Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13

Semua siswa diam membisu ketika menyadari orang tua Ferna ternyata telah berdiri didepan pintu mendengar semua kata-kata Felia. Wajah keduanya memerah, jelas sekali kemarahan dalam pandangan mata mereka.

“Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluargaku” Bentak Ny.Hera ibunya Ferna

“Ratih kenapa mereka bisa berada disini? Kenapa tak beri tahu aku (bisik Felia terkejut)”

“Aku juga baru tahu (bisik Ratih)”

“Maaf bu, tadi Felia hanya…..(belum selesai Selkie bicara telah dipotong oleh ayah Ferna)”

“Diam kamu, jangan suka mencampuri urusan orang lain. Ini urusan keluargaku dengan gadis ini. Dan kamu (menunjuk Felia) jangan memutar balikkan fakta. Aku menyayangi anak-anakku, semua aku berikan apa yang mereka minta. Aku bekerja juga buat mereka, untuk masa depan mereka” Pak Didi ayahnya Ferna marah-marah.

Maaf pak tapi kalau aku boleh memberi nasehat, anak-anak bapak sebenarnya bukan hanya butuh di fasilitasi kehidupannya, mereka lebih membutuhkan perhatian dari bapak dan ibu. Berilah mereka waktu walaupun hanya sekedar mendengar curhat mereka. Tapi kata-kata Felia bukannya membuat ayah dan ibu Ferna sadar tapi marah lebih parah lagi. Karena emosi tanpa sadar Pak didi ayah Ferna menampar Felia.

“Aku sependapat dengan Felia, anak-anak bapak butuh perhatian dari kedua orang tuanya” sambung Selkie.

Kalau bapak dan ibu benar-benar sayang, berapa kali kalian hadir dalam ulang tahun Renita selama 7 tahun? Dalam setahun berapa kalikah anda mencium Renita sebagai tanda anda mencintainya? Kalau anda mencintainya apa makanan kesukaan Renita? (Orang Tua Renita terdiam) bukankah anda tak bisa menjawabnya kan? Karena anda sendiri tidak tahu apa seharian Renita sudah makan atau belum. Atau dimana kalian saat Renita terbaring koma di rumah sakit? Hanya kerja kan. Padahal waktu itu bapak sudah diijinkan untuk merawat Renita anak bapak, tapi apa? Bapak justru menerima surat ijin itu, tapi bapak tidak menjaga Renita, bapak mengisi waktu luang itu untuk pekerjaan lain, pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Yang ada dipikiran bapak dan ibu hanya uang…uang…. dan uang….

Itu lain lagi ceritanya. Dan rasanya orang tuamu harus mengajarimu akan arti kehidupan. Ayah Ferna memandang Felia dengan tatapan mata tajam.

Apa bapak tidak merasa cukup dengan apa yang anda miliki sekarang? Sehingga yang ada dipikiran bapak dan ibu hanya menambah pundi-pundi uang. Tak bisakah anda memberi waktu 1 hari dalam seminggu untuk membahagiakan anak-anakmu? Saat Renita koma, anda dimana? Anda hanya bilang anda ada Rapat, atau alasan lainnya. Orang tuaku saja panik ketika seharian aku tidak keluar kamar. Bila aku sakit ayahku akan membatalkan semua janji-janjinya, dia selalu ada disampingku begitu juga ibuku, setiap seminggu sekali kami keluarga akan menghabiskan waktu bersama. Apakah perhatian anda seperti itu kepada kedua anakmu? Mungkin satu-satunya yang disyukuri Renita karena dia memiliki Ferna sebagai kakaknya.

(Semua terdiam dalam kebingungan dan yang lebih bingung adalah Ferna, satu pertanyaan yang belum terjawab “siapa Felia sebenarnya?)

“Sejauh itu kamu mengenal keluargaku?” Ferna bertanya dalam kebingungannya

Oh ya, bapak Didi yang terhormat selama hidup orang tuaku tak pernah menamparku, dan anda akan menyesal telah berani menamparku.

“Memangnya kenapa?...kamu mau melaporkanku pada ayahmu? Silakan aku tidak takut”

“Tidak”

“Lalu”

“Aku mau bertanya: yang pertama apa anda bersedia membagi waktu dengan keluargamu, yang kedua apa anda lebih mengutamakan pekerjaan? Jika kamu memilih pilihan pertama aku tidak akan melakukan apa-apa, tapi bila kamu memilih pilihan yang kedua kupastikan kamu akan kehilangan jabatanmu.” kata Felia

Tiba-tiba tawa bapak Didi pecah, kamu masih mudah jangan mengatur orang yang lebih tua darimu. Kalau aku memilih yang kedua memangnya apa kuasamu? Kamu itu hanya anak kelas 2 SMA, anak kecil yang masih harus banyak belajar supaya bisa sukses seperti saya.

Sudah cukup, saya rasa anda sudah membuat pilihan. Felia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelpon seseorang. Terjadilah percakapan.

“Halo, ayah ini Felia”

“Iya ayah tahu, tumben kamu menelpon ke kantor pada jam sekolah”

“Felia mau ayah memecat bapak Didi Haryadi dari pekerjaannya”

“Pak Didi Haryadi? (ayah Felia terkejut) tapi kenapa? dia itu kan kerjanya bagus”

“Ceritanya panjang ayah, atau aku harus memintanya langsung kepada kakek?”

“Tidak perlu Felia, berikan ponsel pada Pak Didi nanti ayah yang bicara”

“Pak Didi, ini ada yang mau bicara” (Felia memberikan ponselnya)

Pak Didi menerima ponselnya dan langsung saja bicara, kenapa anda mau memecat saya? Apa kuasa anda? Memangnya anda siapa. Tapi suara dari seberang masih tetap diam membisu. Kenapa diam? Kamu tahu siapa saya? Saya Bapak Didi Haryadi. Kamu lebih baik jangan bermimpi mau memecat saya, karena hanya ada satu orang yang bisa memecat saya, jadi berhentilah berhalusinasi. Tapi suara dari seberang masih tetap diam.

“Maaf Pak, beliau adalah atasan anda” kata Felia

“Maksudmu Rian Hermawan?”

“Ya, Saya Rian Hermawan”

Kesombongan Pak Didi langsung hilang, wajahnya pucat mendengar suara diseberang, suara yang sangat dikenalnya. Maaf Pak jangan pecat saya?

“Maaf Pak Didi, tapi saya tidak dapat membantah pemilik sah perusahaan ini”

“Bagaimana mungkin, dia kan masih mudah?”

“Anak saya memang masih mudah, tapi apa boleh buat kalau ayah saya justru menyerahkan semua asset perusahaan ketangannya.”

“Apa tak ada jalan lain supaya aku tidak kehilangan pekerjaan?”

“Tergantung kamu dan putri saya, bila kamu bersedia menutup mulut kalau dia adalah pemilik perusahaan mungkin Felia putri saya akan menarik kembali ucapannya. Tapi kalau putri saya tidak bersedia menarik ucapannya kembali sebaiknya kamu jangan menambah masalah karena dia bisa saja membuat kamu tidak diterima di perusahaan ternama bahkan diperusahaan kecil sekalipun. Tapi saya tidak janji juga sich, soalnya putri saya keras kepala. Bayangkan saja 3 pembantu rumah saya dipecat gara-gara pekerjaannya tidak beres padahal hanya karena mereka terlambat waktu dipanggil putri saya (Pak Rian tambah menakut-nakuti). Maklum saja pak didi, anak saya itu anak satu-satunya, juga sekaligus menjadi cucu satu-satunya. Jadi dia tumbuh menjadi gadis yang tidak mau mengala.”

“Separah itu?....”

“Ya itulah putri saya pak, karena kamu bekerja dengan baik diperusahaan saya makanya saya memberitahukan kamu, supaya kamu tidak salah langkah. Aku mengenal putri saya dengan baik, dan kamu tidak tahu apa-apa tentangnya. Sebaiknya anda meminta maaf kepada anak saya”

“Iya Pak Rian” ponsel tiba-tiba mati

“Apa ponselnya sudah selesai dipakai pak?”Tanya Felia

“Felia maafkan Bapak? Bapak janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama”

“Bapak tidak perlu meminta maaf, karena saya tidak akan memaafkan bapak yang telah berani menampar saya. Lagi pula tadi aku sudah memberi bapak 2 pilihan dan ini adalah pilihan bapak, jadi ini tidak sepenuhnya salahku” (Maaf pak rian sebenarnya saya sengaja semua ini demi kebaikan keluargamu Felia berguman dalam hati).

(Bapak Didi dan Ny.Hera langsung lemas seketika menerima kenyataan yang benar-benar diluar dugaan)

“Bu, lebih baik kita pulang. Percuma berdebat dengannya karena itu tidak akan membawah hasil tapi justru hanya akan memperburuk keadaan” (Pak didi berbisik ditelinga istrinya, karena dia mengingat pesan Pak Rian sebelum ponsel dimatikan).

(Pak Didi dan Ny.Hera meninggalkan ruangan yang sunyi mencekam).

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel