Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab. 5 Nikah? Gas!

Dingin. Ah, tidak. Badanku panas. Aku menggigil cukup hebat. Kakiku terasa sangat dingin. Sedangkan tubuh bagian atasku terasa sangat panas. Mungkin demam.

Aku merasa aneh saat dua tangan dingin merangkul pinggangku, memberikan efek dramatis di mana tubuhku seperti merinding. Bergetar untuk beberapa saat sebelum akhirnya rileks karena merasa nyaman.

Sentuhannya terasa enak. Halus, lembut dan membuatku seperti dalam dekapan ayah. Sungguh menyebalkan memiliki perasaan rindu pada sesuatu yang tak akan bisa didapatkan sekalipun telah melakukan apa pun.

Orang tuaku telah meninggal dunia sejak aku SD. Dua-duanya. Kecelakaan yang tragis, menyisakan diriku seorang yang harus diasuh oleh kerabat. Dengan berbagai cacian dan hinaan serta tatapan seakan diriku benalu setiap hari. Bukan kenangan yang indah untuk terus dikenang, tapi membuatku sadar bahwa tak ada yang namanya kebaikan tanpa imbalan. Minimal, tanpa penghinaan.

Setelah bertahan bertahun-tahun dengan perasaan campur aduk, antara harus mati, tapi tak bisa atau terus hidup dengan menyedihkan, aku akhirnya keluar dari neraka itu. Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk ngekos dengan sengaja berkuliah di kampus yang jauh.

Aku memutuskan hubungan dengan kerabat jauhku. Bagaimanapun, mereka sudah merawatku jadi seharusnya uang warisan orang tuaku, termasuk rumah yang dulu mereka jual untuk menyekolahku, sudah cukup sebagai kompensasi.

Aku bekerja sana-sini asalkan bisa menghasilkan uang. Dengan prinsip hidup hemat agar tak mengemis pada orang lain, aku bisa bertahan sejauh itu sampai akhirnya seperti kisah Cinderella, aku bertemu pangeran dan menikah. Meskipun pada akhirnya meninggal dunia karena ditabrak truk.

Kehidupan yang membosankan. Air mataku menetes. Hangat. Punggungku yang tadi terasa ngilu, mungkin sedikit memar, kini tak lagi terasa sakit. Rasanya aku tak mau dilepaskan oleh dekapan penuh rasa nyaman dan aman yang saat ini kurasakan.

Ayah, aku merindukanmu.

Tunggu! Ayah durhaka macam mana yang meraba paha anak perempuannya yang sudah dewasa, kan? Ini pelecehan, Anjir!

Tubuhku berusaha bergerak, meronta. Bagaimanapun, ini adalah suatu yang dilarang. Juga, tidak aku inginkan. Tangannya tak bergerak, masih menetap di paha. Tubuhku tak bisa digerakkan sesuka hati, tapi kesadaranku tetap utuh, meskipun aku tak yakin sedang membuka mataku saat ini. Mungkin, ini yang disebut ketindihan atau kehilangan kemampuan karena terlalu shock.

Bergeraklah, Ghea!

Aku menjadi seperti cacing yang sedang berusaha berlari sekalipun tak memiliki kaki.

Bergeraklah, Sialan!

Aku merutuk sembari terus berusaha bergerak karena tangan dingin yang awalnya diam kini telah bergerilya di daerah paha bagian dalam, terus menjalar sampai ke bagian yang membuat tubuhku terangsang. Bahkan, aku mulai merasakan "itu" berkedut-kedut. Sadarlah, Ghea. Kamu bukan hewan. Sekalipun haus sentuhan, kamu tidak boleh melakukannya dengan orang tuamu atau yang lain.

"Istriku."

Tubuhku membeku.

Apa katanya?

"Istriku, kamu mau indehoi?"

Aku langsung menjerit dalam diam saat melihat wajah menakutkan. Wajah dengan kulit hitam pekat, mata yang merah dengan rambut panjang berantakan, menutupi sebagian mata yang nyaris melompat keluar dari rongganya.

Pemandangan yang mengerikan, terutama senyuman lebar sampai telinga dan sorot mata yang seakan mau menelan jiwaku.

"Nona! Nona!"

Mataku terbuka pada akhirnya. Setelah jantungku hampir melompat keluar, sekarang aku benar-benar sadar. Aku tidur di kamar mandi, sendirian. Sepertinya itu hanya mimpi saja.

Keringatku sangat banyak dan napasku seperti orang yang baru selesai berlari maroton.

Sialan. Aku bermimpi bertemu setan.

Orang bilang, bermimpi didatangi setan adalah keberuntungan, tapi kalau sampai diajak indehoi, tentu saja, itu adalah kemalangan, kan? Apa aku akan mati hari ini? Tidak. Aku tak boleh mati di sini.

"Nona. Nona!"

Aku mengerjab dua kali. Telingaku sakit karena teriakan dan pintu yang digedor dengan brutal.

"Nona. Anda baik-baik saja?" tanya Asri begitu aku membuka pintu kamar mandi. "Anda baik-baik saja? Wajah anda pucat, napas anda cepat dan pendek, serta keringat anda banyak."

Dia memaparkan keadaanku saat ini. Intinya, dia mau bilang kalau aku sedang kacau.

"Jam berapa sekarang?"

"Jam tujuh, Nona. Tuan sedang menunggu anda di ruang makan."

"Apa?"

"Itu sebabnya, anda lebih baik mandi sekarang. Saya akan membantu anda bersiap atau anda ingin saya juga membantu anda mandi?"

"Mandi? Skip. Aku sedang malas. Gunakan saja parfum seperlunya," suruhku.

Asri hanya mengangguk. Dia mendandaniku seadanya sesuai permintaanku. Pakaian hari ini lebih aneh, tapi tidak seterbuka gaun yang orang tua Magdalena berikan.

Gaun dengan belahan berbentuk lingkaran, dihiasi dengan pita di antara lengannya yang terbuka di tengah. Warnanya juga kalem, seperti pakaian anak kecil, tapi nyaman untukku.

"Tuan yang memilih gaun ini sendiri, Nona. Katanya ini hadiah untuk semalam."

Aku nyaris tersedak ludah mendengar perkataannya.

"Apa anda keluar tadi malam dan menemui Tuan, Nona?"

Aku tak menjawab pertanyaannya. Bulu kudukku meremang karena bertemu dengan setan di dalam mimpi.

Asri tak bertanya lagi. Dia segera memanduku ke ruang makan. Di sana Ferdiansyah sudah menunggu. Aku duduk di kursi yang disiapkan, Ferdiansyah tidak peduli, melirik padaku pun tidak.

Dasar bedebah ganteng!

Aku melihat menu makanan kami hari ini. Roti dengan selai cokelat dan kacang. Segelas jus jambu dan sepiring kecil apel yang sudah dipotong rapi.

"Aku lebih suka nasi," ucapku tanpa sadar membuat Ferdiansyah yang tadinya tidak peduli menoleh ke arahku.

"Dengan ayam goreng?"

"Tidak, aku suka dengan telur rebus, hanya putihnya, kuningnya tidak. Aku alergi. Kulitku akan ruam dan aku akan kejam bila sudah alergi," jelasku.

Dia mengangkat satu sudut bibirnya, "bukankah terlalu hambar bila nasi dengan telur putih saja? Itu tidak menyenangkan untuk dilihat atau dimakan. Kamu akan cepat bosan."

"Kalau begitu, beri aku daging."

"Ayam goreng?"

Aku menatapnya sinis, "Aku tak suka ayam goreng."

"Lalu?"

"Tentu saja daging sapi atau kambing, kan? Berikan aku rawon, soto, steak, atau apa pun yang enak. Jangan ayam. Aku butuh daging sungguhan."

Ferdiansyah tergelak, "kamu pikir daging ayam itu adalah daging bohongan, hah?"

Aku melipat bibirku.

"Punggungku sakit, mungkin lecet karena ulah seseorang. Jadi, aku berpikir, aku butuh zat besi dan protein agar lukanya cepat sembuh dan tidak terasa sakit lagi, kan? Bagaimanapun, kamu akan menjadikanku istri."

Dia tersenyum lebar.

"Tentu saja. Kamu butuh protein." Dia memandangku penuh makna. "Kamu sudah siap menikah hari ini?"

Aku langsung tersedak.

"Apa?"

"Pernikahannya hanya akan dihadiri sedikit orang, keluargaku yang tak berguna, kerabat jauhku yang membosankan dan beberapa teman yang mungkin akan mencoba membunuhmu di pernikahan kita," terangnya membuatku menelan ludah pahit.

Dia sudah gila.

"Oh, orang tuamu juga akan hadir. Walau aku ingin menggorok leher mereka karena berani meminjam uangku dan mencoba melarikan diri tanpa membayarku kembali, tapi tidak masalah. Kamu akan menikah denganku, itu cukup untuk pertunjukan, kecuali kamu akan menjadi orang-orangan sawah yang tak berguna, aku mungkin akan menyingkirkanmu lebih cepat dari perkiraanku."

Perkataan yang sama sekali tidak membantu. Disamping menyebalkan, ternyata dia berbakat untuk menakuti orang lain, sekalipun penampilannya tak seseram setan di mimpiku semalam.

"Ah, hampir lupa. Untuk maharnya, aku akan melunasi semua hutang orang tuamu padaku dan di tempat lain."

"Hah?" Aku langsung melotot protes, "Aku yang dijual, kenapa mereka yang untung?"

"Bukankah kamu bersedia menjadi barang dagangan untuk tujuan itu?"

"Tidak. Saya bersedia menikah karena saya ingin hidup."

"Ho, kamu tidak bersedia menolong mereka? Bagaimana kamu aku membunuh mereka di depanmu?"

"Bunuh saja. Beri saya mahar yang layak untuk keuntungan saya bila anda ingin menikahi saya."

Aku tidak terima hanya dimanfaatkan. Lagipula, itu adalah orang tua Magdalena bukan orang tuaku. Aku tidak peduli mereka akan dibunuh atau tidak.

Ferdiansyah terkekeh pelan, "Ternyata kamu lebih dingin daripada pikiranku. Baiklah, aku akan memberimu mahar berupa nyawa. Aku tak akan membunuhmu."

"Tiga bulan. Anda harus tetap menjaga saya tetap hidup dan tidak membunuh saya selama rentang waktu itu. Sekalipun anda ingin menceraikan saya, tolong jangan bunuh saya. Saya berjanji akan pergi dan tak akan menampakkan diri di depan anda selamanya."

Aku harus membuat kesepakatan untuk hidupku!

Ferdiansyah terdiam, sedang berpikir tentang permintaanku.

"Hanya itu?"

"Tentu saja tidak. Beri saya uang."

Ferdiansyah tertegun sebentar lalu tergelak pelan.

"Baiklah, aku akan memberikan mahar sesuai keinginanmu."

"Tolong buat kontrak di atas kertas. Hitam dan putih. Beri stempel dan dicatat notaris pula. Anda tidak boleh melanggar janji."

Dia menatapku tajam, "Kucing kecil kamu membuatku marah."

Hah? Apa yang aku lakukan sampai dia marah?

"Maafkan aku."

"Benar begitu, kamu harus menggunakan bahasa aku-kamu saat denganku. Aku akan menyediakan apa yang kamu butuhkan. Uang setengah miliyar, seharusnya sudah cukup sebagai mahar, kan?"

Aku mengangguk cepat.

"Cukup."

"Makan sarapanmu, lalu bersiaplah. Asri akan membantu apa yang kamu butuhkan. Siang nanti, kita akan melangsungkan pernikahan."

"Menikah? Gas!"

"Apa?"

"Maksudku, baiklah."

"Itu cukup mengejutkan mendengar seseorang berkata baiklah saat aku ajak menikah, itu reaksi tak terduga dan tak pernah aku dengar sebelumnya."

Tentu saja, kan? Dia pasti bertanya sembari menodongkan pistol, persis seperti yang dilakukannya padaku sebelumnya.

"Makan sarapanmu."

Aku mengangguk patuh.

Sarapan kami pun dilanjutkan kembali.

Senyumku mengembang sempurna. Roti selai yang aku makan dengan jus jambu, meski tidak sesuai selesaiku dan terkesan cukup aneh, entah kenapa menjadi terasa enak.

Yes, aku sudah punya jaminan hidup tiga bulan ke depan dan punya uang setengah miliyar. Sekarang, aku hanya perlu bertahan sampai pemeran utama wanita muncul lalu mengucapkan selamat tinggal pada psikopat ganteng ini. Haha. Rencana yang brilian.

Goodjob, Ghea! Eh, tidak, maksudku, Magdalena!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel