5
Baik. Kalau begitu, aku harus berjuang habis-habisan.
Xi Song, aku memang tidak bisa mengubahmu. Tapi setidaknya, aku bisa mengubah keluarga ini.
Menjelang waktu makan siang, Yang Danian memanggul ember tinja pulang dari ladang. Wajahnya lelah, napas terengah. Melihat itu, Yang Ziqian segera menyodorkan semangkuk air hangat.
“Anak ayah memang yang paling manis.” Ia menerima air itu, lalu meneguknya dengan gembira. Ada pepatah: putri adalah kapas hangat yang melekat di dada ayah. Ia punya tiga anak lelaki dan satu putri. Dalam hati, ia bahkan berharap, andai Yueniang bisa memberinya satu putri lagi, alangkah baiknya.
Tak lama kemudian, Zilin juga pulang dengan setengah keranjang kecil penuh sayur liar. Saat ini memang masa paceklik, sayuran belum tumbuh sempurna, banyak orang di desa pun sibuk mencari sayuran di hutan. Bisa membawa pulang setengah keranjang saja sudah tergolong rezeki besar. Siang ini mereka makan kue jagung campur sawi liar, dan malam nanti, sisa sayur itu akan dicampur lagi jadi kue.
Sementara itu, Zimu yang besok sudah akan mulai membantu ayahnya di ladang, memutuskan sore ini akan membawa Zilin ikut menggembala sapi. Ia ingin mengajarinya cara melepas sapi, cara mencari rumput, memberi minum, hingga membersihkan kandang.
Ziqian menggigit kue jagung, merasakan aroma samar sayur sawi dan manis jagung. Kalau saja ada sedikit minyak, pasti akan lebih enak. Sayangnya, ia sudah melihat sendiri saat Yueniang memasak: kue itu digoreng di wajan besi tua yang karatan. Wajar saja kalau ada bau gosong dan karat menempel. Padahal bahan sederhananya sebenarnya sudah cukup nikmat.
Namun kenyataannya, ia sudah berpikir terlalu muluk.
Dari satu loyang kecil adonan kue jagung, setelah dibagi rata untuk semua orang, hanya tersisa dua buah. Ketika Ziqian menghabiskan kuenya, ia melihat ketiga kakaknya hanya menunduk, menyeruput bubur jagung encer, lalu turun dari meja tanpa mengulurkan tangan pada sisa kue.
Padahal ia sempat melihat jelas, Zisen bahkan sampai menjilat mangkuknya. Itu artinya, mereka semua sebenarnya belum kenyang, tapi sengaja menyisakan dua kue untuk ayah dan ibu.
Hanya sepotong kue tipis pun tidak cukup mengenyangkan. Aku benar-benar harus berkabung tiga menit untuk nasibku yang menyeberang waktu menjadi gadis petani miskin begini.
“Ziqian, ambil satu lagi, Nak.” Yueniang melihat putrinya masih menatap kue sisa dengan mata berbinar, tidak beranjak dari meja, lalu menyodorkan sepotong kepadanya.
Ziqian mengulurkan tangan, menerima kue itu. Baru saja hendak menggigitnya, ia menoleh. Tatapan ibunya penuh senyuman hangat.
Tiba-tiba, rasa bersalah menusuk dadanya. Ia hanya mematahkan sepotong kecil, lalu meletakkan sisa kue itu kembali ke mangkuk ibunya.
“Bu, aku makan segini saja sudah kenyang.” Ujung jempol dan telunjuknya saling didekatkan, memperlihatkan betapa sedikit yang ia maksud. Setelah itu, ia memakan potongan kecil itu, turun dari meja, dan kabur keluar pintu, menengadah langit sambil menghela napas panjang.
“Zisen, mulai sekarang, tugas mencari sayur liar jadi tanggung jawabmu.” kata Yang Danian ketika melihat si bungsu sedang bengong menatap sarang burung di pohon.
“Ayah, nanti aku ikut Kakak ketiga mencari sayuran.” Ziqian menyelipkan suaranya manis, mencoba mengambil hati ayah.
“Bagus, anak perempuan ayah benar-benar pengertian!” Wajah Yang Danian berbinar, tangannya mengelus kepala putrinya. Punya putri seperti ini, sudah cukup baginya.
“Ziqian, jangan keluyuran lagi. Usia delapan tahun, waktunya mulai dibebat kakinya.” Yueniang menatap tubuh mungil putrinya, dalam hati masih bimbang—apakah akan memulai sekarang, atau menunggu sampai ia selesai masa nifas nanti.
Astaga… ternyata di dunia ini juga ada tradisi membebat kaki. Kebiasaan gila yang sudah berlangsung ribuan tahun itu, ternyata di sini pun sama kejamnya.
Barulah Ziqian sadar, ia belum sempat memperhatikan kaki ibunya.
Tubuh Yueniang cukup tinggi, hampir 1,6 meter. Namun di bawah tubuh itu, berdiri sepasang kaki mungil yang jelas-jelas dibebat. Sepatu yang dipakai, kalau diukur dengan standar masa kini, bahkan tak sampai nomor 24.
Tidak! Aku tidak akan membebat kakiku. Sampai mati pun tidak mau!
Perlawanan itu muncul dari lubuk hatinya. Namun di wajah, ia hanya menampilkan ekspresi ragu dan takut, lalu melirik ibunya.
“Bu, apakah itu sakit?” ia menunjuk kakinya sendiri, lalu menunjuk kaki kecil ibunya.
“Memang agak sakit. Tapi setelah lewat masa itu, akan terbiasa.” Yueniang tak sampai hati membohongi putrinya.
“Ibu, boleh tidak kalau aku tidak dibebat sekarang? Lihat, betisku masih penuh memar, lenganku masih ada lecet, dan… dan… pantatku juga masih sakit kalau duduk lama.” Semua ini memang sisa luka setelah jatuh tempo hari.
“Baiklah, tunggu sampai semua lukamu sembuh dulu baru kita mulai membebat.” Akhirnya Yueniang mengalah. Luka lama belum hilang, kini ditambah luka baru, orang dewasa saja belum tentu bisa menahan, apalagi anak kecil. Menundanya sebentar bukanlah masalah. Setelah ia melewati masa nifas, barulah bisa mengurus anak dengan lebih baik.
“Terima kasih, Ibu. Ibu memang baik sekali!” Yang Ziqian berlari kecil mendekat, menggenggam tangan ibunya sambil manja.
Anak ini, semakin besar mulutnya semakin manis, kata-katanya pun semakin lucu. Yueniang tersenyum, menyingkirkan helai poni kuning tipis dari kening putrinya dengan lembut, wajahnya penuh kasih.
Sore itu, Zisen membawa adiknya keluar untuk mencari sayur liar.
Sejak hari itu, keranjang sayur resmi menetap di pundak kecilnya.
Dilihat dari belakang, tubuh mungil Zisen nyaris sama tinggi dengan keranjang yang ia pikul. Sambil berjalan, ia terus menoleh ke belakang, menasihati adiknya: “Hati-hati ada lubang, awas batu, jangan injak kotoran sapi.” Sikapnya begitu hati-hati, mungkin karena trauma setelah Ziqian jatuh di belakang gunung tempo hari masih membekas.
“Kakak ketiga, ajari aku membaca dan menulis, boleh?” Saat keduanya jongkok mencabut sawi liar dan memasukkannya ke keranjang, Ziqian berbisik dengan suara manis penuh permohonan.
“Untuk apa kamu belajar? Buku bilang, perempuan tak pandai justru adalah kebajikan.” Meski tak benar-benar mengerti maksudnya, baginya apa yang tertulis di buku pasti benar.
“Kalau begitu, kenapa kakak diam-diam belajar?” Ziqian langsung membalas dengan tajam. Apa yang kau tidak suka, jangan lakukan pada orang lain. Kalau ia ingin belajar, kenapa menghalangi adiknya?
“Aku juga tidak tahu gunanya belajar apa. Tapi kurasa, belajar itu pasti bermanfaat. Kau tidak lihat? Ayah-ibu selalu bilang aku pintar. Padahal, banyak hal aku hanya meniru isi buku.” Zisen menggaruk kepala. Baginya, sekolah itu samar-samar, tak jelas apa manfaatnya. Mungkin karena itulah ayah tak pernah berniat menyekolahkan mereka.
“Aku juga tidak tahu belajar untuk apa. Bagaimana kalau kakak ajari aku dulu, lalu kita sama-sama mencari tahu manfaatnya?” Mata besar Ziqian yang bening menatap kakaknya dengan penuh rasa ingin tahu.
Benar juga. Adiknya memang belum pernah mengintip sekolah, tapi ia selalu cerdas. Kalau ia belajar, mungkin bisa menemukan jawabannya.
“Baiklah, aku ajari.” Bagi adik yang satu ini, Zisen tak punya hati untuk menolak.
Ketiga kakak laki-lakinya memang sangat menyayanginya. Dan sebagai kembarannya, meski hanya lebih tua beberapa saat, ia merasa harus berperan sebagai kakak yang sejati. Kalau tidak, adiknya pasti akan menyeretnya jadi “adik” sungguhan.
Sejak itu, Zisen belajar lebih giat saat mencuri dengar di sekolah. Karena sepulang ke rumah, ia harus bertindak sebagai guru bagi adiknya.
Guru pernah berkata: “Tulisan mencerminkan pribadi.” Harus punya tulisan yang rapi dan indah. Mereka memang tak mampu membeli kuas, tinta, kertas, dan batu tinta. Namun cabang pohon dan tanah berpasir di sekitar rumah adalah sumber belajar yang tak pernah habis.
Setiap hari, selain mencari sayur liar, kakak-beradik itu selalu jongkok di tanah berpasir, menulis dan menggambar dengan ranting.
“Anak-anak ini, lagi-lagi berguling di tanah, main apa lagi?” Pagi-pagi sekali, dua anak itu sudah asyik di halaman depan, bermain tanah dengan penuh keseriusan. Yueniang menggeleng tak habis pikir.
Kalau anak laki-laki, masih bisa dimaklumi. Tapi putrinya? Kalau begini terus, bagaimana jadinya?
“Ziqian, jangan ikut-ikutan kakakmu. Bermain tanah, membuat lumpur jadi meriam, itu semua permainan anak laki-laki. Kamu perempuan. Seharusnya ikut ibu belajar menjahit, masuk dapur, belajar menyeduh teh dan memasak.” Usianya memang masih terlalu kecil, bahkan belum setinggi tungku dapur. Memang belum bisa benar-benar mengurus rumah, tapi bukan berarti bisa seenaknya bermain seperti anak laki-laki.
