Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Mau ke mana?

[Nona kecil, kau mau kabur ke mana?]

“Siapa dia?” gumam Letha dengan kening yang mengkerut setelah membaca pesan dari nomor yang tak dikenal. “Mungkin orang iseng!”

Perempuan itu kemudian menaruh ponselnya di atas ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi. Tubuhnya lelah setelah seharian membantu di kebun. Dan berharap malam ini bisa tidur nyaman meski bukan di kamar biasanya.

Tapi ketika Letha akan rebahan, ponselnya kembali bergetar, dan nomor yang tak dikenal tadi kembali mengirimnya pesan.

[Beraninya kau mengabaikanku setelah malam itu menggodaku dengan nakal!]

Wajah Letha pucat seketika. Bayangan malam itu kembali menari-nari di kepalanya. “Apa mungkin dia—”

“Oh, astaga!” Letha memekik secara refleks ketika ponselnya tiba-tiba berdering, dan menampilkan nomor tak dikenal tadi menelponnya. “Apakah benar ini dia?”

Letha tampak ragu, dan berniat mengabaikan. Tapi orang yang menghubungi tak menyerah.

[Jika kau tidak menerima panggilanku, aku akan masuk ke kamarmu sekarang juga!]

Mata Letha hampir keluar begitu membaca ancaman yang ia terima. Lalu tidak lama ponselnya kembali berdering, hingga pada akhirnya ancaman tersebut berhasil membuat Letha menerima panggilan.

“Halo?”

“Malam, Nona kecil?” Suara berat Jaden membuat bulu kuduk Letha berdiri.

Perempuan itu menelan ludah susah payah. “Si-siapa ini?” tanyanya tergagap.

“Jangan berpura-pura. Setelah menggodaku, kau pikir bisa lepas dariku. Hemm?”

Tubuh Letha lemas, tenggorokannya tercekat. Ia tidak menyangka jika Jaden bisa menemukannya.

“Maaf, tapi sepertinya Anda salah sambung.” Letha berusaha mengelak, tanpa tahu jika pria yang sedang dihadapinya adalah pria berbahaya yang tak mudah dibohongi. Setelahnya Letha memilih menutup panggilan lalu mematikan ponselnya.

“Oh astaga, apa benar dia pria yang malam itu?”

Tidur Letha tak tenang. Ia gelisah, bahkan setelah pagi tiba, dan ia berangkat menggunakan bus untuk tiba di kampus.

“Hei, Letha!” Japer menyapa dengan senyumnya yang menawan. Tapi kemudian lelaki itu tampak mengerutkan kening. “Ada apa dengan lingkaran hitam di wajahmu? Kau terlihat kurang tidur!” tambahnya.

Refleks Letha menunduk–menyembunyikan wajahnya yang tampak tak segar, sebab tadi malam tidak bisa tidur.

“Sepertinya kau begadang!” Jasper tak menyerah, ia kembali mengajak Letha berbicara.

“Hemm, kau benar.”

“Kau seharusnya jangan terlalu sering begadang. Itu tidak baik untukmu!”

“Ya, aku hanya sesekali,” balas Letha masih tak berani menampakkan wajah.

“Aku harap kau bisa menjaga diri dengan baik. Karena jika kau sakit, aku akan sedih!”

Tak terlalu menanggapi gombalan Jasper, Letha memilih izin untuk ke toilet sebentar–demi menghindar.

“Wajahku memang terlihat pucat.” Saat di toilet, Letha menatap pantulan dirinya di cermin, lalu mencuci muka agar terlihat lebih segar.

Tapi sepertinya itu tak berhasil, sebab ketika ia akan keluar, Letha malah bertemu dengan kedua saudaranya.

“Waah, lihat, siapa dia!”

“Tentu saja dia anak yang terbuang!”

Risha dan Rasya tampak cekikikan. “Bagaimana rasanya tinggal di tempat kumuh dan jorok?”

“Kakak, tentu saja dia akan merasa nyaman. Karena bagaimanapun, dia memang pantas tinggal di sana!”

“Kau benar!”

Letha tak menanggapi, dan memilih berlalu. Tapi Risha langsung menghadang.

“Hei, mau ke mana kau?”

Mendesah pelan, Letha kemudian menatap Risha dengan jengah. “Itu bukan urusanmu!”

“Kau, berani sekali!” Risha tak terima dan langsung mendaratkan tamparan. Hingga membuat pipi Letha panas.

Refleks Letha menyentuh pipinya yang perih. “Kakak, kenapa kau selalu mengganggu?”

“Karena aku menyukainya!” Risha menjawab dengan enteng.

Tersenyum miris, Letha memilih untuk tak meladeni. Dan beruntungnya kedua saudaranya tak memperpanjang.

“Aku benar-benar lelah,” keluh Letha melangkah dengan gontai menuju gerbang kampus. “Ibu, rasanya aku ingin menyusulmu saja.”

Pandangan Letha tak fokus. Pikirannya terlalu penuh, hingga tak sadar jika dirinya melangkah ke tengah jalan.

Tiiiin!

Klakson dari kendaraan yang hampir menabraknya membuat Letha tersadar. Perempuan itu menoleh, dan hampir pasrah, sebab jarak antara mobil dan dirinya begitu dekat.

Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya, hingga membuat Letha tersungkur dan berakhir dalam pelukan orang itu.

“Kau gila!” sentak orang itu.

Letha tak langsung menyahut. Lututnya lemas, dan hampir tak bisa menopang tubuhnya sendiri, andai orang yang menolongnya tidak menahan. Dan tanpa terasa cairan bening mulai tergenang di pelupuk mata.

Jaden–orang yang menolong Letha–mengerutkan kening. Perlahan ia menunduk ketika merasakan kemeja yang dikenakannya basah.

“Kau menangis?”

“Tidak, aku sedang menjerit!” jawab Letha disela isak tangisnya.

“Ck! Bisa-bisanya kau bercanda setelah berniat bunuh diri!”

“Siapa yang mau bunuh diri?” Letha menjauh, lalu mendongak untuk melihat siapa yang menolongnya. Tapi kemudian ia menganga saat tahu yang menolongnya adalah Jaden. “Ka-kau …?”

“Ada apa denganku?” tanya Jaden dengan datar.

Letha menggeleng, lalu mundur. Tapi Jaden menahan pinggangnya.

“Mau ke mana, hemm?”

“Ak-aku—”

“Sudah saya katakan, kau tidak akan saya lepaskan.” Jaden menunduk, lalu berbisik tepat di telinga Letha. Hingga membuat Letha menelan ludahnya susah payah. Sementara Jaden tersenyum miring.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel