Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Perut Anas berbunyi nyaring, membuat sang empunya pemilik tubuh, membuka mata untuk bangkit duduk di atas ranjang. Matanya mengerjap beberapa kali karena dia bingung. Pemandangan kamarnya bukan kamar di villa Hanna, bukan kamar di apartemen, bahkan kamar di istana kerajaan. Lalu di mana dia semalaman menghabiskan waktu tidurnya.

Tubuhnya bergerak untuk turun dari ranjang. Dia meringis kesakitan karena daerah kewanitaannya terasa perih sekali. Bahkan tubuhnya telanjang di balik selimut.

Anas dengan satu langkah, berlari menuju jendela kamar dan melihat pemandangan jalan raya di depan club'. Dia akhirnya tersadar kalau dia baru saja menghabiskan malam panas bersama pria asing yang bernama Matthew.

Dengan langkah tertatih, Anas masuk ke balik pintu yang dia duga kamar mandi. Dan tebakannya betul. Kamar mandi mewah yang berada di hadapannya.

Anas memilih berendam di dalam bak mandi supaya tubuhnya bisa merasa lebih segar. Setelah beberapa menit berendam air hangat, Anas melangkah keluar kamar mandi dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

Dia masuk kembali ke kamar dan memakai gaun tidurnya yang semalam. Memakai heels, dan mencari tas tangannya.

Setelah menemukan barang-barangnya, Anas menyisir rambutnya dengan jemari dan menggulungnya hingga membentuk konde sederhana.

Anas melirik jam dinding yang ada di atas nakas dan kaget melihat jarum jam menunjukan pukul 1 siang.

Pantas saja perutnya sudah berbunyi. Setelah semalaman menghabiskan tenaga bersama Matthew. Dia perlu mengisi kembali tenaganya. Dengan wajah berseri karena merasa menjadi wanita dewasa walaupun belum cukup umur untuk masuk ke club, Anas puas dengan pria pertamanya. Mungkin akan ada pria pria lainnya begitu dia tiba kembali di NYC.

Mempunyai kehidupan bebas itu ternyata menyenangkan. Anas menuruni tangga club' dengan langkah riang.

Langkahnya tertahan saat seorang pria kecil menghalangi langkahnya untuk keluar club'.

"Tolong lunasi bill tagihan kamar di lantai dua yang tadi malam anda tempati."

Pria muda itu menyerahkan selembar kertas dan Anas menerima lalu membacanya.

"Apa? 1.000 poundsterling. Mahal sekali," Ucap Anas dengan wajah kaget.

"Ck. Tidak usah berpura-pura Nona. Semalaman Anda melayani 3 pria kaya. Dengan jasa pelayanan Nona, saya yakin kalau Nona bahkan mendapat lebih dari 5.000 poundsterling," sahut si pria kecil.

"3 pria? Apa kamu sudah gila. Aku hanya bersama pria tinggi, berkulit hitam, dan tampan. Hanya satu pria."

"Anda tidak bisa berbohong pada saya karena saya sendiri melihat para pria keluar masuk dari kamar Nona semalam."

Tubuh Anas langsung merosot turun dan terjatuh duduk di lantai dengan tingkah tidak elegan.

"Maksudnya semalaman aku bersama tiga pria asing? Siapa mereka?"

Si pria kecil hanya mengangkat bahu saja. Si pria kecil tahu siapa pria pria tersebut namun dia sudah berkomitmen pada boss untuk menjaga rahasia para pelanggan yang menyewa kamar di lantai dua club'.

"Saya tidak mengenali mereka Nona. Mungkin saja Nona yang mengenal mereka. Sudah tidak perlu berpura-pura terkejut. Tolong lunasi tagihan ini."

Si pria kecil menunjuk kertas yang telah berada di genggaman Anas.

Anastacya merasa bodoh karena dia tidak sadar kalau sudah melakukan bersama 3 pria sekaligus dalam semalam. Entah ini patut disyukuri atau disesali.

Anas membuka dompetnya dan menyerahkan kartu kredit tanpa limit ke tangan si pria kecil.

"Tolong segera selesaikan pembayaran. Aku ingin segera pergi," ucap Anas dengan nada ketus.

"Lain kali kalau mau melayani 3 pria sekaligus, silahkan cari kamar motel atau hotel saja. Ini club' bukan tempat pelacuran." sindir si pria kecil sebelum melangkah pergi.

Pelacur....

Apa aku tampak seperti pelacur? Anas mengamati tubuhnya yang penuh bercak dan langkahnya yang tertatih.

Bagaimana bisa aku diperlakukan seperti gadis sampah? Brengsek si Matthew. Awas saja kalau aku bertemu lagi dengannya. Akan kuhabisi.

###$#

Anas kembali ke Vila setelah berhasil menenangkan diri. Setelah makan siang di restoran dengan tatapan penasaran beberapa pengunjung, Anas pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli kaos dan celana jeans.

Dia langsung memakai pakaian barunya di balik tirai kamar ganti. Mencopot barcode kode pakaian, dan menyerahkan barcode itu di meja kasir. Setelah selesai membayar, Anas membuang gaun gold semalam ke dalam tempat sampah di dalam mall.

Dia memutuskan untuk berpikir positif mengenai kejadian semalam. Dia sudah yakin kalau hal semalam adalah anugrah. Bisa menikmati malam panas bersama tiga pria asing walaupun dia sendiri tidak mengingatnya.

##$$#

Begitu Anas turun dari mobil, teman-temannya sudah menunggu diteras villa. Ada pria tua juga di sana yang tampak sedang bercengkrama dengan Hanna.

"Dari mana saja kamu Anastacya." Bentakan Marrian membuat Shelly terkejut.

"Habis melewatkan malam panas bersama 3 pria asing. Maaf kalau aku lupa waktu," Sahut Anas melirik Jacob yang menatap tajam padanya.

"Astaga. 3 pria. Bagaimana bisa? Semalam kamu hanya bersama Pria tinggi dengan kulit hitam," sahut Shelly terkejut.

Anas berjalan melewati Hanna dan Jacob. Dia meneruskan langkahnya menuju lantai dua. Kamar tidurnya.

"Mereka semua sangat perkasa. Aku sampai tidak bisa berhenti saat bersama mereka." Ucap Anas yang tahu kalau Shelly dan Marrian mengikutinya masuk ke dalam kamar.

"Siapa mereka?" Tanya Marrian to the point.

"Aku tidak mengenal mereka. Biarkan saja mereka siapa," sahut Anas cuek.

"Bagaimana kalau kamu hamil dan tidak tahu siapa ayah bayi yang kamu kandung?" Cicit Shelly gemetar ketakutan.

Tubuh Marrian merosot luruh ke lantai kamar Anas.

"Siapa pun pria itu tidak penting. Aku tidak akan hamil. Jika hamil, minta Pak Tua saja untuk bertanggung jawab."

Anas mengeluarkan pakaiannya untuk dia rapikan ke dalam koper. Besok pagi mereka akan kembali ke NYC.

"Kamu sudah gila Anas. Bagaimana kalau orangtuamu tahu? Mereka akan murka. Sangat murka." Marrian tidak bisa membayangkan reaksi orangtua Anas mengetahui tingkah laku putrinya di kota asing dengan para pria asing.

"Itu risiko yang akan kutanggung. Aku yang menjalaninya kok."

##$##

Saat makan malam di ruang makan, Hanna bersikap diam, Jacob yang duduk di samping Hanna, juga diam menikmati santapan hidangan makan malam. Shelly yang duduk di samping Jacob, pun tidak bersuara. Hanya terdengar rintihan sendok dan garpu yang beradu di atas piring.

Marrian yang biasanya dapat membuat suasana di sekitarnya ramai, juga diam membisu. Pikiran Marrian sedang diruwetkan dengan konsekuensi dari tindakan Anastacya yang sembrono. Marrian yang mendapat tugas untuk menjaga, merawat, dan mengawasi Anas merasa dia telah lalai.

Sementara Anastacya duduk diam membisu sebab beberapa saat yang lalu dia mendapat panggilan telepon dari Ibunda Ratu Belgia.

Masih teringat jelas di otak Anas, bagaimana reaksi Ratu saat mengetahui putrinya bertindak "nakal", bukan hanya murka tapi tindakan tegas.

"Mom tidak akan mengizinkan kamu melanjutkan studimu di NYC. Begitu kamu tiba di NYC, kamu akan ikut pengawal yang menjemputmu untuk kembali ke negara kita."

"Studimu tinggal 1 semester, Mom," Rengek Anas manja.

"Harus pulang. Jika kamu tidak mau kembali, maka semua fasilitas kartu debit dan kreditmu akan dibekukan. Marrian juga akan mom kirim ke balik jerusi besi karena telah lalai melakukan tugasnya."

"Baiklah, Mom. Mom harus janji tidak memberikan hukuman apa pun ke Marrian."

"Pemecatan saja sudah cukup," sahut Ratu Belgia dengan suara berwibawa.

"Fiuh..baiklah Mom. Aku akan kembali ke Belgia, besok."

Anas menyetujui perintah orangtuanya untuk kembali.

Gegara kartu kredit sialan.

#$$$#

Ekspresi ke empat gadis yang saat ini sedang berada di dalam pesawat komersil tidak tampak seperti saat pertama mereka berangkat untuk berlibur. Shelly nampak cemberut karena harus kembali ke NYC. Hanna merasa sedih mendengar Anas harus kembali ke Belgia dan berhenti kuliah. Marrian, tetap melanjutkan kuliah di kampus hingga lulus. Marrian memilih untuk tutup mulut mengenai keputusan ratu. Sedangkan Anastacya merasa kesal dan bodoh karena telah teledor saat menghabiskan waktu di club'. Andai dia lebih teliti memilih pria untuk berkencan, dia tidak akan berakhir dengan kembali ke sangkar istana.

#$#$#

Pesawat mendarat di malam hari, supir keluarga Widjaja sudah menunggu di parkiran bandara. Marrian, Anas, dan Shelly diantar sampai kediaman mereka masing-masing.

Apartemen Anas dan Marrian yang menjadi tujuan pertama supir untuk menurunkan penumpang. Anas memutar tubuhnya ke arah belakang, Anas menatap satu per satu teman selama hampir empat tahun dia kuliah di NYC. Wajah Hanna terlihat ingin menangis tapi dia menahannya. Shelly terlihat menundukkan kepala sedangkan Marrian memberikan tatapan wajah menyesal.

"Sampai berjumpa kembali. Aku akan kembali ke NYC lagi di suatu saat. Kita masih bisa saling berkomunikasi melalui sambungan telepon atau email. Jangan terlihat sedih dong. Aku hanya akan pulang ke rumah bukan ke tempat asing. Hehehe," Anas berceloteh untuk menghilangkan suasana canggung. Biasanya Marrian yang mencairkan suasana namun karena Marrian tampak diam saja, Anas yang bergurau untuk membuat ketiga temannya tidak khawatir dan sedih lagi.

Anas dan Marrian turun di depan lobi apartemen dengan koper masing-masing.

Marrian mengekori langkah Anas yang berjalan menuju lift. Sungguh kebetulan, pintu lift tepat terbuka saat Anas dan Marrian sudah berhenti melangkah di depan lift.

Anas menekan tombol angka 8 di layar dan lift membawa mereka menuju lantai atas.

"Sorry, aku lalai menjagamu. Apa Nona Ibeth baik-baik saja?" Tanya Marrian dengan suara lemas.

"Hei...aku sudah dewasa. Semua yang kulakukan atas kemaluanku sendiri. Aku baik-baik saja cuma agak kecewa mesti kembali saat ini bukan saat aku sudah lulus. Aku minta maaf sudah menyusahkan kamu sehingga kamu kehilangan biaya kuliah dan tempat tinggal.

beberapa koper Anas sudah dipacking oleh para pengawal utusan kerajaan. Apartemen pun sudah dikosongkan isinya sehingga Marrian juga tidak bisa tinggal di apartemen lagi. Ini..." Anas mengulurkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal.

Marrian menduga itu adalah uang. Sehingga Marrian menggeleng dan mendorong amplop tersebut ke arah Anas kembali.

"Ini uang kertas mata uang New York. US Dollar. Aku sudah tidak membutuhkannya. Tapi kamu masih butuh. Aku tahu kalau Mom tidak memberikan kamu uang pensiun dini. Terima saja uang ini. Gunakan dengan baik. Aku hanya bisa memberikan uang ini. Jika kamu berhemat. Uang ini bisa sampai kamu lulus kuliah."

Marrian akhirnya menerima amplop cokelat pemberian Anas. Marrian mengintip isinya, dan terkejut dengan nominal uang kertas yang berada di dalam amplop. 100 dollar setebal ini.

Tiba-tiba Marrian memeluk Anas. Bertepatan dengan pintu lift yang terbuka di lantai 8. Lantai tujuan mereka.

Nampak berdiri 3 pria berpakaian formal berdiri di depan pintu kamar apartemen. Di samping mereka berjejer beberapa koper. Wajah mereka terlihat datar tanpa senyuman.

"Selamat malam Nona Elizabeth Anastacya. Kami ditugaskan menemani anda selama perjalanan pulang kembali ke negara Belgia. Ini semua sudah barang-barang Nona. Koper yang di sana, milik Nona Marrian. Kalian tidak diperbolehkan masuk kembali ke dalam apartemen. Tolong serahkan kunci kamar ini kepada saya," ucap salah satu dari ketiga pria itu. Pria yang tinggi, berkulit sawo, dan nampak berusia 40thn.

Anastacya dan Marrian mencari kunci mereka di tas masing-masing. Setelah menemukan kunci, mereka memberikan kunci tersebut ke pria yang meminta kunci.

"Mohon maaf, koper Nona Elizabeth akan kami bawa. Silahkan Nona Marrian mengurus koper Anda sendiri."

Salah satu pengawal, mengambil alih koper berpergian Anas dan menuntun Anas untuk menuju lift.

"Bye," Anas melambaikan tangan ke Marrian.

Marrian pun membalas dengan lambaian tangan.

#$#$$

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel