Bab 3 – Terbangun di Dinasti Kuno
Mentari pagi baru saja muncul di balik tembok tinggi istana ketika Li Yue dan Li Xuan meninggalkan rumah Nenek Lin. Udara masih terasa sejuk, sementara jalanan ibu kota mulai dipenuhi para pedagang yang membuka lapak. Aroma roti kukus, bubur hangat, dan teh melati bercampur menjadi satu, membuat kota itu terasa hidup.
Li Xuan menarik napas dalam-dalam.
"Aku tidak pernah membayangkan masa lalu seindah ini."
Li Yue hanya tersenyum tipis.
"Jangan lengah. Semakin indah tempat ini, semakin banyak rahasia yang disembunyikan."
Mereka masih mengingat pesan misterius yang muncul dari Kitab Resep Kekaisaran malam sebelumnya.
Temukan Kaisar Sejati sebelum Gerhana Naga. Jika tidak, sejarah akan musnah.
Kalimat itu terus terngiang di kepala Li Yue.
Namun sebelum mencari jawaban, mereka harus bertahan hidup terlebih dahulu.
Dan satu-satunya jalan adalah memasuki dapur kekaisaran.
---
Di depan Gerbang Phoenix, antrean panjang telah mengular.
Puluhan pria dan wanita membawa keranjang berisi bahan makanan, pisau dapur, hingga panci kesayangan mereka. Semua datang dengan satu tujuan—mengikuti seleksi juru masak istana.
Li Xuan menelan ludah.
"Banyak sekali."
"Karena menjadi juru masak istana adalah impian banyak orang," jawab Li Yue.
Selain gaji yang tinggi, posisi itu juga membawa kehormatan bagi seluruh keluarga.
Tak lama kemudian, seorang kasim tua keluar membawa gulungan perintah kekaisaran.
"Diam!"
Suasana langsung hening.
"Hari ini, Dapur Kekaisaran membuka penerimaan pelayan dapur dan juru masak tingkat dasar. Siapa pun yang gagal mematuhi aturan akan langsung didiskualifikasi."
Beberapa prajurit membuka gerbang.
Para peserta mulai memasuki kompleks dapur.
Li Xuan membelalakkan mata.
"Ini..."
Kompleks itu jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Belasan bangunan berjajar rapi.
Gudang beras.
Ruang penyimpanan rempah.
Dapur utama.
Dapur kue.
Gudang teh.
Gudang daging.
Ruang pencuci peralatan.
Puluhan koki berpakaian putih hilir mudik membawa nampan.
Asap mengepul dari tungku-tungku besar.
Suara pisau memotong sayuran terdengar bersahutan.
Li Yue tersenyum kecil.
"Benar-benar dapur kekaisaran."
---
Mereka diarahkan menuju halaman luas.
Di sana berdiri seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan janggut tipis dan wajah yang tampak keras.
Semua orang langsung menundukkan kepala.
"Itu Kepala Dapur Gao," bisik seseorang.
Nama itu segera diingat oleh Li Yue.
Tatapan Gao menyapu seluruh peserta.
"Di sini tidak ada belas kasihan."
"Siapa yang tidak mampu bekerja, akan diusir."
"Siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya."
"Siapa yang meracuni makanan kekaisaran..."
Ia berhenti sejenak.
"...akan dihukum mati."
Suasana menjadi sunyi.
Tak seorang pun berani mengangkat kepala.
Li Xuan bahkan tanpa sadar menggenggam lengan kakaknya.
---
Seleksi pertama dimulai.
Para peserta diminta membersihkan ikan hidup dalam waktu singkat.
Beberapa orang terlihat gugup.
Ada yang tangannya terluka karena sisik.
Ada yang menjatuhkan ikan ke tanah.
Namun Li Yue bergerak tenang.
Pisau di tangannya menari dengan lincah.
Dalam beberapa tarikan napas saja, ikan itu telah bersih tanpa merusak dagingnya sedikit pun.
Beberapa koki senior saling berpandangan.
"Gadis itu..."
"Tekniknya sangat rapi."
Sementara itu Li Xuan juga tidak kalah cepat.
Ia bahkan berhasil membersihkan dua ekor ikan sebelum peserta lain menyelesaikan satu.
Kepala Dapur Gao memperhatikan mereka dari kejauhan.
Tatapannya menyipit.
"Dua gadis itu..."
---
Ujian berikutnya adalah memotong sayuran.
Semua peserta diberi lobak putih.
"Tebal setiap irisan harus sama."
"Bila berbeda sedikit saja, gagal."
Beberapa peserta mulai panik.
Namun bagi Li Yue, tugas itu terasa sangat mudah.
Ia pernah menggunakan mesin pemotong otomatis di masa depan.
Kini hanya dengan pisau biasa, tangannya tetap stabil.
Setiap irisan memiliki ukuran yang hampir sama sempurna.
Li Xuan bahkan membentuk bunga dari lobak itu.
Para koki senior mulai berbisik.
"Gadis itu kreatif."
"Jarang ada peserta seperti mereka."
Namun...
Semakin banyak pujian yang mereka terima...
Semakin dingin pula tatapan Kepala Dapur Gao.
---
Menjelang tengah hari, peserta yang tersisa tinggal dua puluh orang.
Seleksi berikutnya jauh lebih sulit.
Mereka diminta membuat semangkuk sup sederhana hanya dengan bahan yang tersedia.
Li Xuan melihat isi meja.
Ayam.
Jahe.
Daun bawang.
Jamur.
Garam.
Tidak ada bumbu istimewa.
Peserta lain mulai memasak secepat mungkin.
Li Yue justru memejamkan mata beberapa detik.
Ia teringat pelajaran dari Permaisuri Mei Lin.
"Masakan terbaik bukan yang paling mahal, tetapi yang mampu menghangatkan hati orang yang memakannya."
Li Yue membuka mata.
"Ayo."
Mereka mulai bekerja.
---
Li Yue merebus tulang ayam perlahan agar kaldunya bening.
Li Xuan memanggang jahe terlebih dahulu untuk mengeluarkan aroma.
Kemudian ia menambahkan daun bawang pada saat yang tepat agar tetap segar.
Jamur dipotong tipis.
Tidak terlalu tebal.
Tidak terlalu tipis.
Semua dilakukan tanpa terburu-buru.
Peserta lain mulai melirik.
"Gadis-gadis itu memasak seperti sudah bertahun-tahun bekerja."
---
Satu jam kemudian.
Semua mangkuk sup disusun di meja panjang.
Kepala Dapur Gao mulai mencicipinya satu per satu.
Wajahnya datar.
"Hambar."
"Terlalu asin."
"Berlemak."
"Suhu tidak tepat."
Banyak peserta langsung pucat.
Ketika ia mengambil mangkuk milik Li Yue dan Li Xuan...
Seluruh ruangan seolah menahan napas.
Gao mencicipi satu sendok.
Kemudian satu sendok lagi.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun gerakan tangannya berhenti.
Beberapa koki senior saling menatap.
"Itu pertama kalinya Kepala Dapur mengambil sendok kedua."
Namun ekspresi Gao tetap dingin.
"Bisa dimakan."
Hanya tiga kata.
Tetapi para koki senior langsung terkejut.
Mereka tahu.
Kalimat itu adalah pujian tertinggi yang pernah keluar dari mulut Gao.
Li Xuan hampir tersenyum, tetapi Li Yue segera menyenggol lengannya agar tetap tenang.
---
Setelah seluruh penilaian selesai, kasim membacakan hasil seleksi.
"Dari seratus dua belas peserta..."
"Hanya sepuluh orang yang diterima."
Nama-nama mulai disebutkan.
Li Yue.
Li Xuan.
Mereka saling berpandangan lega.
Akhirnya...
Mereka berhasil memasuki dapur kekaisaran.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Saat para peserta baru bersiap mengikuti pelayan menuju asrama, Kepala Dapur Gao menghentikan langkah mereka.
"Kalian berdua."
Li Yue dan Li Xuan membungkuk hormat.
"Ada yang bisa kami bantu, Kepala Dapur?"
Gao menatap mereka lama.
"Dari siapa kalian belajar memasak?"
Li Yue sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.
"Kami belajar dari ibu kami."
"Siapa nama ibu kalian?"
Li Yue menjawab tanpa ragu.
"Nyonya Lin."
Ia sengaja menggunakan nama keluarga yang umum agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Gao masih memandang mereka.
Entah mengapa, instingnya mengatakan kedua gadis itu menyembunyikan sesuatu.
Tetapi ia tidak menemukan bukti.
"Kalian boleh pergi."
---
Malam itu, Li Yue dan Li Xuan akhirnya menempati kamar kecil di asrama pelayan dapur.
Ruangan itu sederhana.
Hanya ada dua tempat tidur kayu, sebuah meja kecil, dan jendela yang menghadap taman.
Li Xuan langsung merebahkan tubuhnya.
"Akhirnya..."
"Aku tidak menyangka kita benar-benar berhasil."
Li Yue duduk di dekat jendela.
Tatapannya mengarah ke langit malam.
"Ini baru permulaan."
"Kita sudah berada di dalam istana."
"Itu berarti kita juga semakin dekat dengan bahaya."
Li Xuan mengangguk pelan.
Ia tahu kakaknya benar.
Di balik kemegahan istana, tersembunyi banyak rahasia.
Dan mungkin...
Dalang yang menghancurkan masa depan mereka telah memulai langkahnya sejak zaman ini.
Di kejauhan, lonceng malam berbunyi tiga kali.
Sementara itu, dari sebuah paviliun mewah di bagian dalam istana, seorang pemuda berpakaian kebesaran pangeran sedang membaca laporan seleksi dapur.
Tatapannya berhenti pada dua nama.
Li Yue.
Li Xuan.
Ia tersenyum samar.
"Dua gadis itu... menarik."
Di belakangnya, seorang pengawal bertanya, "Apakah Yang Mulia ingin menyelidiki mereka?"
Pangeran menutup gulungan laporan.
"Belum."
"Namun firasatku mengatakan..."
"Suatu hari nanti, seluruh istana akan mengenal nama mereka."
Di luar jendela, angin malam kembali berembus, membawa takdir kedua putri kembar selangkah lebih dekat menuju pusat intrik Kekaisaran.