Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10

Hari yang baru, dirumah yang baru jelas masih butuh penyesuaian.

Bu, aku mandi dulu ya (Selkie berlari tapi langkahnya terhenti dan tiba-tiba tertawa keras waktu dia sadar dia tidak berada di istananya, tapi dia berada dirumah yang dibilang biasa-biasa saja)

Ibunya kaget mendengar anaknya tertawa keras, dengan panik ibu Ayu berlari kearah Selkie dan bertanya: kamu tidak apa-apa? Kenapa tertawa didepan dinding beton, apa ada yang aneh dengan dindingnya?

Selkie pikir kita berada dirumah yang lama, tadinya Selkie mau mandi (Ibu Ayu tersenyum mendengar kata-kata anaknya, sebagai seorang ibu, Ayu mengerti betul apa yang dimaksud Selkie).

Setelah selesai bersiap, mereka sarapan bersama.

Selkie ke sekolah bareng ayah saja, kan jauh dari sini. (Bukannya menjawab tapi Selkie justru tertawa) malah ketawa, ayah kan nawarin?

Trus ayah antar pakai apa? Kan mobil ayah lagi di PHK. (Ayah diam, mengaruk kepalanya yang tidak gatal). Bukankah ayah sendiri ke kantor harus naik ojek atau angkot. Kalau Selkie mau naik ojek, biar tidak macet.

Dengan kehidupan yang baru, akhirnya kehidupan keluarga Rianto kembali normal. Tidak ada yang mengganggunya lagi. Tidak ada air mata yang mengalir dari wajah cantik Ayu, tidak ada lagi kesedihan diwajah Selkie, tidak ada lagi kebingungan diwajah bibi ketika melihat keluarga ini makan dimeja makan tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka bertiga. Ayu semakin yakin cinta Rianto lebih besar untuk keluarganya dari pada gadis cantik manapun.

Tak ada yang sebahagia Selkie pagi ini, ketika langkahnya mengayun lembut memecah keheningan. Keluarga yang dulu nyaris hancur kini telah bersatu kembali, Lisa sudah tidak lagi mengganggu kehidupan Rianto, Lisa hilang seperti ditelan bumi. Lamunan Selkie buyar ketika Selkie memasuki areal parkir para tukang ojek.

“Kak boleh antar saya ke SMA N 1 Tareran” Tanya Selkie

“Maaf dek tapi kalau ke SMA N 1 Tareran bayarannya sedikit mahal soalnya jaraknya jauh dek. Kalau adek mau kakak bisa anterin tapi tambahin walau hanya sedikit ya dek. Gimana?” (Tawar tukang ojek)

“Iya kak saya tambahin”

“Baik dek, mari kakak anterin”

“Kak tempat ini indah dan adem, bagus”

“Adek baru ya disini?”

“Iya kak baru sehari disini, oh ya kenalin saya Selkie”

“Pantas. Saya Jack. Nach ini sekolahnya dek”

“Ini uangnya kak (memberikan uang Rp 20.000, tapi tukang ojek tidak langsung mengambilnya tapi malah bingung)”

“Kenapa kak?...”

“Maaf dek Selkie Rp 10.000 saja, mungkin adek punya uang pas? Soalnya kakak belum ada uang, tadi kelupaan dirumah tas kecil yang biasa kakak pakai kalau ngojek. Atau gini saja dek nanti kalau ketemu baru adek bayar, kakak tidak apa-apa kok, kakak pamit ya”

“Tunggu, ini semuanya buat kakak saja. Oh ya kak sebentar kakak jemput saya yach nanti aku bayar, saya minta nomor ponsel kakak biar saya telpon kalau pas selesai sekolah supaya kakak tidak bingung jemputnya jam berapa. (Tukang ojek itu tersenyum dan menganggukan kepala, kemudian menyodorkan secarik kertas kecil yang bertuliskan nomor ponselnya ke Selkie)”

“Dek, kakak pergi dulu ya, nanti adek telpon, terima kasih banyak ya dek”

“Iya kak sama-sama”

Selkie melangkahkan kakinya memasuki pintu gerbang sekolah. Selkie berjanji akan merubah prestasinya kembali menjadi lebih baik karena tidak ada lagi yang harus dikhawatirkan Selkie, tidak ada lagi yang membuat Selkie menangis. Sekarang dia benar-benar akan fokus pada sekolah dan kembali meraih prestasi yang sempat menurun jauh, bahkan tidak jarang Selkie mendapat teguran langsung dari guru-guru. Sahabat-sahabat Selkie yang melihat keceriaan diwajah Selkie bingung, tapi mereka bahagia karena sudah lama mereka tidak melihat keceriaan dari wajah Selkie. Yang ada dibenak ketiga sahabatnya hanya satu, kenapa bisa Selkie justru bahagia disaat ayahnya bangkrut dan mereka harus terusir dari rumah mereka sendiri.

“Woy….kamu lamunin apa? Sepertinya serius sekali. Dari pada mikirin yang lain, lebih baik besok kita belajar dirumah kamu saja, sekalian kita mau lihat rumah kamu yang baru, aku sudah tahu kok alamatnya. Kemarin ayah memberitahuku. Boleh ya?....boleh ya?...ayolah selkie ya…ya…”

(Feli memohon)

“Ya sudah atur saja, tapi maaf ya rumah aku bukan seperti dulu”

“Itu belakangan, lagian kami temenan sama kamu bukan karena kamu anak orang kaya kok” sambung Ana.

Ketiganya berhenti tepat didepan pintu kelas dan memasuki ruangan kelas.

Selesai apel pagi semua siswa masuk ke kelasnya masing-masing dan duduk ditempat duduknya. Siswa-siswa yang tadinya berisik langsung duduk diam ditempatnya ketika seorang guru memasuki ruangan kelas.

“Selamat pagi bu guru” sapa siswa

“Pagi. Hari ini kalian akan diperkenalkan dengan siswa baru. Kamu masuklah, sekarang perkenalkan dirimu pada semua siswa disini yang nantinya akan menjadi teman kamu”

(Semua siswa memandang takjub pada siswa baru yang ada didepannya, hanya Selkie yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri).

“Perkenalkan nama saya Mala Handari, saya pindahan dari Amurang. Tapi saya biasa dipanggil Felia”

(Perkenalan yang singkat itu cukup membuat Selkie terkejut begitu nama Felia disebut. Tanpa pikir panjang lagi matanya langsung memandang kearah siswa baru itu).

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel