Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 14

Felia…. Felia… wajahmu saja yang cantik tapi aku benar-benar tak menyangkah hatimu sejahat itu. Masalah kita kenapa kamu bawa-bawa orang tuaku, ini tidak ada sangkut pautnya dengan orang tuaku. (Bukan hanya Ferna yang menatap Felia penuh kebencian, tapi hampir seluruh isi kelas dan Felia menyadari itu).

“Ferna, kamu pikir aku tega melihat orang tuamu pergi dengan wajah kecewa?”

“Lalu kenapa kamu tidak menarik semua ucapanmu itu? Kenapa ayahku harus dipecat?”

“Selama orang tuamu belum menyadari bahwa anak-anaknya adalah hal yang terpenting dalam hidup mereka. Maka aku, Felia tidak akan pernah menarik ucapanku. Kamu pikir aku senang melihat Renita memandang kue ulang tahunnya dengan air mata, menangis dalam pelukanmu atau orang-orang yang dekat dengannya. Tidak Ferna? Aku tidak suka ini berlangsung lama. Dan ingat satu hal, siapapun yang berani mengatakan kepada bapak Didi dan Ny.Hera saat ini juga aku pastikan ayahmu (menunjuk Ferna) takkan pernah memperoleh jabatannya kembali ataupun sekedar memperoleh pekerjaaan diperusaan lain. Aku maunya orang tuamu menyadari semuanya sendiri, bukan melakukan karena ingin mendapatkan kembali jabatannya” (Felia mengemasi buku-bukunya dan berjalan keluar kelas)

“Felia mau kemana? jangan bolos” teriak Ana

“Aku ingin pulang sebaiknya jangan cegat aku, oh ya Ratih ini pembahasan Bab I (melempar sebuah buku kearah Ratih)”

“Felia tunggu” Selkie mendekati Felia

“Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Felia

“Kembalilah ke kelas Felia, kalau guru tahu kamu bolos bisa dapat masalah”

“(tertawa)…Selkie, selkie! Aku sudah memikirkan hal itu dan bolos bukan tipeku. Kamu jangan khawatir aku tadi sudah minta isin pada guru piket, jadi aku tidak bolos”

“Tapi bagaimana dengan absen kelas?”

“Kamu kan yang pegang absen?”

“Iya, tapi itu juga harus sepengetahuan Ferna, ketua kelas. Dan hubungan kalian berdua saat ini mustahil mendapat persetujuan dia” Selkie kesal

Aku tahu perannya sebagai ketua kelas. Tapi jangan katakan kalau kamu takut padanya. tanpa menunggu jawaban Selkie, Felia telah pergi meninggalkan sekolah dan selkie hanya memandang kepergian Felia dengan penuh tanda tanya. Sebanyak apa Felia mengenal Ferna? karena terus terang kejadian hari ini merupakan kejutan besar baginya.

“Selkie, Felia bolos” kata Ferna

“Terserah, aku tidak mau ikut campur (Selkie menuju kursi dan duduk manis)

Ana mendekati Ferna, lihat perbuatanmu, kalau saja kamu tidak mengganggunya ini tidak mungkin akan terjadi. Ini semua karena kesombonganmu dan hasilnya ditanggung ayahmu. Ferna tidak menjawab tapi mengemasi buku-bukunya dan meninggalkan ruang kelas. Tak ada yang bersuara semua hanya memandang kepergian Ferna dengan kasihan.

Ferna semakin mempercepat langkahnya dan mengambil sepedanya dan mengayuh dengan sangat cepat menuju tebing, dimana biasa dia kunjungi ketika perasaannya sedang kacau. Sesampainya di tebing Ferna melemparkan sepedanya dan berteriak dengan keras, ada air bening mengalir dari pelupuk matanya.

Apa yang aku lakukan? ini karena kesombonganku, kecerobohan Ku. Seandainya tadi aku mendengar perkataannya, seandainya aku tidak mengganggunya orang tuaku pasti tidak akan ikut terseret dengan masalah ini.

Aku membencimu Felia, sangat membencimu, aku tidak akan pernah memaafkan mu, aku benci kamu, aku benci kamu teriak Ferna keras-keras. Tapi tak ada seorangpun yang mendengarnya, disana sunyi mencekam hanya ada Ferna sendirian. Ferna jatuh terduduk manangis sesunggukan. Menyesali dengan semua perbuatannya.

Siapa kamu sebenarnya Felia? kenapa kamu mengenal keluargaku sebanyak itu?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel