Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.2 What The Hell?

"Aku tanya sekali lagi. Apa kamu bersedia menikah denganku?"

"Magdalena Fahrani, apa kamu bersedia menikah denganku?"

Untuk sesaat, aku seperti tak percaya dengan apa yang aku alami. Baru saja aku ditabrak truk, tapi begitu membuka mata, bukan rumah sakit atau malaikat maut yang menungguku, melainkan sebuah pistol yang siap membuat kepalaku berlubang.

Aku tak mau mati lagi. No way!

"Apa kamu mau menikah denganku? Bagaimana jawabanmu?"

Aku memberanikan mendongak. Lagipula moncong pistol di depanku belum dipindahkan, tak ada salahnya mengintip siapa keparat yang berani membuatku mati lagi.

"Wah." Tanpa sadar aku mengeluarkan suara kekaguman begitu melihat sosok yang ada di depanku.

Seorang lelaki berusia kira-kira tiga puluh tahunan, dengan kulit putih bersinar paras tampan dan menawan, sempurna. Matanya bulat, dengan ujung rada menyipit membuat garis mata yang setegas garis rahangnya yang kokoh. Bibirnya merah, tidak tebal, tapi tak terlalu tipis. Lekukan di tengah bibir itu minta disedot. Dia benar-benar seperti pahatan patung dewa.

Seorang lelaki dengan cangkang tampan seperti itu, mengajakku menikah? Hanya orang gila yang menolak lelaki setampan itu. Bahkan, senior tak setampan pria di depanku saat ini. Kecuali ekspresi tegilnya, tak ada yang minus darinya.

"Kamu terlihat terkesima, berbeda sekali dengan tanggapan awalmu sebelumnya. Apa kamu berubah pikiran setelah aku menodongkan pistol padamu, Magdalena?" tanyanya dengan pandangan dan senyuman culas yang anehnya tak menggangguku sama sekali.

Tunggu, dia bilang apa? Magdalena? Aku Ghea. Seingatku, aku belum pernah merubah namaku. Memiliki keinginan untuk itu saja belum ada sama sekali. Ghea adalah nama yang berharga untukku, setidaknya hanya nama itu satu-satunya peninggalan dari kedua orang tuaku yang sudah meninggal dunia tanpa meninggalkan warisan apa pun.

Aku bukannya matre, tapi hal itu menyadarkanku kalau aku berasal dari keluarga miskin. Oleh karenanya, aku bekerja sekeras mungkin untuk bisa lulus kuliah, memiliki pekerjaan dan menikah dengan orang yang aku cintai. Meskipun semuanya tak berjalan lancar dan membuatku penuh dengan penyesalan dalam hidupku.

"Magdalena, kamu berani sekali untuk tak menjawabku. Apa kamu tidak tahu kalau Ferdiansyah George ini, tak suka tak ditanggapi?" Pria tampan itu menatapku tajam memberikan aura membunuh yang begitu kentara dan membuat bulu kudukku meremang.

Siapa pria ini sebenarnya? Ferdiansyah George?

Alisku terangkat sebelah. Familiar dengan nama itu.

"Orang tuamu menjualmu padaku. Sebagai bentuk kehormatan, aku bertanya padamu. Apa kamu bersedia menikah denganku atau tidak. Namun, sepertinya kamu lebih suka untuk menjadi mayat daripada menikah denganku, kan?"

"Apa? Mayat?" Aku sangat terkejut.

Aku baru saja mati. Bagaimana mungkin aku harus mati lagi? Namaku Ghea atau Magdalena, siapa peduli? Selama aku hidup, itu sudah cukup.

"Akhirnya kamu menjawabku." Dia menyeringai licik. "Aku akan membuat kematianmu sangat cepat sehingga kamu tak merasa sakit, bagaimana?"

"Tidak! Aku akan menikah denganmu. Aku akan menikahimu!" Aku berteriak keras dengan kaki dan tangan gemetar. Cukup sekali saja aku tahu rasanya sekarat dan mati. Aku tak mau merasakannya lagi. Apalagi ditembak di kepala, itu kematian yang sama tak menyenangkan dengan ditabrak truk.

"Ho, kamu yang bilang akan menikahiku, ya?" Dia tersenyum licik membuat bulu kudukku bergidik.

"Jangan berubah pikiran. Sekarang, kamu milikku," imbuhnya sembari meraih dan mencium ujung rambut panjangku. "Kita akan menikah besok. Apa kamu ingin bertemu kedua orang tuamu?"

"Hah? Untuk apa? Kamu bilang mereka telah menjualku, lalu untuk apa bertemu mereka?" sahutku tanpa sadar. Walau aku bukan Magdalena, tapi aku sudah menjadi dia sekarang. Walau masih mengejutkan, tapi kemampuan adaptasiku ternyata cukup cepat.

"Baiklah, aku akan memanggil pelayan agar mengantarmu ke kamar sementara karena kita belum menikah. Aku sangat tidak sabar menunggu hari esok. Selamat malam, Istriku. Ups, calon istriku maksudnya," katanya lalu terkekeh mengejek.

Dia sungguh aneh.

Pria tampan, tapi menakutkan itu pun pergi, meninggalkanku sendirian di ruangan kosong. Entah bagaimana ruangan ini hanya menyisakan satu kursi saja, tak ada apa-apa di sini, hanya lantai dan tembok berwarna putih. Apakah dia sengaja memasukkanku ke sini untuk membunuhku dengan kejam? Hm, untung aku sadar sebelum diriku benar-benar tertembak.

"Nona, mari saya bantu."

Seorang pelayan wanita masuk, membantaku berdiri.

"Apa kamu sudah lama bekerja di rumah ini?" tanyaku penasaran.

"Tidak, Nona. Saya baru bekerja sekitar dua hari. Kepala pelayan bilang, saya akan bekerja lebih lama kalau anda menjadi Nyonya di rumah ini. Saya berterima kasih karena anda tidak menolak lamaran tuan. Bagaimanapun, saya butuh pekerjaan ini," curhatnya membuatku cukup terkejut.

Aku tentu saja tidak ingin mati. Nyawa lebih penting dari apa pun. Lagipula aku sudah hidup sebagai anak yatim, memiliki pekerjaan melelahkan dan menikah dengan lelaki berburung kecil, tak ada yang tak bisa aku lakukan setelah mengalami semua itu untuk bertahan hidup di dunia ini.

Walau aku tak tahu sampai kapan aku di sini, yang jelas, aku tak mau kembali menjadi Ghea. Karena Ghea sekarang pasti sudah mati. Senior pasti menangis karena kematianku atau mungkin tidak? Ah, tak ada gunanya memikirkan lelaki yang sudah menghancurkan fantasi malam pertamaku.

Aku dibawa ke sebuah kamar yang cukup mewah. Bagaimanapun aku melihatnya. Ini seperti duniaku sebelumnya, kecuali kenyataan kalau semua barang di sini harganya mahal. Bukan barang murahan. Lantainya saja bahkan terlihat sangat mahal dan berkelas.

"Nona diminta untuk tetap di ruangan sampai hari esok. Makan malam akan diantar ke ruangan ini. Bila anda ingin mandi, ada kamar mandi dalam dan segala kebutuhan Nona akan menjadi tanggungjawab saya. Nona hanya perlu menekan bel di sebelah kamar tidur Nona bila ingin memanggil saya."

"Kenapa? Apa dia takut akan melarikan diri? Orang bodoh mana yang akan mencari mati begitu?" tanyaku heran.

"Ini perintah dari Tuan, Nona. Saya tidak berhak mengetahui atau menebak alasan apa pun dari perintah Tuan saya. Maafkan saya," sahutnya seperti pelayan penurut dan setia. Padahal baru bekerja dua hari.

"Baiklah, kamu boleh pergi." pintaku.

Pelayan wanita itu mengangguk pelan lalu pergi meninggalkanku di kamar.

Aku melihat pakaianku, gaun merah muda yang panjang sampai semata kaki sedangkan di atasnya berlengan panjang dengan potongan leher yang nggak banget.

"Kenapa aku harus memakai gaun seperti ini di saat aku akan dijual oleh orang tuaku? Menyebalkan."

Aku mengganti pakaianku dengan gaun tidur. Sekarang cukup nyaman. Walau rasanya ingin mandi, sekarang sudah terlalu malam dan aku lelah secara fisik dan mental. Aku butuh waktu untuk berbaring dan merenung.

Aku merebahkan diri di kasur.

Magdalena Fahrani dan Ferdiansyah George. Hm, dua nama yang tidak asing bagiku. Ini cukup membuat stress untukku yang tiba-tiba masuk ke tubuh ini.

Sebenarnya kenapa aku bisa di tubuh ini? Lalu, di mana ini? Apa jauh dari duniaku atau apa ini dunia yang berbeda seperti dugaanku atau di dunia sama, tempat yang berbeda? Ah, ada banyak hal yang sekarang aku pikirkan.

Aku mengerjab dua kali. Tunggu. Lambang apa itu?

Aku bangun dari tidurku, beranjak meninggalkan ranjang dan pergi mendekati sebuah ukiran di dinding tembok dekat lukisan bunga mawar yang tergantung di dinding.

Simbol kuda terbang dengan dua pedang bersilang di bawahnya? Ini, kan, simbol keluarga George? Apa, George yang itu? Ya, ampun.

Aku jadi bergidik. Kalau benar dugaanku, itu artinya aku masuk ke novel yang dulu pernah aku baca saat di universitas.

Novel berjudul Villainess goes to Harem. Kalau tidak salah ingat, dalam novel itu, Magdalena Fahrani, diriku saat ini, adalah pemeran pendukung yang akan mati di tangan penjahat utama, Ferdiansyah George, kan? Sial.

Kenapa aku selalu tidak beruntung? Apa semesta sedang mempermainkanku? Aku tidak mau mati lagi. Nope.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel