Bab 1 – Hari Terakhir Kekaisaran Tianlong
Langit senja di atas Kekaisaran Tianlong memancarkan warna keemasan yang begitu indah. Dari balkon Istana Naga Langit, dua gadis muda berdiri berdampingan sambil memandangi ibu kota yang membentang luas di bawah mereka. Menara-menara giok berkilauan diterpa cahaya matahari terakhir, sementara sungai yang membelah kota memantulkan warna jingga kemerahan.
Mereka adalah Li Yue dan Li Xuan, putri kembar terakhir dari garis keturunan Kekaisaran Tianlong.
Meski terlahir sebagai putri, keduanya lebih dikenal di seluruh kekaisaran sebagai ahli kuliner. Resep-resep yang mereka ciptakan bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga dipercaya mampu memulihkan kesehatan para prajurit, memperpanjang umur para tetua, bahkan menyembuhkan penyakit yang selama ini dianggap mustahil.
"Ayah akan segera memulai jamuan malam," ujar Li Xuan sambil tersenyum.
Li Yue mengangguk pelan.
"Aku hanya berharap malam ini berjalan damai."
Entah mengapa, sejak pagi hatinya dipenuhi firasat buruk.
Tak lama kemudian, seorang dayang datang membungkuk.
"Yang Mulia Putri, Kaisar memanggil kalian ke Aula Naga."
Keduanya segera mengikuti dayang melewati koridor panjang yang dihiasi ukiran naga emas. Aroma kayu cendana memenuhi udara. Di setiap sudut berdiri para penjaga berbaju zirah putih yang memberi hormat saat mereka lewat.
Di Aula Naga, Kaisar Long Tian duduk di singgasananya. Wajahnya mulai dipenuhi garis usia, tetapi sorot matanya masih tajam.
Di sampingnya berdiri Permaisuri Mei Lin.
Melihat kedua putrinya datang, senyum lembut menghiasi wajah sang permaisuri.
"Yue... Xuan... kemarilah."
Keduanya berlutut memberi hormat.
"Kalian memanggil kami, Ayahanda?"
Kaisar mengangguk.
"Hari ini bukan sekadar jamuan kemenangan. Malam ini aku ingin menyerahkan sesuatu yang telah diwariskan keluarga kita selama ribuan tahun."
Seorang kasim membawa sebuah kotak giok berwarna hijau tua.
Ketika kotak itu dibuka, cahaya kebiruan memenuhi ruangan.
Di dalamnya terdapat sebuah batu giok berbentuk naga yang melingkar.
"Giok Naga Waktu..."
Li Yue membisikkan nama pusaka itu.
Kaisar tersenyum tipis.
"Benar. Pusaka ini tidak boleh jatuh ke tangan orang yang salah."
Permaisuri melanjutkan,
"Dan bersama pusaka itu, ada Kitab Resep Kekaisaran."
Seorang kasim lain membawa kitab tua dengan sampul berlapis emas.
"Kitab ini berisi seluruh resep rahasia keluarga kekaisaran. Bukan hanya makanan, tetapi juga obat-obatan, racun, penawar, dan sejarah yang tidak pernah dicatat di mana pun."
Li Xuan menatap kitab itu dengan penuh takjub.
"Ayahanda... mengapa memberikannya kepada kami sekarang?"
Kaisar terdiam beberapa saat.
"Leluhur kita pernah meninggalkan ramalan."
Semua orang di aula ikut menundukkan kepala.
"'Saat naga menangis darah dan langit terbakar merah, hanya dua putri yang mampu menjaga keberlangsungan dinasti.'"
Suasana mendadak hening.
Belum sempat siapa pun berbicara...
BRAK!
Suara ledakan mengguncang seluruh istana.
Lantai bergetar hebat.
Asap hitam mulai memenuhi aula.
"Musuh menyerang!"
Teriakan para penjaga terdengar dari luar.
Kaisar langsung berdiri.
"Tidak mungkin... mereka datang lebih cepat."
Li Yue menggenggam tangan adiknya.
"Ayahanda..."
Seorang jenderal berlari memasuki aula dengan tubuh berlumuran darah.
"Yang Mulia! Pasukan pemberontak telah menerobos Gerbang Timur! Mereka dipimpin Pangeran Rong!"
Semua orang terkejut.
"Pangeran Rong?"
Ia adalah sepupu Kaisar sendiri.
Selama bertahun-tahun dikenal sebagai bangsawan yang setia.
Tak seorang pun menyangka dialah dalang pengkhianatan.
Ledakan demi ledakan kembali mengguncang istana.
Api mulai membakar paviliun-paviliun.
Suara benturan pedang terdengar semakin dekat.
Kaisar mencabut pedangnya.
"Aku akan menahan mereka."
Permaisuri memegang lengan suaminya.
"Tidak!"
Namun Kaisar hanya tersenyum.
"Seorang kaisar tidak boleh lari dari rakyatnya."
Ia memandang kedua putrinya.
"Dengarkan baik-baik."
Suaranya berubah tegas.
"Apa pun yang terjadi... lindungi Giok Naga Waktu dan Kitab Resep."
Li Yue menggeleng.
"Kami akan bertarung bersama Ayahanda."
"Jangan!"
Kaisar menatap mereka dengan penuh kasih.
"Kalian adalah harapan terakhir keluarga kita."
Belum selesai ia berbicara, pintu aula dihancurkan.
Puluhan prajurit berbaju hitam menyerbu masuk.
Di belakang mereka berdiri seorang pria berjubah merah.
Pangeran Rong.
Ia tersenyum dingin.
"Saudaraku... akhirnya saat ini tiba."
Kaisar mengangkat pedangnya.
"Pengkhianat."
Pangeran Rong tertawa.
"Sejarah hanya mengingat pemenang."
Pertempuran pun pecah.
Dentang pedang memenuhi aula.
Para penjaga istana bertarung mati-matian melindungi keluarga kekaisaran.
Li Xuan ikut membantu dengan pedang pendek yang dibawanya.
Li Yue melindungi Permaisuri.
Namun jumlah musuh terlalu banyak.
Satu demi satu penjaga gugur.
Darah mulai membasahi lantai marmer putih.
Kaisar berhasil mengalahkan beberapa musuh, tetapi sebuah tombak menghantam bahunya.
"Yang Mulia!"
Li Yue berteriak.
Pangeran Rong memanfaatkan kesempatan itu.
Pedangnya melesat cepat.
Darah memercik.
Kaisar berlutut.
Permaisuri menangis.
"Tidak!"
Pangeran Rong melangkah mendekat.
"Serahkan Giok Naga Waktu."
Li Yue memeluk kotak pusaka itu erat-erat.
"Tidak akan pernah."
Pangeran Rong mengangkat pedangnya.
Namun sebelum ia sempat menyerang, Permaisuri berdiri di depan kedua putrinya.
Tangannya menggenggam Giok Naga Waktu.
Air mata mengalir di pipinya.
"Maafkan Ibu..."
Cahaya biru mulai memenuhi seluruh aula.
Ukiran naga pada lantai menyala satu per satu.
Angin kencang berputar mengelilingi mereka.
Pangeran Rong membelalak.
"Hentikan dia!"
Para prajurit berlari maju.
Tetapi semuanya terlambat.
Permaisuri mengucapkan doa dalam bahasa kuno.
Giok Naga Waktu memancarkan sinar yang semakin terang.
Li Yue menggenggam tangan Li Xuan.
"Kakak..."
"Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan tanganku."
Permaisuri tersenyum untuk terakhir kalinya.
"Pergilah... temukan awal dari semuanya... selamatkan dinasti kita..."
Ledakan cahaya memenuhi aula.
Semua suara menghilang.
Tubuh Li Yue dan Li Xuan terasa melayang tanpa arah.
Mereka seperti jatuh ke dalam lorong tak berujung.
Bayangan kota-kota, gunung, sungai, dan istana berputar cepat di hadapan mereka.
Suara Permaisuri masih terdengar samar.
"Jangan ubah takdir demi kepentingan diri sendiri..."
Kemudian...
Semuanya berubah menjadi gelap.
Ketika Li Yue perlahan membuka mata, ia tidak lagi melihat langit-langit Aula Naga.
Yang terlihat hanyalah pepohonan bambu yang bergoyang ditiup angin.
Burung-burung berkicau di kejauhan.
Tidak ada menara kaca.
Tidak ada kendaraan terbang.
Tidak ada istana megah seperti yang mereka kenal.
Li Xuan terbatuk pelan di sampingnya.
"Kakak... kita di mana?"
Li Yue bangkit perlahan.
Tangannya masih menggenggam erat Kitab Resep Kekaisaran.
Sementara Giok Naga Waktu tergantung di pinggangnya, tetapi cahayanya telah meredup.
Di kejauhan terdengar suara lonceng kota dan kereta kuda yang melintas.
Li Yue menarik napas panjang.
"Aku tidak tahu..."
"Tapi satu hal yang pasti..."
Ia memandang gerbang kota tua yang berdiri megah di balik hutan bambu.
"Kita... sudah tidak berada di zaman kita lagi."
