Bab.1 COID DENGAN PENYESALAN
“Kadang kenyataan selalu berlawana dengan keinginan. Namun, tak ada yang bisa dilakukan selain mencoba tetap waras dalam menjalani kehidupan.”
Namaku Ghea, 25 tahun. Pekerjaan sebagai seorang sekretaris sementara di perusahaan kecil. Walau berstatus sementara, dengan gaji kecil dan rutinitas harian yang panjang serta melelahkan, aku mengerjakan banyak hal di perusahaan kecil itu. Rasanya, aku menjadi serba bisa. Menjadi sales girl, kasir, akuntan dan banyak hal lainnya.
Aku menyukaiku pekerjaanku. Bos dan rekan kerjaku sangat mengandalkan. Walau ada hari-hari di mana aku mengutuk mereka semua karena membebankan banyak tanggungjawab padaku. Aku tak bisa membenci mereka. Bagaimanapun, mereka adalah pemeran pendukung dalam hidupku yang berjalan seperti kisah dongeng.
Seperti putri dalam cerita romantis, aku juga sudah menemukan pujaan hati. Seseorang yang akan menjadi pangeran dalam hidupku. Kabar baiknya, hari ini aku akan menikah. Itu bukanlah pernikahan yang mewah, tapi sangat dinantikan. Bagaimanapun menikahi orang yang dicintai adalah keinginan hampir semua orang yang jatuh cinta dan memiliki pasangan yang dianggap sebagai pasangan sejati atau belahan jiwa.
Berpacaran selama hampir lima tahun lalu dinikahi rasanya sungguh seperti memenangkan jackpot. Kan sayang, kalau lama-lama pacaran ujung-ujungnya nggak dinikahi. Nyesek, Cuy!
Aku nggak salah pilih pasangan. Memacari senior universitas sama sekali tidak sia-sia.
Sebagai seorang jatim-piatu, mendapatkan restu dan diterima dengan baik oleh orang tua calon suami tentu adalah anugerah besar dalam hidup. Meskipun perlakuan mereka tidak terlalu wah, seenggaknya mereka tidak memperlakukanku dengan buruk.
Pernikahan kami berjalan secara sederhana. Setelah menggelar acara pernikahan yang cukup singkat tersebut, tibalah saatnya untuk melakukan malam pertama.
Bertahun-tahun pacaran, kami hanya sekadar berciuman. Senior bilang lelaki harus bisa menjaga wanitanya. Jadi, dia bilang tak akan melakukan hubungan intim denganku selama kami hanya berpacaran. Kini, setelah sekian lama menanti, akhirnya, aku bisa merasakan apa yang disebut sebagai surga dunia oleh orang-orang.
Aku sangat menantikan hari ini. Bagaimanapun, kata teman-temanku, malam pertama itu sakit, tapi berujung dengan nikmat. Sebagai wanita dewasa, aku menginginkan segala hal yang pernah aku dengar dari teman-temanku. Bagaimana mereka melakukan pemanasan, melakukan banyak hal sebelum melakukan apa yang menjadi intinya alias ikeh ikeh kimochi dan segala fantasi liar yang didapat olehku dari membaca buku romantis bergenre 21+ selama ini.
Sebagai wanita, aku menginginkan malam pertama yang indah dan tak terlupakan seumur hidupku. Dengan demikian, aku akan selalu mengenangnya seumur hidup. Orang menikah, kan, untuk selamanya, bukan hanya sampai tua atau bertahun-tahun saja. Menjadi egois untuk hal yang satu itu, aku rasa tak masalah. Aku juga tidak keberatan kalau Senior yang lembut berubah menjadi liar dan buas malam ini. Aku malah akan sangat antusias bila benar terjadi.
Kami sudah melepas pakaian yang tadi kami kenakan untuk pernikahan. Kami sudah saling berganti dengan baju tidur. Aku mengenakan gaun tidur tipis, terawang dan seksi yang sengaja dibeli karena ingin mengalami malam pertama yang buas dan brutal. Sedangkan Senior alias suamiku, sudah mengenakan boxer dan kaos tanpa lengan.
Kami duduk saling berhadapan di kasur.
"Kamu sudah siap, Ghea?" tanyanya khawatir kalau aku akan bilang tidak siap dan menunda malam ini.
Oh, tentu saja, aku bukan perempuan egois yang akan menunda kesenangan yang sudah lama diimpikan hanya karena merasa takut atau dengan alasan seperti tidak siap atau butuh waktu. Di kala aku memutuskan menerima lamarannya, aku sudah menyiapkan diri untuk malam ini. Aku tak akan mundur apa pun yang terjadi!
"Siap, Mas," sahutku dengan suara lembut.
Senior maju, memberikan kecupan singkat di bibirku lalu perlahan-lahan tangannya merasuk ke dalam gaun tidurku dan meremas payudaraku dengan gemas.
Tubuhku mulai memanas. Sedikit terpancing, aku mulai merasa senang. Ini pasti akan lebih hot lagi pikirku.
Senior membuka gaunku dengan cukup terburu, membaringkanku di kasur dan menindih tubuhku.
"Lepas pakaianmu, Mas," bisikku manja di telinganya tatkala dia sedang mencium ceruk leherku.
Aku sengaja meniup telinganya saat berkata begitu. Teman-temanku yang sudah menikah duluan berkata kalau lelaki sangat sensitif dan cepat on kalau telinganya disentuh atau ditiup.
Aku tidak berpengalaman dalam melakukan hubungan intim. Jadi, aku perlu guru yang sudah suhu di bidang itu untuk bisa pro dan nggak malu-maluin, khususnya untuk malam pertama kami yang tak akan terjadi dua kali dalam hidup. Kecuali aku menikah lagi. Ih, amit-amit! Aku bukan wanita tak setia.
Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Terdengar naif, tapi bagiku Senior adalah belahan jiwa. Sudah banyak cobaan dan rintangan yang kami lalui bersama selama ini. Jadi, perjuangan sampai tahap ke pernikahan sama sekali tak mudah. Cinta kami sudah terbukti kekokohannya. Berkat itu, aku menjadi yakin untuk menerima lamarannya dan menikah dengannya.
Tak berapa lama setelah meremas payudaraku, Senior membuka celana boxernya. Mataku menyipit, tak percaya dengan apa yang aku lihat.
Itu ulat bulu, cacing kremi atau kemaluan pria? Kenapa bisa sekecil itu?
Aku membatin tak percaya dengan apa yang aku dapat. Bertahun-tahun menahan diri demi malam ini, hanya itu yang aku dapat? Tuhan, ini sungguh tidak adil.
Oh, Ghea, tenanglah!
Orang bilang jangan menilai sesuatu dari penampilannya. Mungkin ukurannya memang kecil, tapi akan membesar seiring nafsunya yang beranjak naik.
Aku pernah dengar dari temanku kalau burung pria itu unik. Mereka memiliki skill unik untuk memanjang di kala sedang on fire. Ukurannya bisa seukuran lengan tangan orang dewasa katanya. Benar, bisa saja begitu. Karena kalau sudah besar sejak awal, harusnya akan sangat menonjol meski bercelana, kan?
Aku berusaha untuk berpositif thingking. Senior menangkalkan pertahanan terakhirku, celana dalam. Setelahnya, dia mulai membuka kedua kakiku selebar mungkin. Ini sungguh membuatku sedikit gugup sampai menelan ludah dan merasa agak haus.
Aku tidak bisa meminta segelas air di situasi seperti ini. Jadi, aku hanya membasahi bibirku dengan air liur saja saat ini.
"Aku masukkan ya, Sayang," ucapnya pelan.
Aku mengangguk pelan.
"Iya, Mas."
Dia pun memasukkan burungnya ke dalam milikku.
Aku menautkan alis, tak terjadi hal yang disebut dengan rasa sakit, tapi nikmat. Senior mulai mendorong miliknya maju-mundur, dia terlihat terengah-engah setelah sepuluh detik dan aku merasakan cairan panas menyembur dan meleleh di sekitar milikku.
"Udah?"
Senior menjauhkan diri dariku, berbaring di sebelahku dengan wajah puas.
"Hah?"
Senior mengambil selimut lalu memakainya sendiri, "Terima kasih, Sayang," katanya lalu tidur.
APAAANNN? Putingku bahkan masih belum bangun dan dia sudah selesai? Sepuluh detik? Bertahun-tahun menunggu, ini hasilnya? Katanya usaha tak akan mengkhianati hasil, kenapa aku merasa terkhianati? Ya, ampun, ini sungguh membuat frustrasi.
Aku sangat kecewa dengan malam pertama kali. Bahkan, besoknya aku langsung terkena hipertensi karena Senior melakukan hal yang sama. Kali ini bahkan lebih cepat. Baru masuk, langsung muncrat. Sial.
Tak ingin mengalami kejadian yang sama, aku sengaja pulang terlambat. Saat senior mengatakan akan menjemputku di tempat kerja, aku tak mengizinkannya.
Aku sangat malu karena tak bisa menceritakan pengalaman indah malam pertama kami pada siapa pun. Karena malam pertamaku, jujur, itu adalah mimpi buruk. Andai saja waktu bisa diputar atau aku bisa menikah dengan orang lain yang lebih pro dari Senior, mati pun tak masalah.
Tit......
Suara klakson yang panjang dan nyaring terdengar. Detik berikutnya saat aku menoleh, sinar yang terang menyorotiku diikuti dengan hantaman yang membuat tubuhku seperti baru saja dijatuhkan dari ketinggian seribu meter.
Aku merasakannya, rasa sakit, tapi tidak nikmat yang membuatku sadar kalau aku sekarat.
Menjelang akhir hidupku, yang kupikirkan hanya satu, malam pertama brutal dan panas.
Tuhan, di kehidupan berikutnya, izinkan aku memiliki suami yang pro. Hanya itu keinginanku.
"Magdalena Fahrani, kamu bersedia menikah denganku?"
Aku membuka mata dan melihat moncong pistol di depan mataku.
Bukannya aku baru saja mati tertabrak? Apa ini? Aku cosplay buat mati lagi?
