Bab 11
Pelajaranpun dimulai seperti biasa, hanya saja guru memberi tugas tambahan bagi siswa lewat bakti social yang nantinya dibuat proposal dan memasukkannya kepada guru yang bersangkutan.
“Akhirnya istirahan juga”
“Hai Felia, kenalkan namaku Ferna”
“Tidak butuh lama untuk mengenalmu Ferna”
“Kamu tahu (bingung)”
“Seorang siswa yang berperan sebagai ketua osis yang selalu bersaing dengan selkie dalam berprestasi kan? Tanpa kenalanpun aku bisa tahu kamu siapa, Karena kamu cukup populer dikalangan cewek-cewek. (Felia berdiri dan meninggalkan Ferna yang bingung sendiri)”
Karena kesal Ferna menuju kantin sekolah mengikuti Felia. Karena seumur-umur baru kali ini dia ditinggalkan seorang wanita dengan entengnya, ya kecuali Ana. Melihat hal itu Selkie mengikuti Ferna karena dia tidak mau Ferna membuat masalah.
“Hei… kamu (menunjuk Felia, sementara semua siswa yang ada dikantin menjadi gugup karena mereka tahu bagaimana bila Ferna marah, semua mata tertuju kearah Ferna. Mereka takut bila Ferna berbuat macam-macam kepada Felia, Selkie telah siap untuk membantu Felia. Sebaliknya Felia tenang-tenang saja).
“Iya kenapa?.... apa ada yang perlu saya bantu” Tanya Felia
“Kamu pikir kamu siapa?....” bentak Ferna
Aku pikir kamu sudah mengenalku, tapi tak apalah aku perkenalkan diri kembali, namaku Felia, aku siswa baru disini. Bu ini untuk bayar minumannya (menyodorkan uang Rp 5.000) Felia kembali pergi meninggalkan Ferna, tapi Felia berhenti dan balik mendekati Ferna. Oh ya Ferna, kuharap ini terakhir kalinya kamu mendekatiku. Kamu boleh mendekatiku kalau amarah dalam hatimu sudah redah, karena aku tidak mau membuat masalah di sekolah yang baru. Sebagai ketua osis juga ketua kelas seharusnya kamu menjadi contoh yang baik bagi siswa lain bukan sebaliknya. Jika kamu punya masalah sebaiknya kamu mencari sahabat yang dapat kamu percaya untuk berbagi cerita karena itu cara terbaik untuk membuat pikiran kamu tenang.
Satu tamparan mendarat manis dipipi Felia (semua terkejut, tak menyangka Ferna akan melakukan itu. Karena selama mereka mengenal Ferna walaupun sifatnya egois tapi tidak sekalipun dia memukul wanita). Felia jangan membuat kesabaranku habis, kamu tidak mengenalku.
Ferna…. Ferna….. bila kesabaran itu habis namanya bukan sabar tapi tidak sabar. Oh ya aku kenal kamu, kamu Ferna kan? Atau jangan-jangan aku salah lagi. Tangan Felia dengan cepat menangkap pergelangan tangan Ferna yang mau menamparnya lagi. Oh ya Ferna satu hal yang harus kamu tahu tentang aku, aku paling tidak suka ada orang lain yang menggangguku apalagi menamparku ataupun sekedar menghinaku. Jika kamu menamparku sekali lagi, kamu akan menyesali semuanya. Felia kemudian melepaskan tangan Ferna secara kasar, tangan yang tadi mau menamparnya. Lelaki yang hanya berani sama perempuan itu bukan pria jentelmen. Felia meninggalkan Ferna tanpa memandang sekeliling karena Felia tahu mereka sedang jadi pusat perhatian. Ferna menghadang jalan Felia, Felia kamu lihat ini (dengan penuh amarah Ferna mau menampar kembali Felia, tapi untuk kesekian kalinya Felia menangkap pergelangan tangan Ferna) kenapa? jari tangan kamu ada 5 (karena kesal Ferna menarik kembali tangannya) ini belum berakhir Felia, aku pastikan kita akan bertemu.
Setiap hari juga kita bisa bertemu kan kita satu sekolah, satu kelas lagi (Semua mata tertuju kepada Ferna yang pergi meninggalkan kantin)
Ana itu teman kamu, sama-sama keras kepala, sama-sama tidak takut kepada Ferna. Tanpa menunggu jawaban Ana Reno mendekati Felia, oh ya Felia kenalkan aku Reno, aku sekelas dengan kamu.
Iya Reno sama-sama, maaf aku harus pergi (sekilas memandang Selkie)
“Tampaknya Felia naksir kamu, sudah dekati saja sebelum ada yang mendekatinya duluan. Pasti kamu banyak saingan” goda Yansen.
Aku justru tertarik kepada Dian, dia juga cantik. Selkie justru balik menggoda.
Awas ya kalau kamu ganggu Dian, kamu berurusan sama aku. Ancam Yansen.
Makanya kalau ngomong itu dijaga bukannya asal saja. Selkie mengerutu sendiri, bukannya minta maaf tapi Yansen justru terus menggoda Selkie. Akhirnya Selkie memilih meninggalkan kantin sekolah.
Setelah bel masuk berbunyi semua siswa berlarian masuk kekelasnya masing-masing. Dengan santai bapak guru memasuki ruang kelas.
“Bagi 5 kelompok kelompok, setiap kelompok 6 personil dan kalian bebas menentukan siapa ketua kelompoknya. Dan bahas semuanya tentang narkoba” kata pak guru
“Ya kenapa harus narkoba pak, bosan membahas itu-itu terus yang lain saja pak guru”
“Kata Narkoba boleh saja basi, karena selalu didengar. Tapi akibat dari narkoba tidak pernah basi. Kerjakan sekarang tidak ada lagi yang protes”
“baik Pak”
