4. UNDANGAN MAKAN MALAM
Malam ini Aydan dan Ariella datang ke mansion keluarga Wijaya. Ya, malam ini ibu dari Aydan mengundang mereka untuk makan malam. Ini pertama kalinya Ariella menginjakkan kakinya di mansion Wijaya karena sebelumnya mereka selalu melakukan pertemuan di restoran atau hotel.
Aydan menggandeng tangan Ariella masuk ke dalam mansion, itu ia lakukan agar kedua orang tuanya dan keluarga lainnya curiga. Sebenarnya Aydan sangat malas dan ingin menolaknya datang namun ia tahu sifat ibunya seperti apa yang tidak akan pernah bisa di bantah atau pun di tolak.
“Apa kau gugup?” tanya Aydan, tanpa menoleh.
“Sedikit... ini pertama kalinya aku datang ke sini,” jawab Ariella.
“Kau tidak perlu gugup... kau harus perankan sebagai istriku dan jangan lupa tersenyum,” ucap Aydan.
Ucapan Aydan begitu mengusik pikiran Ariella, namun ia hanya diam. Memang kenyataannya seperti itu, buat apa ia menginginkan pernikahannya seperti yang lain.
Begitu sampai di ruang tamu keduanya di sambut oleh ibu Aydan. Eloise langsung berjalan menghampiri keduanya, ia juga langsung memeluk menantunya.
“Ariella malam ini kau sangat cantik, sayang,” puji Eloise.
“Terima kasih, Bu,” jawab Ariella sopan.
Eloise tersenyum, “Kalian datang tepat waktu, ayo kita segera menuju ruang makan. Ibu sudah siapkan makanan kesukaan kalian.”
“Sekali lagi terima kasih, Bu. Maaf sudah merepotkan,” ucap Ariella.
“Sama sekali tidak sayang,” jawab Eloise, sambil menuntun mantunya itu ke meja makan.
Meski Ariella sedikit canggung, namun beruntung keluarga Wijaya begitu baik dan menyambutnya dengan ramah.
Ariella duduk di sisi Aydan, dimana kursi yang telah disiapkan khusus untuknya. Meja makan yang terbentang panjang, dipenuhi hidangan mewah yang tersaji, mulai dari masakan barat hingga tradisional, semuanya di masak oleh koki keluarga Wijaya atas perintah Eloise.
Lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang tersenyum sopan dan penuh basa-basi demi kepentingan, dan menjaga image.
Aydan duduk tegak di samping Ariella, ini untuk ke sekian kali mereka terlalu dekat namun hanya sebagai formalitas. Yang sebenarnya mereka hanyalah seperti orang asing di apartemen dan tempat-tempat tertentu yang tidak orang ketahui.
“Ariella, ambilkan Aydan sedikit sup ayam,” ujar Eloise sambil tersenyum lembut.
Ariella terdiam sejenak, lalu ia mengangguk pelan. Ia meraih sendok dan dengan gerakan hati-hati ia menuangkan ke mangkuk meski sebenarnya ia sangat gugup dan menahannya agar tidak terlihat.
“Ini,” ucapnya pelan, sambil menaruh mangkuk di hadapan Aydan.
Aydan menoleh, tatapannya bertemu sepersekian detik, tidak ada senyuman atau pun kehangatan. Aydan hanya mengangguk.
“Terima kasih.”
Makan malam berlangsung dengan percakapan ringan yang sebagian besar membahas bisnis. Ariella lebih banyak diam, dan akan menjawab jika di tanya. Ia juga mengambilkan makanan daging, sayur, dan sedikit nasi. Ia melakukan semuanya dengan sikap tenang seolah sudah terbiasa dengan semuanya.
Setiap kali Aydan berbicara dengan suara datar, namun Ariella tidak terlalu mempedulikannya karena itu sikap Aydan yang di tunjukkan setiap kali bersamanya.
Pelayan datang membawa dua gelas kristal yang berisi wine.
“Anggur khusus untuk malam ini,” ujar Eloise. “Untuk merayakan atas pernikahan kalian.”
Aydan menerima gelas itu tanpa berpikiran aneh, lalu menyerahkan satu untuk Ariella. “Minum sedikit saja, untuk menghargai yang lainnya,” ucapnya.
Ariella ragu, karena memang ia sudah lama tidak pernah minum. Namun karena malam ini begitu penting ia tidak ingin membuat keluarga Wijaya kecewa padanya. Rasa hangat, manis, dan sedikit pahit di akhir, tidak ada yang aneh atau mencurigakan.
Tanpa Ariella sadari setiap tegukan air yang masuk membuat kepalanya terasa berat dan dunia sekitarnya melambat, suara-suara orang yang ada di ruang makan terdengar lebih jauh dan samar.
Ia melirik Aydan. Pria itu pun juga terlihat berbeda. Rahangnya sedikit menegang, sorot matanya lebih gelap dari biasanya. Dasi yang dia kenakan sudah di lepas dan napasnya berat.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ariella, lirih, hampir seperti bisikan.
Aydan menoleh, tatapannya terhenti di wajah Ariella, mata, bibir, dan lehernya.
“Aku... baik-baik saja,” jawabnya, namun tidak meyakinkan.
Eloise tersenyum puas dari seberang meja. “Hari sudah larut malam, sebaiknya kalian menginap di sini saja malam ini. Kamar Aydan, sudah di rapikan oleh pelayan.”
Ariella hendak menolak, namun Aydan lebih dulu bicara.
“Kami menginap.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa ada keraguan. Saat mereka berdiri, langkah Ariella goyah, dan reflek Aydan menopang tubuhnya. Sentuhan itu terasa berbeda, terlalu panas membuat Ariella menegang, jantungnya berdegup tak beraturan.
Mereka saling bertatapan, bahkan jarak keduanya terlalu dekat hingga Ariella bisa merasakan hembusan napas Aydan yang mengenai kulitnya.
Keduanya sudah sampai di kamar Aydan yang luas dan sunyi. Tempat tidur yang besar dengan seprai putih bersih. Lampu yang temaram menyala lembut, menciptakan suasana yang terasa nyata.
Begitu pintu tertutup, keheningan semakin terasa nyata. Ariella berjalan menuju arah jendela mencoba untuk menenangkan dirinya. Tubuhnya terasa panas, pikirannya berkabut, bahkan gaun yang ia kenakan mendadak terasa sempit.
Aydan yang berada di belakang Ariella, yang tidak begitu jauh. Ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya, mungkinkah minuman yang ia minum tadi sudah di campur obat? Tanpa sadar Aydan berjalan mendekati Ariella.
Memeluk tubuh Ariella dari belakang, sentuhan ringan namun ada sedikit keraguan namun cukup membuat tubuh Ariella bergetar.
“Kau sangat wangi... aku menyukainya,” bisik Aydan tanpa sadar.
Ariella susah payah menelan ludahnya. “Aydan... a-apa yang sedang kau lakukan? Tolong lepaskan ini hal yang salah.”
“Tidak ada yang salah bukankah kita pasangan sah,” jawab Aydan.
Tangannya meraba tubuh Ariella dan terus naik ke bahunya, lalu berhenti seolah masih ada logika berusaha menahannya. Namun ketika Ariella berbalik dan tatapan mereka bertemu, kendali itu runtuh.
Tanpa aba-abat Aydan mengangkat tubuh Ariella membawanya ke ranjang besar. Ariella memekik kecil ketika Aydan menjatuhkannya ke atas ranjang dengan kasar.
Aydan merangkak naik ke tubuh Ariella, Ayda melumat bibir Ariella yang sedari tadi mengganggunya. Ariella mencoba menolaknya akan tetapi Aydan memaksanya dan mengunci kedua tangan Ariella.
“Malam ini aku tidak bisa menahannya,” suara serak milik Aydan. Aydan dengan kasar merobek gaun yang dikenakan Ariella dan membuangnya kesembarang arah. Aydan dapat melihat kedua gundukan indah itu meski masih tertutup dengan rapat.
Aydan melebar kedua kaki Ariella, ia menundukkan kepalanya, tepat di depan kewanitaannya yang sudah basah.
“Ahh Aydan...” Ariella mendesah.
Meski Aydan melakukan dengan kewanitaannya yang masih terbungkus celana yang sudah basah. Ariella merasakan sapuan lidah Aydan yang membuatnya geli dan ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam dirinya.
Ariella yang sedari tadi bergerak tidak karuan dan desahannya yang semakin keras, membuat Aydan semakin bersemangat untuk terus melakukannya. Detik itu juga Aydan melepaskan celana dalam Ariella dan kembali mengorek isi dalamnya hingga menemukan titik sensitifnya.
“Ahhh... Aydan... a-aku ingin kencing,” ucap Ariella serak.
Hingga tubuh Ariella bergetar, Aydan bisa merasakan cairan milik Ariella keluar banyak tanpa merasa jijik ia meminum semua cairan itu sampai bersih. Tanpa menunggu lebih lama lagi Aydan melepaskan semua pakaiannya.
