Bab 4 – Dua Gadis Tanpa Identitas
Suara lonceng pertama terdengar bahkan sebelum matahari terbit.
Li Xuan yang masih terlelap langsung menarik selimut menutupi kepalanya. Setelah seharian mengikuti seleksi, tubuhnya terasa seolah baru selesai bertarung melawan satu pasukan.
"Lima menit lagi..." gumamnya.
Li Yue yang sudah duduk di depan cermin kayu menoleh.
"Kalau lima menit lagi, mungkin kita sudah dilempar keluar dari istana."
Mata Li Xuan langsung terbuka.
"Apa?"
Ia bangkit begitu cepat hingga hampir terjatuh dari tempat tidur.
Li Yue menahan tawa.
"Kepala Dapur Gao mengatakan semua pelayan baru harus berkumpul sebelum lonceng kedua."
"Kenapa tidak membangunkanku dari tadi?"
"Aku sudah melakukannya tiga kali."
Li Xuan terdiam.
"Benarkah?"
"Benar."
Tanpa berkata lagi, ia segera mengambil pakaian pelayan dapur yang diberikan malam sebelumnya.
Tak ada lagi hanfu indah dengan sulaman benang emas yang biasa mereka kenakan sebagai putri Kekaisaran Tianlong. Kini keduanya mengenakan pakaian sederhana berwarna hijau pucat dengan celemek putih.
Rambut panjang mereka juga harus diikat sederhana.
Li Xuan memandangi dirinya di cermin.
"Kalau Ayahanda melihat kita seperti ini..."
Senyumnya perlahan menghilang.
Li Yue yang mendengar ucapan itu menghentikan tangannya.
Untuk beberapa detik, kamar menjadi sunyi.
"Ayahanda pasti tertawa," kata Li Yue akhirnya.
Li Xuan tersenyum kecil.
"Dan Ibu pasti mengatakan ikatan rambutku berantakan."
Keduanya tertawa pelan.
Kesedihan masih ada.
Namun mereka tahu tidak mungkin terus hidup dengan meratapi masa lalu.
Atau lebih tepatnya...
Masa depan yang mereka tinggalkan.
---
Ketika tiba di halaman dapur, para pelayan baru sudah berbaris.
Kepala Dapur Gao berdiri di depan mereka.
Wajahnya tetap sama dinginnya seperti kemarin.
"Kalian berhasil melewati seleksi."
"Tapi jangan merasa bangga."
Ia berjalan perlahan di depan barisan.
"Menjadi bagian dari Dapur Kekaisaran berarti nyawa kalian berada di ujung pisau."
"Kesalahan kecil dapat membuat seorang bangsawan marah."
"Kesalahan besar..."
Tatapannya berhenti pada Li Xuan.
"...dapat membuat kepala kalian terpisah dari tubuh."
Li Xuan menelan ludah.
Li Yue tetap menundukkan kepala.
Gao kemudian menunjuk seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun.
"Ini Bibi Chen. Dia mengatur para pelayan dapur."
Wanita itu maju.
Wajahnya tidak sekeras Gao, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia bukan orang yang mudah dibohongi.
"Ikuti aku."
---
Hari pertama ternyata jauh berbeda dari yang dibayangkan Li Xuan.
Ia mengira mereka akan langsung memasak.
Ternyata tidak.
Mereka disuruh mencuci ratusan mangkuk.
Mengangkat karung beras.
Membersihkan sayuran.
Mengambil air.
Menyapu lantai.
Dan pekerjaan paling melelahkan...
Mengupas bawang.
Li Xuan menatap gunungan bawang di hadapannya dengan putus asa.
"Di masa depan kita punya mesin untuk melakukan semua ini."
Li Yue yang duduk di sebelahnya segera berbisik,
"Jangan menyebut masa depan."
"Aku tahu."
Li Xuan menghela napas.
"Tapi tetap saja..."
Ia mengambil satu bawang lagi.
"Kenapa menjadi juru masak istana harus dimulai dari mengupas bawang?"
Seorang gadis di sebelah mereka tertawa.
"Kalian baru datang, ya?"
Keduanya menoleh.
Gadis itu terlihat sedikit lebih muda daripada mereka.
Namanya Xiao Tao.
Ia sudah bekerja di dapur selama hampir dua tahun.
"Semua orang memulai dari bawah."
Xiao Tao berbisik,
"Bahkan Kepala Dapur Gao dulu katanya pernah membersihkan kandang ayam."
Li Xuan hampir tertawa keras.
Namun suara seseorang membuat semuanya langsung diam.
"Apa yang lucu?"
Gao berdiri tidak jauh dari mereka.
Li Xuan buru-buru menunduk.
"Tidak ada, Kepala Dapur."
Gao menatapnya curiga sebelum berjalan pergi.
Setelah ia cukup jauh, Xiao Tao menahan tawa.
Li Xuan berbisik,
"Kau hampir membuatku kehilangan kepala."
---
Menjelang siang, sebuah keributan tiba-tiba terjadi di depan dapur utama.
Beberapa kasim berlari masuk.
"Buka jalan!"
"Utusan dari Aula Kekaisaran!"
Semua pelayan langsung menyingkir.
Seorang kasim berpakaian biru tua masuk dengan wajah tegang.
"Yang Mulia Kaisar tidak menyentuh makan siangnya."
Kepala Dapur Gao langsung datang.
"Apa yang terjadi?"
"Yang Mulia kehilangan selera makan sejak tiga hari terakhir."
Gao mengerutkan kening.
"Kami sudah mengirim hidangan terbaik."
"Itulah masalahnya."
Kasim itu menurunkan suara.
"Yang Mulia mengatakan semua makanan terlalu berat."
Gao terdiam.
Kalau Kaisar terus tidak makan, seluruh dapur bisa mendapat masalah.
"Siapkan bubur sarang burung."
"Sudah."
"Sup ayam ginseng?"
"Sudah."
"Bubur teratai?"
"Juga sudah."
Wajah Gao semakin tegang.
Para koki senior mulai berdiskusi.
Tak seorang pun menyadari bahwa Li Yue mendengarkan dari kejauhan.
Ia memikirkan sesuatu.
"Kak..."
Li Xuan berbisik.
"Kaisar mungkin bukan membutuhkan makanan mewah."
Li Yue mengangguk.
"Aku juga berpikir begitu."
Mereka saling berpandangan.
Kemudian Li Yue mengangkat tangan.
"Maaf..."
Semua orang menoleh.
Gao langsung mengerutkan kening.
"Apa?"
Li Yue membungkuk.
"Bisakah kami mencoba membuat sesuatu?"
Dapur mendadak hening.
Beberapa koki bahkan menatapnya seolah ia baru saja mengatakan ingin mengambil alih singgasana.
Gao tertawa sinis.
"Kau baru bekerja satu hari."
"Aku tahu."
"Dan kau ingin memasak untuk Kaisar?"
Li Yue tetap tenang.
"Bukan hidangan utama."
"Hanya sesuatu yang mungkin bisa mengembalikan selera makan Yang Mulia."
Seorang koki senior mencibir.
"Anak muda selalu terlalu percaya diri."
Namun kasim dari Aula Kekaisaran justru tertarik.
"Apa yang ingin kau buat?"
Li Yue menjawab,
"Bubur."
Semua orang terdiam.
Kemudian beberapa koki tertawa.
"Bubur?"
"Kaisar sudah menolak bubur teratai!"
"Dia pikir bubur biasa akan berhasil?"
Gao menatap Li Yue.
"Bahan apa?"
"Beras."
"Jahe."
"Daun bawang."
"Sedikit ayam."
"Dan telur."
Hanya itu.
Gao hampir menyuruhnya kembali bekerja.
Namun kasim mengangkat tangan.
"Biarkan dia mencoba."
"Kasim Wu..."
"Kita sudah mencoba hampir semuanya."
Ia menatap Li Yue.
"Kalau gagal, kau bertanggung jawab."
Li Yue membungkuk.
"Saya mengerti."
---
Li Yue segera mulai memasak.
Ia memilih beras terbaik lalu mencucinya perlahan.
Li Xuan membantu membuat kaldu ayam ringan.
Tidak ada ginseng.
Tidak ada sarang burung.
Tidak ada bahan mahal.
Li Yue memasak beras hingga menjadi bubur lembut.
Kemudian ia memasukkan sedikit jahe.
Ayam disuwir tipis.
Telur dibuat menjadi helaian lembut.
Terakhir, daun bawang ditaburkan tepat sebelum mangkuk ditutup.
Aromanya sederhana.
Namun hangat.
Xiao Tao yang berdiri di dekat mereka menghirup aromanya.
"Ini mengingatkanku pada masakan ibuku."
Li Yue tersenyum.
"Itulah tujuannya."
---
Mangkuk itu dibawa menuju Aula Naga.
Tak ada yang tahu apa yang terjadi selama beberapa menit berikutnya.
Li Xuan mondar-mandir.
"Bagaimana kalau Kaisar tidak suka?"
"Kita terima akibatnya."
"Bagaimana kalau dia marah?"
"Kita terima akibatnya."
"Bagaimana kalau kepala kita dipenggal?"
Li Yue menatapnya.
"Untuk yang itu... aku lebih memilih melarikan diri."
Li Xuan membelalakkan mata.
Kemudian keduanya hampir tertawa.
Namun sebelum sempat melanjutkan, Kasim Wu kembali.
Seluruh dapur langsung diam.
Gao melangkah maju.
"Bagaimana?"
Kasim Wu menatap Li Yue.
"Yang Mulia..."
Ia berhenti.
"...menghabiskan semuanya."
Keheningan berlangsung beberapa detik.
Kemudian terdengar bisikan di seluruh dapur.
"Mustahil."
"Semangkuk bubur sederhana?"
"Bagaimana bisa?"
Li Xuan tersenyum lebar.
Namun wajah Kepala Dapur Gao justru menjadi semakin gelap.
"Yang Mulia bahkan meminta mangkuk kedua."
Kasim Wu kemudian menyerahkan sebuah keping perak kepada Li Yue.
"Hadiah dari Kaisar."
Li Yue menerimanya dengan kedua tangan.
"Terima kasih."
Sebelum pergi, Kasim Wu berkata,
"Besok pagi, buat bubur yang sama."
"Yang Mulia menginginkannya."
---
Malam harinya, kabar tentang dua pelayan baru yang berhasil membuat Kaisar makan menyebar cepat.
Beberapa orang memuji.
Namun tidak semuanya senang.
Di sudut gelap dapur, seorang koki senior memandang Li Yue dengan tatapan penuh kebencian.
Namanya Wang Fu.
Selama bertahun-tahun, ia berharap menjadi koki pribadi Kaisar.
Kini dua gadis yang baru datang justru mendapat perhatian.
"Kita lihat berapa lama keberuntungan mereka bertahan," gumamnya.
---
Sementara itu, Li Yue dan Li Xuan kembali ke kamar.
Li Xuan meletakkan keping perak di meja.
"Hari pertama bekerja dan kita sudah mendapat hadiah Kaisar."
"Jangan terlalu senang."
Li Yue mengambil Kitab Resep Kekaisaran dari tempat persembunyiannya.
Ia membuka halaman pertama.
Tidak terjadi apa-apa.
Kemudian Giok Naga Waktu diletakkan di atasnya.
Cahaya biru kembali muncul.
Tulisan perlahan terbentuk.
Namun kali ini berbeda.
Hanya ada tiga baris.
Dinasti Zhao.
Tahun ke-18 pemerintahan Kaisar Zhao Cheng.
Seratus delapan puluh tiga hari sebelum Gerhana Naga.
Li Yue membeku.
"Dinasti Zhao..."
Li Xuan mendekat.
"Kenapa?"
Wajah Li Yue berubah pucat.
Ia mengenal nama itu.
Semua keturunan Tianlong mempelajari sejarah dinasti-dinasti sebelum berdirinya kekaisaran mereka.
Namun Dinasti Zhao memiliki tempat khusus dalam sejarah.
"Kak, katakan sesuatu."
Li Yue menatap adiknya.
"Dinasti Zhao runtuh pada tahun ke-18 pemerintahan Kaisar Zhao Cheng."
Li Xuan terdiam.
"Itu berarti..."
"Benar."
Li Yue menatap tulisan bercahaya itu.
"Menurut sejarah yang kita pelajari..."
Ia menarik napas.
"...Kaisar Zhao Cheng akan meninggal sebelum tahun ini berakhir."
Mereka baru saja memasuki istana seorang Kaisar yang seharusnya segera mati.
Dan lebih buruk lagi...
Mereka baru saja membuat makanan untuknya.
---
Pada saat yang sama, di Paviliun Timur, Pangeran Mahkota Zhao Wei berdiri di depan jendela.
Di tangannya terdapat laporan mengenai bubur yang dimakan Kaisar.
"Li Yue..."
Ia mengulang nama itu perlahan.
Pengawalnya, Han Rui, berdiri di belakangnya.
"Yang Mulia masih mencurigai mereka?"
Zhao Wei tidak menjawab langsung.
Ia mengambil sebuah dokumen lain.
"Han Rui."
"Ya, Yang Mulia."
"Cari desa asal mereka."
Han Rui mengangguk.
"Baik."
Pangeran Mahkota menatap bulan.
"Aku ingin mengetahui siapa sebenarnya Li Yue dan Li Xuan."
Sebab ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Dua gadis tanpa surat perjalanan.
Tanpa keluarga.
Tanpa riwayat.
Tiba-tiba muncul di ibu kota.
Lalu dalam waktu satu hari berhasil menarik perhatian Kaisar.
Zhao Wei tidak percaya pada kebetulan.
Dan tanpa diketahui kedua putri kembar itu, penyelidikan mengenai identitas mereka telah dimulai.