Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 12

Setelah pak guru meninggalkan ruangan kelas, Ferna berdiri dan memandang Felia kemudian mendekatinya. Melihat Ferna mendekatinya Felia langsung berdiri dan meninggalkan ruangan dengan alasan ke toilet. Tapi siapa sangka setelah Felia kembali, Ferna tetap setia menunggunya, berdiri disamping tempat duduknya. Felia tahu Ferna hanya mau mengganggunya saja.

“Maaf Ferna, tempatmu bukan disini, ini tempat dudukku. Tapi kalau kamu mau kita tukeran kelompok, ya tidak masalah, aku akan pindah” kata Felia

“Aku tidak mau tukeran kelompok, aku tidak mau punya kelompok yang tidak bermutu seperti kalian” kata Ferna

“Sepertinya siswa-siswa disini salah memilih ketua kelas, karena tidak ada satupun sikap kamu yang pantas untuk dicontoh. Maaf Ferna sebaiknya kamu diam dan kembali ke kelompokmu. Kami duduk berkelompok bukan untuk mendengar leluconmu yang sama sekali tidak bermanfaat, tapi kami mau belajar untuk masa depan kami. Kamu tahu tidak, sikap kamu gimana? (Ferna diam) kamu itu bawel, cerewet, egois, bedanya kamu tidak seperti kata pepatah tong kosong berbunyi nyaring.” kata Felia kesal

Kata-kata Felia benar-benar membuat Ferna marah, bahkan lebih marah waktu di kantin sekolah. Kau……

“Gimana Ferna enak bukan kalau mengejek, tapi bukankah pahit kalau diejek” sambung Ana yang juga kesal dengan kelakuan Ferna.

Diam kamu Ana, jangan ikut campur urusanku. Dan kamu Felia, bila kamu punya adik maka sangat menyesallah adikmu memiliki kakak seperti kamu.

Dan sayangnya aku tidak punya adik.

Kalau begitu pasti kakakmu bawel, egois dan parahnya dia sering menyakitimu, sehingga kamu tumbuh menjadi gadis yang tak terkendali. Benar kan? Dengan PD-nya Ferna mengeluarkan kalimat-kalimat itu. (Bukankah itu sikapnya, guman siswa lainnya dalam hati. Semua siswa tertegun melihat air bening mengalir dari wajah cantik Felia).

Kuperingatkan untuk yang pertama sekaligus yang terakhir, jangan pernah menyebut kakakku seperti itu baik dihadapanku maupun dibelakangku.

Kenapa kamu takut kalau kebusukan kakakmu akan terbongkar? Paf…paf…paf… (tamparan Felia mendarat tepat dipipi Ferna dan meninggalkan bekas).

Semua diam tak ada yang berani memprotes Ferna ketika dia membalas tamparan Felia. Keduanya saling berpandangan penuh kebencian dan pada detik berikutnya Ferna mendorong Felia keras, sehingga membuat Felia terjatuh. Melihat itu Selkie langsung mendekati Felia dan membantunya berdiri. Selkie langsung menarik Felia kesamping kiri dan menangkis tendangan Ferna yang membuat Ferna langsung hilang keseimbangan dan jatuh kelantai. Sebaiknya kamu pergi dan jangan mencampuri urusanku Selkie.

Aku rasa kamu salah memilih saingan, perempuan bukanlah lawan yang pas untuk kamu ajak berantem, karena itu membuktikan kamu bukanlah pria sejati, aku dulu sering mengalah sama kamu, tapi bukan berarti aku takut, dan aku harus ikut campur jika kamu sudah keterlaluan, dan kamu sudah benar-benar keterlaluan pada Felia. Siswa-siswa tercenggang melihat dengan mudahnya Selkie mengalahkan Ferna, padahal selama ini yang mereka tahu Selkie tidak tahu berkelahi, karena Selkie selalu saja mengalah dengan semua kejadian yang terjadi pada dirinya.

Felia langsung menarik Selkie, sudahlah jangan meladeninya, terima kasih telah membantuku. Selkie hanya tersenyum dan mengangguk pelan dan kembali ke tempat duduknya. Semula mereka pikir semua telah berakhir tapi ternyata salah Ferna menyerang Felia lagi……

“Felia awas….” Ana berterian gugup

Felia langsung menghindar, kini Felia dan Ferna saling berhadapan. Felia memajukan tangannya rata bahu dan menyerang Ferna. Ferna berencana menangkis serangan itu, tapi rupanya itu hanya gerakan pancingan rupanya sasaran Felia adalah tempat pertahanan Ferna, kaki. Ferna jatuh dengan sekali sepak saja. Felia mendekati Ferna dan memegang kerak seragam sekolah Ferna… kalau kamu bukan kakak Renita telah kubuat kamu menyesal seumur hidupmu. (Felia lalu mendorong Ferna sehingga tubuh Ferna jatuh kembali ke lantai).

(Ferna berdiri) kau mengenal adikku?

Ya, lebih dari orang tuamu

Tapi orang tuaku menyayangi Renita, aku juga menyayangi Renita

Sayang?.... orang tuamu lebih menyayangi pekerjaan dari pada kalian anak-anaknya dan kamu jangan memungkiri kebenaran itu. (orang tua Ferna yang telah berdiri didepan pintu marah mendengar hal itu).

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel