Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. RANJANG YANG LUAS

Sudah satu minggu menikah dengan Aydan, pernikahannya begitu hambar tidak seperti pasangan suami istri yang romantis. Bahkan mereka seperti orang asing yang hidup dalam satu rumah, tidak ada percakapan hangat atau bahkan hanya sekedar menanyakan keadaan hari itu.

Pagi ini Ariella sudah bersiap untuk pergi ke kantor Aydan, membahas tentang malam saat pernikahan mereka sudah berakhir. Ya, Aydan baru memberinya kabar dan Ariella harus menemuinya meski kerap kali setiap ada telepon dari orang tuanya ia selalu berbohong jika pernikahannya baik-baik saja.

Ariella sudah siap dengan pakaian rapi, saat ini ia mengenakan blouse dipadukan dengan celana panjang. Setelah memastikan semuanya selesai, Ariella berjalan keluar apartemen. Hari ini ia akan berangkat dengan menggunakan mobilnya, beruntung saja ia sempat menghubungi sopir rumah agar mengantarkan mobilnya ke apartemen.

“Ariella, apa pun yang terjadi nantinya kamu harus tetap tenang,” gumam Ariella.

Ruangan Aydan berada di lantai paling atas. Rapi, luas, dan sangat terlalu nyaman, dinding kaca yang langsung memperlihatkan suasana kota dengan bangunan gedung-gedung tinggi. Aydan berdiri menatap kelaur jendela dengan membelakangi Ariella saat masuk ke dalam, dan pintu tertutup kembali secara perlahan.

“Duduk,” ucap Aydan tanpa menoleh.

Ariella hanya menurut, duduk di sofa namun tetap tenang meski ia harus menahan gugup. Aydan pun berbalik, satu minggu sudah ia tidak wajah Ariella sedekat ini, akan tetapi Aydan tetap sama tenang, dan dingin.

“Ini tentang pernikahan kita,” ucap Aydan akhirnya, sambil duduk di kursi seberang Ariella.

“Aku tidak ingin kau berharap terlalu banyak dengan pernikahan ini, akan tetapi satu hal yang harus kamu tahu. Baik saat kita di depan keluarga maupun public, kita harus terlihat harmonis,” ucap Aydan.

Ariella mengangguk. “Aku tahu.”

“Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau tapi dengan satu syarat jaga sikap dan jangan membuat scandal apa pun karena aku tidak mau repot mengurus hal yang seperti itu. Aku juga tidak akan pernah mencampuri urusanmu begitu juga sebaliknya,” tambahnya.

“Baik,” jawab Ariella.

Ariella masih terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa, meskipunun perasaannya saat ini sudah tidak karuan.

Aydan menata Ariella, menilai wanita yang saat ini berada di hadapannya. Namun yang lihat hanya ketenangan dan tidak ada ekspresi lain selain tenang dan tersenyum meskipun Aydan tahu jika senyum itu palsu.

“Apa ada pertanyaan? Atau mungkin kau mau menambahkannya?” tanya Aydan.

Ariella menggeleng. “Tidak ada.”

Hening... keduanya saling diam untuk beberapa saat.

“Untuk sementara kita akan tinggal di apartemen, karena mansion yang akan kita tinggali masih ada beberapa perbaikan yang belum selesai. Jika sudah siap maka nanti kita bisa pindah ke sana.”

Ariella mengangguk lagi. Bahkan ia tidak membahas tentang malam pertama atau bahkan kemana selama seminggu ini Aydan pergi karena tidak pulang ke apartemen.

“Sopir akan mengantarkanmu,” ujar Aydan.

“Tidak perlu... aku tadi datang ke sini membawa mobil sendiri,” ucap Ariella.

Aydan pun mengangguk. “Kalau begitu hati-hati di jalan. Mungkin malam ini aku akan pulang ke apartemen dan kau tidak perlu menyiapkan makan malam, aku pulang larut malam."

Ariella lagi-lagi mengangguk, dan pertemuan singkat ini berakhir. Ariella berjalan keluar dengan di antarkan Galen, asisten Aydan.

Malam pun tiba. Malam yang semakin larut akan tetapi Ariella tidak bisa tidur, sedari tadi ia berusaha memejamkan matanya namun tetap tidak bisa. Apa mungkin ia gugup saat tadi Aydan mengatakan jika akan kembali ke apartemen akan tetapi waktu sudah menujukkan pukul satu dini hari Aydan belum juga datang.

Hingga menit kemudian pintu kamar terbuka, Aydan masuk dengan keadaan yang berantakan bau alkohol dan parfum milik Cerise yang menempel di kemejanya.

Ariella bisa mencium itu, hingga ia bangun dan langsung menyalakan lampu. Tatapan mereka pun bertemu.

“Kau belum tidur?” tanya Aydan.

“Mm.”

Tidak ada jawaban lain. Namun Aydan malam itu melewati Ariella begitu saja dan merebahkan dirinya di samping Ariella.

“Tidurlah,” gumam Aydan akan tetapi Ariella masih bisa mendengarkannya.

Ariella baru saja selesai mandi, ia keluar dari toilet menuju walk in closet dengan langkah pelannya. Rambutnya masih basah hingga airnya menetes ke lantai, handuk putih menutupi tubuhnya yang berisi.

Ariella berhenti di meja rias, ia meraih losion untuk di oleskan ke tubuhnya, secara perlahan namun itu hal yang selalu ia lakukan setelah mandi. Dan tanpa ia sadari jika pintu walk in closet terbuka.

Aydan baru saja masuk ke kamarnya dan langsung menuju walk in closet. Aydan yang mengenakan kemeja dengan dua kancing atas masih terbuka, dan rambut yang masih lembah, kini tatapannya tertuju pada Ariella.

Ariella yang berdiri membelakanginya, kulit yang tampak bersih, putih seperti susu, dengan aroma wangi yang menenangkan. Aydan diam beberapa detik... namun tanpa sadar ia berjalan pelan mendekati Ariella.

Ariella yang sadar seperti ada yang memperhatikannya dan bahkan membuat tengkuknya merinding. Ia menoleh, dan pandangan mereka bertemu melalui pantulan cermin, hening.

Dengan spontan Ariella memegang handuknya dengan erat, ia berusaha tenang namun tidak dengan detak jantungnya yang lebih cepat berdetak.

“Maaf,” ucap Aydan, akan tetapi secara perlahan ia berjalan mendekat ke arah Ariella.

Ariella menegang, tubuhnya kaku seolah tidak tahu ia harus menjauh atau tetap diam. Ia tidak berbalik atau bahkan mengeluarkan suara.

Aydan berhenti tepat di belakangnya dan tanpa kata, meletakan kedua tangannya di pinggang Ariella. Memeluknya dengan erat, membuat Ariella terdiam. Tidak menuntut akan tetapi membuat Ariella menahan napas.

Aydan menunduk, ia dengan rakus mencium aroma wangi tubuh Ariella. Ini pertama kalinya Aydan melakukannya selain dengan Cerice, ini berbeda aroma wangi dari tubuh istrinya membuatnya nyaman dan tergoda, untuk sesaat Aydan memejamkan matanya.

Bahkan Ariella bisa merasakan hembusan napas Aydan di tengkuknya, hangat, dan nyata. Akan tetapi sebelum Ariella, pelukan itu secara perlahan mengendur.

Aydan melepaskan pelukannya dan mundur secara perlahan, semua terjadi begitu cepat.

“Aku... harus berangkat,” ujarnya datar.

Seolah tidak ada yang baru saja terjadi, Aydan berbalik, berjalan menuju lemari, mengambil jasnya, dan tidak menoleh lagi.

Ariella berdiri terpaku di depan cermin. Bayangan dirinya, dengan pipi yang masih terasa hangat karena ulah suaminya namun itu semua hanyalah kepalsuan.

Mereka pun sarapan bersama. Ariella yang mengenakan kaos rumahan dipadukan dengan hotpant. Rambutnya di biarkan terurai, namun wajahnya kembali tenang, seperti topeng yang sudah ia kuasai dengan baik.

Aydan yang duduk di sebarang sambil menatap tabletnya, kopi hitam di tangannya. Tidak ada pembahasan tentang apa yang barusan terjadi. Hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring.

“Malam ini aku tidak akan pulang ke apartemen,” ucap Aydan menurunkan pandangannya.

“Baik,” ucap Ariella mengangkat pandangannya.

Ariella tidak akan melarang karena bukan haknya meski mereka sudah menikah secara sah. Ariella hanya bisa diam, seperti apa yang sudah Aydan katakan tidak akan ikut campur urusan pribadi masing-masing.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel