Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

##Bab 3. Persiapan Pernikahan

Tepat saat itu seorang gadis datang menghampiri Eren dan juga Adit karena tadi dia tidak sengaja melihat keduanya di sana, dan gadis itu adalah Elis, pacarnya Eren. Dia pun datang menghampiri Eren.

"Eren, kok kamu di sini sayang? Kamu gak masuk kelas?" tanya Elis menyapa Eren.

"Ah... itu aku dan Adit lagi kena hukuman. Kami ketahuan bolos oleh kakaknya Adit," jawab Eren sambil berdiri dari duduknya.

"Maksud kamu Bu Deby? Loh kok dia bisa mergoki kalian di sana? Bukannya gak ada satupun guru yang tahu ya kalau kalian biasa bolos di sana?" kata Elis.

"Entahlah, mungkin ada yang ngasih tahu dia," ucap Eren.

"Hemm, kalau gitu aku bisa bantu gak? Katakan hukuman kamu apa, biar aku bantuin?" tawar Elis sambil bertanya hukuman apa yang diberikan kepada keduanya.

"Gak usah, kamu masuk kelas aja sana. Cuma disuruh bersihin sampah saja kok, gak seberapa," tolak Eren.

"Aku bisa bantu loh..." kata Elis bersikeras mau membantu, tetapi Eren kembali menolak karena ini hukumannya bukan hukuman Elis.

"Sudah gak apa-apa, kamu masuk kelas aja sana."

"Hemm, baiklah. Aku masuk ya. Nanti setelah jam istirahat aku bawakan minuman. Kamu jangan capek-capek ya..." kata Elis begitu perhatian.

"Ya, baiklah..." angguk Eren, dan Elis pun pergi.

Melihat Elis sudah pergi, Adit menghampiri Eren. "Sekarang aku tahu kenapa kamu begitu sedih dan tidak bersemangat. Karena kamu bakalan menikah dengan kakakku dan ninggalin pacarmu kan? Astaga, aku juga pasti akan sedih pastinya, apalagi pacar yang akan aku tinggalkan seperhatian itu padaku," ujar Adit sambil menepuk pundak Eren.

Eren tidak merespon. Dia hanya fokus menatap punggung Elis yang pergi menuju kelas. Apa yang dikatakan Adit ada benarnya juga, di mana Eren tentunya sangat mencintai Elis dan sangat sulit untuknya meninggalkannya.

"Eh gimana kalau gini saja? Kamu kan sebentar lagi nih nikah dengan kakakku, jadi Elisnya titip ke aku saja. Elisnya buat aku gimana?" ucap Adit.

Seketika itu juga Eren mengalihkan pandangannya dan melototkan matanya ke arah Adit.

"Ulang kamu bilang apa tadi?" tanya Eren.

"Ah... hehe, aku bercanda. Jangan marah dong, serius aku cuma bercanda..." ucap Adit langsung ketakutan melihat tatapan tajam Eren yang siap kapan saja menonjoknya kalau dia salah bicara lagi.

"Dengar ya, aku dengan kakakmu cuma nikah bohongan. Palingan nanti kami akan cerai. Untuk sekarang biarkan saja kami mengikuti perintah keluarga," ujar Eren.

"Haha, iya benar juga. Aku setuju," sahut Adit dengan senyuman terpaksa, di mana dia kurang yakin kalau Eren dan Deby akan bercerai nanti setelah menikah.

Kemarin Adit tak sengaja mendengar obrolan mama dan papanya terkait pernikahan Eren dan Deby, di mana mereka tidak akan membiarkan adanya perceraian di antara Eren dan Deby setelah menikah nanti. Saat itu Adit langsung yakin kalau sebenarnya pernikahan Eren dan Deby sudah direncanakan oleh orang tuanya, begitu juga dengan orang tua Eren.

Apalagi saat melihat orang tuanya sama sekali tidak ada raut wajah sedih atau kecewa ketika mendapat kabar kalau Eren dan Deby habis tidur berduaan di dalam kamar hotel.

"Hai... kenapa kalian malah asik mengobrol? Cepat bersihkan sampah itu. Kalau kalian seperti itu terus kapan selesainya?" terdengar teriakan Deby dari samping mengomeli mereka yang malah asik mengobrol bukannya membersihkan sampah di depan mereka.

"Ah... iya kak, ini kami mau bersihin," dengan segera Adit mengambil kembali sapu yang tadi dia lempar lalu pura-pura menyapu, begitu pula dengan Eren.

"Astaga anak-anak ini. Dari tadi pasti asik ngobrol. Satupun tidak ada bekas kalian membersihkan sampahnya..." Deby menghampiri mereka dan melihat sampah masih di mana-mana, belum ada satupun yang dibersihkan oleh keduanya.

"Ayolah kak, kami tidak terbiasa membersihkan sampah. Tolonglah maafin kami. Bentar tadi kakak nyebut kami anak-anak ya? Jangan lupa kak, Eren itu calon suami kakak..." ujar Adit.

Seketika itu juga Eren langsung sigap ke arah Adit dan menutup mulutnya menggunakan tangannya.

"Hai bodoh, jangan besar-besar. Nanti ada orang yang dengar, sialan..." kata Eren.

"Astaga aku lupa, maaf. Bodohnya aku..." ucap Adit langsung menyesal.

"Adit kamu kenapa sih? Mulutmu gak bisa dikecilin apa? Kamu mau reputasi aku rusak ya?" marah Deby.

"Iya kak maaf, aku gak sengaja..." ucap Adit meminta maaf.

"Eh... ada Deby di sini. Deby kamu kok di situ? Lagi ngapain?" salah seorang guru olahraga tidak sengaja melihat Deby saat dia berjalan hendak ke ruang guru.

Usianya dua puluh tujuh tahun dan masih lajang. Dari gerak-geriknya kelihatan jelas kalau dia itu naksir berat kepada Deby. Namanya Reza.

Mendengar suara Guru Reza, ketiganya langsung terdiam saling tatap, mengira kalau Reza sepertinya mendengar perkataan Adit tadi.

"Gak ada hehe, ini lagi hukum mereka. Mereka ketahuan bolos pelajaranku," jawab Deby sambil tersenyum pura-pura manis.

"Oh begitu ya, kirain ada apa. Oya Deby, nanti pas waktu istirahat mau makan bareng gak?" ajak Reza.

"Ah... sepertinya gak bisa Pak Reza. Saya soalnya ada banyak kerjaan, harus memeriksa hasil ulangan harian anak-anak," jawab Deby menolak dengan halus.

"Oh begitu ya... baiklah kalau begitu. Eh tapi pulang nanti bisa kan?" ajak Reza lagi, ngebet banget Deby bisa makan bareng dia.

"Kalau itu lihat saja nanti ya," jawab Deby.

"Oke aku tunggu kabarnya ya. Baiklah, saya pergi mengambil sesuatu di ruang guru dulu. Sampai jumpa nanti," pamit Reza dan langsung pergi.

Melihat Guru Reza pergi, ketiganya langsung lega. Untung Guru Reza gak mendengar apa-apa tadi.

"Astaga untung saja. Adit kamu lain kali jaga mulutmu. Kalau tidak aku laporin ke papa kamu..." ancam Deby.

"Iya kak, gak lagi," balas Adit menurut.

"Baiklah kalian lanjut bersihkan. Ingat sampai bersih ya. Dan kamu Eren, pulang sekolah kamu jangan ke mana-mana. Tadi papa kamu telepon katanya kamu dan saya harus pergi melihat rumah," ujar Deby sebelum kembali ke kelas untuk memeriksa muridnya apakah sudah menyelesaikan tugas mereka.

"Bentar, melihat rumah? Rumah buat apa?" tanya Eren.

"Mana aku tahu. Pokoknya kamu jangan ke mana-mana," kata Deby.

"Astaga kalian ini kenapa sih, masa gitu aja gak tahu. Rumah itu tentu saja buat kalian setelah... mmm..." belum Adit menyelesaikan ucapannya, Eren lagi-lagi sigap menutup mulutnya.

"Gak usah besar-besar, sialan..." marah Eren.

Singkat waktu setelah pulang sekolah, Eren dan Deby sudah berada dalam satu mobil yang dikemudikan Deby. Mereka sedang pergi menuju rumah yang sudah dipersiapkan untuk mereka, dan sekarang mereka diminta untuk memeriksanya karena itu yang akan mereka tempati.

Setibanya di sana, sudah ada mamanya Eren yang menunggu mereka.

"Akhirnya kalian datang juga. Ayo sekarang kalian periksa rumah ini. Ini rumah yang akan kalian tinggali setelah menikah nanti. Jadi setelah menikah kalian harus bisa mandiri. Kalian tinggal bilang saja yang mana yang kurang biar nanti mama sama papa lengkapi," ujar mamanya Eren yaitu Miya.

"Oya habis ini kalian juga bersiaplah untuk pergi melihat cincin pernikahan. Pokoknya hari ini semua harus siap," tambah mamanya.

Eren dan Deby mulai memasuki rumah itu. Di luar kelihatan tidak terlalu besar, tapi saat tiba di dalam tak disangka rumah itu begitu luas dengan dekorasi yang begitu cantik dan lengkap.

Ruangan-ruangannya juga sangat lengkap dan tentunya isinya rapi semua.

"Ma, apa ini gak terlalu besar..." kata Eren.

"Gak kok, ini sepadan untuk kalian. Jadi kalian harus bisa merawatnya dengan baik, dan kalian harus membangun rumah tangga sendiri dengan harmonis. Dengan adanya rumah mewah jadi kalian harus tetap menjaga satu sama lain," jawab mamanya.

Hal pertama yang diperiksa Deby adalah ruang kerja, sebab ruang kerja adalah sesuatu yang paling utama harus ada bagi Deby. Sementara Eren yang dia inginkan harus ada adalah ruang olahraga, dan semuanya ada di dalam rumah itu. Benar-benar disiapkan semua oleh orang tua mereka.

Tapi itu justru menimbulkan kecurigaan untuk Deby dan Eren, di mana kok bisa orang tua mereka bisa menyiapkan rumah selengkap ini yang dilengkapi dengan apa yang mereka butuhkan dalam waktu begitu singkat.

Tanpa mereka berdua ketahui kalau rumah ini sudah dibangun jauh-jauh hari tentunya untuk Eren dan Deby. Semua yang disukai anak mereka dilengkapi di dalam rumah tersebut. Tempat bermain game, tempat yoga, kolam renang, semua ada di sana dan itu semua paling disukai oleh Eren dan Deby waktu di rumah lama mereka.

"Ma, ini rumah dibeli atau gimana ya? Kok bisa lengkap dengan apa yang Eren butuhkan di rumah, padahal kan perencanaan pernikahan kami baru kemarin?" tanya Eren curiga.

"Ah... ee soal itu, tanya deh ke papa kamu. Semuanya papa kamu yang siapin. Kamu tahu sendiri kan papa kamu seperti apa. Kalau kamu mau itu atau suka itu dia langsung siapin tanpa butuh waktu cukup lama," ujar mamanya memberi alasan yang masuk akal.

Sebenarnya Eren dan Deby ini sangat enak hidupnya, tinggal menikmati harta orang tua mereka yang kaya raya. Saat menikah begini saja mereka gak perlu mikirin biaya atau rumah, langsung disiapkan begitu saja. Intinya mereka mau menikah saja. Tapi mereka berdua sama sekali tidak mengetahui soal itu.

"Baiklah mama harus pergi sekarang, ada urusan. Kalian periksa saja dulu isi rumah kalian. Nanti setelah selesai telepon papa kamu ya, buat membantu mencarikan cincin pernikahan dan perlengkapan lainnya," kata mamanya pamit untuk pergi sebab takutnya Eren akan bertanya lebih banyak lagi kalau dia tetap tinggal, sementara dia tidak terlalu pintar berbohong tidak seperti Roni, papanya Eren.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel