Bab 8
Pagi yang dingin, tapi cukup panas bagi Rianto dan keluarganya. Para wartawan yang dengan setia telah menunggu sejak pukul 04.30 wita langsung menyerbu mereka dengan banyak pertanyaan begitu pintu rumah terbuka
“Pak Rianto apakah benar anda bangkrut?”Tanya wartawan
“Maaf saya tidak mau menjawab pertanyaan anda?” Rianto pura-pura menghindar.
“Pak Rianto apa kabar yang beredar itu benar?....”
"Maaf permisi kalian menghalangi jalan kami. Sekali lagi maaf, saya tidak akan menjawab apa-apa"
"Yang dikatakan Pak Andra apakah benar? benarkah anda mempunyai pinjaman yang jumlahnya tidak sedikit?
Terus siapa sekarang yang mengambil alih perusahaan bapak?"
"Terus bagaimana rencana anda selanjutnya? kami mohon pak beri kami sedikit bocoran, jangan diam saja. Bukan hanya kami yang butuh jawaban tapi semua orang. Karena perusahaan bapak sebelumnya tidak pernah terdengar ada masalah keuangan. Tapi tiba-tiba dikabarkan bangkrut?"
“Baiklah aku akan menjawab pertanyaan kalian selama hal itu masih wajar”
“Apa benar bapak bangkrut?...”
“Iya saya bangkrut”
“Terus apa rencana bapak selanjutnya?...”
“Saya masih bekerja di perusahaan itu tapi bukan sebagai pemilik. Saya hanya pegawai biasa. Saya bersyukur Presdir baru perusahaan masih mau memberi saya pekerjaan”
“Apa posisi baru anda di perusahaan?"
"Saya ditempatkan di bagian penjualan"
“Terus bagaimana perasaan ibu Ayu sekarang (wartawan lainnya mendekati Ayu)”
“Maaf aku tidak mau ikut campur (Ayu masuk kemobil diikuti bibi)”
“Sekarang anda dan keluarga akan tinggal dimana?”
“Kami mengontrak rumah, maaf kami harus pergi (Rianto masuk mobil dan langsung meminta sopir pergi dari tempat itu).
“Pak ke jalan Mawar no.23” kata Rianto
Ha….Jalan Mawar no.23 sopir itu terkejut, disitukah bapak mengontrak? Bukankah itu kompleks perumahan elit.
Bukan pak, kita kesana menjemput anak saya, dia menginap dirumah temannya karena dia tidak mau bertemu wartawan.
Oh…. Saya pikir bapak dan keluarga ngontrak disana (Rianto hanya tersenyum)
Sesampainya di jalan mawar No.23 rupanya Selkie telah menunggu didepan rumah. Selkie pamitan kepada Yansen dan keluarganya.
“Selkie kalau ada perlu jangan lupa telepon aku, aku siap membantu”kata Yansen
“Iya, terima kasih ya. Kami pergi dulu”
“Hati-hati dijalan” (Selkie dan keluarganya tersenyum menganggukan kepala)
“Pak kita ke Jalan Kembang No.5”
“Baik Pak”
Mobil meluncur pelan menuju jalan kembang No.5. Setelah sampai ditempat tujuan Sopir itu terdiam dan memandang rumah yang akan ditempati keluarga Selkie. Seharusnya keluarga bapak Rianto menggunakan baik-baik uang sisa yang dimiliki, kalau rumah kontrakannya seperti ini yang ada boros namanya, pasti uang sewanya mahal (Sopir itu berguman dalam hati, tapi tak berani memberi nasehat takut keluarga Rianto tersinggung). Apa ini rumahnya?...
“Iya benar, mari masuk dulu pak (tawar Rianto)”
“Tidak usah pak, saya tidak mau menggangu bapak sekeluarga. Tapi kalau bapak memerlukan bantuan saya, saya siap membantu. Ini nomor ponsel saya. (memberikan kertas yang bertuliskan nomor HP)”
“(menerima kertas yang diberikan pak sopir) terima kasih pak, tapi kami tidak ingin anda mendapat masalah dengan pekerjaan anda”
“Tidak ada masalah selama saya senang melakukannya”
“Maaf pak, sebenarnya anda siapa?.... gaya bahasamu seperti orang terpelajar, lagian untuk ukuran sopir taksi sepertinya bukan bidang anda”
“Maaf, tapi saya hanya sopir taksi pada umumnya”
“Dengan mobil semahal ini? Saya rasa tidak mungkin” kata Rianto
“Tunggu, sepertinya saya mengenal bapak tapi dimana ya? (berpikir). Oh ya tak salah lagi bapak adalah ayahnya Feli” kata Selkie
Aku pikir penyamaran saya tidak akan terbongkar, tapi mungkin anda benar mobil ini terlalu mahal untuk dijadikan taksi. Selkie juga bisa mengenaliku. Oh ya kenalkan saya Andre ayahnya Feli (bersalaman dengan keluarga Rianto).
“Lebih baik kita bicara didalam, ayo masuk dulu pak Andre, maaf kalau rumahnya tidak nyaman” Rianto mengajak Andre masuk.
Akhirnya Andre sepakat masuk kedalam rumah
“Inikah rumah kontrakan bapak? Waw…. (takjub) rumah yang nyaman” kata Andre
“Ya pemiliknya kebetulan tidak tinggal di Indonesia, jadi rumah ini kosong. Kebetulan dia sahabat saya, jadi sewanya hanya setengah harga dari harga yang seharusnya.” Jelas Rianto
“Pak Rianto kalau bapak mau saya bisa merekomendasikan anda diperusahaan lain dengan posisi yang baik” tawar pak Andre.
“Terima kasih pak, tapi tidak usah repot-repot saya bekerja diperusahaan yang dulu saja. Karena aku masih harus mencicil hutang diperusahaan dengan cara memotong 30% dari gaji saya yang seharusnya” tolak Rianto secara halus.
“ya sudah kalau begitu, kalau hutang bapak sudah selesai berarti bapak bisa keluar dari perusahaan itu. Kalau sudah bisa keluar dari perusahaan itu tolong bapak beritahu aku, nanti aku bantu carikan pekerjaan yang cocok untuk bapak”
“Terima kasih pak Andre, terima kasih banyak telah peduli dengan kondisi kami yang sekarang”
“Bapak jangan canggung begitu, Selkie dan Feli saja bisa berteman baik, berarti saya dan bapak Rianto juga bisa berteman baik. Kalau perlu bantuan bapak bisa menelpon saya di nomor HP yang saya berikan tadi. Feli pasti senang kalau mendengar sahabatnya tinggal ditempat yang nyaman. Sebenarnya saya masih mau berlama-lama, tapi maaf sekali soalnya saya juga sudah janji sama Feli. Selkie tahu kan kalau Feli marah bagaima. Selkie tersenyum mengangguk tanda mengerti. Setelah pamitan Pak Andre meninggalkan rumah keluarga Rianto.
