1. MALAM PERTAMA YANG DINGIN
Gaun pengantin yang menjuntai sampai lantai itu terlalu berat untuk Ariella, bukan karena renda mau pun payet. Melainkan pernikahan yang ia ambil sejak awal, pernikahan tanpa cinta, tentang keputusan yang benar-benar tidak ia inginkan. Namun... malam ini ia sudah sah menjadi seorang istri dari Aydan.
Langit yang sudah mulai gelap, menjadikan kota Jakarta yang semakin ramai dan lampu-lampu gedung yang terlihat gemerlap akan tetapi tidak dengan perasaan Ariella yang kacau. Di ballroom hotel bintang lima dimana pernikahan mereka tadi berlangsung, kini hanya ruang kosong dimana semua orang sudah pergi.
Ariella tahu betapa hampa janji yang mereka ucapkan di atas altar, bukan kebahagiaan melainkan pernikahan semu yang entah sampai kapan terus berjalan. Ariella yang saat ini berdiri di samping Aydan, yang masih mengenakan setelan hitam rapi, dan dasi yang sedikit di longgarkan. Memiliki wajah tampan, rahang tegas, dan sorot mata tajam namun tenang.
Tidak ada genggaman, tidak ada sentuhan hangat, bahkan jarak yang saling jauh seperti orang asing.
“Terima kasih, sudah membantuku,” ucap Ariella pelan.
Tidak ada jawaban dari Aydan, bahkan pria itu sibuk dengan ponselnya dan sesekali melirik jam tangannya seolah menunggu seseorang.
“Mobilmu sudah datang,” ucap Aydan akhirnya, dingin dan formal. Seolah mereka adalah rekan bisnis yang baru saja menyetujui kerja sama.
Ariella mengangguk. “Ya.”
Tidak ada lagi pertanyaan lain, atau hanya sekedar basa-basi. Mereka keluar dari ballroom berdampingan, di lobi hotel dua mobil hitam menunggu. Galen sahabat sekaligus orang asisten Ayden sudah menunggu, sementara mobil yang satunya yang akan mengantar Ariella ke apartemen.
Sebelum memasuki mobil Aydan berhenti. “Ariella,” panggil Aydan.
Aydan menatap sejenak, tatapan yang entah Ariella sendiri tidak bisa mengartikannya. “Malam ini aku tidak akan pulang ke apartemen.”
Kalimat itu terucap begitu saja dari mulut Aydan dan tanpa penjelasan, membuat Ariella diam. Padahal ini malam pernikahan mereka, tapi apa boleh buat. Mereka menikah bukan karena cinta membuat Ariella tidak menuntutnya.
“Oh,” hanya kata itu yang sepontan keluar dari mulut Ariella. Suranya pelan, bahkan ia berusaha tetap tenang. “Baiklah.”
Aydan mengangguk. “Besok pagi aku akan pulang ke apartemen dan menjelaskan tentang pernikahan kita.”
Lagi-lagi Ariella mengangguk, ia ingin segera mengakhiri percakapannya dengan Aydan. Hari ini terlalu panjang dan membuatnya begitu lelah, ia ingin segera sampai di apartemen dan merebahkan dirinya di kasur empuk.
Perpisahan keduanya terjadi begitu cepat, tidak ada pelukan atau bahkan kecupan hangat. Aydan berbalik dan langsung memasuki mobilnya meninggalkan Ariella yang masih berdiri di tempatnya.
Ariella tersadar saat sang sopir menyuruhnya masuk dan segera kembali ke apartemen karena hari yang sudah larut malam. Malam ini adalah malam pertamanya, yang akan ia lewati sendirian.
Ariella memasuki apartemen yang sunyi dengan keadaan gelap. Ariella sengaja tidak menyalakan lampu, ia segera berjalan menuju kamar yang akan ia tempati karena sebelumnya ia sudah datang ke sini.
Ariella melepaskan hak tingginya dan melemparkannya ke sembarang arah, ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan gaun yang melekat. Ariella tersenyum kecut, kamar pengantin yang sudah di hias sebagai kamar pengantin hanyalah formalitas karena nyatanya ia sendiri.
Di tempat yang berbeda, Aydan bersama Cerise. Aydan yang baru saja sampai di apartemen Cerise langsung menubruk tubuh seksi itu hingga terjatuh di sofa. Aydan mencium bibir Cerise dengan penuh nafsu dan menuntut lebih, Cerise yang tidak siap dengan serangan Aydan memukul dada Aydan brutal sehingga Aydan menyudahinya,
“Ada apa Aydan? Kenapa kau datang kemari bukankah malam ini malam pertamamu dengan wanita itu,” ujar Cerise dingin.
Aydan menghela napas panjang, menutup kedua matanya. “Aku dan dia menikah karena bisnis bukan karena cinta. Apa perlu ada malam pertama?”
Cerise mendengus. “Apa harus kau menikahinya? Bukankah ada cara lain?”
“Itu keinginan orang tuaku. Aku tidak bisa menolaknya,” jawab Aydan.
“Apa kau bisa yakin jika pernikahanmu dengan wanita itu tidak mempengaruhi hubungan kita?” tanya Cerise kembali.
Aydan membuka matanya dan menatapnya sejenak. “Percayalah padaku, apa selama ini aku selalu bohong padamu?”
Cerise menggeleng. “Ya, aku percaya padamu.”
Aydan mengangkat tubuh Cerise dan bersandar di pegangan sofa. Aydan langsung menyobek lingeri yang dikenakan Cerise, langsung melumat kedua gunung kembar milik Cerise.
“Kau sangat nikmat Cer,” gumam Aydan.
Desahan kelaur dari bibir tipis Cerise. “Aah... ah Aydan.”
Lidah Aydan menjilati puncak berwarna pink itu yang sudah mengeras dengan gerakan melingkar dan menghisapnya berkali-kali. Tanganya yang satu bermain di bawah sana, membuat tubuh Cerise seperti cacing kepanasan.
“Ah... Aydan!” seru Cerise merasakan sesuatu di bawah sana bergejolak.
“Nikmati... sayang,” bisik Aydan dengan jemarinya di bawah sana di percepat.
“Ough! Tidak... Aydan,” tubuh Cerise langsung mengejang mengeluarkan semua cairan di dalam tubuhnya. Ya, Cerise memang tidak bisa bertahan lama saat Aydan sudah bertidak dan ini yang ia sukai dari Aydan karena bisa memuaskannya.
Aydan mengeluarkan jemarinya dan langsung menjilati cairan itu tanpa tersisa maupun jijik. “Kau selalu menikmatinya... sayang,” smirk Aydan.
“Sekarang giliranmu untuk memuaskanku,” ucap Aydan, meraih tangan Cerise membimbingnya ke arah kejantanannya yang sudah menyembul di balik celana.
Tanpa menunggu lama Cerise pun langsung membuka reseliting celana Aydan, mengeluarkan kejantanan Aydan yang sudah berdiri tegak. Cerise memasukkan ke dalam mulutnya, mengulum kejantanan Aydan hingga membuatnya melenguh.
“Aahh... ini sangat nikmat sayang, terus lakukan,” gumam Aydan.
Cerise terus mengulum dan mengurut kejantanan Ayden menggunakan mulut dan jemarinya, hingga membuat Aydan tidak tahan lagi lalu menyuruh Cerise untuk menyudahinya. Dengan cepat Aydan membalikkan tubuh Cerise dan langsung memasukkan kejatanan ke inti tubuh Cerise.
“Ahhh... uhmm,” desahan mereka saling bertautan setelah milik Aydan terbenam sepenuhnya di inti Cerise.
Desahan demi desahan keluar dari mulut keduanya, Aydan begitu keras menghantamnya hingga membuat Cerise harus berpegangan kuat.
“Kenapa kau sangat begitu nikmat, Cer,” seru Aydan sambil mempercepat gerakannya.
Malam itu apartemen Cerise begitu panas dan penuh gairah berbeda di apartemen milik Aydan yang hanya ada Ariella. Ariella yang masih belum bisa tidur karena memikirkan Aydan, meski pernikahan yang mereka lakukan karena bisnis seharusnya Aydan menghargainya sedikit meski kenyataannya tidak akan mungkin.
Ia menatap langit-langit, ia memperhatikan jemarinya di sana tersemat cincin pernikahannya dengan Aydan. Pernikahan yang dingin yang membuatnya semakin bersalah dan sekaligus tersiksa, tanpa ia sadari air matanya keluar begitu saja.
“Ini sudah menjadi pilihanmu, Ariella,” bisiknya pelan, pada dirinya sendiri.
Ariella tahu ini sama saja menyiksanya perlahan, akan tetapi ia juga harus kuat meski semuanya berubah. Ariella tidak bisa mengubahnya begitu saja, ia paham betul bagaimana ia harus bersikap dan menghadapi Aydan.
