Bab 3
“Kenapa? apa kamu membencinya karena Selkie merupakan saingan terberat kamu dalam berprestasi.” Ana cuek dengan ucapannya, dia tidak peduli kalau Ferna tersinggung atau tidak.
“Kamu mau ditampar?.....”
“Ferna…. Ferna…. Kamu mau menamparku? Silahkan. Tapi ingat kamu punya tangan aku juga punya, kamu punya kaki aku juga punya. Kamu mau mana yang lebih dulu? Tangan atau kaki.” Tanya Ana cuek tidak peduli dengan ancaman Ferna.
“Kau….” Ferna pergi meninggalkan mereka dengan kesal.
“Aku rasa ada yang salah dengan Ferna, jangan-jangan dia mencintai kamu Ana, makanya dia selalu pergi saat berantem sama kamu (Bruuk….gulungan buku tulis tepat mendarat di punggung Rico) Kamu kenapa sich sakit tahu?”
“Habis ngomongnya ngawur. Ferna tak pernah mencintai orang lain, dia hanya mencintai dirinya sendiri. Makanya dia tumbuh menjadi pria yang egois dan menyebalkan”
“Aku rasa tidak, coba siapa yang berani mengganggu adiknya” Sambung Selkie
“Ha… Ferna punya adik?” Ana kaget.
“Ya, adik kecil mungil usianya baru 8 tahun, namanya Renita” kata Selkie
“Apa Renita yang sama, yang pernah aku marahin dulu?” Tanya Ana penasaran.
“Ya, herannya Ferna tidak pernah memarahimu, biasanya siapa yang ganggu adiknya ih….. serem tahu.” Yansen merinding sendiri.
“Masalahnya Renita pernah berada di ujung kematian”
“Maksudmu?”
(Ana Terkenang, flasback)
Tahun lalu aku bertemu dengan Renita, memang dia mirip seperti Ferna, bedanya Renita anaknya lembut dan sopan. Renita hampir tewas tertabrak mobil, aku sempat menariknya tapi aku terjatuh dan tarikanku itu membuat Renita harus berada antara hidup dan mati, Renita koma. Dokter berusaha keras menyelamatkan nyawa Renita, tapi yang aku tahu kemudian dokter mengatakan bila Renita sadar dari komanya itu suatu keajaiban. Setiap kali aku ke rumah sakit perawat selalu bilang kakaknya baru saja pergi. Tapi tak pernah perawat mengatakan ibunya atau bapaknya baru saja pergi. Yang aku heran kenapa tak pernah sekalipun aku ketemu Ferna disana. Karena tak pernah bertemu kakaknya aku menulis surat dan dititipkan ke perawat untuk diberikan kepada kakak Renita. Isi suratnya aku hanya meminta kakaknya yakin kalau suatu saat Renita pasti akan sadar dari komanya. Selain itu aku berpesan agar supaya kakaknya berbicara banyak tentang masa lalu/kenangan yang menurut Renita indah. Aku meminta kakaknya tetap percaya dan selalu berdoa meminta kepada Tuhan supaya memberi Renita kesempatan berada disisinya lagi seperti dulu. Hanya itu isi suratnya. Dua bulan kemudian aku ke rumah sakit dan disana aku tidak menemukan Renita. Aku panik dan berlari mencari dokter. Dokter hanya tersenyum dan mengatakan kalau satu hari yang lalu kakaknya menjemput Renita. Renita sudah sehat, dan itu adalah suatu keajaiban.
“Jadi suratmu membawa mujizat?”
Aku rasa kasih sayang kakaknya yang membuat Tuhan tidak tega mengambil nyawa Renita. Bukan karena suratku.
“Pantas saja Ferna selalu mengalah sama kamu, ternyata dia merasa berhutang budi padamu. Aku rasa Ferna melihat kamu, tapi dia sengaja menghindar dari kamu.” Kata Selkie.
Mungkin……
(Sementara itu di Panti Asuhan terlihat seorang ibu datang menghampiri ibu kepala panti)
“Selamat Siang bu….”
“Siang, ech ada ibu Indah, mari silakan masuk bu. Mau menjemput Felia?”
“Iya bu, kemarin Felia telepon katanya dia belum ingin pulang. Karena itu aku baru menjemputnya sekarang”.
“Ibu Indah beruntung memiliki Felia sebagai Putrimu. Kehadiran Felia membawa makna tersendiri bagi panti ini. Felia banyak sekali membantu kami. Kami berterima kasih ibu mengijinkan Putri ibu membantu kami”
“Iya sama-sama bu”
Mama…….(tiba-tiba Felia masuk dan memeluk ibunya)
Maaf bu kepala panti, ini Laporan Keuangan bulan lalu Felia menjelaskan secara singkat, padat dan jelas. Bu Kepala maaf ya kalau nantinya Felia akan jarang ke sini.
Bu Kepala terima kasih telah menjaga anak saya Felia. Sekarang kami pamit dulu soalnya di kantor masih ada rapat. Maaf banget ya karena harus buru-buru.
Iya tidak apa-apa, kami yang berterima kasih atas bantuan Felia.
(Berjalan meninggalkan ruangan kepala panti, tapi tiba-tiba Felia berbalik)
“Bu Kepala, jika Selkie datang tolong berikan ini padanya. (memberikan surat, ibu kepala panti tersenyum, menganggukan kepala)”
“Felia, siapa Selkie?”
“Teman baru ma, keluarganya sering datang ke Panti ini, dia sering merayakan ulang tahun di sini juga ma”.
“Felia, sesuai pembicaraan kita lewat telfon tiga hari lagi kamu pindah sekolah, semua surat kepindahanmu telah mama urus.”
“Pindah sekolah? lagi dan lagi. Jujur ma, Felia capek pindah sekolah terus, kejar pelajaran terus, menyesuaikan dengan situasi yang baru lagi”
“Kamu tenang saja, kali ini kita pindah ditempatnya papa. Jadi papa tidak harus bolak balik. Mama sudah memutuskan berhenti dari pekerjaan mama, dan mama akan membuka usaha dekat dengan rumah kita. Jadi kalau Felia perlu apa-apa tinggal ke tempat mama”
“Kalau pindahnya kesana Felia sangat setuju. Kenapa mama baru kasih tahu sekarang. Tapi kenapa sich mama tidak bekerja di perusahaan papa saja?”
“Kalau kerja di Perusahaan Papa yang ada Mama jadi bos, papa jadi karyawan. Kan kamu tahu bagimana sikap papa? Kalau ke orang lain papa bisa marah, tapi kalau sama mama mana pernah papa marah, kecuali mama buat kesalahan. Tapi kalau kesalahan dalam pekerjaan yang ada papamu turut bantu kerja mama, bukannya pekerjaan papa jadi ringan tapi justru jadi nambah gara-gara mama”
“Iya juga ya"
