Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 – Cahaya Giok Naga Waktu

Embun pagi masih menggantung di ujung dedaunan bambu ketika Li Yue perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berat, seolah-olah baru saja terbangun dari mimpi yang sangat panjang. Di sampingnya, Li Xuan masih terduduk sambil memegangi pelipisnya.

Mereka saling berpandangan.

"Kak... kita benar-benar masih hidup?" bisik Li Xuan dengan suara bergetar.

Li Yue mengangguk pelan, meski hatinya sendiri dipenuhi kebingungan.

"Aku juga tidak tahu bagaimana kita bisa selamat."

Ia memandang sekeliling. Hutan bambu itu begitu tenang. Burung-burung berkicau di antara batang bambu yang menjulang tinggi, sementara angin pagi membawa aroma tanah yang lembap.

Tak ada lagi gedung pencakar langit dari Kekaisaran Tianlong di masa depan. Tak ada kendaraan terbang, robot pelayan, atau menara kristal yang dahulu menjadi pemandangan sehari-hari.

Yang terdengar kini hanyalah suara serangga dan desir dedaunan.

Li Yue menunduk memeriksa tubuhnya.

Pakaiannya masih berupa hanfu putih keemasan milik keluarga kekaisaran Tianlong. Hanya saja kain itu kini dipenuhi debu akibat perjalanan yang tak dapat dijelaskan.

Ia segera memeriksa pinggangnya.

Giok Naga Waktu masih tergantung di sana.

Namun cahaya biru yang dahulu berkilauan kini hanya menyisakan kilau redup.

Di sisi lain, Li Xuan membuka buntalan kain yang masih digenggamnya.

"Kitab Resep masih ada."

Li Yue mengembuskan napas lega.

"Itu berarti Ibu berhasil."

Mendengar kata "Ibu", keduanya langsung terdiam.

Bayangan terakhir Permaisuri Mei Lin yang tersenyum sambil mengorbankan dirinya kembali memenuhi ingatan mereka.

Air mata Li Xuan jatuh tanpa mampu ditahan.

"Ayahanda..."

Li Yue menggenggam tangan adiknya.

"Kita tidak boleh menangis sekarang."

"Tapi mereka..."

"Ayahanda dan Ibu mengorbankan hidup mereka agar kita bisa menyelamatkan dinasti."

Suara Li Yue terdengar tegas meski matanya mulai memerah.

"Kita harus hidup."

Li Xuan mengusap air matanya lalu mengangguk.

"Baik."

---

Mereka berjalan keluar dari hutan mengikuti suara lonceng yang terdengar samar.

Semakin jauh melangkah, jalan tanah mulai terlihat.

Beberapa petani sedang memikul hasil panen.

Seekor kerbau melintas perlahan.

Kereta kayu yang ditarik dua ekor kuda melewati jalan dengan suara roda yang berderit.

Li Xuan menatap semuanya dengan mata membulat.

"Ini..."

"Benar-benar masa lalu."

Tak lama kemudian mereka melihat sebuah gerbang kota raksasa berdiri kokoh.

Tembok batu menjulang tinggi.

Di atasnya berkibar bendera bergambar naga emas.

Para prajurit berjaga dengan tombak panjang.

Orang-orang keluar masuk gerbang sambil membawa barang dagangan.

Li Yue memperhatikan setiap detail.

"Bentuk pakaian mereka berbeda dengan kita."

"Berarti kita harus berhati-hati."

Li Xuan mengangguk.

Kalau identitas mereka terbongkar, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi.

---

Saat mereka hendak memasuki kota, seorang penjaga mengangkat tombaknya.

"Berhenti."

Kedua saudari itu langsung menghentikan langkah.

"Dari mana kalian berasal?"

Li Yue berpikir cepat.

"Kami berasal dari desa pegunungan."

"Nama desa?"

Pertanyaan itu membuatnya terdiam.

Mereka tentu tidak tahu nama desa mana pun di zaman ini.

Li Xuan segera menyela.

"Desa kami hancur karena tanah longsor."

Penjaga itu mengernyit.

"Kalau begitu, mana surat perjalanan kalian?"

Kedua saudari itu saling berpandangan.

Surat?

Mereka jelas tidak memilikinya.

Penjaga mulai curiga.

"Kalian mata-mata?"

Beberapa prajurit lain ikut mendekat.

Suasana menjadi tegang.

Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita tua.

"Maafkan mereka."

Semua orang menoleh.

Seorang nenek berpakaian sederhana berjalan menghampiri sambil membawa keranjang sayur.

"Mereka cucu keponakanku."

Penjaga mengangkat alis.

"Kau mengenal mereka?"

"Tentu."

Wanita tua itu tersenyum.

"Mereka kehilangan keluarganya akibat bencana."

Penjaga menghela napas.

"Baiklah."

"Tapi jangan membuat masalah."

Setelah para penjaga pergi, wanita tua itu segera menarik kedua gadis tersebut memasuki kota.

---

"Terima kasih sudah menolong kami."

Wanita tua itu tersenyum ramah.

"Aku bisa melihat kalian bukan orang jahat."

"Aku dipanggil Nenek Lin."

Li Yue membungkuk hormat.

"Namaku Li Yue."

"Ini adikku, Li Xuan."

Nenek Lin tersenyum.

"Nama yang bagus."

Ia mengajak mereka berjalan melewati jalan utama kota.

Mata Li Xuan tak berhenti melihat ke segala arah.

Pedagang kain.

Penjual teh.

Pembuat keramik.

Pandai besi.

Anak-anak berlarian.

Suara tawar-menawar memenuhi udara.

Semuanya begitu hidup.

"Indah sekali..." gumam Li Xuan.

Nenek Lin tertawa kecil.

"Kalian belum pernah ke ibu kota?"

Li Yue hanya tersenyum tipis.

"Bisa dibilang begitu."

---

Di ujung jalan tampak sebuah bangunan besar.

Asap putih mengepul dari cerobongnya.

Puluhan orang keluar masuk sambil membawa keranjang bahan makanan.

"Apa itu?" tanya Li Xuan.

"Itu Dapur Kekaisaran."

Mata Li Yue langsung berbinar.

"Dapur..."

Nenek Lin mengangguk.

"Besok mereka membuka seleksi pelayan baru."

Li Xuan menoleh ke kakaknya.

Seolah memiliki pikiran yang sama.

Jika mereka ingin bertahan hidup...

Tempat terbaik adalah dapur.

Di sanalah kemampuan mereka bisa digunakan.

---

Malam itu Nenek Lin mengizinkan mereka menginap di rumah kecilnya.

Rumah bambu sederhana itu hanya memiliki dua ruangan.

Meski sederhana, suasananya hangat.

Nenek Lin menyajikan bubur nasi dan sayur asin.

Li Xuan tersenyum sopan.

"Terima kasih."

Ia mencicipi bubur itu.

Lalu tanpa sadar berkata,

"Kalau ditambah jahe dan minyak wijen pasti lebih harum."

Nenek Lin tertawa.

"Kau pandai memasak rupanya."

Li Yue ikut tersenyum.

"Sejak kecil kami belajar memasak."

Nenek Lin tampak senang.

"Kalau begitu kalian pasti punya kesempatan diterima di dapur istana."

Ucapan itu membuat kedua saudari saling berpandangan.

Mungkin...

Inilah jalan yang diberikan takdir.

---

Larut malam.

Li Yue membuka Kitab Resep Kekaisaran.

Halaman-halamannya masih utuh.

Namun ketika Giok Naga Waktu diletakkan di atas kitab...

Tiba-tiba...

Brak!

Seluruh ruangan diterangi cahaya biru.

Li Xuan terkejut.

"Kak!"

Tulisan-tulisan kuno bermunculan dengan sendirinya.

Perlahan membentuk sebuah kalimat.

"Temukan Kaisar Sejati sebelum Gerhana Naga. Jika tidak, sejarah akan musnah."

Kedua saudari itu membeku.

Kalimat itu perlahan menghilang.

Seolah tidak pernah muncul.

Li Xuan menelan ludah.

"Apa maksudnya?"

Li Yue menutup kitab itu perlahan.

"Aku tidak tahu."

"Tapi satu hal yang pasti."

"Ibu tidak hanya mengirim kita ke masa lalu."

"Ada misi yang harus kita selesaikan."

---

Keesokan paginya...

Suara genderang terdengar dari arah istana.

Seluruh kota menjadi ramai.

Seorang prajurit membacakan pengumuman.

"Atas perintah Yang Mulia Kaisar!"

"Dapur Kekaisaran membuka seleksi juru masak dan pelayan baru!"

"Semua rakyat yang memiliki kemampuan memasak dipersilakan mengikuti ujian!"

Li Xuan tersenyum lebar.

"Kak..."

"Kesempatan kita datang."

Li Yue mengangguk mantap.

"Mulai hari ini..."

"Kita bukan lagi Putri Kekaisaran Tianlong."

"Kita hanyalah dua gadis biasa yang ingin bekerja di dapur istana."

Ia menatap megahnya istana yang berdiri di kejauhan.

Tanpa mereka sadari...

Dari salah satu menara tertinggi istana, sepasang mata tajam tengah memperhatikan kedua saudari itu.

Seorang pemuda berpakaian biru tua berdiri dengan tangan di belakang punggungnya.

Di sampingnya, seorang pengawal bertanya pelan,

"Yang Mulia Pangeran, apakah ada yang menarik?"

Pemuda itu tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tertuju kepada Li Yue dan Li Xuan yang berjalan menuju gerbang istana.

"Aku tidak tahu mengapa..."

"Tapi firasatku mengatakan..."

"Kedatangan dua gadis itu akan mengubah nasib kekaisaran."

Angin pagi berembus pelan, membawa awal dari takdir baru yang belum diketahui siapa pun. Babak baru dalam kehidupan Li Yue dan Li Xuan pun resmi dimulai.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel