Bab 2
Suara musik yang berdentum kencang, lampu yang terang benderang dengan cahaya warna warni, serta aroma minuman keras yang tercium pekat, itu yang Anas lihat dan rasa saat masuk ke dalam Club'.
"Jangan bertingkah terlalu bebas, Nona Ibeth," bisik Marrian.
"Tenang saja, aku bisa menjaga diri sendiri. Aku kan cerdik," Anas ikut berbisik di telinga Marrian.
"Aku percaya padamu. Jangan sampai kebablasan. Abaikan jika ada yang ingin mentraktirmu minum. Aku akan mencari hiburan sendiri."
Setelah memberikan beberapa pesan, Marrian melangkah pergi meninggalkan Anas sendiri. Matanya menatap sekeliling ruangan dan menemukan sosok pria incarannya.
Tinggi, berkulit gelap, dan bertubuh tegap. Sudah seperti penampilan mafia saja.
Dia menoleh ke belakang setelah memastikan Hanna, Shelly, dan si pria tua sudah masuk ke dalam Club', Anas melangkah menuju ke pria incarannya.
####$
"Tingkah temanmu sungguh norak. Merapatkan tubuhnya ke si pria jelek," Celutuk Jacob menatap ke arah Anas yang sedang berjoget di lantai dansa. Tubuh Anas menempel erat dengan si pria jelek membuat Jacob merasa jijik.
Hanna mengamati tingkah Anas yang tergolong lucu karena gerakannya berjoget yang cukup aneh. Sementara Shelly sedang ditemani pria asing yang berwajah baby face sembari meminum cocktail.
"Apa kita sebaiknya turun ke lantai untuk ikut bergoyang?" Tanya Jacob.
Hanna mengangguk dan menyambut uluran tangan Jacob. Mereka berdua pun turun ke lantai dansa.
#$#$#
Jacob memegang punggung Hanna yang terbuka dan merapatkan tubuhnya untuk melindungi Hanna agar tidak tersenggol orang. Anas yang melihat Jacob melancarkan rayuan, ikut menarik tangan pria tinggi yang baru dikenalnya untuk memegang bokongnya.
"Sentuh aku, kita bebas mau melakukan apa pun," bisik Anas di telinga Matthew. Matt, yang saat ini sudah cukup mabuk oleh minuman keras yang dia konsumsi sebelum bertemu Anas pun mengangguk setuju. Matt menurunkan tangannya dan meremas bokong padat gadis muda yang baru dikenalnya.
Matt mengeluarkan jarum suntik dari saku celana jeans-nya sembari mengalihkan fokus perhatian Anas dengan melumat bibirnya. Ditariknya sumbat jarum suntik, dan ditusukkan jarum kecil itu ke paha Anas.
Matt melempar jarum kecil itu ke sudut ruangan. Dia mengiring Anas ke sudut ruangan yang agak temaram dengan sambil terus berciuman mesra.
Matt menurunkan ciumannya ke leher Anas. Digigit dan dihisapnya leher milik Anas. Anastasia sendiri sudah mulai kehilangan akal sehat. Pengaruh cairan narkoba yang disuntik oleh Matt ke paha Anas mulai bereaksi.
"Anas," panggil Hanna dan Shelly.
Hanna melihat Anas sudah bertindak cukup jauh jika dilihat dari cara Anas dan pria asing itu bercumbu.
Matt melepaskan cumbuannya di leher Anas. Menatap Hanna dengan penuh nafsu.
"Si Dewi Seks NYC," ucap Matt.
"Kamu mengenal Hanna?" Tanya Anas
"Tentu saja," jawab Matt bersemangat.
"Ayo Anas kita balik," ucap Shelly.
"Kalian kembali dulu saja. Aku akan kembali bersama Matt. Iya kan sayang?" ucap Anas dengan suara manja.
Hanna yang tahu kalau Anas tidak menyentuh minuman keras, pun membiarkan Anas bersama si pria asing.
"Ya sudah, kami pulang duluan ya. Marrian di mana?" Tanya Hanna.
"Dia sudah berada di surga dunia, Hanna."
Jacob menatap jengkel melihat tingkah Anas yang manja dan penggoda. Dia ingin segera meninggalkan club' malam ini untuk bisa menghabiskan waktu mengobrol berdua di villa bersama Hanna.
"Sudah, dia bukan anak kecil lagi. Biarkan saja dia menikmati hidupnya," ucap Jacob.
Hanna dan Shelly pun terpaksa mengangguk setuju. Mereka akhirnya meninggalkan Anas sendiri bersama si pria asing.
#$#$#
Setelah mengantar kedua gadis tiba dengan selamat di villa, Hanna meminta Jacob untuk segera pulang. Tidak menawarkan untuk mampir berbincang atau menginap seperti malam sebelumnya. Jacob yang kesal, akhirnya memilih untuk melajukan kemudi mobilnya kembali ke club malam. Dia hanya ingin melihat tingkah binal Anas. Dia berharap Anas melakukan "itu" dengan si pria asing. Supaya perasaan bersalah di dalam pikirannya hilang.
Sesampainya dia di dalam Club', dia mengedarkan pandangan mencari sosok Anas namun tidak menemukan sosok Anas di lantai bawah.
"Apa mungkin dia sudah dibawa pergi ke hotel atau di lantai atas?" Setelah mempertimbangkan untuk tetap tinggal mencari di lantai dua atau pergi dari club', Jacob merasa perlu ke kamar mandi sebelum pergi dari club'.
Di salah satu bilik kamar mandi, Jacob mendengar suara rintihan dari suara gadis yang semalam bersamanya. Kondisi di kamar mandi pria memang sepi, dan suara rintihan terdengar jelas.
Karena penasaran, Jacob mendorong perlahan pintu kamar mandi di bilik paling ujung, dan mendapati Anas sudah telanjang tanpa memakai pakaian apa pun. Sementara pria asing itu sedang memberikan ciuman di seputar selakangan Anas.
"Hei...apa kamu tidak mampu menyewa kamar di lantai atas?" Hardik Jacob yang geram. Bukan urusannya jika Anas bertingkah binal, namun tidak perlu juga melakukan di kamar mandi umum.
"Dasar penganggu. Pergi sana. Atau kamu mau setelah aku selesai dengannya?" Ucap Matt menunjuk Anas yang bersandar lemah di atas tutup closet.
"Dia sudah barang bekas. Servisnya payah. Buatmu saja," sahut Jacob dengan nada cuek.
Matt terperangah mendengar ucapan Jacob. Dia tidak menyangka kalau gadis muda di hadapannya ternyata hanya sampah. Sudah tidak perawan, servisnya pun tidak memuaskan.
"Cih, tingkahnya seperti gadis perawan. Ternyata hanya kepalsuan. Buang-buang waktuku saja. Matt menarik reseliting celana jeansnya hingga tertutup dan menyugar rambutnya agar kembali rapi.
Matt mengira Jacob sudah pergi meninggalkan kamar mandi, sehingga tanpa menoleh, Matt melangkah pergi keluar kamar mandi Club'.
Jacob keluar dari bilik sebelahnya dan berjalan menuju pintu kamar mandi. Memutar kunci yang tergantung di pintu kamar mandi hingga terdengar bunyi ckelek.
####$
Club' mewah tentu saja memiliki keistimewaan pula. Dari bangunan yang bersih, sampai wanita yang bersih juga.
Jacob mengangkat Anas dari closet dan membaringkan Anas di lantai kamar mandi. Dia melihat Anas bergerak gelisah dengan mata tertutup.
"Hei, bangun," Ujung sepatu Jacob menyentuh lengan Anas. Namun seberapa keras, dorongan sepatu Jacob ke tubuh Anas, Anas tidak kunjung membuka mata.
Melihat tubuh polos Anas, tentu saja membuat nafsu Jacob ikut membara. Dimasukkannya jemari tangannya ke dalam liang kemaluan Anas, dan tidak mendapati ada cairan di sana. Itu menandakan Matt belum melakukan apa pun pada Anas. Mungkin hanya menyentuh dan mencumbu menggunakan mulut dan tangan saja.
Jacob bukan pria baik-baik. Dia suka menikmati tubuh wanita di kala waktu senggangnya. Club' ini juga salah satu club' favoritnya. Tanpa membuang waktu, Jacob melepas pakaiannya dan menyetubuhi Anas di kamar mandi dengan lantai yang dingin.
Dua jam, Jacob sudah merasa lelah karena harus bertumpu dengan lantai kamar mandi yang dingin dan keras. Jacob pun akhirnya memilih menyudahi aksinya. Dia memandangi Anas yang masih bergerak gelisah, tidak merasa lelah.
"Apa yang terjadi padamu, Anas?"
Tanya Jacob.
Namun gadis yang berada di bawahnya tidak menanggapi apa pun. Walaupun masih sadar, tapi tidak membuka mata. Jacob merasa ada yang tidak beres dengan Anas. Dia menghubungi teman baiknya yang berprofesi sebagai dokter.
"Halo, apa kamu sedang sibuk?" Tanya Jacob begitu sambungan ponselnya tersambung di sebrang sana.
"Ada apa lagi Tuan Jacob?" Jawab suara pria di sebrang sana dengan nada malas.
"Apa penyebab gadis muda di club' tidak sadar kalau sudah disetubuhi selama dua jam? Bahkan dia tidak terlihat lemas. Apa terjadi sesuatu padanya?" Pertanyaan bertubi dari Jacob, dapat ditangkap dengan jelas oleh sang dokter.
"Menurutku itu bukan pengaruh obat tidur yang kuberikan padamu. Bukan juga karena alkohol. Mungkin dia mengkonsumsi obat terlarang atau ada seseorang yang memberikan suntikan berupa morfin. Itu tanda orang yang memakai obat, Jacob. Jauhi gadis itu. Tinggalkan saja. Kamu sudah puas kan menyetubuhinya? Beberapa jam lagi, dia akan merasa menggigil selama beberapa jam sebelum sadar sepenuhnya."
Jacob mendengarkan dengan jelas ucapan dokter namun hati nuraninya tidak memperbolehkannya meninggalkan Anastacya sendiri di tempat ini.
"Bisakah kamu datang ke sini. Aku sedang berada di Luxe Club'. Di toilet pria. Ketuk pintu dulu sebelum kamu masuk. Bawa obat atau infus untuk memulihkan pengaruh obat terlarang. Aku tunggu ya," Ucap Jacob memberikan perintah bukan permintaan.
"Eh. Mentang mentang CEO ya. Bisa suruh ini itu. Aku sedang di Rumah sakit. Dua jam lagi baru bisa tiba. Silahkan lanjutkan saja. Dia pasti bisa bertahan berjam jam lagi. Oh iya, pindahkan saja dia di kamar lantai atas. Memangnya kamu tidak ada yang apa sampai melakukan di dalam kamar mandi pria. Sungguh malang nasib gadis itu." Kekeh dokter Broodick.
Jacob menatap tubuh telanjang di bawahnya dengan napas tertahan. Sepertinya usul dari Broodick akan dia ikuti.
"Kamu langsung ke lantai atas saja ya. Tempat biasa."
Jacob menutup ponsel dan memasukkan ponselnya kembali ke celana jeans-nya.
Dengan perlahan Jacob memakaikan Anas gaunnya, tanpa pakaian dalam. Pakaian dalam Anas, dimasukkan Jacob ke tong sampah. Sepasang heels Anas, dipasangkan di kaki. Tas tangannya yang berwarna gold pun dikepit Jacob.
Tangan Anas dilingkarkan ke pundak Jacob, dan Jacob melingarkan lengannya di pinggang Anas. Dengan santai Jacob menaiki lantai dua melalui tangga di samping kamar mandi. Langkah Jacob berhenti di depan ruangan terujung. Ruangan tempat biasa dia menghabiskan malam liarnya.
Tok...tok...tok...
Jacob mengetuk pintu beberapa kali. Setelah menunggu beberapa saat karena tidak ada yang membuka pintu, akhirnya Jacob mendesah lega karena kamar ini kosong. Di putarnya hendel pintu dan didorongnya pintu agar terbuka lebar.
Jacob berjalan membawa Anas ke atas ranjang besar dan berjalan kembali untuk mengunci pintu hingga terdengar bunyi klik.
###$#
Tok..tok..tok
Jacob mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Anas dan memakai kaos dan jeans dengan terburu-buru. Dia pun menutup tubuh telanjang Anas dengan selimut tebal. Melangkah dengan langkah lebar menuju pintu dan memutar kunci hingga terdengar bunyi ceklek.
"Lama sekali kamu membuka pintu. Apa aku menganggu aktivitasmu?" Goda Broodick.
Lampu kamar yang terang benderang membuat Broodick dapat melihat jelas siapa sosok gadis muda yang berada di atas ranjang.
Jacob mengikuti langkah Broodick yang menuju ranjang setelah mengunci pintu kamar.
Broodick mengeluarkan cairan infus beserta selang dan jarum. Lalu kapas dan jarum suntik.
Jacob mengamati semua gerak gerik Broodick dan mendesah lega ketika jarum infus sudah terpasang di lengan Anas.
Broodick juga menyuntikkan cairan di lengan terbuka Anas.
Setelah selesai melakukan tugasnya, Broodick duduk di sofa kamar untuk menanti cairan obat infus bereaksi.
Jacob mendaratkan pantatnya duduk di sebelah Broodick.
"Berapa lama kamu memakainya?" Selidik Broodick.
Jacob melihat jam di ponselnya dan menjawab dengan nada santai, "lima jam."
Broodick hanya bisa menggelengkan kepalanya. Heran dengan nafsu seksual Jacob yang brutal.
"Bagaimana dengan kegiatan semalam di villa?"
"Obat tidurmu sungguh berefek luar biasa setelah meminum itu. Aku melakukannya selama 5 jam juga. Dia bahkan tidak terbangun sama sekali. Padahal aku melakukannya untuk membuatnya hamil."
Broodick terkekeh mendengar nada antusias Jacob. Entah tingkah laku Jacob didasari cinta atau obsesi.
"Memangnya kamu sudah siap menjadi seorang suami dan ayah dalam waktu dekat?" Selidik Broodick.
Jacob mengangguk.
"Kamu sudah memiliki istri dan dua anak. Sedangkan aku masih single. Hartaku sudah melimpah. Tinggal Tahta dan Wanita saja yang kubutuhkan," ucap Jacob.
Broodick tertawa terpingkal mendengar curhatan Jacob. Teman semasa SMA nya.
"Kamu sudah mempunyai Harta dan Tahta kawan, bahkan para wanita siap membuka lebar pahanya untukmu. Tinggal kamu pilih salah satu diantara mereka saja. Lakukan hubungan intim dengan rasa cinta. Maka akan ada yang hadir berupa buah cinta."
Jacob menghela napas lelah. Dia sudah lama mengincar Hanna untuk dijadikan istri. Bahkan dia menutup mata saat mengetahui Hanna sudah menjadi milik Vernando. Jacob juga sadar kalau Hanna sangat mencintai Nando. Namun Jacob memiliki niat untuk tetap mendapatkan Hanna.
"Hanna sudah tahu tingkah laku biadabku. Semakin susah saja untuk menaklukkan hatinya."
"Cinta tidak bisa dipaksakan. Coba lihat gadis lain disekitarmu. Barangkali ada yang cocok menjadi istrimu."
Jacob menatap Anas yang terbaring gelisah di atas ranjang. Jika Anastacya hamil, maka dia akan bertanggung jawab dengan menikahinya.
#$#$#
