3. PELUKAN WANITA LAIN
Ariella tidak akan pernah menduga Aydan membawanya ke jamuan pesta perusahaan salah satu rekannya. Ariella yang berdiri di samping Aydan, mengenakan gaun hitam, terlihat anggun akan tetapi tetap sederhana. Banyak pasang mata memperhatikan mereka karena ini pertama kalinya Aydan membawa wanita ke acara.
Malam itu Ariella yang terlihat cantik, dan Aydan yang tampan dengan setelan jas hitam. Bahkan banyak wanita yang memperhatikannya dan ingin mendekati akan tetapi sialnya Aydan sudah menikah dengan wanita yang berada di sampingnya.
Namun ketenangan itu hanya terjadi beberapa detik karena kehadiran seorang wanita cantik dan banyak orang mengenalnya. Ya, wanita itu Cerise Dakota seorang model dan juga sosialita, mengenakan gaun warna merah maroon yang membalut tubuhnya.
Wanita itu berjalan ke arah Aydan, dengan senyum manisnya, Cerise juga langsung memeluk Aydan di depan tamu undangan. Meskipun pelukan itu hanya sebentar akan tetapi banyak dari mereka yang berbisik-bisik.
“Aydan... aku tidak menyangka kau akan datang juga,” ucap Cerise, dengan tatapan yang tertuju pada Ariella.
“Cerise, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Aydan, namun tetap tenang.
“Oh, aku di undang oleh pemilik acaranya,” ucap Cerise.
Aydan mengangguk, akan tetapi ia sedikit menjaga jarak dari Cerise. Aydan tidak may ia menjadi topik utama di pesta ini, atau bahkan muncul spekulasi tentang dirinya dan Cerise.
“Ini Ariella, dia istriku,” Aydan memperkenalkannya pada Cerise.
Cerise tersenyum, mengulurkan tangannya. “Cerise... aku adalah kekasih suamimu dan kau sudah merebut milikku,” bisiknya.
Ariella tetap tenang, “Senang bertemu denganmu.”
Meski ballroom hotel malam ini dipenuhi cahaya dan musik mengalun. Namun di balik itu semua banyak senyum palsu hanya untuk kepentingan dan sekedar formalitas saja. Begitu juga dengan Ariella yang berusaha tetap tenang, namun tidak dengan hatinya, ia benar-benar seperti di injak-injak harga dirinya.
Detik kemudian Cerise meminta izin pada Ariella untuk membawa Aydan sebentar. Ariella hanya mengangguk, ia tidak bisa menghentikannya dan harus menjaga sikap karena mereka sedang berada di tempat dimana banyak orang yang melihatnya.
“Baik... aku akan menunggu di sini,” ucap Ariella tenang, namun tidak dengan kegelisahan yang ia rasakan.
Tanpa berpikir panjang Cerise menarik tangan Aydan menjauh dari Ariella. Keduanya berjalan menuju lorong, Ariella masih bisa melihat keduanya, ada perasaan penasaran hingga tanpa sadar ia berjalan mengikuti keduanya.
Cerise membawa Aydan ke lorong ballroom dengan cahaya lampu redup, sepi, dan hanya ada beberapa orang yang lewat.
Ariella menghentikan langkahnya dan bersembunyi dari mereka, entah apa yang akan dilakukan pasangan itu. Jantung Ariella berdetak kencang dan tangannya dingin, ia masih dapat melihat keduanya. Cerise yang sesekali mengamati keadaan, tanpa ragu Cerise mendorong tubuh Aydan sampai mentok ke dinding.
Dengan tiba-tiba Cerise mencium Aydan penuh kepemilikan, ciuman panas dan menuntut semuanya begitu nyata di hadapannya.
Ariella menutup matanya, dadanya begitu sesak melihat tangan Cerise yang begitu berani meraba tubuh suaminya, tubuh mereka menempel satu sama lain tanpa ada jarak sama sekali. Aydan juga tidak menolak sama sekali, ia membalas ciuman Cerise lebih panas.
Ia tidak mengerti mengapa mereka berdua harus melakukannya di sini? Mengapa mereka tidak melakukannya di hotel. Bagaimana jika nanti ada yang tahu dan apa yang harus nanti ia katakan kepada orang tuanya jika potret mereka berada di kabar. Ariella mundur secara perlahan ia tidak tahan dengan apa yang ia lihat dan dengar.
Suara yang begitu mengusiknya, yang membuat dirinya tidak berarti. Namun di hati kecilnya ingin Aydan menghargai... tapi apa daya pernikahan ini hanyalah bisnis. Ariella bisa melihat senyum kecil dari bibir Cerise setelah membisikkan sesuatu di telinga Aydan, ia tidak tahu tapi ia bisa melihat raut wajah Aydan, juga senyum kecil di bibirnya. Ini pertama kalinya ia melihat senyum itu, bukan untuknya akan tetapi Cerise.
Air matanya mengenang di pelupuk matanya akan tetapi sebisa mungkin ia tahan. Ia tidak boleh menangis, ia harus kuat seperti biasanya.
Cerise menarik dirinya, ia merapikan penampilan, dan tersenyum puas.
“Aku sangat merindukanmu,” ucapnya pelan.
Aydan menunduk menyamakan Cerise sambil mengusap bibir tipis yang selalu menjadi candunya.
“Aku tahu... tapi maaf mungkin akhir-akhir ini aku akan sibuk.”
Ariella memutar tubuhnya untuk segera keluar dan kembali ke tempat yang tadi. Ia kembali ke ballroom dengan senyum tipis, tidak ada yang tahu apa yang ia saksikan tadi. Malam itu adalah momen dimana Ariella tidak akan pernah melupakannya.
Bahkan malam itu mereka juga pulang terpisah, Ariella membawa mobil sendiri begitu juga dengan Aydan. Malam seperti biasa tidak ada perpisahan manis atau romantis, namun Ariella sadar sesuatu dalam dirinya mulai berubah.
Ariella melangkah masuk ke dalam tidak lupa menyalakan lampu apartemen, ia tidak langsung masuk ke dalam kamarnya, ia menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. Kepalanya bersandar pada sandaran sofa, matanya menatap langit-langit, dadanya masih terasa sesak, kedua tangannya mengepal kuat.
Detik kemudian ponselnya bergetar, ia tidak langsung mengangkatnya, ia ragu akan tetapi ponselnya terus berbunyi untuk kedua kalinya. Ariella pun mengatur napasnya dan segera mengangkat telepon dari Dilbar
Ariella diam, ia tidak langsung bicara. Dilbar adalah sahabatnya dari kecil hingga saat ini mereka masih berteman dekat, namun Ariella sadar sejak mereka masih kuliah. Dilbar yang perhatian padanya membuat dirinya sedikit menjaga jarak karena Ariella tidak ingin hubungan persahabatan mereka sejak kecil hancur begitu saja karena menjalin hubungan yang dimana ia sendiri tidak memiliki perasaan itu pada Dilbar.
“Ariella,” suara Dilbar terdengar, dan sedikit ragu. “Maaf jika aku mengganggumu karena meneleponmu malam-malam.”
“Ariella tersenyum kecil meski Dilbar tidak bisa melihatnya. “Tidak apa. Ada apa kau meneleponku Bar?”
“Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu,” ucapnya. “Aku sedang merintis bisnis baru tapi aku tidak yakin dan aku teringat padamu karena pasti kamu bisa membantuku.”
“Apa yang bisa aku bantu, Bar?” tanya Ariella.
“Jika bisa besok atau jika kamu ada waktu senggang kita bertemu di kafe langganan kita,” ucap Dilbar.
“Baik... nanti aku akan__
Pintu apartemen terbuka menampakkan Aydan. Ariella pun langsung mematikan telepon Dilbar sepihak.
Aydan masuk sambil melepaskan jasnya dengan wajah tenang yang seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
“Kau sudah pulang?” tanya Ariella.
Aydan menatapnya sejenak akan tetapi lebih lama dari biasanya, seolah ia sedang menimbang sesuatu.
“Aku ke kamar,” ucapnya.
Ariella mengangguk, ia menatap punggung lebar suaminya itu masuk ke dalam kamar, ia menghela napas panjang dan menatap kembali ponselnya akan tetapi ia tidak ada niatan untuk menghubungi Dilbar kembali atau bahkan mengirimi pesan.
Ariella berdiri, ia segera menyusul Aydan ke dalam kamar. Bukan untuk hal lain namun ia ingin segera istirahat dan berharap ia tidak akan mengingat kejadian tadi.
