Bab 1
Gadis itu terlahir dari rahim Ratu Belgia.
Dari sekian juta bayi yang lahir di dunia, Elizabeth Anastacya lah yang beruntung terpilih oleh yang maha kuasa untuk menjadi putri raja dan ratu Belgia.
Pada masa kecilnya, dia sangat dimanja oleh semua orang di dalam istana. Baik orangtua, pelayan istana, bahkan rakyat Belgia pun memuja sang putri mahkota kerajaan. Sejak kecil, segala keinginannya selalu dipenuhi oleh siapapun.
Bertahun-tahun dia menjadi anak tunggal di istana, hingga di usianya yang ke 8, Ratu Belgia dinyatakan tidak bisa hamil lagi karena Raja mengalami penyakit yang membuat Raja Belgia tidak memiliki sel sperma yang bagus untuk bereproduksi.
Akhirnya dia menjadi putri pertama dan merupakan putri satu-satunya dari ratu Belgia. Sikap raja dan ratu mulai berubah. Mereka sudah tidak memanjakan Elizabeth Anastacya lagi. Mereka mendidik Ibeth, panggilan kesayangan para penghuni istana untuk Elizabeth Anastacya, dengan didikan layaknya calon ratu masa depan Belgia. Tidak ada lagi masa di mana, Ibeth dapat bermain bebas, mengerjai para pelayan, atau bolos sekolah dengan alasan sakit.
Elizabeth tumbuh menjadi gadis yang cantik. Memiliki rambut ikal sepanjang punggung, memakai pakaian dari rancangan penjahit terkenal di Belgia, diajari oleh guru yang dipanggil mengajar ke istana, dan selalu disuruh bersikap sopan dan santun.
Ibeth yang sejak kecil bersikap bebas melakukan sesuka hati menjadi merasa terkekang. Puncaknya saat usia Ibeth 18 tahun, selepas lulus high school.
Ibeth ingin melanjutkan studi di kampus jurusan arsitek di NYC namun keinginannya ditentang habis oleh orangtuanya. Mereka berniat menikahkan Ibeth dengan putra Menteri dalam negeri yang saat ini sedang mengajar di kampus Luxemburg.
Ibeth meminta orangtuanya untuk mengerti keinginannya. Ibeth berjanji akan kembali setelah lulus dari NYC dan akan bersedia menikah dengan putra perdana Menteri.
Putra perdana menteri merupakan teman bermain Ibeth sewaktu kecil. Usia mereka hanya terpaut 4 tahun. Ibeth tidak mencintai lelaki itu dan begitupun sebaliknya. Lelaki yang sangat bawel dan ceriwis. Lebih ceriwis dari Marrian, teman sekaligus pengawalnya.
#####
"Ah.....ah.....fucking shit, " Teriak Jacob saat mencapai puncak kepuasan karena hasratnya telah terpenuhi.
Kondisi kamar yang gelap gulita, dan rintihan dari gadis yang saat ini masih berada di bawah tubuhnya tidak membuat Jacob menghentikan aksinya untuk terus menerus menekan miliknya agar sepenuhnya masuk ke dalam lubang kenikmatan milik gadis yang sudah diincarnya sejak awal.
Tubuh yang penuh peluh keringat dan rintihan kesakitan dari gadis muda di bawah tubuhnya, tidak membuat Jacob merasa puas.
"Aku harus membuat dia hamil anakku. Pantas saja dia dijuluki Dewi seks. Tubuh dan barang pusaka miliknya membuatku merasa seperti berada disurga. Hahahaha." Jacob berbicara sendiri. Jacob sangat puas bisa menjadi pria pertama yang memiliki Hanna seutuhnya. Ya.. gadis yang di bawah tubuhnya, adalah Hanna, putri tunggal kongromelat. Anak bossnya.
Jacob sengaja memberikan obat tidur ke minuman milik Hanna saat makan malam di ruang makan. Dia sudah mempersiapkan semuanya. Sudah meminum obat penyubur hormon agar sperma yang dia masukkan ke rahim Hanna berhasil membuahkan benih.
Dikecupnya kening sang gadis yang masih tertidur pulas walaupun bergerak gelisah dalam tidurnya. Dosis obat tidurnya sudah dia takar mengikuti saran petunjuk dokter yang merupakan salah satu teman baiknya.
"Dua ronde lagi ya sayang, setelah itu aku akan membersihkan dirimu dan memakaikanmu gaun tidur," bisik Jacob dengan senyum smirk di wajahnya yang tergolong tampan.
Gadis yang dibawah sana, terus bergerak gelisah. Dia tidak bisa membuka matanya walaupun ingin. Matanya terasa berat dan tubuhnya pun terasa sakit. Dia hanya bisa meneteskan air mata yang mengalir dari sudut matanya yang masih tertutup.
#####
"Selamat pagi Anas. Bagaimana tidurmu semalam? Apa tidurmu nyaman di kamar tidur utama di lantai dua ini?" Tanya Hanna yang duduk di samping ranjang untuk membangunkan temannya yang masih tertidur pulas.
"Sudahlah Han, buat apa kita membuang waktu untuk membangunkan Anas. Lebih baik kita sarapan dulu," Celutuk Marrian.
Marrian yang sudah hapal dengan tabiat Anas yang suka bangun siang. Sewaktu masih tinggal di kastil pun, Anas susah bangun pagi.
"Ya sudah. Kita tinggal saja dulu," Hanna bangkit berdiri dari atas ranjang dan melangkah keluar kamar bersama kedua temannya yang lain. Marrian dan Shelly.
Sementara itu Anastacya membuka perlahan kelopak matanya yang masih terasa berat dan perlahan kedua matanya terbuka lebar menatap sekelilingnya.
"Sialan. Aku mimpi basah semalam. Ternyata aku lagi mendapat tamu bulanan. Bisa-bisanya aku lupa
bawa roti Jepang, shit," rutuk Anas yang sudah duduk dengan badan bersandar ke dinding ranjang. Matanya menatap kaget melihat bercak darah yang cukup banyak di atas seprai putih dalam kamarnya.
"Untung saja itu hanya mimpi. Badanku juga terasa remuk setelah tidur semalaman."
Ketika Anas bergerak untuk bangkit dari atas tempat tidur, wajahnya memerah karena meringis kesakitan. Dia tidak menyukai kondisi tubuhnya saat ini yang lemah, perih, dan tak berdaya.
"Oh my God. Apa yang terjadi pada tubuhku?" Anas menjerit ketakutan melihat bercak merah keunguan yang tersebar di tubuhnya. Melalui pantulan cermin di kamar mandi, Anas tidak percaya tubuhnya dipenuhi bercak aneh yang muncul dalam semalam.
"Apa aku terjangkit suatu penyakit? Kenapa dengan tubuhku. Apa ada vampire penghisap darah di rumah ini?" Anas masih berdiam diri di depan cermin seukuran setengah badannya dan berbicara sendiri.
Diraihnya rambut ikal panjangnya dan digulung menjadi ikatan rumah keong di kepalanya. Dia membuka lapisan piyama motif beruang kesayangannya ke lantai untuk mengamati tubuhnya yang aneh.
Dengan langkah cuek, Anas masuk ke dalam bathup untuk berendam air hangat. Untung saja pelayan di villa Hanna melakukan tugasnya dengan cekatan. Sebelum Anas bangun, air hangat sudah tersedia di dalam bathup.
"Mungkin tubuhku hanya digigit serangga saja. Setelah mandi, aku akan mengoleskan salep buatan mom."
Anas memang tipe gadis muda yang berpikiran praktis, blak-blakan, cuek, tapi dia masih memegang adat istiadat di negara asalnya. Bahkan masih menggunakan obat salep buatan ibunya.
Setelah puas berendam air hangat, Anas keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju santai. Dia memilih tanktop dan celana hotpants. Agar lebih mudah mengoleskan salep diseputar tubuhnya.
Setelah selesai mengoleskan tubuhnya, dia melangkah keluar kamar dan menuruni undakan tangga menuju ruang makan untuk sarapan pagi.
#####
"Ehm...pagi-pagi udah ada yang mencari kesempatan nih," Celutuk Anas yang melihat Jacob mengambilkan Hanna air putih.
Pria yang disindir tersebut, memberikan tatapan tajamnya pada Anas.
Tanpa rasa takut, Anas menaikturunkan alis matanya balas menatap tajam Jacob.
"Kenapa dengan tubuhmu?" Tanya Marrian bangkit berdiri dari duduknya saat melihat kondisi leher dan pundak Anastacya yang dipenuhi lebam bercak.
"Mungkin gigitan serangga. Aku sudah oleskan salep kok," sahut Anas cuek. Menurunkan bokongnya di kursi sebelah Shelly. Shelly yang biasanya pendiam ikut terpana melihat kondisi tubuh Anas.
Hanya Hanna yang tahu penyebab tubuh Anas seperti itu. Hanna memberikan cubitan keras di paha lelaki yang dia kira sudah menjadi sahabatnya.
"Aduh..." ucap Jacob yang tak menyangka mendapat cubitan oleh gadis incarannya.
"Ini ulahmu kan?" bisik Hanna.
Jacob yang belum pulih dari rasa terkejutnya dengan kondisi Anas, merasa pias. Dia salah sasaran.
"Aku kira itu dirimu," Ucap Jacob dengan suara tercekat.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" selidik Hanna.
"Tanggung jawab," cicit Jacob.
#$$$$
Anas menyantap sarapan paginya dengan hati riang. Liburannya di Luxemburg tinggal dua hari. Anas tidak mau memikirkan kondisi tubuhnya yang masih sedikit lemas.
"Apa rencana kita hari ini?" Tanya Anas memecah kesunyian di ruang makan.
Hanna mengangkat wajahnya untuk menatap Anas.
"Night club," ucap Hanna tersenyum hangat.
"Yeah...malam ini aku bisa bebas memilih pria untuk melewati malam panas bersama," celoteh Anastacya dengan nada riang.
Marrian yang sudah tahu apa yang terjadi pada tubuh Anas, hanya bisa menghela napas pasrah sambil melirik tajam ke arah Jacob. Pria sialan itu sudah menjamah dan menjebak Anas.
Shelly yang memang belum memiliki pengalaman tapi sudah pernah melihat tingkah tidak senonoh ayah dan ibunya, sudah tahu apa yang terjadi pada Anas.
"Kamu berencana melepas keperawananmu pada pria asing ?" Tanya Hanna menatap tidak percaya pada Anas.
"Yupz, aku sudah menunggu saat ini tiba. Di kota yang luar biasa indah, bersama pria asing yang juga luar biasa. Ini akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Tahun depan mungkin aku sudah harus kembali ke negara asalku."
Shelly hanya diam mendengarkan ucapan Anas. Sedangkan Hanna dan Marrian menatap Anas dengan tatapan kagum.
Jacob dapat mendesah napas lega mendengar ucapan Anastacya. Kemungkinan untuk bertanggung jawab terhadap gadis urakan, blak-blakan, dan cuek itu menjadi hal yang tidak diperlukan lagi.
"Memang sudah seharusnya gadis muda sepertimu menghabiskan masa muda dengan menikmati dunia. Tapi memangnya ada pria yang mau bersamamu? Pakaian dan wajahmu tak menarik," sindir Jacob.
Hanna menginjak kaki Jacob di bawah meja makan. Sedangkan Marrian mencubit lengan Jacob dengan keras.
"Akui sekarang," ucap Marrian tiba-tiba.
Shelly, Hanna, dan Anastacya bingung dengan ucapan Marrian.
Jacob yang mengerti maksud ucapan Marrian, akhirnya menarik napas panjang sebelum berkontroversi dengan para gadis muda di ruang makan.
"Semalam aku yang sudah mengambil keperawananmu. Kamu sungguh beruntung kan?" sindir Jacob dengan senyuman mengejek ke arah Anas.
Anastacya yang sedang mengelap bibirnya dengan serbet, menghentikan gerakan tangannya. Dia melempar serbet ke atas meja makan dan bangkit berdiri.
Sebuah pemahaman masuk ke otaknya yang tidak begitu bodoh. Pria tua di depannya ini yang sudah membuatnya kesakitan saat bangun tidur. Bahkan dia tidak sadar telah menghabiskan malam panas bersama pria itu.
"Ck. Pantas saja aku tidak mengingatmu. Kamu sengaja ingin menjebak Hanna kan? Kamu membuatku tidak sadar akan tindakan kasarmu? dasar pria bajingan keparat. Beraninya melakukan hal biadab saat aku tertidur lelap," maki Anas ke Jacob.
Jacob hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. Dengan raut wajah cuek tak peduli ucapan Anas.
Anas mendorong kursi kayu yang dia duduki dengan kasar dan melangkah ke arah tempat duduk Jacob. Jacob masih menyeringai tengil menatap Anas dengan tatapan meremehkan.
Tinju Anas melayang di atas perut Jacob. Namun Jacob tidak menunjukkan reaksi apa pun.
"Hei, gadis urakan. Tinjumu tidak terasa sama sekali. Payah," ejek Jacob.
Wajah Anas terlihat memerah karena menahan malu dan marah. Merasa tidak bisa melawan Jacob secara fisik. Anas melancarkan serangan melalui kalimatnya.
"Milikmu juga kecil. Tidak sebanding dengan milik Vernando Widjaja. Hanna tidak akan puas jika bersamamu. Nando lebih segala-galanya darimu. Tunangan Hanna memang lelaki pujaan kaum hawa," Anas mengucapkan sindirannya dan berjalan meninggalkan ruang makan.
Jacob mengepalkan tinjunya dengan sekuat tenaga ke arah meja makan. Beberapa piring makan bergerak pindah posisi akibat hantaman kuat dari jemari tangan Jacob.
"Gadis sialan," maki Jacob.
Marrian hanya terkekeh melihat tingkah Jacob. Sedangkan Shelly meringis melihat luka tergores di jemari Jacob.
Hanna tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lelaki di sampingnya.
"Umurmu sudah 35 tahun tapi tingkahmu masih seperti anak remaja saja," ucap Hanna dengan tawa merdunya.
#####
Di kamar Anas.
Anastacya sedang mematut dirinya di depan cermin rias. Dengan peralatan make up seadanya, dia merias wajahnya untuk acara nanti di club'.
Marrian sendiri sudah selesai merias diri dan sedang fokus mendandani Shelly.
Sedangkan Hanna berada di kamarnya yang letaknya di sebelah kamar Anas, saat ini sedang berbicara melalui sambungan ponsel dengan adik angkatnya, Amora.
Foundation, bedak, lipgloss, pemerah pipi, semua sudah. Anas sedang mengatur posisi rambut ikal sepinggangnya agar dapat tergulung dengan rapi.
Dia sudah mengenakan gaun ketat, pendek, berwarna gold dengan model terbaru tanpa tali. Bahannya yang licin, membalut tubuh Anas dengan pas. Rambut ikalnya sengaja dia gulung supaya dapat memperlihatkan lekuk lehernya.
"Malam ini adalah sejarah bagiku. Semalam, Jacob boleh mengambil keperawananku. Malam ini aku ingin bersenang-senang dengan pria asing pilihanku." Anas berbicara sendiri di depan cermin. Menatap puas dengan pantulan dirinya.
"Ayo Anas. Kita berangkat," ucap Hanna yang masuk melalui pintu penghubung antara kamar Anas dan Hanna.
"Yups, aku sudah siap."
"Apa kamu mau mengkonsumsi pil kontrasepsi supaya tidak hamil?" Tanya Hanna.
Hanna sendiri meminum pil tersebut sejak awal dia memulai debutnya di dunia modelling. Walaupun baru-baru saja dia melepas keperawanannya pada sang kekasih.
"Tidak. Ini pengalaman pertamaku. Aku yakin pria di luar sana akan memakai pengaman. Club' yang kita datangi bukan club' sembarangan. Jadi, aku pasti aman," ucap Anas dengan keyakinan.
"Itu terserah padamu. Ini saranku saja. Barangkali hal yang kamu anggap mustahil, bisa saja terjadi."
Anas berdecak tanda tak suka dengan pembicaraan mereka. Jadi dia berjalan keluar kamar mendahului Hanna.
"Kamu cantik sekali Anas," puji Shelly saat Hanna dan Anas sudah sampai di ruang tamu. Marrian dan Shelly memang menunggu Anas dan Hanna turun dari lantai dua. Sedangkan Jacob sudah berdiri di teras rumah.
"Ehm...yang jadi supir pribadi Hanna dan Shelly mana ya?" Ejek Anas ketika melihat Jacob.
Jacob berbalik badan dan matanya menelusuri tubuh Anas. Lalu dia tertawa mengejek, "Tubuhmu biasa saja. Mana bisa menarik minat para lelaki di club', sudah kamu di sini saja. Kamu tidak usah ikut."
1.2.3. Anas menahan diri untuk tidak melemparkan umpatan ke arah Jacob.
"Sayang sekali kamu tidak bisa melihat dengan jelas. Aku maklum kok sama kamu, Pak Tua. Usia sudah tua, mengincar gadis muda. Oh...iya. Harta, Tahta, dan wanita. Ckckck. Paket lengkap ya gadis incaranmu." Anas melangkah menjauh dari posisi di mana Jacob berdiri. Marrian mengekor di belakang Anas sambil memelet lidahnya ke Jacob.
Jacob mengamati Anas yang masuk ke dalam mobil sport berwarna kuning dan menstarter mobil itu meninggalkan pekarangan villa.
Pluk...suara tepukan tangan di atas pundak kanan Jacob menyadarkan Jacob akan dua orang gadis muda yang menjadi tangung jawabnya. Hanna dan Shelly. Tangan Hanna yang menepuk pundak Jacob untuk menyadarkan Jacob.
"Anas memang seperti itu orangnya. Dia baik dan peduli terhadap orang lain. Makanya dia rela menukar minumanku dengan miliknya dan menjadi korban nafsu bejatmu," ucap Hanna.
Tersentak mendengar pemaparan fakta dari Hanna membuat Jacob menjadi salah tingkah. Dia mengira Hanna sudah menerima fakta tsb. Memaafkan dirinya yang menjebak Anastacya.
"Maafkan aku Hanna. Aku hanya tertarik padamu jadi melakukan tindakan nekat. Bahkan Anas sendiri yang tidak mau aku bertanggung jawab. Aku mohon lupakan perbuatanku semalam."
Shelly menatap kesal mendengar ucapan Jacob. Dia kesal karena Jacob bukan meminta maaf pada Anas tapi malah mengharapkan simpati dan maaf dari Hanna. Dasar pria.
Shelly melangkah meninggalkan teras menuju mobil yang akan dia tumpangi. Meninggalkan Hanna dan Jacob yang membahas masalah persoalan Anas.
"Dia belum tahu saja siapa Anas itu. Berani menjebak putri kerajaan. Untung saja Anas tidak mempermasalahkan lebih lanjut masalah semalam. Dasar bajingan yang beruntung." oceh Shelly.
