Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4

“Ziqian, kenapa kamu bangun?” Baru masuk ke ruang tengah, Yueniang sudah melihat putrinya berdiri di ambang pintu kamar.

“Mm, aku haus.” Merasa tak nyaman dengan tatapan penuh perhatian dari ibunya, Yang Ziqian memilih berbohong untuk menghindar.

Sebenarnya ia bangun bukan karena haus, melainkan ingin mengetahui lebih jauh keadaan keluarga ini. Berbaring di ranjang dengan perut keroncongan benar-benar tidak enak rasanya.

“Kalau haus, biar Ibu panaskan air untukmu.” Di rumah ini tidak ada teko. Biasanya kalau haus, semua orang hanya akan langsung mencedok setengah mangkuk air dari tempayan batu, lalu menenggaknya begitu saja. Namun karena putrinya baru saja siuman, Yueniang khawatir air dingin tidak baik untuk kesehatannya, maka ia buru-buru menyalakan api untuk merebus air.

Memanfaatkan kesempatan saat Yueniang merebus air, Yang Ziqian menahan rasa sakit di kakinya lalu berkeliling rumah, mengamati keadaan dengan seksama.

Rumah ini… bahkan sulit disebut sebagai rumah.

Hanya ada sebuah ruang tengah dan tiga kamar. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang dilapisi lumpur dicampur jerami, dapurnya pun hanyalah bangunan tambahan seadanya. Dari semua bagian rumah, yang paling kokoh hanya balok kayu penyangga di sekeliling. Selebihnya, tiang-tiang atap dari bambu penuh lubang, angin bisa masuk dari segala arah. Atap rumah tak beratap genting, melainkan jerami bertumpuk. Begitu hujan deras, rumah ini pasti langsung berubah jadi “gua tirai air”.

Tak ada perabotan yang layak disebut. Sebuah meja reyot, beberapa bangku kayu seadanya. Jumlahnya pun hanya cukup untuk anggota keluarga. Jika ada tamu datang, keluarga sendiri harus rela berdiri.

Melihat ibunya sedang menyalakan api di dapur, Ziqian bahkan sempat khawatir—jangan-jangan api yang menyembur itu bisa membakar atap jerami. Kalau bukan sekarang, nanti di bulan tujuh atau delapan saat musim kering, kebakaran pasti jadi ancaman nyata.

Pandangannya membuat hati bergetar—ngeri sekaligus perih. Tidak bisa terus begini. Harus ada yang diubah.

Orang lain kalau menembus waktu, setidaknya jadi putri bangsawan atau anak keluarga kaya. Sementara dirinya, Yang Ziqian, tampaknya benar-benar dipilih langit untuk jadi “Sun Go Kong versi perempuan”—rumah reyot sebagai gua tirai air, dan dirinya yang akan membuat “keonaran di langit”.

Kalau Sun Go Kong bisa mengacau istana kayangan, maka aku, Yang Ziqian, pasti bisa mengguncang rumah reyot ini.

Orang bilang: setinggi apa keberanian, sebesar itu pula hasil yang bisa diraih. Ia tidak percaya kalau dirinya—manusia baru abad ke-21—akan mati kelaparan di tanah Xi Song yang nyaris tak tercatat dalam sejarah ini.

Begitu tekad bulat tertanam, wajah mungil Ziqian yang sebelumnya penuh perubahan ekspresi seketika menjadi tenang.

Yueniang yang sudah menjerang air, menuangkan setengah mangkuk, lalu menuangnya bolak-balik ke dua mangkuk hingga hangat suam-suam kuku. Dengan hati-hati ia menyerahkannya ke tangan putrinya.

“Ziqian, ayo, air ini sudah bisa diminum.”

Ia masih menatap penuh kecemasan. “Setelah minum, naik lagi ke ranjang dan istirahatlah. Ibu akan menyiapkan makan siang.”

“Ibu, aku baik-baik saja. Biar aku yang menyalakan api.” Untuk pertama kalinya Ziqian memanggilnya ibu, dan anehnya, panggilan itu meluncur begitu alami.

“Ibu, Ayah sedang apa sekarang?”

“Ibu, kita punya berapa bidang tanah?”

“Ibu, membangun rumah ini butuh uang berapa banyak?”

Pertanyaan demi pertanyaan terlontar darinya, sementara Yueniang sibuk menyiapkan adonan sayur kecil dengan kue jagung tipis. Ia tetap sabar menjawab semua “seratus ribu mengapa” dari putrinya.

Cahaya api dapur memantul di wajah mungil itu, membuat pipinya memerah. Yueniang tahu, warna itu bukanlah rona sehat alami, melainkan pantulan dari api.

Keluarga ini memang sangat miskin. Makan tak pernah kenyang, pakaian tak pernah cukup hangat. Anak-anak mereka pun tumbuh lambat. Seharusnya tubuh sudah besar, tapi sampai sekarang tidak terlihat perubahan berarti. Lihat saja Ziqian, usianya sudah delapan thaun, tapi tingginya masih hampir sama dengan anak tuan tanah yang baru berusia empat tahun.

Untunglah, meski terjatuh parah, dua hari koma, namun ia masih mampu bangun kembali dengan tubuh yang tampak sehat. Anak kecil tidak pandai berpura-pura sakit, pikir Yueniang lega. Kalau bisa bergerak riang seperti itu, berarti memang tidak ada bahaya lagi. Amitofo, syukur berkat perlindungan Buddha.

Ia pun dengan tulus mengucap syukur dalam hati, tanpa sedikit pun curiga atas pertanyaan-pertanyaan aneh putrinya.

Setelah cukup lama bertanya ini-itu, Ziqian pun berhasil mengumpulkan gambaran besar tentang kondisi keluarga Yang.

Keluarga Yang rupanya bukan penduduk asli Desa Keluarga Li.

Beberapa tahun lalu, sebuah bencana banjir besar menghanyutkan seluruh harta benda keluarga Yang. Yang Danian dan kakaknya, Yang Dafu, terpaksa membawa anak-istri mengikuti para tetangga desa melarikan diri.

Di Desa Keluarga Li, kebetulan ada seorang kerabat jauh—paman dari istri Yang Dafu, yaitu Wang Hua’er (yang bagi tubuh asli Ziqian adalah dàniang atau bibi kandung). Berkat perantara dan jaminannya, dua bersaudara itu akhirnya bisa menyewa tanah milik keluarga Li untuk digarap.

Dengan adanya tanah, mereka pun bisa menetap. Dua bersaudara itu lalu membangun rumah masing-masing.

Tiga tahun berlalu. Berkat bantuan kerabat jauhnya, Yang Dafu pada tahun baru lalu berhasil merobohkan rumah reyot berdinding bambu dan menggantinya dengan rumah berdinding tanah dan beratap genting hijau. Rumah itu, barulah layak disebut rumah.

Sementara itu, rumah Yang Danian tetap saja reyot. Tanah garapannya berdekatan dengan lahan berpasir. Setiap tahun, hasil panen selalu rusak sebagian karena tergerus pasir. Setelah dipotong setoran untuk sewa tanah, sisa panen jauh dari cukup untuk menghidupi keluarga.

Anak-anaknya banyak, semuanya harus diberi makan. Hari demi hari, hidup semakin sulit.

“Haa… tiga tahun saja, jarak kehidupan kita dengan keluarga kakakmu sudah jauh sekali.” Yueniang mengelus perut besarnya, menatap kosong sambil menarik napas panjang. Bukan hanya soal rumah dan kehidupan, bahkan dalam hal anak pun berbeda.

Keluarga Yang Dafu hanya punya satu anak laki-laki dan satu perempuan. Usia bertambah, dan tak terlihat lagi tanda-tanda akan bertambah anak.

Sedangkan dirinya, sudah melahirkan empat anak, dan semula ia pikir itu sudah cukup. Namun ternyata, langit kembali menitipkan satu lagi.

Menambah anak memang bisa dibilang kabar baik. Tapi ketika keluarga sudah tak mampu memberi makan, itu berarti bukan beban sehari-dua hari saja, melainkan penderitaan bertahun-tahun.

Pikiran itu membuatnya semakin sedih. Namun syukurlah, langit masih mengasihi putri keempatnya. Setelah koma dua hari, ia masih bisa berdiri di sampingnya dengan utuh.

“Ibu, jangan takut. Kita akan baik-baik saja.” kata Ziqian, melihat tatapan kosong ibunya yang membuat hatinya perih. Ia berusaha menenangkan ibunya, sekaligus menenangkan dirinya sendiri.

“Xi Song, tahun ke-8 era Yong’an, Kaisar bermarga Murong.” Zisen mengulang sekali lagi, memastikan sepuluh kata itu ia hafal betul.

Ia menggenggam erat sebuah buku berjilid benang, wajahnya berbinar seperti seekor burung yang pulang ke sarang.

“Sejak dulu, anak cerdas sering lahir dari keluarga miskin. Anak sekecil itu, begitu pintar… sayang, sungguh sayang!” gumam guru itu sambil menggeleng kepala, menatap punggung kecil yang berlari menjauh.

Guru itu sudah mendekati usia empat puluh tahun, seorang xiùcái (sarjana tingkat rendah). Berkat bantuan keluarga Li, ia bisa bermukim di sini dan diberi tanggung jawab mengajar anak-anak mereka. Yang membuatnya kecewa, justru anak-anak keluarga Li yang duduk di kelasnya tak sehebat seorang anak petani penggarap yang hanya mencuri dengar di luar.

“Kalau suatu hari ada kesempatan, anak itu pasti bisa meraih kejayaan!” Dengan pengalaman menilai banyak orang, ia yakin tak salah menilai.

Sayangnya, ia tak punya kuasa untuk mengubah kenyataan bahwa bocah itu hanya bisa “mencuri dengar” dari luar. Bagaimanapun, murid-murid resmi hanyalah anak-anak keluarga Li. Sebuah sekolah keluarga (zúxué) jelas tak mungkin memberi tempat pada anak petani penyewa tanah, apalagi untuk menyinarkan kemuliaan mereka.

Guru merasa sayang, Ziqian merasa pedih.

Ia mencoba mengingat kembali semua dinasti dalam sejarah yang pernah ia hafalkan. Sudah ia ulang sepuluh kali, namun tetap tak menemukan “Xi Song”, apalagi kisah keluarga besar Murong yang menjadi penguasa dunia.

Menembus ke dalam sebuah dinasti yang tak tercatat dalam sejarah, bagi Yang Ziqian, sama seperti menyeberangi sungai sambil meraba batu—segala peraturan, tatanan, bahkan orang-orangnya, semuanya harus ia telusuri, ia pahami, dan ia gali sendiri. Potensinya tak terbatas, tapi jalannya juga penuh kebingungan. Sebuah keberuntungan sekaligus ketidakberuntungan.

Membolak-balik buku yang dipinjam Zisen, ia menemukan huruf-huruf klasik, tulisan tradisional penuh dengan zhī, hū, zhě, yě. Dari situ ia tahu, sistem pendidikan yang ditanamkan tetap bersumber pada ajaran Konfusius.

Baguslah, pikirnya. Sejati dan semu, benar dan salah, kalau langit tidak membiarkannya mati jatuh, dan justru melemparkannya ke ruang-waktu asing ini, maka pasti ada alasan. Pahlawan akan selalu punya tempat untuk berperan. Ia percaya, kehadirannya di sini—dengan pengalaman dan pengetahuan lebih banyak daripada orang-orang yang bahkan mungkin belum pernah makan garam—pasti punya arti.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel