Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 17

Setelah selesai siap-siap akhirnya mobil Felia meluncur menuju panti asuhan dimana pertama kali Selkie dan Felia bertemu. Sepanjang perjalanan tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Selkie maupun Felia. Keduanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Sesampainya di Panti Asuhan Felia bertemu dengan kepala panti dan memberikan bantuan seperti biasa. Kemudian Felia mengajak Selkie menemui anak-anak panti dan membagikan makanan. Jelas sekali disana tersimpan banyak harapan dari anak-anak untuk memiliki masa depan yang lebih baik, setelah Felia dan anggi puas bermain akhirnya mereka pamit untuk pulang. Tapi dalam perjalan pulang Felia meminta supir untuk mampir ke mall dan mengajak anggi dan supir untuk masuk kedalam. Sampai dalam mall Felia meminta anggi dan supirnya memilih pakaian sesuai keinginan mereka tapi yang ada anggi dan supirnya hanya mengikuti Felia dari belakang. Selesai belanja mereka makan bersama. Setelah sampai dirumah Felia langsung membagikan baju-baju yang dibelinya di mall tadi kepada semua pembantunya.

Hari terus berganti tak terasa sudah hampir dua minggu Selkie berada dirumah Felia. Sedikit demi sedikit dia mulai mengenal Felia. Sejauh ini ternyata ayahnya benar Felia bukanlah tipe orang yang sombong, tapi Felia orangnya sederhana. Meskipun kagum tapi selkie tetap tidak mau berharap lebih karena dia juga tidak mau egois, dia tidak mau perjodohan itu terjadi karena keterpaksaan, dia juga harus menghargai perasaan Felia.

“Permisi non Felia….boleh gabung? (Felia mengangguk tanpa memandang selkie yang menyamar menjadi anggi ataupun sekedar melihat kearahnya) Foto itu?....”

“Ini Foto kakakku”

“Kakak? Terus kakaknya dimana, saya tidak pernah melihat kakak non Felia?”

“Dia telah meninggal 6 tahun yang lalu”

“Maaf non Felia, saya tidak bermaksud membuat non bersedih”

“(menggeleng) ini bukan salahmu. Selama ini aku selalu diam dengan semua yang terjadi”

“Aku tidak mengerti non”

“Ikut aku, kita keruang baca (berjalan menuju satu ruangan yang terkunci rapat)”

“Non hobi membaca ya? Bukunya banyak sekali (Selkie kagum melihat buku-buku yang teratur rapi dalam ruangan itu) tapi selama aku disini non tidak pernah masuk ruangan ini”

“Iya kamu benar, aku tidak pernah masuk ruangan ini selama kamu disini bahkan sudah 6 tahun saya tidak pernah membuka ruangan ini, tepatnya sehari setelah pemakaman kakakku. Makanya ruangan ini terlihat kotor. Ini pertama kalinya aku memasuki ruangan ini lagi.”

“Maaf non Felia, kalau pendapat saya pasti kakak non sedih melihat ruangan ini tidak dimasuki lagi, kakak non pasti sedih kalau melihat adiknya masih tak mengikhlaskan kepergiannya. Kalau sedih biasanya aku curhat ke teman atau siapapun yang aku bisa percaya, aku bisa merasakan damai setelah bercerita”

Kamu lihat piala itu? (menunjuk deretan piala) itu semua piala aku dan kakakku. (Terkenang) Waktu aku mengerti kehidupan aku selalu di manja sedangkan kakakku memilih sekolah diluar kota. Kakakku ingin mandiri, karena kemanjaan itulah aku tumbuh menjadi gadis yang tak punya perasaan, aku senang mengejek orang lain dan membuat masalah dengan orang lain. Aku tak pernah takut dengan siapapun, termasuk guruku. Kalau aku mendapat masalah disekolah, orang tuaku selalu menyelesaikannya dengan uang. Ibuku sering menasehatiku tapi kakek selalu membenarkan semua tingkahku, karena begitu sayangnya kakek padaku. Ibuku tidak sanggup berbuat banyak sebab ayahku juga sangat memanjakanku. Sampai akhirnya ibuku meminta bantuan kakakku, kakakku akhirnya pindah sekolah disini. Kakakku punya cara sendiri dalam membimbingku, secara berlahan dan pasti kakakku mulai mengenalkanku pada dunia luar, bagaimana kejamnya dunia, jadi aku mulai bisa merasakan bagaimana perasaan sahabatku, guruku dan orang-orang yang pernah aku sakiti. Dan tak dapat aku pungkiri kehidupanku bergantung pada kakakku, aku tak bisa berbuat apa-apa tanpa kakakku. Dia mengajari aku bernyanyi, kebetulan kakakku adalah seorang penyanyi cilik tapi untuk rekaman dia selalu menolak, kami berdua selalu mengikuti lomba menyanyi dan selalu menjadi juara. Sampai suatu hari seseorang menawarkan aku rekaman. Sebagai orang tua mereka selalu mendukung, tapi kakakku menentang keras keinginanku. Dia hanya ingin aku belajar supaya bisa lulus ujian nasional dan meneruskan sekolahku seperi anak-anak pada umumnya agar masa depanku cerah. Sejak itu hubungan aku dan kakakku retak. Aku nekat ikut rekaman, tapi ternyata kakakku benar nilaiku hancur semua dan hampir tidak lulus. Aku kecewa dan berlari, ingin cepat keluar dari gedung sekolah. Dan aku tak sadar pada tikungan jalan ada mobil yang berkecepatan tinggi. Aku kaget, kakiku terasa lemas dan ada sesuatu yang mendorongku keras. Ketika aku sadar (menangis) aku melihat kakakku tergeletak dijalan dan dikerumuni orang banyak. Kakakku tewas saat perjalanan menuju ke rumah sakit. Dia tak bicara apa-apa, dia hanya diam saja. (tangis Felia pecah).

Felia, itu bukan salahmu, tapi itu memang sudah menjadi takdir kakakmu. Umur sesorang itu Tuhan yang menentukan. Seandainya kamu tak disana kakakmu akan meninggal dengan cara lain. Percayalah kakakmu berkorban demi kamu karena dia sangat menyayangimu dan pengorbanannya akan sia-sia kalau kamu larut dalam kesedihan. Kalau menurutku kamu harus menghargai pengorbanan kakakmu dengan kembali menjadi seperti keinginan kakakmu, menjadi Felia yang sederhana dan rajin belajar untuk meraih cita-cita kamu. Kakakmu tidak akan tenang selama kamu larut dalam kesedihan. (Felia mengangguk).

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel