa benar-benar mendapatkan hatinya. Sebab, sekalipun Vanessa ditakdirkan menikah dengan pemeran utama pria, Alexander, dia tetap memiliki dua kekasih dalam hidupnya. Bahkan, dia menikah duluan dengan tokoh jahat utama dalam cerita ini.

Ferdiansyah George, penjahat utama kita, harus menghadapi kematian setelah dibunuh oleh Alexander dan kedua lelaki lainnya karena berusaha menguasai Vanessa sendirian.

Novel yang konyol kalau kupikirkan sekarang. Dalam cerita itu, Vanessa menikah dengan Ferdiansyah George setelah keluarganya bangkrut demi memulihkan nama keluarganya lagi dan menghalangi mereka dari kemiskinan berkepanjangan.

Dalam ceritanya, Ferdiansyah bahkan memberikan mahar yang banyak. Uang sekitar setengah triliun rupiah. Belum mencakup rumah, mobil dan fasilitas mewah lainnya. Akan tetapi, Vanessa tentu saja tidak mencintai Ferdiansyah George, dia hanya memanfaatkannya. Dia juga bertemu dengan pemeran utama pria, Alexander tiga bulan kemudian dan menjalin hubungan kekasih sampai berakhir di hubungan ranjang.

Benar-benar tokoh utama yang menyebalkan. Dia sempat hamil anak Alexander dan menggugat cerai pada Ferdiansyah, tapi tidak diizinkan. Akhirnya dia kabur dengan Alexander dan mengalami keguguran karena terlalu stress. Alexander yang dipikirnya kaya raya, ternyata tak sekaya Ferdiansyah. Pada akhirnya, dia memiliki dua kekasih lainnya, Benjamin dan Nanos.

Kedua orang itu adalah lelaki dari kalangan menengah. Mereka menjadi budak Vanessa karena dibutakan cinta. Alexander mengetahui perselingkuhan kekasihnya tersebut. Anehnya, mereka bukannya saling bunuh malah bekerja sama untuk membunuh Ferdiansyah yang saat itu mengejar mereka untuk merebut kembali istrinya.

Pada akhirnya, Ferdiansyah tewas di tangan ketiga orang itu. Harta kekayaan Ferdiansyah jatuh sepenuhnya ke tangan Vanessa. Setelah kematian Ferdiansyah, Vanessa menikah dengan Alexander dan tetap menjaga kedua lelaki selingkuhan di sampingnya.

Sialan, benar-benar akhir cerita yang membengongkan.

Sekarang, aku, Ghea, masuk ke novel bergenre harem, smut dan tragedi ini dengan tidak sengaja. Sudah begitu, aku menjadi pemeran pendukung yang seharusnya hanya muncul di awal cerita sebagai extra yang langsung mati untuk menggambarkan betapa tidak berkeprimanusiaannya Ferdiansyah George itu.

Dalam plot aslinya, Ferdiansyah tidak akan menikah dengan Magdalena. Dia akan menikah dengan Vanessa, pemeran utama wanita, dua bulan kemudian. Namun, aku tidak mati dan kami akan menikah besok. Yang perlu kulakukan hanya bertahan sampai pemeran utama wanita muncul lalu kabur.

Ferdiansyah George adalah seorang CEO perusahaaan game. Dia juga merupakan penerus sah dari mafia yang kantor pusatnya berada di kota Cili. Walau begitu, dia tak pernah mengungkapkan hal itu. Kepribadiannya kejam, mudah membunuh dan bebas melakukannya karena semua orang di pemerintahan adalah orang-orang dalam kendalinya.

Berbeda dengan dunia yang kutinggali, di dunia ini, semua ditentukan oleh konglomerat. Apa pun yang dikatakan keluarga George, maka pemerintah akan melakukannya. Mereka tidak lebih dari bidak catur saja.

Ferdiansyah tidak mau menikah karena dia tak ingin memiliki anak. Sejak kecil, dia mengalami penyiksaan yang berat. Dia banyak menanggung luka karena siksaan ayahnya yang sering menjadi gila setiap bulan. Juga, pelatihan yang dilakukan Ferdiansyah bisa dibilang tidak untuk manusia.

Aku pernah menangis saat membaca cerita extra di novel aslinya di mana Ferdiansyah kecil harus meminum racun setiap tiga bulan untuk memperkebal ketahanan tubuhnya. Juga, dia tidak diizinkan menangis atau mengeluh. Jika melakukannya, dia akan dikurung dalam gudang pengap selama tiga hari tanpa air dan makanan. Sungguh pelatihan yang sangat kejam. Itu sebabnya, Ferdiansyah tidak pernah mau punya anak. Dia bahkan membunuh ayahnya sendiri dan naik menjadi penerus di usia muda, sembilan belas tahun.

Bagaimana aku bisa mengingat semua isi novel? Tentu saja karena aku sudah membaca novel itu lebih dari seratus kali. Bahkan, aku menjadikannya buku berharga yang selalu kusimpan sebagai harta pusaka. Aku bersyukur tak melupakan isinya karena pada akhirnya, aku menjadi Magdalena sekarang.

Aku tak begitu ingat bagian pertengahan dari isi novelnya, tapi sekarang bagian awal novelnya sudah berubah. Aku berharap plot ceritanya tak akan banyak berubah mengingat aku hanyalah extra yang akan menjadi tidak terlihat saat pemeran utama wanita muncul. Dikatakan, Ferdiansyah akan jatuh cinta pada pandangan pertama pada Vanessa dan mereka akan ikeh-ikeh kimochi setelah beberapa jam bertemu.

Haha, aku menjadi panas-dingin dan ingin pipis bila mengingat setiap detail yang terjadi di momen menggairahkan itu. Sebagai pembaca, aku turut berdebar-debar. Walau pemeran utama wanitanya sampah, aku suka cerita yang smut dan mengharem. Meski di dunia nyata, tentu sangat menyebalkan melihat seorang wanita bersuami memiliki tiga orang kekasih. Mana semua ganteng. Sungguh tidak adil!

Dibandingkan dengan Vanessa, yang mendapatkan empat lelaki gagah dengan kemampuan yang luar biasa, baik di dalam mencari uang atau pun urusan ranjang, jiwa iriku meluap-luap. Aku sangat frustrasi dengan kenyataan di kehidupanku sebagai Ghea.

Senior, apa dia baik-baik saja setelah kematianku? Apa dia akan menikah lagi? Ah, itu sudah pasti, kan? Aku harap perempuan mana pun yang menjadi istrinya tak akan sekecewa aku saat malam pertama mereka.

Ugh, aku menjadi kesal setiap kali mengingat malam pertama kami. Mana mungkin kemaluan pria dewasa bisa hanya sepanjang kelingking anak kecil? Hah, memuakkan. Aku harap dia tak akan menikah dan hanya fokus untuk hidup sebagai orang baik.

"Nona, kami permisi masuk."

Aku mendengar suara pelayan dari luar.

"Masuklah," suruhku setelah duduk dengan punggung tegak. Bagaimanapun, aku tak boleh kelihatan lemah di hadapan siapa pun.

Para pelayan masuk, termasuk pelayan pribadiku, menyiapkan makan malam yang mewah.

"Ah, mana dagingnya?" tanyaku saat melihat tumpukan salad dan mayones, tanpa daging.

"Anda bilang sebelumnya hanya memakan salad saja, Nona. Haruskah kami siapkan telur goreng tanpa minyak atau lainnya?"

"Aku bukan kambing, kenapa aku harus makan rumpt-rumputan? Buang semua ini, ganti dengan daging sapi atau daging ayam. Ah, karena ini sudah cukup malam, sediakan satu piring saja, dengan beberapa buahan untuk kudapatan dan segelas susu."

Para pelayan itu saling berpandangan, bingung.

"Kalian mendengarku?"

"Baik, Nona. Maafkan kesalahan kami. Kami akan segera mengganti semua ini."

Mereka pun keluar, menyisakan pelayan pribadiku.

"Siapa namamu?"

"Asri, Nona."

"Asri, apa kamu tahu di mana kamar Ferdiansyah?"

"Maaf, Nona."

"Kamu tidak tahu?"

"Maafkan saya, Nona."

"Kamu tahu atau tidak?" Aku menjadi kesal.

"Ma..."

"Jangan cuma bilang maaf, jawab saja!"

"Kamar tuan dekat dengan anda. Tepatnya, dua kamar setelah kamar ini. Tuan tidak makan malam, hanya berpesan agar anda tidak ke mana-mana dan menikmati makan malam sendirian dengan tenang."

"Hah, apa-apaan." Aku mendengus kesal.

Siapa juga yang mau makan malam dengannya? Aku hanya bertanya karena ingin tahu saja. Lagipula, dia belum gila, kan? Aku tak mau dibunuh karena dia tiba-tiba menjadi gila atau semacamnya.

Tak lama setelahnya, makan malam sesuai seleraku di sajikan. Steak ayam. Meski bukan daging sapi, tapi tidak masalah. Ini enak. Dibandingkan masakan di rumah senior, daging ayam ini jauh lebih enak, renyah dan emput. Nikmat banget.

Aku makan dengan lahap sampai perutku kekenyangan. Setelahnya, mereka semua pergi, termasuk Asri.

Aku pun tidur dengan nyaman. Sampai di tengah malam, aku merasa ingin pergi ke toilet. Sialan.

Aku bergegas keluar kamar, ingin mencari kamar mandi. Dengan kesadaran tak sepenuhnya kembali, aku terus berjalan dan melihat pintu yang sedikit terbuka. Aku masuk ke dalamnya dan mendengar desahan.

"Hah? Apa itu?" tanyaku penasaran.

Desahan yang aku dengar semakin menjadi. Ugh, sepertinya akan menarik memergoki seseorang sedang ikeh-ikeh, kan? Haha. Entah kenapa, aku malah menjadi bersemangat.

Aku masuk ke sebuah ruangan, terlihat seperti ruang kerja, bukan kamar. Apa aku salah dengar? Tapi, suaranya semakin jelas.

Aku terus berjalan masuk dan terdiam saat melihat Ferdiansyah George, yang digambarkan tidak manusiawi, lelaki yang menodongkan pistol padaku tadi, sedang memegang kemaluannya sendiri alias sedang onani.

"Ya, ampun," keluhku tak sengaja membuat Ferdiansyah George mendongak dan mata kami bertemu. Benda di celah kakinya itu berdiri tegak bagaikan Monas.

Sialan. Itu senjata Basoka atau apa, sih? Kenapa bisa sekokoh semen Padang? Njir.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel