Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Mama Mertua Datang

Bab 2 : Mama Mertua Datang

"Berhenti! Aku sedang berganti pakaian!" Dengan tergesa-gesa Angkara beranjak dari tempat tidur lalu mengelap permainannya tadi menggunakan kemeja kerjanya. Kemudian melempar asal pakaian kotor tersebut ke lantai.

Dari luar pintu, Winda menghentikan gerakan tangannya. Dengan kening berkerut kuat ia berkata lagi," Iya Mas, apa tidak langsung mandi saja, Mas?"

Mendengar perkataan Winda, Angkara menyambar kaos putihnya di lemari lalu melangkah cepat menuju pintu dan memutar gagang pintu tersebut.

"Tak usah mengaturku, Win! Aku bukan anak kecil! Urus saja dirimu itu!" Mata Angkara melotot tajam.

Winda langsung menunduk pandangan kala matanya bertemu dengan mata Angkara. "Maaf Mas, aku hanya mengingatkanmu saja," kata Winda, memberanikan diri menatap sang suami.

Dengkusan kasar berhembus cepat dari hidung Angkara setelahnya. Semakin hari wajah Winda membuat matanya sakit. Pakaian yang digunakan Winda, itu, itu saja, bahkan wajahnya yang dulu lumayan bersih. Sekarang ditumbuhi jerawat dan flek-flek hitam. Berbanding terbalik sekali dengan Laras, yang selalu berpenampilan cantik, wangi dan bersih.

"Terserah! Minggir kamu! Aku mau ke kamar mandi!"

Tanpa memikirkan Winda yang tengah berbadan dua, Angkara menabrak pundak Winda yang menghalanginya untuk keluar kamar. Winda tergelak, dengan cepat menahan tubuhnya sendiri.

"Bersabarlah Winda," desisnya sambil melihat kepergian Angkara.

Dia pun masuk perlahan ke dalam kamar hendak mengambil pakaian Angkara yang tergeletak di lantai.

Saat Winda meraih kemeja putih Angkara, bau menyengat menyeruak ke indera penciumannya seketika. Dahi Winda berkerut kuat, tampak berpikir keras.

"Apa ini? Kenapa baunya seperti ...." Winda mencoba mengamati pakaian Angkara. Dia tentu saja tak asing dengan cairan tersebut.

"Apa mungkin Mas Angkara ,... sudahlah, namanya juga laki-laki, mungkin dia tidak bisa menggauliku karena aku hamil." Kepala Winda menggeleng hendak mengusir pikiran negatifnya.

*

*

*

Keesokan harinya, seperti biasa Winda akan mencoba bangun pagi dan memasak untuk Angkara. Di usia kehamilannya yang baru trimester satu, Winda mudah sekali mual-mual, tak mampu mencium bau bawang. Winda tak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi, saat dia dan Angkara berdebat karena persoalan sarapan.

Setelah memasak makanan seadanya yang tersedia di dalam kulkas, Winda pergi ke kamar hendak memberitahu Angkara bahwa sarapan sudah siap. Akan tetapi, belum juga kakinya bergerak. Angkara sudah terlebih dahulu datang ke dapur.

"Apa sarapan hari ini?" Dengan raut wajah datar Angkara menarik kursi dan mendaratkan bokongnya.

Melihat kedatangan Angkara, Winda mengulas senyum tipis. Lalu membuka tudung saji di atas meja.

"Ini Mas, tahu goreng, ikan asing sama plecing kangkung," ucapnya dengan senyuman yang tak pudar dari wajahnya sedari tadi.

Brak!

Winda terperanjat kaget kala Angkara menggebrak meja seketika hingga makanan yang tersaji berhamburan keluar.

"Masakan apa ini?! Apa tidak ada makanan lain hah! Aku bosan makan makanan sampah ini!" Dengan muka merah padam, Angkara bangkit berdiri kemudian melayangkan tatapan nyalang.

"Tapi Mas, hanya ada makanan ini di kulkas," jelas Winda, mencoba memberi pengertian pada sang suami.

"Cih! Alasan! Kenapa kau tidak membeli ayam, ikan, atau sapi! Kemana uang yang aku beri! Apa kau pakai untuk keperluan lain hah!"

Suara Angkara semakin meninggi. Winda sudah tak tahan lagi. Pria yang sudah bersamanya kurang lebih lima tahun ini, sikapnya semakin berubah.

"Bagaimana aku mau membeli ayam dan ikan! Uang yang kamu beri tak cukup, Mas!"

Jika kemarin Winda tak berani menjawab perkataan Angkara. Kini dia memberanikan diri mengeluarkan pendapatnya. Sebab uang yang diberi Angkara memang tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan handbody saja untuk kebutuhannya sendiri tak dapat dia beli.

"Kamu sudah berani melawanku!?" Angkara melotot tajam sambil berkacak pinggang. "500 ribu, kau bilang tidak cukup katamu!"

"Iya, memang tidak cukup, Mas. Makanya berikan lebih untukku, agar aku bisa membeli makanan yang kamu mau," kata Winda lembut, berharap Angkara mengerti.

"Ada apa ini ribut-ribut?"

Belum sempat Angkara mengeluarkan pendapat. Santi—Mama Angkara bertandang ke rumah tiba-tiba. Mertua Winda itu memang tinggal satu kompleks dengannya.

"Winda udah berani ngelawan aku, Ma. Gara-gara aku bosan sama makanan, dia minta uang kebutuhan rumah ditambahin," Angkara berkata cepat.

Santi tersenyum sinis. "Astaga, kamu udah berani ngelawan anakku ya! Harusnya kamu itu harus pandai-pandai mengatur keuangan."

"Aku sudah berusaha untuk bisa mengatur keuangan, Ma. Tapi, bahan-bahan di pasar semakin naik. Uang 500 ribu itu nggak cukup buat sebulan, Ma." Winda berusaha menjelaskan dengan suara yang lembut dan pelan.

Santi membalas dengan mendelikkan mata ke atas sejenak.

"Kalau bisa dinaikan jadi satu juta Mas, uang untuk mama di kurangi," kata Winda sambil mengalihkan pandangan ke arah Angkara.

Angkara enggan menyahut. Dia malah mendengus kasar. Mood makan hancur seketika dan tak berselera untuk sarapan pagi ini.

"Serakah kamu ya. Aku ini Mamanya! Tentu saja Angkara akan mendahulukan Mamanya dulu! Angkara itu setiap bulan harus membayar rumah ini, membayar angsuran mobil dan juga harus membayar uang kuliah adiknya! Kalau kamu merasa kebutuhanmu kurang! Cari kerja sana!" Dengan mata melotot tajam, Santi menolak dengan tegas permintaan Winda.

Winda menahan geram, melihat mama mertuanya itu selalu ikut campur urusan rumah tangganya. Siapa juga yang tak mau berkerja. Dia dari dulu ingin berkerja. Tapi, Angkara selalu melarangnya. Tentu saja sebagai istri yang baik, Winda menurut. Jadi, saat ini Winda menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Apalagi sekarang dia tengah hamil muda.

"Ahk! Kalian membuat aku pusing! Sudahlah aku mau berangkat kerja sekarang!" seru Angkara sambil melangkah pergi.

Meninggalkan Winda dan Santi saling memandang satu sama lain.

"Aku ingatkan sama kamu ya, Winda. Jadi istri itu jangan melawan suami. Anakku masih berbaik hati mau memberikan kamu uang. Lagian 500 ribu itu sudah sangat cukup untuk kebutuhan di rumah," Santi berkata dengan penuh penekanan. Tanpa mendengar tanggapan menantunya, dia berlalu pergi.

Winda hanya dapat menghembuskan napas panjang setelahnya. Sinar matanya dipenuhi kesedihan. Dia begitu nelangsa karena mertuanya tak bersikap baik padanya. Di tahun pertama menikah Santi mulai menampakkan wujud aslinya. Winda pun bingung apa yang membuat Santi tak menyukainya.

*

*

*

Sementara itu di sisi lain, lagi dan lagi Angkara tersenyum lebar kala mendapat sarapan lagi dari Laras, setelah tadi curhat mengenai permasalahan rumah tangganya.

"Terima kasih ya Laras, aku jadi tak enak hati, meminta sarapan darimu terus," ucap Angkara sebelum memasuki ruanga kerjanya.

"Tak apa, Pak. Kebetulan di rumah masih banyak makanan tadi. Ya sudah, Bapak sarapan gih, keburu buka nih bank," celetuknya sambil menebarkan senyuman.

"Hehe. Iya, Laras. Bapak ke dalam dulu ya, selamat berkerja." Angkara begitu terkesima, mendapat senyum manis dari Laras. Setelah berbincang-bincang sejenak. Dia pun masuk ke ruang khusus yang terletak di bagian belakang.

Angkara dan Laras pun mulai berkerja seperti biasa. Hingga menjelang sore, aktivitas mereka telah selesai.

Setelah memeriksa data-data dan merasa semuanya aman. Dengan langkah gontai Angkara keluar dari bank menuju parkiran mobil. Hari ini suasana hatinya begitu buruk, ingin pulang ke rumah rasanya berat sekali. Namun, apa boleh buat, dia pun bingung ingin pulang kemana lagi.

Langkah kaki Angkara seketika terhenti, kala melihat Laras berdiri di depan bank seperti tengah menunggu jemputan.

"Laras, ngapain kamu? Lagi nunggu jemputan?" tanya Angkara sambil melangkah maju.

Laras menoleh seketika lalu tersenyum lebar dan berkata,"Iya Pak. Supirku pribadiku belum datang."

"Ya sudah, aku antar ke rumahmu, Laras." Angkara menawarkan tumpangan pada Laras. Sebagai balasan karena sudah dua hari ini Laras memberinya makanan.

"Waduh, nggak apa-apa nih Pak. Laras nggak enak jadi merepotkan Bapak."

"Ayolah, tak apa. Lagipula hitung-hitung aku membalas kebaikanmu sudah memberikan aku makanan dua hari ini."

Laras tampak berpikir keras sejenak. Kemudian menganggukkan kepalanya seketika.

Angkara tersenyum lebar kala Laras mengiyakan. Entah mengapa setiap kali berbicara dengan Laras, debaran di jantungnya semakin kian terasa. Hingga membuat hatinya berbunga-bunga.

"Kamu tinggal sama siapa, Laras?" Saat mobil mulai berjalan, Angkara mulai membuka suara. Dia pernah mendengar jika Laras sudah memiliki suami. Namun, Angkara tak percaya sama sekali. Sebab Laras masih sangat muda menurutnya.

"Bapak mau tahu banget, apa mau tahu aja?" Laras melempar senyum genit setelahnya.

Pecahlah tawa Angkara seketika. "Haha, mau tahu banget!" ucapnya sambil mengalihkan pandangan ke depan, memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya.

"Laras sudah berkeluarga, Pak. Hehe." Laras menyelipkan anak rambutnya ke telinga sambil menatap dalam mata Angkara.

Mendengar hal itu, Angkara tertawa hambar. Entah mengapa dia kecewa karena Laras ternyata sudah memiliki suami. Menit selanjutnya, tak ada lagi perbincangan, Angkara hanyut dalam pemikirannya sendiri.

Baik Angkara dan Laras sama-sama diam, memandangi jalanan ibu kota yang nampak ramai seperti biasanya.

Tak lama kemudian, kendaraan milik Angkara berhenti di perumahan elit.

"Rumahmu di sini?" Mata Angkara memandang keluar, melihat rumah bertingkat dua yang dipagari tembok putih menjulang.

"Iya Pak, rumah Mas Satria."

'Oh jadi nama suaminya Satria.'

Angkara mangut-mangut sejenak. Dering ponselnya berbunyi seketika. Dia melirik ke atas dashboard melihat nama 'wanita buruk rupa' menghiasi layar ponselnya dan ternyata dari Winda, istrinya sendiri. Namun, Angkara mengabaikan panggilan.

"Pak, itu ada orang telepon, nggak diangkat?" Laras hendak memutar gagang pintu mobil.

"Nggak penting, Laras. Biarin saja! Biasa orang suka iseng."

Laras mengangguk pelan. "Oh ya, terima kasih Pak tumpangannya, Bapak baik banget deh," celetuknya sambil menyungging senyum.

"Harus dong baik sama wanita cantik kayak kamu. Beruntung banget ya kamu, Laras. Punya suami tajir melintir," Angkara membalas dengan tersenyum pula.

"Beruntung sih, tapi ...." Raut wajah Laras berubah sendu seketika.

Melihat perubahan mimik muka Laras, kening Angkara berkerut samar.

"Tapi kenapa, Laras?" tanyanya penasaran.

"Bapak penasaran?" Laras tak langsung menjawab pertanyaan Angkara. Dia malah mendekatkan tubuhnya. Membuat jantung Angkara berdetak cepat.

"Iya, Laras. Bapak sangat penasaran, Laras." Angkara dilanda kegugupan. Dia menahan diri kala tangan Laras mengelus-elus pahanya saat ini.

"Kalau Bapak mau tahu banget, nanti malam kita ketemuan di hotel. Nanti Laras kasi tahu deh." Laras mengigit bibir bawahnya sejenak tanpa menghentikan gerakan tangannya. Detik selanjutnya, dengan tergesa-gesa Laras turun dari mobil.

Angkara kebingungan, dia sudah tak mampu menahan lagi diri. Kepalanya seakan-akan akan meledak sekarang. Secepat kilat ia menyembulkan kepala keluar dan menatap Laras.

"Laras, ho—"

"Shftt, nanti Laras kirim pesan di instagram Bapak ya," Laras langsung menyela lalu berlari kecil menuju rumahnya.

Angkara meneguk ludah berkali-kali. 'Argh! Cepatlah malam! Lebih baik aku tidak pulang ke rumah malam ini!'

Di sisi lain, Winda menarik napas panjang karena panggilannya tak diangkat dari tadi.

"Ma, Papa kapan pulang? Rio mau bakso, Ma!" Rio memeluk kedua kaki Winda seketika.

"Sabar ya Sayang, sebentar lagi Papa datang, sekarang kita makan mie saja ya." Winda berjongkok dan menatap dalam mata anaknya. Sejak kemarin Rio ingin memakan bakso. Tapi tak kesampaian karena duit tidak cukup.

Rio membalas dengan mengangguk lemah.

Bab 2 : Mama Mertua Datang

"Berhenti! Aku sedang berganti pakaian!" Dengan tergesa-gesa Angkara beranjak dari tempat tidur lalu mengelap permainannya tadi menggunakan kemeja kerjanya. Kemudian melempar asal pakaian kotor tersebut ke lantai.

Dari luar pintu, Winda menghentikan gerakan tangannya. Dengan kening berkerut kuat ia berkata lagi," Iya Mas, apa tidak langsung mandi saja, Mas?"

Mendengar perkataan Winda, Angkara menyambar kaos putihnya di lemari lalu melangkah cepat menuju pintu dan memutar gagang pintu tersebut.

"Tak usah mengaturku, Win! Aku bukan anak kecil! Urus saja dirimu itu!" Mata Angkara melotot tajam.

Winda langsung menunduk pandangan kala matanya bertemu dengan mata Angkara. "Maaf Mas, aku hanya mengingatkanmu saja," kata Winda, memberanikan diri menatap sang suami.

Dengkusan kasar berhembus cepat dari hidung Angkara setelahnya. Semakin hari wajah Winda membuat matanya sakit. Pakaian yang digunakan Winda, itu, itu saja, bahkan wajahnya yang dulu lumayan bersih. Sekarang ditumbuhi jerawat dan flek-flek hitam. Berbanding terbalik sekali dengan Laras, yang selalu berpenampilan cantik, wangi dan bersih.

"Terserah! Minggir kamu! Aku mau ke kamar mandi!"

Tanpa memikirkan Winda yang tengah berbadan dua, Angkara menabrak pundak Winda yang menghalanginya untuk keluar kamar. Winda tergelak, dengan cepat menahan tubuhnya sendiri.

"Bersabarlah Winda," desisnya sambil melihat kepergian Angkara.

Dia pun masuk perlahan ke dalam kamar hendak mengambil pakaian Angkara yang tergeletak di lantai.

Saat Winda meraih kemeja putih Angkara, bau menyengat menyeruak ke indera penciumannya seketika. Dahi Winda berkerut kuat, tampak berpikir keras.

"Apa ini? Kenapa baunya seperti ...." Winda mencoba mengamati pakaian Angkara. Dia tentu saja tak asing dengan cairan tersebut.

"Apa mungkin Mas Angkara ,... sudahlah, namanya juga laki-laki, mungkin dia tidak bisa menggauliku karena aku hamil." Kepala Winda menggeleng hendak mengusir pikiran negatifnya.

*

*

*

Keesokan harinya, seperti biasa Winda akan mencoba bangun pagi dan memasak untuk Angkara. Di usia kehamilannya yang baru trimester satu, Winda mudah sekali mual-mual, tak mampu mencium bau bawang. Winda tak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi, saat dia dan Angkara berdebat karena persoalan sarapan.

Setelah memasak makanan seadanya yang tersedia di dalam kulkas, Winda pergi ke kamar hendak memberitahu Angkara bahwa sarapan sudah siap. Akan tetapi, belum juga kakinya bergerak. Angkara sudah terlebih dahulu datang ke dapur.

"Apa sarapan hari ini?" Dengan raut wajah datar Angkara menarik kursi dan mendaratkan bokongnya.

Melihat kedatangan Angkara, Winda mengulas senyum tipis. Lalu membuka tudung saji di atas meja.

"Ini Mas, tahu goreng, ikan asing sama plecing kangkung," ucapnya dengan senyuman yang tak pudar dari wajahnya sedari tadi.

Brak!

Winda terperanjat kaget kala Angkara menggebrak meja seketika hingga makanan yang tersaji berhamburan keluar.

"Masakan apa ini?! Apa tidak ada makanan lain hah! Aku bosan makan makanan sampah ini!" Dengan muka merah padam, Angkara bangkit berdiri kemudian melayangkan tatapan nyalang.

"Tapi Mas, hanya ada makanan ini di kulkas," jelas Winda, mencoba memberi pengertian pada sang suami.

"Cih! Alasan! Kenapa kau tidak membeli ayam, ikan, atau sapi! Kemana uang yang aku beri! Apa kau pakai untuk keperluan lain hah!"

Suara Angkara semakin meninggi. Winda sudah tak tahan lagi. Pria yang sudah bersamanya kurang lebih lima tahun ini, sikapnya semakin berubah.

"Bagaimana aku mau membeli ayam dan ikan! Uang yang kamu beri tak cukup, Mas!"

Jika kemarin Winda tak berani menjawab perkataan Angkara. Kini dia memberanikan diri mengeluarkan pendapatnya. Sebab uang yang diberi Angkara memang tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan handbody saja untuk kebutuhannya sendiri tak dapat dia beli.

"Kamu sudah berani melawanku!?" Angkara melotot tajam sambil berkacak pinggang. "500 ribu, kau bilang tidak cukup katamu!"

"Iya, memang tidak cukup, Mas. Makanya berikan lebih untukku, agar aku bisa membeli makanan yang kamu mau," kata Winda lembut, berharap Angkara mengerti.

"Ada apa ini ribut-ribut?"

Belum sempat Angkara mengeluarkan pendapat. Santi—Mama Angkara bertandang ke rumah tiba-tiba. Mertua Winda itu memang tinggal satu kompleks dengannya.

"Winda udah berani ngelawan aku, Ma. Gara-gara aku bosan sama makanan, dia minta uang kebutuhan rumah ditambahin," Angkara berkata cepat.

Santi tersenyum sinis. "Astaga, kamu udah berani ngelawan anakku ya! Harusnya kamu itu harus pandai-pandai mengatur keuangan."

"Aku sudah berusaha untuk bisa mengatur keuangan, Ma. Tapi, bahan-bahan di pasar semakin naik. Uang 500 ribu itu nggak cukup buat sebulan, Ma." Winda berusaha menjelaskan dengan suara yang lembut dan pelan.

Santi membalas dengan mendelikkan mata ke atas sejenak.

"Kalau bisa dinaikan jadi satu juta Mas, uang untuk mama di kurangi," kata Winda sambil mengalihkan pandangan ke arah Angkara.

Angkara enggan menyahut. Dia malah mendengus kasar. Mood makan hancur seketika dan tak berselera untuk sarapan pagi ini.

"Serakah kamu ya. Aku ini Mamanya! Tentu saja Angkara akan mendahulukan Mamanya dulu! Angkara itu setiap bulan harus membayar rumah ini, membayar angsuran mobil dan juga harus membayar uang kuliah adiknya! Kalau kamu merasa kebutuhanmu kurang! Cari kerja sana!" Dengan mata melotot tajam, Santi menolak dengan tegas permintaan Winda.

Winda menahan geram, melihat mama mertuanya itu selalu ikut campur urusan rumah tangganya. Siapa juga yang tak mau berkerja. Dia dari dulu ingin berkerja. Tapi, Angkara selalu melarangnya. Tentu saja sebagai istri yang baik, Winda menurut. Jadi, saat ini Winda menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Apalagi sekarang dia tengah hamil muda.

"Ahk! Kalian membuat aku pusing! Sudahlah aku mau berangkat kerja sekarang!" seru Angkara sambil melangkah pergi.

Meninggalkan Winda dan Santi saling memandang satu sama lain.

"Aku ingatkan sama kamu ya, Winda. Jadi istri itu jangan melawan suami. Anakku masih berbaik hati mau memberikan kamu uang. Lagian 500 ribu itu sudah sangat cukup untuk kebutuhan di rumah," Santi berkata dengan penuh penekanan. Tanpa mendengar tanggapan menantunya, dia berlalu pergi.

Winda hanya dapat menghembuskan napas panjang setelahnya. Sinar matanya dipenuhi kesedihan. Dia begitu nelangsa karena mertuanya tak bersikap baik padanya. Di tahun pertama menikah Santi mulai menampakkan wujud aslinya. Winda pun bingung apa yang membuat Santi tak menyukainya.

*

*

*

Sementara itu di sisi lain, lagi dan lagi Angkara tersenyum lebar kala mendapat sarapan lagi dari Laras, setelah tadi curhat mengenai permasalahan rumah tangganya.

"Terima kasih ya Laras, aku jadi tak enak hati, meminta sarapan darimu terus," ucap Angkara sebelum memasuki ruanga kerjanya.

"Tak apa, Pak. Kebetulan di rumah masih banyak makanan tadi. Ya sudah, Bapak sarapan gih, keburu buka nih bank," celetuknya sambil menebarkan senyuman.

"Hehe. Iya, Laras. Bapak ke dalam dulu ya, selamat berkerja." Angkara begitu terkesima, mendapat senyum manis dari Laras. Setelah berbincang-bincang sejenak. Dia pun masuk ke ruang khusus yang terletak di bagian belakang.

Angkara dan Laras pun mulai berkerja seperti biasa. Hingga menjelang sore, aktivitas mereka telah selesai.

Setelah memeriksa data-data dan merasa semuanya aman. Dengan langkah gontai Angkara keluar dari bank menuju parkiran mobil. Hari ini suasana hatinya begitu buruk, ingin pulang ke rumah rasanya berat sekali. Namun, apa boleh buat, dia pun bingung ingin pulang kemana lagi.

Langkah kaki Angkara seketika terhenti, kala melihat Laras berdiri di depan bank seperti tengah menunggu jemputan.

"Laras, ngapain kamu? Lagi nunggu jemputan?" tanya Angkara sambil melangkah maju.

Laras menoleh seketika lalu tersenyum lebar dan berkata,"Iya Pak. Supirku pribadiku belum datang."

"Ya sudah, aku antar ke rumahmu, Laras." Angkara menawarkan tumpangan pada Laras. Sebagai balasan karena sudah dua hari ini Laras memberinya makanan.

"Waduh, nggak apa-apa nih Pak. Laras nggak enak jadi merepotkan Bapak."

"Ayolah, tak apa. Lagipula hitung-hitung aku membalas kebaikanmu sudah memberikan aku makanan dua hari ini."

Laras tampak berpikir keras sejenak. Kemudian menganggukkan kepalanya seketika.

Angkara tersenyum lebar kala Laras mengiyakan. Entah mengapa setiap kali berbicara dengan Laras, debaran di jantungnya semakin kian terasa. Hingga membuat hatinya berbunga-bunga.

"Kamu tinggal sama siapa, Laras?" Saat mobil mulai berjalan, Angkara mulai membuka suara. Dia pernah mendengar jika Laras sudah memiliki suami. Namun, Angkara tak percaya sama sekali. Sebab Laras masih sangat muda menurutnya.

"Bapak mau tahu banget, apa mau tahu aja?" Laras melempar senyum genit setelahnya.

Pecahlah tawa Angkara seketika. "Haha, mau tahu banget!" ucapnya sambil mengalihkan pandangan ke depan, memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya.

"Laras sudah berkeluarga, Pak. Hehe." Laras menyelipkan anak rambutnya ke telinga sambil menatap dalam mata Angkara.

Mendengar hal itu, Angkara tertawa hambar. Entah mengapa dia kecewa karena Laras ternyata sudah memiliki suami. Menit selanjutnya, tak ada lagi perbincangan, Angkara hanyut dalam pemikirannya sendiri.

Baik Angkara dan Laras sama-sama diam, memandangi jalanan ibu kota yang nampak ramai seperti biasanya.

Tak lama kemudian, kendaraan milik Angkara berhenti di perumahan elit.

"Rumahmu di sini?" Mata Angkara memandang keluar, melihat rumah bertingkat dua yang dipagari tembok putih menjulang.

"Iya Pak, rumah Mas Satria."

'Oh jadi nama suaminya Satria.'

Angkara mangut-mangut sejenak. Dering ponselnya berbunyi seketika. Dia melirik ke atas dashboard melihat nama 'wanita buruk rupa' menghiasi layar ponselnya dan ternyata dari Winda, istrinya sendiri. Namun, Angkara mengabaikan panggilan.

"Pak, itu ada orang telepon, nggak diangkat?" Laras hendak memutar gagang pintu mobil.

"Nggak penting, Laras. Biarin saja! Biasa orang suka iseng."

Laras mengangguk pelan. "Oh ya, terima kasih Pak tumpangannya, Bapak baik banget deh," celetuknya sambil menyungging senyum.

"Harus dong baik sama wanita cantik kayak kamu. Beruntung banget ya kamu, Laras. Punya suami tajir melintir," Angkara membalas dengan tersenyum pula.

"Beruntung sih, tapi ...." Raut wajah Laras berubah sendu seketika.

Melihat perubahan mimik muka Laras, kening Angkara berkerut samar.

"Tapi kenapa, Laras?" tanyanya penasaran.

"Bapak penasaran?" Laras tak langsung menjawab pertanyaan Angkara. Dia malah mendekatkan tubuhnya. Membuat jantung Angkara berdetak cepat.

"Iya, Laras. Bapak sangat penasaran, Laras." Angkara dilanda kegugupan. Dia menahan diri kala tangan Laras mengelus-elus pahanya saat ini.

"Kalau Bapak mau tahu banget, nanti malam kita ketemuan di hotel. Nanti Laras kasi tahu deh." Laras mengigit bibir bawahnya sejenak tanpa menghentikan gerakan tangannya. Detik selanjutnya, dengan tergesa-gesa Laras turun dari mobil.

Angkara kebingungan, dia sudah tak mampu menahan lagi diri. Kepalanya seakan-akan akan meledak sekarang. Secepat kilat ia menyembulkan kepala keluar dan menatap Laras.

"Laras, ho—"

"Shftt, nanti Laras kirim pesan di instagram Bapak ya," Laras langsung menyela lalu berlari kecil menuju rumahnya.

Angkara meneguk ludah berkali-kali. 'Argh! Cepatlah malam! Lebih baik aku tidak pulang ke rumah malam ini!'

Di sisi lain, Winda menarik napas panjang karena panggilannya tak diangkat dari tadi.

"Ma, Papa kapan pulang? Rio mau bakso, Ma!" Rio memeluk kedua kaki Winda seketika.

"Sabar ya Sayang, sebentar lagi Papa datang, sekarang kita makan mie saja ya." Winda berjongkok dan menatap dalam mata anaknya. Sejak kemarin Rio ingin memakan bakso. Tapi tak kesampaian karena duit tidak cukup.

Rio membalas dengan mengangguk lemah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel