Bab 5. Jaden Hazard
“Anda ingin membawa saya ke mana?” Letha bingung saat Jaden memaksanya masuk ke mobil.
“Kau akan mengetahuinya setelah kita tiba!” Pria itu kemudian ikut masuk, lalu meminta Max menjalankan mobil.
Tiba di tempat tujuan, Jaden meminta Letha mengikutinya.
“Tuan ….” Letha dibuat terkesima saat memasuki sebuah rumah megah nan mewah.
“Hemm?” Jaden berhenti melangkah lalu berbalik.
“A-apa ini rumah Anda?”
“Tentu saja. Untuk apa saya membawamu ke rumah orang?”
Letha hanya meringis, lalu kembali mengikuti Jaden yang menaiki undakan anak tangga.
“Tuan,” panggil Letha kembali, membuat Jaden berhenti dan menoleh.
“Tidak hanya ketika sedang bercinta, tapi saat seperti ini saja kau banyak bicara.”
Bibir Letha langsung terkatup dan kembali mengikuti Jaden yang membawanya ke salah satu kamar.
“Masuklah!” tegur Jaden saat Letha tak mengikutinya masuk.
“Tapi untuk apa Anda meminta saya masuk?”
“Untuk mengulang kejadian malam itu,” jawab Jaden tenang, tapi berhasil membuat wajah Letha merah.
“Tuan, untuk malam itu ….” Letha agak ragu mengatakannya. “Saya sungguh minta maaf. Tapi sejujurnya, saya dijebak.”
“Apapun alasannya, tapi kau sudah mengusikku,” balas Jaden tak mempedulikan alasan yang Letha berikan. Baginya, Letha sudah masuk dalam hidupnya, dan tak semudah itu untuk lepas darinya. “Kau masuk tanpa izin ke kamarku dan menggodaku. Jadi tidak semudah itu saya memaafkanmu!”
“Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan maaf darimu?” Letha menatap sejenak, lalu kembali menunduk. Sebab sorot mata Jaden dengan seringai tipis di bibirnya membuat perempuan itu takut.
“Masuklah dulu, kau akan tahu!”
Letha ragu, tapi tetap masuk. “Apa ini kamar Anda?”
“Tidak, ini kamarmu!” jawab Jaden seraya duduk di tepi ranjang.
“Ka-kamarku?”
“Hemm.” Jaden mengangguk kemudian menggerakan dagunya sebagai isyarat untuk Letha duduk di sampingnya. “Wanitaku tidak boleh tidur di tempat kumuh!”
Langkah ragu Letha langsung terhenti. Ia menatap Jaden dengan mata yang membola. “Wanitamu?”
“Hemm, kau adalah wanitaku, Gadis kecil!”
Letha menggeleng dengan cepat. “Tidak, sejak kapan saya menjadi wanitamu, Tuan!”
“Sejak kau menginjakan kakimu di kamarku malam itu.” Tanpa aba-aba Jaden meraih tangan Letha, lalu menariknya hingga Letha terjerembab pada dadanya.
“Tuan!” pekik Letha berniat bangkit, tapi Jaden menahannya dan memaksa Letha untuk duduk di pangkuannya. “Tolong lepaskan saya ….”
“Itu hal yang mustahil,” balas Jaden sambil meraih tangan Letha lalu mengusapnya lembut. “Tanganmu kasar. Sepertinya kau sangat bekerja keras untuk mendapatkan uang jajan!”
Letha tertegun, entah sejauh mana Jaden mengetahui tentangnya. Tapi ucapan Jaden barusan membuat sorotnya menjadi sendu.
“Jika kau tinggal bersamaku, kau akan dimanjakan!” Jaden menambahkan ketika Letha bergeming. “Aku bisa memberikanmu apapun yang kau mau.”
Letha mulai terpengaruh. Matanya yang bergeming perlahan bergerak, menatap Jaden.
“Apapun?” tanya Letha seolah memastikan.
“Hemm.” Jaden mengangguk singkat lalu sedikit memajukan wajah dan berbisik tepat di telinga Letha. “Termasuk mendapatkan hakmu sebagai pewaris tunggal.”
Letha membelalak, menatap Jaden tak percaya. “Sejauh apa kau mengetahui tentangku?”
“Itu bukan hal yang penting,” balas Jaden. “Yang terpenting adalah kau bersedia menjadi wanitaku.”
Cup!
Tanpa aba-aba Jaden mendaratkan sebuah kecupan singkat. Tapi berhasil membuat tubuh Letha tegang.
“Tuan—”
Tak membiarkan Letha protes, Jaden kembali mencium Letha. Kali ini lebih rakus, hingga membuat Letha kewalahan.
“Tuan …,” ucap Letha dengan napas yang terengah.
“Kau menyukainya?” Jaden tersenyum saat Letha diam. “Diam artinya iya,” tambahnya.
Letha bergeming, tak menyangkal jika dirinya memang menyukainya. Tapi ia terlalu malu untuk mengakuinya.
“Kau memang polos!” Jaden gemas sendiri dan menjawil hidung Letha hingga merah.
“Tuan, sakit!” protes Letha tak diindahkan oleh Jaden. Meski begitu, Jaden tetap membiarkan saat Letha bangkit dan turun dari pangkuannya.
Perempuan itu melangkah menuju jendela, lalu menatap lurus ke depan. Sehingga Jaden pun ikut bangkit dan mendekat.
“Jadi, apa kau sudah memikirkannya?”
Letha menoleh, menatap Jaden dengan serius. Kali ini ia mengabaikan rasa takutnya saat melihat sorot tajam dari Jaden.
“Sebelum menjawab … saya juga ingin tahu siapa dirimu, Tuan.”
“Ah, ternyata kau perhitungan.” Jaden menyeringai.
“Saya hanya tidak ingin bersikap gegabah.”
Jaden mengangguk paham. “Baiklah, saya mengerti,” balasnya kemudian melanjutkan. “Saya adalah Jaden Hazard.”
“Jaden Hazard,” gumam Letha sambil menatap ke depan, tapi kemudian matanya melebar saat menyadari sesuatu. “Ja-jaden Hazard?”
“Kenapa reaksimu berlebihan seperti itu?”
Satu alis Jaden terangkat saat melihat reaksi Letha yang berlebihan.
“I-itu karena ….” Letha tak sanggup melanjutkan ucapannya, sebab takut jika Jaden tersinggung.
Jaden tersenyum miring. “Kau tak percaya karena saya memiliki wajah yang tampan?”
Dengan wajahnya yang lugu, Letha mengangguk. “Iya.”
“Artinya kau mengakui jika saya memang tampan!” Jaden begitu percaya diri, sebab wajahnya memang tampan.
Letha langsung menunduk malu, menyembunyikan rona merah di pipinya.
“Seorang Jaden Hazard memang tampan. Dan hanya kau yang mengetahui ketampananku, sebab seperti yang kau tahu jika orang-orang mengatakan jika aku memiliki wajah yang buruk!”
Perlahan Letha menegakkan kepala, lalu mendongak agar bisa melihat wajah Jaden dengan jelas.
“Jadi, Anda benar-benar Jaden Hazard?” tanya Letha memastikan.
“Ck! Kau memang gadis keras kepala.” Jaden berdecak sambil menyentil kening Letha.
“Ssstthhh ….” Letha meringis sambil mengusap dahinya. “Kenapa Anda menyentilku?”
“Karena kau tidak percaya kepada saya,” dengkus Jaden. “Apa saya harus memperlihatkan kartu identitasku padamu?”
“Jika Anda tidak keberatan, saya ingin memastikannya.”
Jaden kembali mendengus, tapi tetap mengeluarkan kartu identitasnya dari dompet. “Kau bisa melihatnya sendiri!”
Letha ragu, tapi perempuan itu tetap melihatnya, sebab penasaran.
“Jadi Anda benar-benar Jaden Hazard?” Letha menutup mulutnya dengan kedua bola mata yang hampir keluar. “Oh astaga ….”
“Jadi aku berhubungan dengan Jaden Hazard?” Letha masih tak menyangka. Sebab bukan hanya terkenal dengan wajah yang buruk, tapi juga memiliki perangai yang sama buruknya!
“Yeah, kau dengan berani menggodaku. Jadi saya harus membuat perhitungan denganmu!”
Letha langsung menunduk. Kali ini bukan rona merah yang ia sembunyikan, tapi ketakutan.
“Mohon maafkan saya. Sungguh, saya tidak bermaksud.” Dari suaranya yang terdengar bergetar, menandakan jika Letha benar-benar takut.
“Saya akan menerima maafmu, asal kau bersedia menjadi wanitaku.”
Perlahan Letha mendongak, menatap Jaden serius. “Andai saya menolak, apa bisa?”
“Tentu saja tidak!” jawab Jaden cepat.
“Lalu untuk apa Anda bertanya? Saya bahkan tidak diberi pilihan!” Letha tersenyum miris.
“Saya hanya basa-basi.” Jaden mengapit dagu Letha, lalu sedikit ditarik sebelum ia mengecup bibirnya. “Kau sendiri yang menggodaku malam itu, jadi tanggung sendiri akibatnya!”
Kembali Jaden mencium Letha, pelan, tapi menuntut.
“Bibirmu manis, saya menyukainya,” ucap Jaden menjeda ciumannya sambil mengusap bibir Letha yang basah karena ulahnya.
Hampir saja Letha terlena oleh perlakuan Jaden, andai ia tidak ingat jika tujuan Jaden hanya tubuhnya.
Perempuan itu tersenyum miris, lalu menunduk dalam.
“Kenapa senang sekali menunduk?” tanya Jaden sambil menarik dagu Letha agar kembali mengangkat kepala. “Angkat kepalamu. Wanitaku tidak boleh lemah.”
“Jangan biarkan orang lain menindasmu. Kau tak pantas diperlakukan seperti itu,” sambung Jaden penuh tekanan.
Tapi bagi Letha, itu hal yang mustahil. “Itu tidak bisa.”
“Tidak bisa karena kau belum mencobanya.”
Letha menggeleng. “Aku pernah mencoba, tapi mereka tidak percaya.”
“Kau tidak butuh mereka. Yang kau butuhkan hanya saya,” ujar Jaden dengan tegas. Tangan pria itu bergerak menarik pinggang Letha hingga tubuh mereka menjadi rapat, kemudian kembali mendaratkan ciuman yang kali ini mendapatkan sambutan baik dari Letha.
