2. tak sengaja melihat pacar
“Jadi yang kamu lihat tadi itu mereka”, sahut deni. Tadi deni juga sebenarnya penasaran siapa orang yang dilihat hasbi di parkiran karena dia merasa orang yang dikenal hasbi dia juga kenal
Seketika itu hasbi, amel dan deni melihat ke wajah ardi, mereka dapat ingin mengetahui reaksi apa yang akan diperlihatkan oleh ardi, ketika melihat kekasih yang dicintainya pergi jalan-jalan dengan pria lain, bahkan sambil berbelanja ketempat seperti toko modis yang mungkin belum pernah sekalipun dilakukan oleh ardi, bahkan mereka berpikir seumur hidup pun ardi tidak akan bisa membawa linda belanja ditoko ini.
Alih-alih melihat wajah kecewa dan prustasi, mereka bertiga justru melihat ardi seperti tidak terpengaruh apapun dia terlihat seperti biasa saja, bahkan bisa dibilang tenang tidak seperti ketiga temannnya, dalam hal ini amel adalah orang yang paling mengerti, dia dapat melihat meskipun wajah ardi sepintas kelihatannya tenang, tapi amel mengetahui, dia dapat melihat bahwa hati ardi sangat terluka, hanya saja ardi tidak mau memperlihatkannya didepan mereka.
“Bener-bener kurang ajar dan tak tahu malu masa pacar teman sendiri di embat” kata deni, “lebih baik kita samperin aja kalau perlu kita hajar si jefri ini mentang-mentang banyak uang seenaknya aja mengajak jalan pacar orang” timpal hasbi
“Bagaimana kalu kita samperin aja tapi jangan dengan kekerasan kita bicara dengan baik-baik” kata amel. Dia tidak habis pikir, meskipun ardi tidak banyak uang tapi ardi selalu memberikan perhatian ekstra kepada linda, apapun yang linda mau ardi selalu berusaha mengabulkannya.
Ketika mereka mau berangkat terdengar suara ardi “sudah biarkan mereka jangan mengganggu kesenangan orang apa hak kita untuk mengganggu mereka”. “Tapi ardi linda itu kan pacar kamu masa kamu mau biarkan begitu saja”, kata deni
Ardi hanya menggelengkan kepalanya dengan santai sebagai tanda jangan buat masalah biarkan saja mereka. Setelah itu ardi berkata “sudah kita pulang saja sekarang” deni dan lainnya mengerti dan mereka pun dapat merasakan ardi tidak mau melihat lagi linda dan jefri, jadi mereka sepakat untuk pulang ke kampus mereka.
Setelah mereka pergi ke parkiran mall dan hendak mau berangkat tiba-tiba deni berbicara “tunggu dulu amel handphone ku dimana aku lupa naruh coba kamu miscall hp aku siapa tahu ada disini” sedetik kemudian amel mengambil hp nya lalu mencari kontak deni dan melakukan panggilan.
Panggilan hp amel ke hp deni tersambung, namun tidak ada suara disekitar mereka, deni menjadi panik takutnya hp deni jatuh dijalan. Panggilan pertama tidak ada yang mengangkat, kedua juga sama, ketiga masih juga tidak ada yang mengangkat keringat deni sudah mulai keluar dia sudah tidak bisa duduk dengan tenang, “coba sekali lagi” kata hasbi. Amel melakukan panggilan lagi, begitu dua kali nada dering tiba-tiba telepon ada yang mengangkat, yang menjawab adalah seorang wanita dan ternyata itu adalah Carla si manager toko modis, ternyata hp deni tertinggal di kantor Carla.
Setelah itu deni keluar untuk mengambil hanphone nya, namun sebelum pergi deni berkata pada amel untuk berangkat duluan saja, deni sekalian mau beli sesuatu di mall ini, mumpung kesini jadi sekalian aja biar nggak bolak-balik. Tadinya hasbi bilang bareng aja belinya mereka temenin, tapi deni bilang dia mau beli sendiri aja soalnya barang belanjaannya agak pribadi.
Akhirnya hasbi menyerah, meskipun dia penasaran terhadap barang yang mau dibeli oleh deni. Deni sambil melirik amel agar cepat pergi, seketika amel mengerti kenapa deni mau sendiri, tidak lain deni mau menghampiri linda dan jefri, tapi dia tidak mau ardi mengetahuinya, karena kalau ardi tahu pasti dia akan melarangnya, sebenarnya ardi bukan orang yang suka ikut campur, hanya saja dia tidak rela sahabat baiknya diperlakukan seperti itu.
Dia juga bertekad menemui linda bukan untuk cari masalah, dia hanya akan menanyakannya secara baik-baik.
Setelah amel dan teman-temannya pergi, deni cepat masuk ke mall untuk menuju toko modis dan langsung ke kantor Carla, setelah hp nya di ambil, deni cepat – cepat mencari keberadaan linda dan jefri, setelah beberapa saat mencari, akhirnya deni menemukan linda dan jefri yang telah beres melakukan pembayaran untuk belanjaan yang mereka beli.
ketika deni menghampiri linda dan jefri, alangkah kagetnya linda dia memperlihatkan wajah terkejutnya dengan sempurna, mungkin linda berfikir tidak akan bertemu sama orang seperti ardi, deni dan teman yang lainnya ditempat seperti ini, diantara teman sekampusnya mungkin hanya jefri yang biasa masuk ke toko ini, meskipun amel cukup lumayan kaya namun, dia tidak akan berani menghabiskan uang untuk belanja di toko ini.
Begitu deni sudah mendekat, dia langsung bertanya kepada jefri “hai jef lagi belanja nih?” Tanya deni dengan nada acuhnya dan terlihat seperti akrab, mungkin karena teman sekelas jadi tidak terlalu canggung ketika bertanya seperti itu, “ia nih den kebetulan tadi ketemu linda di luar” meskipun terkejut tapi jefri berusaha tenang dia menjawab dengan sekenanya saja.
Beda halnya dengan linda, dengan wajahnya yang pucat dia sambil menundukan kepalanya yang tidak berani menatap deni, beruntung sekali kamu linda mau dibelanjain sama bos jefri, dia orang yang paling kaya dikelas kami’ kata deni sambil melihat kearah barang belanjaan nya.
“Ia kebetulan den tadi aku ketemu jefri di depan kampus dan jefri ngajak aku belanja kesini” kata linda sambil kepala tertunduk. Linda tahu bahwa deni adalah teman terdekatnya ardi bahkan mereka tinggal dalam satu ruangan di asrama kampus
Antara ardi dan jefri ada kesenjangan yang jauh, meskipun secara ketampanan wajah ardi lebih tampan, tapi jefri juga tidak kalah jauh hanya berbeda sedikit. Lain halnya masalah keuangan perbedaanya terlihat banget, dalam satu kelas kalau ada peringkat kekayaan, jefri adalah rangking teratas sementara ardi adalah rangking paling bawah
“Kamu sendiri lagi ngapain den ada disini aku berani bertaruh kamu kesini bukan untuk belanja kan” kata jefri dengan wajah sombongnya, ia tadi aku kesini untuk wawancara dengan pemilik toko modis. Tadinya kami sudah mau berangkat ke kampus, tapi hp aku ketinggalan di kantor pemilik toko, jadi mau tidak mau aku balik lagi untuk mengambilnya.
Pada saat ini wajah linda memperlihatkan ketakutan yang sangat dalam, tadi jelas sekali deni bilang kami dan bukannya aku, seketika itu linda langsung bertanya kepada deni untuk sekedar memastikan kecurigaa nya, “deni tadi kamu bilang kami emang kamu kesini sama siapa saja?” Linda bertanya dengan suara yang agak gemetaran.
“Oh tadi kita kesini berempat aku, amel hasbi dan ardi” dengan santai deni menyebutkan nama – nama tersebut, meskipun kelihatan seperti ga ada apa-apa tapi ada rasa kepuasan dihati deni setelah mengatakan nama-nama tadi, dan ada rasa kesal yang dirasakan deni terhadap linda.
