Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

"EMM, LO GA HARUS MELAKUKAN INI, FREDERICK." UCAP MADDY DENGAN MALU-MALU.

"Apa yg lo katakan? Ini jelas-jelas semua salah gue. Gue merasa bersalah banget." Balas Frederick kemudian.

Beberapa saat yg lalu, Frederick menawarkan Maddy untuk segera pergi ke UKS yg terletak di sebelah timur gedung sekolah. Tidak main-main, Frederick langsung menggendong Maddy seolah-olah yg terluka adalah kakinya. Frederick lekas berlari melewati koridor menuju UKS, mengetahui bahwa ada seseorang yg harus ditolongnya sekarang. Mengingat hal tersebut membuat Maddy tersipu malu sekaligus sangat senang.

"Sialnya, gurunya sedang istirahat pula. Maaf kalau pertolongan pertama gue payah." Ucapnya kemudian Maddy tertawa kecil.

"A-ada yg salah?"

"Engga kok." Balasnya kemudian memberikan senyum kecil.

"Thank you ya, Frederick. Sana gih lanjutin permainannya. Sorry repotin."

"Repotin apanya? Justru gue yg merepotkan elo. Lain kali gue bakalan lebih berhati-hati. Lo juga ya."

"Okay."

"Oh iya, Maddy." Panggilnya kemudian Maddy menunggu kelanjutan perkataannya.

"Sampai jumpa lagi di kompetisi berikutnya." Ucapnya kemudian melambaikan tangannya dan meninggalkan Maddy.

Pipi Maddy mendadak menjadi merah dan memanas mendengarnya. Frederick tau bahwa selama ini mereka selalu berada di kompetisi yg sama?

1 jam sebelum kejadian

DETIK DEMI DETIK BERJALAN. Kompetisi sebentar lagi dimulai jam 7 malam. Kompetisi yg dibicarakan beberapa jam yg lalu oleh Maddy. Jantungnya tidak karuan menunggu waktu lebih cepat berjalan. Karena menunggu itu tidak enak, kita terus menggelisah, apalagi menunggu kompetisi yg lumayan banyak saingan.

"Selo aja woi. Masih ada 2 jam kok. Elo mandi dulu sana." Kata Jose menenangkan, karena dari tadi Maddy tidak bisa diam ditempatnya. Kakinya gatal, ingin rasanya berlari sana-sini untuk meredakan kegelisahannya. Maddy hari ini izin pulang lebih cepat dari biasanya untuk persiapan lomba, namun Jose mendadak ikutan izin pulang karena alasan sakit, padahal itu hanyalah alasan semata agar Jose dapat menemani sahabatnya ini yg akan ikut lomba.

Maddy memang tidak pintar dalam hal belajar, namun sastranya tidak perlu diragukan. Hanya kegugupannya yg menjadi faktor kekurangannya, oleh karena itu Maddy memerlukan seseorang untuk mendampinginya, seperti Jose.

Maddy menghela nafas pelan. "Iya, thanks. Btw, nanti 30 menit lagi gue mau mampir di supermarket dulu, mau beli kopi. Takut ngantuk nungguin peserta lombanya yg bergiliran maju nanti."

"Oke. Sendirian?"

"Yup."

"Baik. Oh iya, gimana sekarang jidat lo? Udah sehat-sehat aja?" Ucapnya setengah meledek.

"Baik, baik kok." Balas Maddy kemudin menaikkan sudut bibirnya.

"Dicium Frederick langsung sembuh kah?"

"Heh! Engga dicium ya!"

"Hahaha, iya, iya. Beruntung banget sih lo bisa diselamatin Prince Charming lo. Ini impian lo dari dulu ya? Sengaja kepalanya terkena bola, habis itu nanti dia berlari ke arah lo kemudian nyelamatin lo. Lo udah bikin semua skenario ini tersusun dengan rapi kan?"

"Hah? Ya ampun Jose, sejak kapan lo pintar ngarang cerita?" Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.

"Ya dari elo lah, siapa lagi."

"Iya, betul sih memang. Gue senang banget woi saat dia nolongin gue. Apalagi jidat gue diobatin dia."

“Jadi gimana perasaan lo saat lo berada di dekatnya? Deg-degan kah? Gimana wajahnya kalau dari dekat? Beruntung banget sih lo gila.” Lanjut Jose.

“Yang pastinya, it’s like a dream come true. Kapan lagi coba gue punya kesempatan kayak gini.” Jawabnya kemudian mukanya berseri-seri.

“Iya,iya. Dewi Fortuna sedang berada di sisi lo, Maddy.”

“Hehe, iya dong!”

"Eh ngomong-ngomong, salah tuh dia ngobatinnya." Balas Jose kemudian menunjukki Jidat-nya Maddy.

"Hah? Benarkah?” Ucapnya sambil meraba dahinya.

“Gapapa deh, yg penting dia udah berusaha. Ga kayak lo, panik setengah mati tapi ga tolongin gue."

"Itu karena gue masih shock di tempat, ngeliat jidat lo berdarah dikit gitu. Maaf ya, hehe." Balasnya menyeringai.

"Banyak cerita."

Maddy bersiap-siap untuk pergi ke supermarket terdekat, walau jaraknya lumayan jauh, namun itu satu-satunya supermarket yg ada di sekitaran daerahnya.

Mengingat bahwa supermarketnya di samping tebing yg curam, ia tak lupa untuk mengambil senter kecil agar bisa menerangi jalan yg dilaluinya, karena jam 6 sore sudah mulai gelap. Serta karena daerah yg dekat dipegunungan ini rawan hujan, Maddy membawa jas kuningnya untuk berjaga-jaga.

"Gue pigi dulu ya."

"Oke, hati-hati ya!" Sahut Jose kepadanya.

Percuma Jose mengucapkan hati-hati, Maddy tidak benar-benar berhati-hati, karena ia sangat ceroboh. Maddy memakai sepatu boot cokelatnya yg setinggi lutut dan membawa senter.

"Here we go." Ucap Maddy seolah-olah akan pergi berpetualang.

Rumah Maddy terletak di lokasi strategis, namun bagaimanapun juga, lokasi inilah yg diakui sebagai tempat perumahan teraman. Bagaimana tidak? Pos keamanan yg menjaga ketat 24 jam, siapapun dilarang memasuki perumahan ini, kecuali orang yg memiliki card pass yg dibuat khusus hanya untuk penghuni perumahan ini. Kekurangannya hanyalah jalan didepan perumahan yg lumayan susah dilewati karena adanya jurang yg dalam. Namun sudah ada pembatas yg dibuat oleh pemerintah untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan.

30 menit sebelum kejadian

"Totalnya 35.000 ya mbak." Ucap kasirnya setelah meng-scan barang belanjaan Maddy.

Maddy mengeluarkan uang pecahan 50.000 dan menyerahkannya kepada kasir.

"Terima kasih, selamat datang kembali,"

Setelah menyimpan uang kembalian, Maddy keluar dari supermarket tersebut dan berjalan kembali ke rumah. Seperti yang diprediksi, rintikan hujan mulai turun.

"Untung bawa jas." Gumamnya. Ia kemudian memasukkan lengannya kedalam jas kuning miliknya dan mulai melangkah cepat. Seiring berjalannya waktu, Maddy tidak ingin menyia-nyiakan perjalanan pulang ke rumah yg memakan 15 menit ini sia-sia, jadi ia memutuskan untuk mengambil buku yg berisi paduan untuk lomba nantinya dan membacanya sambil berjalan.

Kejadian

Maddy berjalan sambil membaca, yg artinya sangat berbahaya, namun dia tidak mengkhawatirkannya, yg dia khawatirkan sekarang adalah lombanya, lomba yg harus ia menangkan, karena tahun lalu dia mendapatkan posisi ketiga, tahun ini dirinya optimis akan mendapatkan posisi pertama. Posisi pertama harus menjadi miliknya.

Pandangan Maddy tiba-tiba tertuju kepada seorang nenek-nenek yg hendak melewati trotoar, nenek itu terlihat lemah dengan tongkatnya. Tiba-tiba sekelabat cahaya menembus kabut dan cahaya itu menerobos menuju arah nenek itu. Maddy menjatuhkan bukunya dan spontan berlari menuju nenek tersebut yg sedang ditengah-tengah trotoar.

"NENEKK! AWASSS!!" Teriak Maddy sekencang mungkin dan mendorong tubuh nenek itu kesamping trotoar agar tidak tertabrak truk tersebut. Karena perbuatan heroiknya itu, Maddy jatuh tersungkur.

Maddy hendak berdiri, namun apa daya, semua sudah terlambat. Kedua kakinya berhasil berdiri, namun kemudian mata Maddy menyipit ketika cahaya yang menyilaukan tersebut sudah didepan mata. Truk tersebut tidak sempat membelok arah ketika mendapati ada seseorang didepannya. Sebuah guncangan ditubuhnya membuat tubuh Maddy terpental dan terhempas disamping jurang. Maddy ingin meraih tepi pembatas itu, namun tubuhnya semakin tertarik kebawah, dan membuat segalanya menjadi gelap, dan sunyi.

Inikah akhir bagiku? Aku akan mati sia-sia? Haha. Tidak apa-apa. Setidaknya sebelum mati, aku melakukan perbuatan yg baik. Batinnya sebelum semuanya berakhir.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel