Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6. Ancaman

“Oh, astaga, seharusnya aku tidak melakukan itu.” Letha bergumam–menyesali kelakuannya yang terlena oleh perlakuan lembut, hingga membuatnya kembali berakhir tidur di ranjang yang sama dengan pria itu.

Ia kemudian menoleh ke samping, melihat Jaden yang tertidur pulas sambil memeluknya.

Kali ini, Letha tak berusaha berpikir keras untuk mengingat apa yang terjadi tadi malam. Sebab dengan sadar ia melakukannya dengan Jaden.

“Aku tidak bisa terus seperti ini,” gumam Letha seraya menyingkirkan tangan Jaden yang membelit pinggangnya. “Aku harus segera pergi.” Perempuan itu berniat turun, tapi baru saja akan berusaha bangkit, tangan besar Jaden yang kokoh sudah lebih dulu menahan dan menarik pinggangnya.

“Mau pergi ke mana kau?” Suara Jaden terdengar berat dan serak. Sementara embusan napasnya langsung menerpa pundak Letha. Sehingga membuat bulu roma Letha langsung berdiri.

Perlahan Letha menoleh, dan mendapati Jaden yang masih memejamkan mata. “Tuan … tolong lepaskan saya.” “

Jaden langsung membuka mata, hingga sorot tajam itu menyoroti wajah Letha. “Apa kau bilang?”

“Tolong, lepaskan saya.” Letha berbicara dengan pelan dan ragu.

Senyum miring langsung tersungging di wajah Jaden yang tampan. “Sekali lagi kau mengatakan itu … kuhabisi kau!”

Glek!

Letha menelan ludahnya susah payah.

***

“Jangan berdekatan dengan pria lain, jika tidak ingin saya makan!”

Sebuah peringatan Letha dapatkan saat ia bersiap turun dari mobil.

Pergerakan Letha yang berniat membuka pun terhenti. Perempuan itu kemudian menoleh, lalu menunduk ketika tatapan penuh intimidasi didapatkan dari Jaden. “Maksud Anda, pria siapa? Saya tidak pernah berdekatan dengan pria manapun,” elaknya.

Satu alis Jaden langsung terangkat, kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya. “Jasper Hazard. Saya tahu dia sedang mendekatimu,” bisiknya.

Letha membelalak, sedikit melirik ke arah Jaden yang masih mempertahankan posisinya. “Ja-jasper … adik Anda?”

“Hemm.” Jaden menegakkan tubuhnya kembali. “Dia pria berbahaya, kau harus menjauhinya!”

“Tapi saya rasa … jika dibanding dengan Anda, maka lebih bahaya Anda.”

Air wajah Jaden langsung berubah, terlebih setelah mendengar penuturan Letha selanjutnya.

“Dia hanya menyapa, dan sekali menemani saya saat di pesta malam itu. Tidak seperti Anda—” Ucapan Letha terpotong, sebab Jaden sudah lebih membungkamnya dengan ciuman singkat.

Lekas Letha mendorong dada Jaden. “Tuan, ini area kampus!”

Letha panik–takut ada yang melihat.

“Saya tidak peduli. Kau berani memuji pria lain di depanku, maka rasakan akibatnya!” Jaden kembali mencium, tapi Letha berusaha keras untuk tetap merapatkan bibirnya. Sehingga membuat Jaden mendengus, dan menjauh.

“Kau menolakku?” Pria itu menatap Letha dengan tajam.

“Maaf, Tuan. Tapi ini kampus.” Letha menjawab sambil tertunduk dalam. Suaranya agak parau–menahan tangis.

Menghembuskan napas kasar, Jaden membuang muka. “Turunlah, dan ingat perkataanku!”

“Baik.”

Segera Letha turun, dan berjalan cepat, sebab hampir terlambat. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika kedua saudaranya menghadang.

“Kau diantar oleh siapa?” Risha memicing–melihat ke arah mobil yang membawa Jaden menjauh.

“Itu ….” Letha ragu, sehingga kalimatnya menggantung begitu saja.

“Ck! Siapa pun itu. Kami tak peduli. Tapi bukankah kau sedang dihukum oleh papa?”

“Andai papa tau kelakuanmu. Apa yang akan beliau lakukan padamu?”

Rasya dan Risha selalu memprokasi, hingga membuat Letha menunduk takut.

Benar, andai Rafqi mengetahui kelakuannya bersama dengan Jaden, maka bukan hanya tinggal di gudang akan ia dapatkan!

“Kakak—”

“Aku akan mengadu. Dan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya!” Risha memperlihatkan sebuah foto yang ia ambil saat Letha turun dari mobil.

“Jangan, Kak!” Letha panik dan berniat merebut ponsel Risha, tapi dengan sengaja Risha malah menjatuhkan ponselnya hingga terbelah menjadi dua.

“Oh astaga!” Risha memekik lalu menatap Letha dengan tajam. “Kau sudah merusak ponselku!”

Lekas Letha menggeleng. “Tidak, Kakak menjatuhkannya sendiri!”

“Omong kosong macam apa itu? Untuk apa aku melakukan itu?” elak Risha.

“Ada apa ini?” Tiba-tiba Jasper menghampiri ketika melihat sedikit keributan.

“Jasper,” ucap Rasya sambil menunjuk Letha. “Dia telah menghancurkan ponsel kakakku!”

Jasper melihat ke arah Letha yang diam. “Kau benar melakukannya?”

Letha langsung menggeleng.

“Mana ada pencuri yang mengaku!” cetus Risha. “Dia benar-benar menghancurkan ponselku karena ia menghilangkan bukti!”

“Bukti?” tanya Jasper menyerngit. “Bukti apa?”

“Bukti jika dia berangkat bersama dengan pria hidung belang!”

“Kau tahu, Jasper? Letha telah bermain dengan pria hidung belang, bahkan ketika malam pesta itu, dia tidak pulang. Sehingga membuat papa kami kesal dan menghukumnya!” Rasya terus memprovokasi. “Dan kami berniat mengatakan kepada papa karena Letha tidak jera dengan hukumannya!”

“Benarkah seperti itu, Letha?” tanya Jasper menatap Letha dengan penuh harap. “Katakan jika saudara-saudaramu itu bohong.”

Tak menjawab, Letha memilih pergi begitu saja.

“Letha, kau mau ke mana?” Jasper mengejar, lalu mencekal lengan Letha. Tapi dengan kasar Letha menghempaskan.

Perempuan itu kemudian mendongak–menatap Jasper dengan lapisan bening yang menghiasi matanya. “Mau yang dikatakan mereka salah atau benar, itu tidak ada hubungannya denganmu!”

“Tentu saja ada!”

“Apa? Kita tidak saling mengenal. Jadi berhenti mencampuri urusanku!” Letha sedikit terbawa emosi–merasa kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa melawan dan selalu bersikap lemah di hadapan orang lain.

“Tidak, aku tidak bisa diam jika itu soal kau.” Jasper menatap Letha dengan serius. “Karena aku, menyukaimu ….”

Letha langsung mematung, menatap Jasper dengan tak percaya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel