Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

(Seminggu kemudian)

“Selkie bangun…. Selkie bangun, sudah siang nich”

“15 menit lagi bu, selkie masih ngantuk”

“Yach sudah tidak apa-apa, Ibu dan Ayah mau siap-siap ke Panti Asuhan ya”

“Panti Asuhan? Ikut” (Selkie langsung bangun, menarik handuk dan berlari masuk ke kamar mandi).

“Akhirnya selkie memakai juga kamar mandinya”

(Tapi, ops….. tiba-tiba kamar mandi terbuka dan selkie berlari keluar menuruni tangga, menuju kamar mandi lantai satu)

“Ternyata aku salah, selkie masih saja menelantarkan fasilitas yang sudah disediakan untuknya, ibu bingung sebenarnya apa bedanya kamar mandi lantai satu dan kamar mandi di kamar Selkie” (Ayu memandang suaminya)

“Sudahlah mungkin Selkie merasa nyaman menggunakan kamar mandi di lantai satu. Dari pada kita pusing sendiri, mendingan kita siap-siap juga”

Selesai sarapan pagi mobil meluncur dengan kecepatan sedang menuju Panti Asuhan tempat biasa keluarga Rianto berkunjung.

“Selamat siang Bu Kepala”

“keluarga Pak Rianto, mari masuk, mari, silakan duduk”

“Ayah, Ibu, boleh tidak aku keliling panti sebentar?”

“Iya boleh”

Selkie pamitan kepada semua orang yang ada dalam ruangan itu dan pergi berkeliling panti mencoba mencari Felia, tapi selkie tidak menemukan apa yang dicarinya. Akhirnya Selkie memutuskan bertanya kepada penghuni panti yang lain.

“Maaf dik, apa kamu melihat seorang gadis umurnya sekitar 14 tahun rambut panjang, kulit kuning lansat”

“Maaf kak, namanya siapa?”

“Namanya Felia”

"tidak kak"

(Walaupun Selkie telah bertanya sana sini tapi dia tetap tidak menemukan satupun anak yang mengenal Felia).

Akhirnya Selkie memutuskan kembali keruangan yang sama dan bertanya langsung kepada ibu kepala. Maaf bu Kepala, Felia dimana? Tadi aku mencarinya tapi tak ada satupun mengenalnya.

“Selkie, Felia sudah pergi” kata ibu kepala

“Pergi? Ada yang mengadopsinya ya”

“(Tersenyum) sebelum dia pergi Felia menitipkan sesuatu untukmu (memberikan sepucuk surat). Oh ya satu lagi Felia itu bukan penghuni panti ini tapi dia hanya pengunjung seperti kamu”

“Surat?...... (ibu kepala mengangguk). Oh ya terima kasih bu”

(Dalam perjalanan pulang Selkie membuka surat yang ada dalam genggamannya)

3 Juli 2020

Menjumpai: Selkie

Halo kawan! Kamu pasti baik-baik saja kan? Aku senang mengenalmu. Dulu kamu bertanya mengapa aku senang menyendiri? Sekarang aku akan menjawabnya. Aku tidak senang menyendiri. Kamu sering melihatku menyendiri karena ulang tahunmu awal bulan, jadi aku harus menyelesaikan laporan keuangan panti. Aku senang dengan panti itu, tapi aku khusus membantu anak-anak yang cacat baik secara fisik atau autis. Jadi kalau kamu mencariku ke anak-anak normal kamu pasti beruntung menemukan orang yang mengenalku. Tapi coba kamu Tanya “Kak Mala ada?” pasti kamu akan menemukan anak-anak yang mengenalku. Aku tidak tahu kapan akan kembali ke panti, soalnya mamaku akan pindah. Aku akan tetap berkunjung ke panti itu tapi tidak sesering dulu. Bolehkah aku menulis surat lagi ke kamu? da…..

Salam

Felia

Sejak perpisahan itu Selkie tidak pernah lagi bertemu Felia di panti asuhan tapi Selkie hanya menemukan surat Felia. Begitupun sebaliknya.

Meskipun hanya surat yang ditemui tapi rupanya keduanya senang dengan kondisi seperti itu. Padahal zaman sekarang dengan teknologi yang semakin canggih sebenarnya mudah bagi keduanya bisa berkomunikasi secara langsung. Bisa saja mereka telfonan, VC atau memakai alat komunikasi lainnya.

tapi keduanya memilih merahasiakan nomor HP, email, wa dan hanya berhubungan lewat surat, yang hanya akan ditemukan di panti asuhan bukan kantor pos atau sejenisnya.

Walaupun bingung dengan kondisi yang ada tapi kedua orang tua selkie tidak berkomentar apa-apa begitupun orang tua Felia. Kepala Panti yang menjadi saksi keanehan kedua remaja itu juga tidak bisa berbuat apa-apa, beliau hanya mengikuti alur saja.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel