Bab 5 – Seleksi Pelayan Dapur
Fajar belum sepenuhnya menyentuh atap-atap istana ketika Li Yue terbangun.
Cahaya tipis memasuki kamar kecil mereka melalui jendela kayu. Di tempat tidur sebelah, Li Xuan masih tertidur dengan selimut menutupi hampir seluruh wajahnya.
Namun Li Yue tidak mampu tidur nyenyak sepanjang malam.
Tiga baris tulisan yang muncul dari Kitab Resep Kekaisaran terus memenuhi pikirannya.
Dinasti Zhao.
Tahun ke-18 pemerintahan Kaisar Zhao Cheng.
Seratus delapan puluh tiga hari sebelum Gerhana Naga.
Lebih mengkhawatirkan lagi, berdasarkan sejarah yang dipelajarinya sejak kecil, tahun kedelapan belas merupakan tahun terakhir pemerintahan Kaisar Zhao Cheng.
Seharusnya sang Kaisar akan meninggal.
Setelah itu, Dinasti Zhao memasuki kekacauan.
Perebutan takhta terjadi.
Perang saudara pecah.
Ribuan orang meninggal.
Dan dalam catatan sejarah Kekaisaran Tianlong, kehancuran Dinasti Zhao menjadi salah satu peristiwa yang akhirnya melahirkan garis keturunan kekaisaran mereka.
Tetapi ada sesuatu yang terasa salah.
Li Yue mengingat kembali pelajaran sejarahnya.
Penyebab kematian Kaisar Zhao Cheng tidak pernah diketahui secara pasti.
Catatan resmi hanya menyebutkan bahwa Kaisar meninggal karena penyakit mendadak.
Bagaimana jika itu bukan penyakit?
Bagaimana jika...
Kaisar dibunuh?
Li Yue memandangi Giok Naga Waktu yang kini tersembunyi di bawah pakaiannya.
Pesan pertama mengatakan mereka harus menemukan Kaisar Sejati sebelum Gerhana Naga.
Siapa Kaisar Sejati itu?
Zhao Cheng?
Pangeran Mahkota?
Atau seseorang yang namanya telah dihapus dari sejarah?
"Kak..."
Suara mengantuk Li Xuan memecah lamunannya.
"Kau sudah bangun?"
Li Yue menoleh.
"Kita harus segera ke dapur."
Li Xuan langsung duduk.
"Kaisar meminta bubur lagi!"
Ia melompat dari tempat tidur.
Li Yue hampir tertawa melihat kepanikannya.
"Masih ada waktu."
"Kenapa Kakak tidak membangunkanku?"
"Karena kali ini kau bangun sendiri."
Li Xuan berhenti.
"Oh."
Keduanya saling menatap.
Kemudian tertawa kecil.
Untuk sesaat, beban besar di pundak mereka terasa lebih ringan.
---
Dapur Kekaisaran sudah ramai ketika mereka tiba.
Para pelayan membawa keranjang sayuran segar dari pasar. Beberapa koki memotong daging, sementara yang lain menyalakan tungku.
Namun ketika Li Yue dan Li Xuan memasuki ruangan...
Beberapa orang langsung menoleh.
Bisikan mulai terdengar.
"Itu mereka."
"Dua gadis yang membuat bubur untuk Kaisar."
"Katanya Yang Mulia menghabiskan dua mangkuk."
"Benarkah?"
"Padahal Koki Wang sudah membuat sup terbaik dan ditolak."
Li Xuan mendekat kepada kakaknya.
"Sepertinya kita terkenal."
Li Yue berbisik,
"Dan itu bukan hal yang bagus."
Benar saja.
Dari meja besar di tengah dapur, Wang Fu menatap mereka dengan wajah tidak bersahabat.
Ia adalah salah satu koki senior.
Selama hampir dua puluh tahun bekerja di Dapur Kekaisaran, Wang Fu dikenal ahli membuat hidangan daging dan sup.
Namun kemarin...
Sup buatannya ditolak Kaisar.
Sedangkan bubur sederhana buatan Li Yue justru dihabiskan.
Bagi seorang koki yang memiliki harga diri tinggi, hal itu merupakan penghinaan.
"Li Yue!"
Suara Kepala Dapur Gao terdengar.
Li Yue segera maju.
"Ya, Kepala Dapur."
"Buat bubur untuk Yang Mulia."
"Baik."
Gao kemudian menatap Li Xuan.
"Kau bantu dia."
Li Xuan membungkuk.
"Baik."
Namun ketika mereka hendak mengambil bahan...
Wang Fu berdiri.
"Kepala Dapur."
Gao menoleh.
"Ada apa?"
Wang Fu tersenyum tipis.
"Menurut saya, tidak pantas membiarkan pelayan baru terus memasak makanan untuk Kaisar."
Ruangan menjadi hening.
"Kenapa?"
"Keselamatan Yang Mulia adalah tanggung jawab kita."
Wang Fu menatap Li Yue.
"Kita bahkan tidak tahu siapa mereka."
Beberapa koki mengangguk.
Li Yue tetap tenang.
Wang Fu melanjutkan.
"Mereka tidak memiliki keluarga di ibu kota."
"Tidak membawa surat perjalanan."
"Dan tiba-tiba muncul tepat ketika Dapur Kekaisaran membuka penerimaan."
Tatapan semua orang berubah.
Li Xuan mengepalkan tangan.
Li Yue menyentuh lengannya pelan, menyuruhnya diam.
Kepala Dapur Gao tampak berpikir.
Ia sebenarnya juga memiliki kecurigaan yang sama.
"Jadi apa usulmu?" tanyanya.
Wang Fu tersenyum.
"Uji mereka."
Li Xuan mengerutkan kening.
"Uji?"
"Benar."
Wang Fu berjalan ke tengah ruangan.
"Jika mereka memang layak bekerja di sini, mereka harus mampu membuktikan kemampuan tanpa keberuntungan."
Gao tidak langsung menjawab.
Namun beberapa koki mulai setuju.
Akhirnya ia berkata,
"Baik."
Li Yue mengangkat kepala.
"Kami menerima."
Wang Fu tersenyum puas.
Ia yakin dua gadis itu akan gagal.
---
Tak lama kemudian, sebuah meja besar disiapkan.
Di atasnya hanya terdapat beberapa bahan.
Tahu.
Jamur.
Kubis.
Telur.
Daun bawang.
Dan sedikit daging ayam.
Wang Fu berkata,
"Kalian harus membuat tiga hidangan."
Li Xuan menatap bahan-bahan tersebut.
"Hanya dengan ini?"
"Benar."
"Batas waktu satu jam."
Li Yue tersenyum tipis.
"Baik."
Gao mengangkat tangan.
"Mulai."
---
Li Yue langsung mengambil tahu.
Li Xuan memotong jamur.
Gerakan mereka begitu selaras seolah sudah mengetahui pikiran satu sama lain.
Memang sejak kecil mereka selalu memasak bersama.
Li Yue ahli mengatur rasa.
Li Xuan memiliki kreativitas luar biasa dalam penyajian.
Ketika keduanya bekerja bersama, hampir tidak diperlukan percakapan.
Li Yue mengiris tahu sangat tipis.
Begitu tipis hingga beberapa koki mendekat untuk melihat.
"Apa yang dia lakukan?"
Irisan tahu itu kemudian dipotong lagi menjadi benang-benang halus.
Li Xuan menyiapkan kaldu bening.
Ia memasukkan jamur dan sedikit ayam.
Kemudian Li Yue memasukkan tahu tersebut.
Saat matang...
Potongan tahu mengembang seperti bunga putih di dalam sup.
Beberapa koki terdiam.
"Teknik apa itu?"
Mereka belum pernah melihatnya.
Hidangan kedua dibuat dari kubis.
Li Xuan memisahkan setiap lembar daun dengan hati-hati.
Ayam dicincang bersama jamur lalu dibumbui.
Isian itu dibungkus menggunakan daun kubis.
Kemudian dikukus.
Untuk hidangan ketiga...
Mereka menggunakan telur.
Li Yue mengocok telur bersama kaldu hangat dengan perbandingan tertentu.
Kemudian mengukusnya dengan api sangat kecil.
Hasilnya begitu lembut.
Permukaannya seperti sutra.
Li Xuan menghiasnya dengan daun bawang membentuk bunga kecil.
Satu jam belum selesai ketika mereka meletakkan tiga hidangan di meja.
"Selesai."
Dapur menjadi sunyi.
---
Kepala Dapur Gao mencicipi sup tahu terlebih dahulu.
Matanya sedikit berubah.
Kaldu itu ringan tetapi kaya rasa.
Kemudian kubis isi.
Sederhana.
Namun perpaduan teksturnya sangat seimbang.
Terakhir telur kukus.
Begitu lembut hingga hampir meleleh di mulut.
Gao meletakkan sendok.
Wang Fu bertanya,
"Bagaimana?"
Gao tidak menjawab.
Sebaliknya ia mengambil mangkuk sup tahu dan menyerahkannya kepada Wang Fu.
"Cicipi."
Wang Fu tidak punya pilihan.
Ia mengambil satu sendok.
Wajahnya langsung berubah.
Namun ia segera menyembunyikannya.
"Biasa saja."
Beberapa koki menahan senyum.
Semua tahu ia berbohong.
Kepala Dapur Gao menatap Li Yue.
"Siapa yang mengajarkan teknik memotong tahu itu?"
Pertanyaan itu membuat Li Yue sedikit terdiam.
Teknik tersebut berasal dari resep kuno yang telah dikembangkan selama ratusan tahun di masa depan.
"Ibu kami."
Jawaban yang sama.
Gao menyipitkan mata.
"Ibu kalian pasti seorang koki hebat."
Li Yue tersenyum kecil.
"Beliau memang luar biasa."
Dan itu bukan kebohongan.
Permaisuri Mei Lin memang orang pertama yang mengajarkan mereka memasak.
---
Tiba-tiba Kasim Wu datang tergesa-gesa.
"Apakah bubur Yang Mulia sudah siap?"
Semua orang membeku.
Li Yue dan Li Xuan saling berpandangan.
Mereka terlalu sibuk mengikuti ujian.
"Beri kami waktu sebentar," kata Li Yue.
Namun Kasim Wu melihat tiga hidangan di meja.
"Apa ini?"
Gao menjelaskan singkat mengenai ujian.
Kasim Wu mencicipi sup tahu.
Matanya langsung berbinar.
"Bawa ini juga."
Wang Fu terkejut.
"Kasim Wu..."
"Yang Mulia mungkin menyukainya."
Tidak ada yang berani membantah.
---
Beberapa saat kemudian, bubur dan sup tahu dibawa menuju kediaman Kaisar.
Namun sebelum nampan meninggalkan dapur, Li Yue tiba-tiba mencium sesuatu.
Aroma yang sangat samar.
Ia mengerutkan kening.
"Tunggu."
Kasim pembawa makanan berhenti.
"Ada apa?"
Li Yue mendekati nampan.
Ia mencium bubur.
Normal.
Kemudian sup.
Normal.
Lalu...
Tatapannya berhenti pada sendok perak yang diletakkan di samping mangkuk.
Ada sedikit bubuk putih pada gagangnya.
Hampir tidak terlihat.
Jantung Li Yue berdetak cepat.
Ia mengenal aroma itu.
Di masa depan, bahan tersebut sudah lama dilarang.
Racun yang berasal dari campuran beberapa tumbuhan.
Tidak langsung membunuh.
Tetapi jika dikonsumsi sedikit demi sedikit...
Tubuh korban akan melemah.
Gejalanya menyerupai penyakit biasa.
Li Yue mengambil kain dan menyentuh bubuk tersebut.
"Kak?"
Li Xuan langsung menyadari perubahan wajahnya.
Li Yue menatap Kasim Wu.
"Jangan bawa makanan ini kepada Kaisar."
Semua orang terkejut.
Kepala Dapur Gao membentak,
"Apa maksudmu?"
Li Yue menunjukkan kain tersebut.
"Ini..."
Ia menarik napas.
"...racun."
Dapur seketika menjadi sunyi.
Kasim Wu memucat.
"Racun?"
Wang Fu langsung berkata,
"Omong kosong!"
Namun Li Yue tidak mengalihkan pandangan dari bubuk itu.
"Aku yakin."
Kepala Dapur Gao segera memanggil tabib.
Beberapa menit kemudian, Tabib Istana tiba.
Ia memeriksa bubuk tersebut.
Wajahnya perlahan berubah.
"Dia benar."
Semua orang menahan napas.
"Ini racun."
Kasim Wu hampir menjatuhkan nampan.
"Siapa yang berani..."
Tak ada yang menjawab.
Namun kemudian seorang pelayan berkata,
"Sendok itu tadi..."
Ia menunjuk meja.
"...disiapkan oleh Koki Wang."
Semua kepala langsung menoleh.
Wang Fu membeku.
"Apa?"
Wajahnya memucat.
"Bukan aku!"
Dua penjaga segera masuk.
Wang Fu mundur.
"Aku tidak melakukannya!"
Tetapi tidak ada yang mendengarkan.
Kepala Dapur Gao memerintahkan,
"Tahan dia."
Penjaga menyeret Wang Fu keluar.
"Tunggu!"
"Aku dijebak!"
Teriakannya semakin jauh.
Li Yue memandangi pintu.
Anehnya...
Ia tidak merasa Wang Fu pelakunya.
Orang yang ingin meracuni Kaisar tidak mungkin meninggalkan bukti semudah itu.
Seseorang sengaja membuat Wang Fu terlihat bersalah.
Li Xuan mendekatinya.
"Kak..."
Li Yue berbisik sangat pelan,
"Ini bukan percobaan pertama."
Li Xuan menatapnya.
"Maksudmu?"
Li Yue teringat catatan sejarah.
Kaisar Zhao Cheng meninggal karena penyakit misterius.
Sekarang semuanya mulai masuk akal.
"Mungkin Kaisar bukan sedang sakit."
Matanya mengarah ke istana utama.
"Mungkin selama ini..."
"...seseorang sedang meracuninya perlahan."
---
Di tempat lain, seorang pria berjubah hitam berdiri di balik tirai sebuah paviliun.
Seorang pelayan berlutut di hadapannya.
"Rencana gagal."
Pria itu menggenggam cangkir teh.
"Siapa yang menemukannya?"
"Pelayan dapur baru."
"Namanya?"
"Li Yue."
Cangkir di tangannya berhenti.
"Li Yue..."
Ia tersenyum dingin.
"Kalau begitu..."
"Singkirkan gadis itu."
Sementara itu, tanpa diketahui Li Yue dan Li Xuan, sejak mereka menemukan racun tersebut, mereka bukan lagi sekadar dua pelayan dapur.
Mereka telah menjadi ancaman bagi seseorang yang selama bertahun-tahun bersembunyi di balik kemegahan istana.
Dan permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.