Bab 4
Queen Elizabeth Anastacya tiba kembali di negara asalnya Belgia di siang hari. Perjalanan menggunakan pesawat pribadi kerajaan yang nyaman dan luas mampu membuat Ibeth,( panggilan keluarga) bisa tertidur nyenyak di dalam bangku pesawat.
Para pengawal nampak duduk di sudut dan sibuk berdiskusi. Entah apa yang mereka diskusikan. Ibeth tidak peduli.
Tring...
Bunyi pesan masuk di ponsel Ibeth.
Ibeth meraih ponselnya di tas berpergian dan melihat siapa gerangan yang mengirimkan pesan padanya.
"Jika kamu hamil dalam rentang 9 bulan, kabari aku. Mungkin saja itu anak milikku."
Nomor asing yang nampak mengirimkan pesan. Ibeth menduga kalau pesan ini dikirim oleh Jacob di Luxemburg sana.
Dari mana pria tua itu tahu nomor ponselku?
Ibeth tidak peduli dengan isi pesan yang dia terima, sehingga dia memilih menghapus pesan asing tersebut. Ibeth memilih melanjutkan tidurnya.
#$#$#
Begitu Ibeth tiba di bandara pribadi Belgia, sudah ada mobil yang menunggu di parkiran bandara.
Ibeth berhenti melangkah karena dia menunggu para pengawal yang sibuk menurunkan koper-koper Ibeth. Ibeth hanya menenteng pouch yang berisi data identitas diri dan ponsel.
Setelah selesai menurunkan koper, para pengawal menggeret koper menuju mobil sedan yang sudah menunggu di parkiran. Ada dua mobil yang terparkir di sana.
Begitu langkah Ibeth tiba di depan pintu mobil pertama, salah satu pengawal membuka pintu untuk Ibeth dan Ibeth masuk ke dalam mobil.
"Ibeth..." Ucap Ratu Belgia dengan nada dingin.
Ibeth menolehkan kepala ke samping dan mendapati Ibunda Ratu yang ternyata ikut menjemput kepulangannya hari ini.
"Mom. Apa kabar Mom dan Dad?" Tanya Ibeth dengan suara ceria. Ibeth memeluk Ratu dengan pelukan hangat.
Ratu Belgia hanya mendengus melihat tingkah kekanakan Ibeth. Dia merasa menyesal memberikan dukungan Ibeth untuk kuliah di NYC. Menentang perintah suaminya yang melarang putri semata wayang mereka untuk melanjutkan studi di luar negeri.
"PERASAAN MOM SEDANG TIDAK BAIK," Sahut Ratu dengan nada ketus.
Ibeth menyengir melihat dan mendengar ekspresi jengkel yang sangat jarang Ibunda Ratu tampilkan.
"Dad tidak tahu kalau kamu sudah kembali ke negeri ini. Mom sengaja merahasiakan perbuatan nakalmu. Untuk sementara kamu tinggal di rumah peristirahatan kita di desa."
Wajah Ibeth melongo mendengar penuturan Ibunda Ratu. Dia tidak pernah menyangka kalau Ibunda Ratu bersedia memberi izin dia tinggal di desa.
Sungguh suatu keberuntungan untuk Ibeth dapat tinggal di desa peristirahatan raja dan ratu. Dia sangat suka dengan lingkungan desa.
"Aku tidak keberatan tinggal di sana, Mom. Bahkan aku rela tidak kembali ke istana lagi." Celutuk Ibeth.
"Ehm....tentu saja kamu akan kembali ke istana. Itu rumahmu. Rumah di pedesaan ini milik mom bukan milikmu. Jika kamu merasa senang tinggal di desa, kamu tidak keberatan jika Mom menaruh beberapa pengawal untuk ikut tinggal mengawasimu?"
Ibeth tentu saja keberatan jika harus diawasi para pengawal. Namun dia tidak menyuarakan keberatannya karena mempertimbangkan keberuntungannya bisa tinggal lama di pedesaan.
Ibeth menggelengkan kepala dan memberikan senyuman indahnya ke Ibunda Ratu.
Ratu membalas senyum putrinya dengan senyuman kecil.
"Semoga saja Hendrick tidak keberatan menerima dirimu yang sudah ternoda," bisik Ratu di telinga putrinya.
"Mom..." bentak Ibeth kesal.
Hendrick sudah dia anggap kakak karena mereka tumbuh besar bersama walaupun berselisih usia 4 tahun. Hendrick pun memiliki perangai yang menyebalkan seperti Marrian sehingga Ibeth merasa nyaman saat mereka bermain bersama sewaktu dahulu.
"Dia sudah kembali dari New York. Kuliah S2 nya sudah selesai. Dia akan mengikuti jejak ayahnya di pemerintahan sebagai wakil rakyat sebelum mencalonkan diri menjadi perdana menteri beberapa tahun mendatang."
Ibeth menghitung usia Hendrick saat ini. 24 tahun. Apa lelaki itu tidak ingin menikmati masa mudanya dahulu? Oh iya, jangan- jangan dia sudah puas bermain 8 tahun di New York. Pantas saja Lelaki itu tidak keberatan. Sungguh sial nasibku yang belum puas menikmati kebebasan. Fiuh....
Ibeth mendesah kecewa dan iri mendengar kabar teman masa kecilnya. Terakhir dia bertemu Hendrick saat Hendrick merayakan kelulusannya di senior high school.
#$#$$
Iringan mobil sedan kerajaan tiba di pintu gerbang rumah pedesaan milik Ibunda Ratu.
Pagar kayu yang terbuat dari kayu berkualitas.
Ibunda Ratu turun mendahului Ibeth yang baru akan membuka pintu mobil. Ibunda Ratu mengatur koper-koper Ibeth agar dibawa para pengawal ke dalam kamar yang akan Ibeth tempati.
Ibeth menginjakkan kakinya di tanah pedesaan favoritnya. Tarik napas, embus, tarik napas, embus. Ibeth sedang menyerap energi positif dari aroma tanah dan udara segar pedalaman. Segala penat dan beban seakan terangkat bagi setiap orang kota yang kembali ke sini. Demikian juga yang Ibeth rasakan.
Surga dunia bagi Ibeth yang senang hidup di alam terbuka.
"Kamu tidak akan Mom kasih uang saku. Jika kamu butuh sesuatu, silahkan sampaikan kebutuhanmu ke kepala pelayan. Ami...." Panggil Ibunda Ratu dengan agak berteriak.
Wanita bertumbuh agak gempal, berkulit sawo, dan berambut hitam pekat, muncul dari dalam rumah. Dia berlari menghampiri tempat Ibunda Ratu dan Ibeth berdiri.
"Tolong kamu bantu penuhi keinginan Queen Ibeth. Jika dia butuh sesuatu, tolong berikan padanya. Kecuali alat telekomunikasi," titah Ratu pada wanita yang menjabat sebagai kepala pelayan.
Mulut Ibeth menganga mendengar titah Ibunda Ratu. Terutama kalimat tentang alat telekomunikasi.
"Mana ponselmu? sebagai hukuman, kamu dilarang memakai ponsel sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Nomor kartu ponselmu sudah Mom blokir. Pergunakan waktu kamu di sini untuk memperbaiki diri." Ibunda Ratu mengulurkan telapak tangan meminta ponsel milik Ibeth.
Dengan raut wajah bete, dan marah, Ibeth memasukkan jemari tangannya ke dalam tas mungil berpergiannya. Dan mengeluarkan ponsel miliknya. Dia menaruh ponsel miliknya ke telapak tangan Ibunda Ratu yang masih terbuka.
"Mom sungguh tega padaku. Bagaimana caranya aku menghubungi Mom dan Dad jika aku kangen?" Ibeth mengeluarkan suara memelas agar Ibunda Ratu memperbolehkan dia menggunakan ponsel.
"Selama kamu kuliah di NYC, kamu juga jarang menghubungi kami. Kami yang akan mengunjungimu jika waktunya tepat. Kamu tidak akan kekurangan apa pun selama tinggal di sini," ucap Ibunda Ratu mendekati Ibeth lalu mencium pipi kiri dan kanannya.
"Mom pergi dulu. Ingat, jangan berbuat onar lagi."
Ibunda Ratu kembali memasuki mobil sedan dan para pengawal kembali ikut masuk ke dalam mobil. Ibeth masih tetap berdiri di depan pintu gerbang, hingga mobil sedan yang Ibunda Ratu tumpangi sudah tidak tampak dipandangan mata.
#$#$#
Ami menoleh untuk melihat putri mahkota kerajaan. Dari tadi Ami hanya mampu menunduk dan mengangguk ke Ibunda Ratu. Kini dia ditinggal berdua bersama Putri Mahkota. Di saat seperti ini, Ami bisa sepuasnya mengamati Queen Ibeth.
Di mata Ami, Ibeth terlihat seperti gadis urakan. Dari cara berpakaiannya yang serampangan, kaos katun longgar bermotif kartun dengan celana jeans yang sobek di sana sini. Rambut ikal yang dicepol asal. Sepatu kets yang tampak seperti tidak klop dengan gaya berpakaian.
"Queen Ibeth, mari saya antar ke ruang istirahat Anda," ucap Ami yang sudah puas mengamati majikan kecilnya.
Ibeth tersentak dari lamunan karena tadi sibuk melambaikan tangan namun pikirannya melayang ke danau buatan yang ada di dalam rumah ini.
"Eh, panggil saja Ibeth, Bibi Ami. Oh iya, apakah danau di rumah ini masih ada ?" tanya Ibeth.
Ami yang paham dengan maksud pertanyaan Ibeth, menjawab dengan kejujuran.
"Masih ada Non Ibeth. Kami menjaga dengan baik seluruh isi rumah ini. Baik yang ada di dalam rumah, maupun sekeliling rumah. Mari saya antar ke danau buatan."
Ibeth mengikuti langkah kaki Ami yang berjalan masuk ke dalam rumah. Ami menaiki mobil mini untuk sampai di rumah utama.
Ibeth sangat suka dengan rumah ini karena rumah ini sangat sangat sangatlah besar dan luas.
Bahkan untuk penduduk di sini, rumah ini sudah dianggap seperti istana. Karena memang rumah ini, luas dan besarnya seperti istana.
"Apakah di rumah ini tidak ada komputer, telepon, atau semacam jaringan komunikasi?" Tanya Ibeth penasaran dengan ancaman Ibunda Ratu.
"Tentu saja ada Nona Ibeth. Namun minggu lalu, semua alat yang berbentuk seperti semacam penghubung dengan dunia luar sudah dicabut. Kami melakukan sesuai titah Ibunda Ratu," Jawab Ami disertai penjelasan.
#_#$#
Ibunda Ratu mungkin saat ini boleh bernapas lega karena sudah mengatasi satu permasalahan yang disebabkan oleh putrinya.
Di ruang duduk santai Istana Belgia, Raja dan Ratu sedang duduk berdua menikmati kudapan sore sambil membahas harga saham di perusahaan yang ada di negara mereka.
Keluarga Raja dan Ratu memiliki beberapa aset berupa emas, saham, maupun bisnis sendiri.
Ibunda Ratu mewarisi perusahaan makanan kaleng dari orangtuanya. Sedangkan Ayahanda Raja mewarisi empat tempat wisata yang terkenal di Belgia.
Mungkin anggapan masyarakat Raja dan Ratu Belgia, hanya bertahan hidup dengan menikmati kekayaan istana. Bahkan perdana menteri Belgia pun tidak mempunyai kekayaan sebanyak sang Raja dan Ratu.
"Besok aku ada kunjungan ke negara Luxemburg. Aku melihat peluang bisnis di bidang otomotif cukup menjanjikan. Apa besok kamu memiliki waktu luang dan mau menemaniku ke Luxemburg menemui pemilik otomotif terkenal di NYC?" Tanya Raja yang tangannya memegang biskuit.
Ratu yang menyimak setiap kata per kata dari Raja, mendapat kesempatan untuk mencari tahu para pria yang sudah berani menodai putrinya. Dia akan mencari informasi secara diam-diam untuk berjaga-jaga saja bila putrinya mengalami kehamilan yang tak terduga.
"Tentu saja, Rajaku. Aku akan menemanimu ke ujung dunia sekalipun. Urusan bisnisku bisa dibantu oleh Hendrick kelola. Dia calon menantu idaman kita," sahut Ratu.
"Maafkan aku yang tidak bisa memberikanmu keturunan lagi, Ratuku. Aku tahu kamu menginginkan banyak anak dariku. Karena kamu tumbuh kesepian sebagai anak tunggal. Aku pun demikian. Kehadiran Ibeth pun sudah menjadi anugrah yang maha kuasa yang tidak kita sangka."
Ratu mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. Kehadiran Ibeth yang ditunggu-tunggu, membuat Raja dan Ratu memanjakan Ibeth secara berlebihan. Namun dia kini tidak lagi bersikap memanjakan kepada sang putri mahkota. Dia berubah menjadi tegas walaupun suaminya masih bersikap lemah terhadap keinginan Queen Elizabeth Anastacya.
#$$$#
